Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter 6. Sebuah Ingatan


__ADS_3

Air matanya menetes tapi, buru-buru menyekanya agar tidak ada yang melihatnya. Keputusan ini pun beliau sudah rundingkan dengan istrinya sebelum datang ke Balai Desa.


Istrinya pun ikut menentang keputusan itu, karena menurutnya itu sangat mustahil Azalina lakukan mereka sangat tahu bagaimana kesehariannya Azalina.


"Ya Allah… apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin mengkhianati janjiku sama Abang Anjas, tapi kalau aku tidak memenuhi permintaan dari Pak Ardi pasti masyarakat akan semakin marah padaku."


Azalina memikirkan betapa hancur hidupnya hanya dalam sekejap mata saja. Dia tidak pernah berpikiran sedikit pun, jika hidupnya akan berakhir seperti ini.


Air matanya menetes membasahi pipinya. Dia terduduk di atas kursi bekas tempatnya Sultan berbaring.


"Ibu, tolong Azalina bu, aku harus bagaimana lagi,aku bingung harus memutuskan ini semua."


Kepalanya tertunduk sembari meminta petunjuk kepada Allah SWT agar segera mendapat petunjuk untuk memilih jalan yang terbaik untuknya.


"Pak Dodi!! Teriak Pak Ardi selaku kepala desa setempat.


Pak Dodi yang dipanggil segera berjalan ke arah Pak Ardi yang berdiri di depan pintu masuk Balai Desa.


"Ada apa Pak Desa?" Tanyanya dengan sedikit membungkukkan badannya ke hadapan Pak Ardi.


"Tolong antar Azalina pulang ke rumahnya, kasihan kalau dia harus pulang dengan berjalan kaki," perintah Pak Desa.


"Baik Pak," jawabnya.


Pak Ardi menatap ke arah Azalina sembari tersenyum lalu berucap,"Nak shalatlah dan berdoalah pada Allah SWT agar mendapatkan kemudahan dalam menghadapi masalah dan ujian ini, jangan sekali-kali kamu merisaukan tentang tanggapan dari Anjas, Paman yang akan mengurusnya," jelas Pak Ardi.


Azalina hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dan akan berusaha untuk menjalankan amanah dari Pak Ardi.


"Insya Allah, Paman, Saya akan menjalankan sesuai arahan dari Paman dan sekali lagi Azalina meminta maaf kepada Paman telah membuat Paman repot," ujarnya.


"Paman yakin kamu bisa menjalani dan melaluinya dengan sabar, Paman akan selalu membantu kamu jika sewaktu-waktu kamu membutuhkan bantuan," jelasnya.


"Makasih banyak, Azalina meminta maaf yang sebesar-besarnya Paman," ujar Azalina yang masih sesekali sesegukan.


"Pak Dodi jika ada yang berani mengganggu Azalina tolong laporkan segera kepadaku," titah Pak Ardi.

__ADS_1


"Siap Pak Desa," balasnya Pak Dodi.


Azalina naik ke kursi belakang motor matic milik Pak Dodi.


"Assalamualaikum Paman," ucapnya saat mereka sudah berlalu dari hadapan Pak Ardi.


Motor yang ditumpangi oleh Azalina melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan halaman balai desa.


"Pak Dodi tolong antar saya ke pinggir pantai, saya mau ambil sepedaku," ucapnya.


"Baik Mbak," balasnya.


Dua minggu kemudian.


Sedangkan di rumah sakit, Sultan sudah mendapatkan perawatan medis. Semua luka yang dideritanya sudah ditangani oleh dokter dengan baik.


Pak Ardi mendatangi rumah sakit untuk melihat dan mengetahui kondisi terakhir dari Sultan setelah dirawat di RS. Pak Ardi dan rombongannya berjalan ke arah ruangan tempat perawatan Sultan.


Mereka membuka pintu kayu jati itu dan melihat ada beberapa dokter dan perawat yang sedang memeriksa dan mengobservasi kondisi dari Sultan.


Dokter melirik sekilas ke arah Pak Ardi sebelum menjawab pertanyaan dari pak Ardi.


"Alhamdulillah, keadaannya sudah membaik dan kemungkinan besarnya jika perkembangan kesembuhannya lebih cepat dari sebelumnya insya Allah dua hari lagi pasien bisa kembali ke rumahnya," jelasnya Pak Dokter.


"Syukur Alhamdulillah kalau gitu Pak Dokter," ujarnya dengan seulas senyum yang terbit dari wajahnya.


"Tapi, sepertinya Tuan baru-baru ini mengkonsumsi obat yang sangat berbahaya bagi kesehatannya," terang dokter.


"Maksudnya Dok?" Tanya Pak Ardi yang terkejut mendengar perkataan dari dokter.


"Ada sejenis obat pelumpuh syaraf yang sangat berbahaya dan efeknya berakibat fatal terhadap otak dan kemampuan tulangnya, untungnya obat itu belum terlalu lama bersarang di dalam tubuhnya sehingga kami bisa menangani segera dan mengeluarkan semua racun dari tubuhnya," jelas Pak Dokter.


"Jadi bagaimana kedepannya dokter apa dia masih bisa menggerakkan kakinya?" Tanya Pak Ardi.


"Insya Allah dia akan sembuh asalkan rutin minum obat dan terapi, tetapi ada beberapa ingatan lamanya yang hilang," ujarnya dengan senyuman ramahnya.

__ADS_1


"Ya Allah… bagaimana ini, kasihan Azalina harus menikah pria yang setengah lumpuh dan juga amnesia, semoga Azalina sabar menghadapi semua cobaan yang dihadapinya, sungguh malang nasibmu Nak."


Wajah Pak Ardi tiba-tiba sendu dan tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya Azalina kedepannya.


Sultan yang sedang terbaring lemah dengan selang infus terpasang di pergelangan tangan bagian kirinya. Tatapannya kosong dan tidak tahu harus berbuat bagaimana. Dia teringat saat Azalina disiksa oleh bibinya.


Tanpa segan air matanya menetes membasahi pipinya. Dia merasa iba melihat betapa tersiksanya gadis yang telah menolongnya itu.


Pak Ardi mendekati Sultan dan berniat ingin bertanya tentang siapa dia sebenarnya dan asalnya dari mana.


"Maaf apa boleh kita berbicara sebentar?" Tanya Pak Ardi saat sudah duduk di kursi yang ada di dekat bangkar.


Sultan terlebih dahulu menatap satu persatu mereka sebelum menjawab pertanyaan dari Pak Ardi.


"Silahkan Pak, tapi maaf saya tidak bisa duduk, hanya berbaring yang bisa saya lakukan," tuturnya.


"Oh tidak apa-apa, kamu berbaring saja jika itu terbaik kamu lakukan," balasnya sambil mencegah agar Sultan tidak berdiri dari posisi baringnya.


"Begini Nak, Bapak mau bertanya sama kamu, apa kamu siap dan bersedia menikahi Azalina sesuai dengan tuntutan dari beberapa masyarakat?" Tanyanya dengan memandang ke arah Sultan dengan penuh harap.


Sultan mencerna dengan baik maksud dari perkataan Pak Ardi. Dia tidak tahu juga harus bagaimana, dan kepikiran dengan nasib dari gadis yang menolongnya. Dia tidak mungkin membiarkan gadis itu tersiksa dan terus dihina gara-gara dia menolak keputusan dari masyarakat setempat.


Pak Ardi yang melihat Sultan terdiam saja heran dan sedikit khawatir jika Sultan menolak keinginannya.


"Bagaimana Nak, apa kamu bersedia untuk menikahi gadis yatim piatu itu?" Tanyanya yang ingin memastikan apa Sultan bisa menjalankan amanah dari masyarakat.


Sultan menganggukkan kepalanya sembari berkata, "Insya Allah, saya siap untuk menikahi Azalina Pak," jawabnya dengan sedikit pelan karena tiba-tiba kepalanya sedikit pusing.


Dia segera memegang kepalanya yang sakit itu. Pak Ardi yang melihat hal tersebut segera bergerak cepat untuk memeriksa kondisi Sultan.


"Apa yang terjadi padamu Nak?" Tanya Pak Ardi.


Sultan tak menjawab pertanyaan dari pak Ardi sedikit pun. Di dalam pikiran dan ingatannya, dia melihat saat-saat terakhir pesawatnya terjatuh ke atas permukaan laut.


Dia kembali mengingat semua kejadian saat Martin mengatakan kalau dirinya sudah direcoki obat dan ketika dirinya melihat sebuah foto kemesraan antara Martin dengan tunangannya seperti kaset kusut yang diputar kembali.

__ADS_1


__ADS_2