
Hari terus berlalu, minggu berganti bulan dan tidak terasa pernikahan Raja dengan Azalina sudah memasuki bulan ke lima. Tapi, hingga detik itu juga Raja belum berani untuk meminta haknya sebagai seorang suami. Bukannya tidak ada kemauan atau niat, tapi Raja ingin melakukannya bersama dengan istrinya jika di dalam hati dan pikirannya Azalina hanya untuk dia seorang.
Setiap hari Raja membantu Azalina untuk mengantar keranjang ikan dari nelayan ke tempat pelelangan. Raja dengan senang hati melakukannya tanpa terbebani sedikitpun, padahal sewaktu dia tinggal di Jakarta, sekalipun semasa hidupnya bekerja kasar. Raja setiap paginya membonceng Aza berangkat kerja.
Bahkan dari kerja kerasnya itu, Aza sudah membuka toko kelontong di depan rumahnya. Walaupun terbilang kecil, tapi cukup ramai didatangi oleh pembeli. Aza merasa cukup bahagia, karena sudah tidak lagi bekerja di tempat pelelangan ikan melainkan Raja yang menggantikan posisinya itu.
Sore itu, Raja yang duduk di balai-balai belakang rumahnya sambil menikmati seduhan teh hijau buatan dari istrinya ditemani dengan sepiring gorengan pisang dan bakwan beserta kawan-kawannya.
Dia memikirkan terus perkataan dari sahabatnya Anggara yang mengatakan, jika Selena semakin menjadi saja setelah melahirkan dan memalsukan hasil tes DNA jika, anak yang dilahirkannya adalah putranya.
"Apa aku meminta ijin saja kepada Aza untuk kembali ke kota?"
Raja bimbang dan dilema memikirkan semua itu, dia menimbang semua perkataan dari Angga beberapa hari yang lalu saat datang berkunjung ke rumahnya membawa banyak barang kebutuhannya termasuk obat-obatan dan dua buah hp yang bisa dia pakai.
"Aku harus segera kembali, insya Allah Azalina bisa jaga diri saat aku tinggal dan kalau semakin mengulur waktu tidak kembali kasihan bunda dan Sherly," lirihnya yang sesekali menyesap teh kesukaannya itu.
Azalina yang tidak sengaja berjalan ke arahnya mendengar perkataan Sultan walaupun hanya lirih saja, tapi masih sanggup untuk menangkap dengan baik suaranya Raja.
"Kalau memang Abang ingin pergi, aku harus ikhlas mengijinkannya, aku tidak sepatutnya menahannya atau pun melarangnya, pasti Abang sangat merindukan sosok keluarganya itu," gumamnya yang menatap Raja dengan intens.
"Mungkin nanti malam adalah waktu yang tepat untuk meminta ijin, bagaimanapun dia adalah istri sahku, jadi aku harus berpamitan dan meminta izin kepadanya, tapi mungkin besok hari rabu aku harus menemaninya ke Ibu Kota kabupaten untuk membuka rekening supaya nanti selama aku di Jakarta aku bisa mengirimkan uang untuk kebutuhan sehari-harinya."
Matahari sudah tenggelam di ufuk barat, warnanya yang jingga mempercantik suasana sore itu. Sunset itu menambah kesan romantis andai saja Raja duduk saling berpelukan dengan Azalina. Raja tersenyum simpul membayangkan hal itu.
"Tunggu aku Aza, aku pasti akan kembali ke sini lagi."
__ADS_1
Suara adzan magrib berkumandang dari Toa Masjid yang membuyarkan lamunannya Raja. Dia bergegas berjalan ke dalam rumahnya lalu tidak lupa membereskan semua piring dan gelas minumnya. Dia pun menutup pintu rumahnya dengan rapat.
"Abang ingin ambil air wudhu?" tanya Azalina yang hanya sekedar basa-basi karena entah kenapa perasaannya sedih saat tidak langsung mendengar perkataan dari suaminya itu. Walaupun di dalam hatinya belum ada rasa cinta untuk Raja yang masih ada Anjas seorang.
"Kalau kamu, apa ikut Abang sholat?" Tanyanya yang menatap ke arah Istrinya itu.
"Sepertinya, kali ini aku libur dulu Abang lagi datang tamu soalnya," sahut Azalina.
"Maksudnya?" tanya Raja yang sama sekali tidak mengerti dengan perkataan dari Aza.
"Maksudnya Aza lagi pms Abang, jadi mulai hari ini hingga satu minggu kedepan libur dulu," jawabnya dengan senyuman manisnya.
"Oh gitu yah, nanti setelah shalat ada yang ingin Abang katakan," ucapnya lalu berjalan ke arah dalam bilik kamar mandi.
"Berarti rencanaku yang ingin meminta hakku harus tertunda dan batal lagi kalau gini." Raja tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
Awalnya sudah memutuskan untuk meminta haknya setelah dia yakin jika Raja benar-benar sudah mencintainya, tapi hal ini dia lakukan untuk mengetes dan mencoba saja sempat berhasil.
Mereka makan malam bersama dalam keheningan, satupun dari mereka tidak ada yang berani membuka untuk memulai percakapan diantara mereka. Azalina terdiam seribu bahasa dan tidak mengerti apa yang harus dia katakan. Raja pun demikian, dia kebingungan untuk berbicara dari mana memulainya.
"Aku!!" Ucap mereka bersamaan yang membuat mereka saling melempar senyuman.
"Kamu saja yang duluan," ujar Raja.
"Sebaiknya Abang saja , karena apa yang ingin aku katakan hanya masalah biasa saja," balasnya.
__ADS_1
"Besok, kita ke Bank untuk membuka rekening untuk kamu, supaya kamu bisa menyimpan uangmu dengan aman," jelasnya.
"Tapi Abang, bagaimana kalau mereka cari ijazah, aku kan hanya tamatan SD saja, bisa-bisa dipersulit untuk buka rekeningnya," tuturnya yang menundukkan kepalanya.
Raja tersentak kaget mendengar penuturan dari Azlina, dia langsung tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan itu. Azalina yang ditertawakan oleh Raja semakin menundukkan kepalanya dan wajahnya seketika memerah menahan rasa malunya.
"Itukan pasti kalau aku ngomong akan ditertawakan, gini nasib jadi gadis yang tidak berpendidikan tinggi dan bodoh," terangnya dengan wajahnya yang sendu.
Raja yang melihat hal itu segera berdiri lalu berjalan ke arah Azalina. Raja menarik tubuhnya Aza ke dalam pelukannya.
"Bagi Abang kamu punya pendidikan yang tinggi atau tidak, posisinya kamu di hatiku tetap Istriku hingga sampai kapan pun tidak akan pernah tergantikan, dan hanya namamu yang ada di dalam sini," ucapnya Raja sembari menunjuk ke arah dadanya.
Azalina masih duduk di kursi meja makan, sedangkan Raja berdiri dan sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memudahkannya memeluk tubuhnya Azalina.
"Aza hari jumat nanti Abang akan kembali ke Ibu Kota, soalnya sudah lama Abang cuti dari pekerjaan Abang, apa kamu tidak keberatan jika Abang pergi Aza?" Tanyanya yang masih memeluk tubuhnya Azalina.
Azalina kemudian berdiri dari duduknya lalu menatap ke dalam kedua bola matanya Raja," Azalina sama sekali tidak keberatan Abang, Aza tidak ingin menghalangi Abang untuk bekerja lagian itu kan untuk masa depannya kita juga," ungkapnya dengan penuh kelembutan dah hati-hati agar tidak menyinggung perasaannya Raja.
Raja mengangkat sedikit dagu lancipnya Azalina dengan jarinya lalu mendekatkan wajahnya ke arah wajahnya Azalina. Hingga hidung mancung mereka saling bersentuhan satu sama lain. Nafas keduanya berhembus dan saling tabrakan. Tidak ada yang berkedip sedikitpun. Bibirnya Raja perlahan ******* bibirnya Azalina.
Mulut mereka saling berpagutan, hingga saliva keduanya saling bertukar. Raja memegang tengkuk lehernya Azalina untuk memperdalam ciumannya. Awalnya gerakan dan balasan yang diberikan oleh Azalina cukup kaku, tapi lambat laung mampu juga mengimbangi permainan lidah dari Raja.
Raja yang pengalaman pertamanya cukup berani untuk menantang Azalina yang sudah pernah sekali mencicipi dan merasakan nikmatnya berciuman. Tapi, masih kaku saja. Naluri Raja yang mampu menuntunnya hingga suara ketukan pintu rumahnya membuat mereka terpaksa untuk mengakhiri panasnya ciuman mereka yang pertama selama mereka menikah.
Tok…. Tok…
__ADS_1