Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 7. Sedih


__ADS_3

Dia segera memegang kepalanya yang sakit itu. Pak Ardi yang melihat hal tersebut segera bergerak cepat untuk memeriksa kondisi Sultan.


"Apa yang terjadi padamu Nak?" Tanya Pak Ardi.


Sultan tak menjawab pertanyaan dari pak Ardi sedikit pun. Di dalam pikiran dan ingatannya, dia melihat saat-saat terakhir pesawatnya terjatuh ke atas permukaan laut.


Dia kembali mengingat semua kejadian saat Martin mengatakan kalau dirinya sudah direcoki obat dan ketika dirinya melihat sebuah foto kemesraan antara Martin dengan tunangannya seperti kaset kusut yang diputar kembali dalam ingatannya.


"Aaahhhhh tidak!!!"


Sultan berteriak kesakitan dengan memegang kepalanya. Dia tidak menahan sakit di kepalanya yang tiba-tiba. Dia berusaha mengingat kejadian yang dilaluinya beberapa hari sebelum dirinya terdampar di Desa tersebut. Hingga mengakibatkan betapa sakit kepalanya seperti mau pecah saja.


Semakin berusaha dia ingat, sakitnya semakin tak tertahankan pula. Beberapa ingatan yang muncul begitu saja dalam pikirannya. Berusaha dia ingin ketahui tapi usahanya sia-sia saja karena sakitnya semakin bertambah parah.


Pak Ardi yang melihat hal itu segera mendekati Sultan untuk bertanya, "Apa yang terjadi padamu, Nak?' tanyanya yang kebingungan juga tidak mengerti dengan kejadian yang terjadi begitu tiba-tiba.


"Pak Toni!!, tolong cepat panggil dokter! Kasihan dengan pria itu," teriak Pak Ardi menatap ke arah Pak Toni.


"Aaaahhhh sakit!!, Tolong!!!" Sultan semakin tidak kuasa untuk menahan rasa sakitnya, dia berguling-guling di atas ranjangnya dengan memegangi kepalanya itu.


Pak Toni segera berlari ke arah ruangan di mana dokter berada.


"Pak Dokter!!" Teriak Pak Toni dengan wajahnya yang diliputi rasa cemas yang berlebihan.


Dokter dan beberapa perawat yang melihatnya langsung berdiri dan berjalan menghampiri Pak Toni.


"Ada apa Pak, ada yang bisa kami bantu?" Tanya salah seorang dari polisi perawat tersebut.


"Itu.. itu.. pasien yang berada di dalam kamar nomor 5 sedang kesakitan suster," jelasnya.


Dokter yang sedari tadi memeriksa beberapa dokumen rekam medis dari beberapa pasien, spontan berdiri dan mengambil perlengkapan dokternya dari atas mejanya.

__ADS_1


"Ayo kita kesana untuk melihatnya," perintah dokter.


Mereka berjalan terburu-buru ke arah ruangan perawatan Sultan. Sedangkan di dalam sana, pak Ardi dibuat kelimpungan karena tidak tahu bagaimana caranya untuk membantu meredakan sakitnya.


"Sabar Nak, dokter akan segera datang," ucapnya dengan berusaha untuk menenangkan Sultan.


Sultan memegang erat kepalanya, dia berusaha untuk mengurangi sakitnya yang semakin menjadi saja. Dia menekuk kakinya dan terus berguling-guling.


Dokter dan perawat segera membantu Sultan.


"Tenang Pak, kami akan berusaha untuk mengobati penyakitnya," ujarnya.


Pak Ardi ikut prihatin melihat kondisi dari Sultan yang mengkhawatirkan.


"Tolong diluruskan kakinya Pak, supaya dokter bisa memeriksa kondisi bapak," timpal Perawat yang berada disampingnya dokter.


"Perawat ambil suntikan lalu isi dengan obat itu," perintah Dokter.


Perawat itu segera melaksanakan perintah dari dokter. Setelah disuntik dengan obat, Sultan perlahan sudah bisa tenang dan tidak merasakan nyeri yang tidak tertahankan lagi di kepalanya.


"Apa ada yang menggangu pasien atau ada yang memaksanya untuk mengingat kejadian di masa lalunya?" Tanya Dokter.


"Tidak ada Dok, tadi saya baru berencana untuk bertanya tentang siapa namanya tapi aku belum bicara sepatah kata pun dia langsung berteriak dan mengeluh kesakitan," terangnya yang sedikit lega disaat Sultan sudah tertidur.


"Kita bicara di ruanganku saja Pak, ada yang penting ingin saya katakan pada bapak," jelas Dokter.


"Baik dokter, Pak Toni tolong jaga-jaga di sini selama saya pergi," tuturnya seraya menatap dengan penuh iba ke arah Sultan yang terlelap dalam tidurnya.


Pak Ardi sudah duduk di depan Dokter yang menangani pengobatan Sulthan. Dia harap-harap cemas dengan kondisi kesehatan dari calon suaminya Azalina.


"Begini pak, dia akan mengalami kesakitan seperti itu lagi jika dia berusaha keras untuk mengingat masa lalunya atau ada yang bertanya dan memaksanya untuk mengingat hal tersebut," ungkap dokter.

__ADS_1


"Jadi apa yang harus saya lakukan dokter?" Tanyanya yang menatap penuh harap ke arah Ibu Dokter.


"Tolong jangan ada yang mengungkit apa pun itu yang mengenai dengan masa lalunya dan rajin terapi serta harus rutin minum obat insya Allah, dia akan segera sembuh," balas Dokter sembari mengulurkan kertas yang berisi resep obat.


"Makasih banyak Bu dokter, kalau gitu saya permisi dulu Bu," ucapnya lalu berjalan ke arah Apotik untuk menebus resep obat yang diberikan oleh Dokter.


Sedangkan Nafeesa sudah hampir sepuluh hari tidak keluar rumah. Bahkan dia sudah tidak bekerja di tempat pelelangan ikan lagi. Dia hanya keluar masuk rumahnya.


Seperti sore ini, dia duduk di balai-balai rumahnya yang langsung berhadapan dengan Pantai. Rambutnya yang panjang beterbangan di bawah angin. Dia menerawang jauh sebelum masalah besar menimpanya. Pandangan matanya kosong. Dia tidak bosan-bosannya memandangi indahnya sunset dikala itu.


Ingatannya kembali saat dia akan berpisah dengan Anjas. Mereka duduk di pinggir pantai waktu itu, Azalina yang duduk di atas ayunan sedangkan Anjas berdiri di belakangnya sambil sesekali mendoromg ayunan.


"Azalina, besok Abang akan ke Ibu Kota untuk melanjutkan sekolah Abang, kamu tidak apa-apa kan kalau aku tinggal empat tahun?" Tanyanya yang tangannya tidak berhenti mendorong ayunan pacarnya.


Azalina menolehkan kepalanya ke arah Anjas sembari berkata, "insya Allah.. aku akan baik-baik saja Abang, aku hanya berharap sesampainya di sana jangan pernah lupakan Azalina," jawabnya dengan sesekali berteriak jika kakinya yang polos itu terkena air gelombang pasang dari laut.


Anjas berlutut di hadapan Azalina yang duduk di atas ayunan rotan, dia memegang ke dua tangannya Azalina lalu berkata, "Abang meminta sama kamu, tolong jaga selalu hatimu dan bersabarlah untuk selalu menunggu kedatangan Abang."


Azalina menganggukkan kepalanya, dan tetesan air matanya perlahan menetes membasahi pipinya. Dia sedih dan takut tapi, demi cita-cita dan masa depannya bersama Anjas dengan berat hati dia harus berusaha untuk mengikhlaskan kepergian Anjas untuk menuntut ilmu di Ibu Kota.


Anjas merogoh saku celananya dan mengambil sebuah cincin emas yang beberapa hari lalu berhasil dia beli dari hasil tabungannya sendiri.


Anjas meraih tangan kirinya Azalina lalu menyematkan cincin emas tersebut ke dalam jari manisnya Azalina. Dia semakin menangis tersedu-sedu dan ada rasa takut yang terbesit di dalam hatinya jika dia tidak akan bersatu seperti dulu lagi.


Anjas berdiri lalu perlahan memajukan wajahnya ke arah Azalina. Mereka berciuman sepintas layaknya anak-anak remaja yang belum tahu apa pun.


Walaupun tidak ada cincin pengikat hubungan mereka z ke dua orang tua Anjas jauh-jauh hari sudah merencanakan perjodohan dan pernikahan mereka jika sudah besar kelak.


Air matanya menetes membasahi pipinya, dia menatap ke arah cincinnya yang warnanya sedikit pun tidak pudar padahal sudah tiga tahun lebih dia pakai.


"Abang, maafkan aku."

__ADS_1


Dia menekuk lalu memeluk kakinya dengan kuat, air matanya terus menetes membasahi wajahnya. Hingga teriakan dari seseorang yang membuatnya mengakhiri lamunannya.


"Azalina!!!!"


__ADS_2