Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 84. Rasa Rindu


__ADS_3

Aza memegang tangan Mamanya," insya Allah Aza baik-baik saja kok Ma, Aza kan bukan anak kecil lagi lagian ada mang Udin yang nemenin Aza ke Rumah Sakit Pelita Harapan."


Aza mengelus punggung tangan Mamanya dengan penuh kasih sayang. Dia sama sekali tidak ingin memberikan beban kepada Mamanya selama dia masih bisa dan sanggup pasti dia akan mengerjakan sendiri pekerjaan itu.


Dengan berat hati dan terpaksa Bu Fauziah mengijinkan putrinya berangkat ke RS tanpa dia mendampinginya.


"Kalau gitu, Mama telpon Aunty kamu dulu untuk mengabarkan kepadanya bahwa kamu akan ke RS untuk terapi," jelas Bu Fauziah.


"Siap Mamaku sayang," balasnya Aza yang memeluk erat tubuhnya Bu Fauziah dengan mengecup pipinya Bu Fauziah dengan penuh kasih sayang.


"Ingat harus hati-hati, tapi kamu sudah tanya Mang Udin kan nak?" Tanyanya Bu Fauziah yang menatap dengan tatapan teduh kearah putri bungsunya.


"Alhamdulillah! Sudah Ma, tinggal berangkat saja," jawabnya Aza yang melanjutkan kunyahan makanannya dengan pelan tapi berkesan lambat.


Beberapa saat kemudian..


Aza sudah berada di dalam mobilnya yang akan mengantarnya ke rumah sakit untuk terapi penyakitnya.


"Ya Allah… sembuhkan lah penyakitku, entah kenapa beberapa hari ini ada rasa rindu dengan seseorang tapi, aku tidak tahu dengan siapa aku merindukan kehadirannya," tatapannya terus tertuju pada hamparan gedung pencakar langit yang berjejer di sepanjang jalan yang dilaluinya.


Sesekali mang Udin meliriknya melalui kaca spion mobilnya," apa sebenarnya yang terjadi dengan Nona Muda? Padahal dia tidak pernah sama sekali kecelakaan maut atau dia trauma gara-gara semasa dia hidup dan tinggal di kampung halamannya dulu yah?" Batinnya Mang Udin.

__ADS_1


Berselang beberapa saat kemudian, mobil mereka sudah memasuki area Rumah Sakit Pelita Harapan. Pak Supir mengambil karcis untuk memasuki area tempat parkiran.


"Mang kalau mau pulang tidak apa-apa kok,nanti kelamaan nunggunya kalau sudah selesai baru aku telpon nomor hpnya Mamang, tapi nomornya gak diganti kan?' Aza mengecek HPnya lalu memeriksa kontak hpnya.


"Tidak apa-apa kok Non! Aku nunggu di sini saja sambil muter skater dulu," jawabnya dengan cengengesan.


"Mang Udin masih main itu double wings chip gitu yah?" Tanya Aza sambil memeriksa penampilannya melalui cermin besar yang kebetulan ada di dalam mobilnya.


"Iya Non, masih main sekedar pengisi waktu luang saja dari pada gak ada kerjaan yang bisa buat isi kepala memikirkan hal yang tidak baik jadi main game saja kalau menang Alhamdulillah kalau kalah sedih tentunya," ujarnya Mang Udin dengan polosnya.


Perkataan dari mang Udin membuat Aza tertawa cekikan. Menurutnya lucu juga sikap dari salah satu supir pribadi milik Mamanya itu.


Langkah kakinya baru selangkah menapaki jalan berpaving parkiran, langkahnya terhenti karena ada seseorang yang sedari tadi memperhatikannya dan tersenyum penuh ketulusan dan keramahan kearahnya.


Aza saat menyadari orang itu, dia spontan berlari ke arahnya dan tanpa segan dan sepatah kata pun sudah memeluk erat tubuh orang itu.


"Bunda!! Aza merindukan Bunda," ucapnya dengan penuh kebahagiaan.


Azzahrah berlari ke arah Bu Hamidah setelah mengetahui dengan pasti dan jelas siapa pemilik senyuman yang tersenyum sedari tadi ke arahnya.


Langkah larinya seperti anak kecil yang berlarian ke arah Ibunya yang sedang membawa sebuah mainan boneka yang sangat besar. Seperti itulah yang dirasakan oleh Aza, kebahagiaannya membuncah setelah melihat Ibu Hamidah

__ADS_1


Seakan-akan dia sedang bertemu dengan Ibu kandungnya sendiri yang sudah lama tidak pernah bertemu saking rindunya dia pada sosok perempuan yang cantik diusia senjanya.


"Aza! Bunda juga sangat merindukan dirimu Nak, Bunda ingin menelponmu tapi hp Bunda tidak sengaja terjatuh ke dalam baskom yang berisi air," jawabnya Bu Hamidah yang masih setia membalas pelukan dari Aza.


Mereka sama-sama melepas rasa rindu yang membuncah di dalam dada dan hati mereka berdua. Apa yang mereka lakukan menimbulkan tatapan dari beberapa orang yang kebetulan berlalu lalang di sekitar area parkiran tersebut.


Selagi kita meletakkan Allah sebagai tujuan, niscaya Allah akan mudahkan dalam segala urusan.


Silahkan mampir juga ke Novel aku yang lain judulnya:


...1. Dilema Diantara Dua Pilihan...


...2. Pelakor Pilihan...


...3. Cinta CEO Pesakitan...


...4. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...


Makasih banyak all Readers...


i love you full banget deh untuk kalian yang sudah mampir baca... jangan bosan yah..

__ADS_1


__ADS_2