
"Itu kan dekat dengan kampungnya Azalina, aku harus segera ke sana jangan-jangan Martin telah mengetahui bahwa aku sudah menikah dengan seorang gadis di pulau itu," batinnya Sultan dengan raut wajahnya yang cemas, khawatir dan ketakutan bercampur menjadi satu bagian utama di dalam hatinya.
"Makasih banyak Pak atas bantuan dan kerjasamanya,kami sangat berharap besar dengan bantuannya bapak sekalian agar Martin segera ditemukan," jelas Anggara sambil menjabat tangan komandan kepolisian itu.
"Sama-sama Pak kami sangat senang atas kepercayaan Anda semua karena telah menyerahkan semuanya kepada pihak kepolisian untuk mengatasi permasalahan-permasalahan Bapak," ujarnya Pak Ronald Simorangkir selaku komandan kepolisian yang menangani masalah mereka.
Angara dan Sultan berserta tim pengacaranya bergegas meninggalkan kantor polisi dan segera menuju Perusahaannya untuk mengakuisisi saham tertinggi serta semua aset yang dimiliki oleh Sultan yang telah dibalik nama atas namanya Martin.
"Apa rencana kamu selanjutnya Sul?" Tanyanya Martin setelah memakai setbelnya lalu mengalihkan pandangannya ke arah Sultan yang sudah menyalakan mesin mobilnya.
Sultan tanpa menatap ke arah Anggara lalu menjawab pertanyaan dari sahabat sekaligus asisten pribadinya itu.
"Besok aku akan segera ke kampung halamannya Azalina untuk menjemputnya," jawabnya Sultan.
"Itu ide yang bagus untuk menghindari orang yang berniat jahat," sahut Anggara.
__ADS_1
"Aku takut jika ada yang mengetahui jika aku sudah menikahinya dan bisa gawat jika Martin menyuruh anak buahnya untuk segera menangkap dan menganggu Azalina," jelas Sultan yang sudah melajukan mobilnya ke arah jalan raya lalu bergabung dengan pengendara mobil lainnya.
Bu Hamidah sudah sampai di rumahnya tapi, tidak mendapati keberadaan anak pertamanya. Dia tidak sabar ingin memperlihatkan foto perempuan yang sangat mirip dengan istrinya yang dari kampung itu.
"Aku yakin Sultan pasti akan terkejut jika melihat fotonya Azzahrah dan aku yakin dia akan menganggapnya itu adalah foto dari Azalina," gumamnya.
Bu Hamidah segera masuk ke dalam kamarnya untuk melaksanakan shalat magrib karena beberapa toa dari mesjid terdekat sudah terdengar adzan pertanda sudah masuk waktu shalat.
Berselang beberapa saat kemudian, Bu Hamidah kembali ingin mengecek keberadaan anaknya. Apa sudah pulang atau kah masih di kantornya.
Pintu kayu dengan kualitas kayu terbaik itu diketok nya hingga beberapa kali. Tapi, tidak respon sedikitpun dari pemilik kamar itu.
"Sultan tidak ada di rumah, mungkin sangat sibuk sehingga sudah jam sebelas malam dia belum pulang juga," tuturnya yang sambil melihat ke arah jam yang terpasang dengan cantik dan baik di dinding bercat ungu muda itu.
Bu Hamidah kembali menuruni tangga dengan langkah sedikit gontai karena mungkin kondisi fisiknya yang kelelahan.
__ADS_1
"Besok pagi saja saat makan baru aku katakan semuanya padanya tentang seorang gadis yang sangat mirip dengan Azalina," lirih Bu Hamidah.
Dia kembali ke dalam kamarnya lalu membaringkan tubuhnya yang sudah ngantuk berat hingga kelopak matanya sulit untuk terbuka lagi.
"Ya Allah… bahagiakan lah anak-anakku dan jauhkan lah mereka dari segala marabahaya, dan selalu sebarkan hati ini,x batinnya Bu Hamidah
Ibu Hamidah menyempatkan dirinya untuk berdoa sebelum tidur dia hanya berharap sebelum dia tertidur pulas. Ia sangat berharap kalau mereka bisa mengerti dan memahami apa yang terjadi di antara sultan dan istrinya.
Silahkan mampir juga ke Novel aku yang lain judulnya:
...1. Pesona Perawan...
...2. Dilema Diantara Dua Pilihan...
...3. Pelakor Pilihan...
__ADS_1
...4. Cinta CEO Pesakitan...