Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 50. Keadaan Yang Berbahaya


__ADS_3

Azalina memanfaatkan kesempatan tersebut untuk lari.


"Tolong!!!!" Teriak Azalina yang terus berlari.


"Tolong!!! Pak, Bu Mina, tolong aku!!!" Teriaknya sambil menggedor pintu rumahnya Bu Mina di tengah malam itu.


"Kamu mau ke mana sayang, tidak akan ada yang menolongmu mereka sudah tertidur pulas dan dalam kamar mereka masing-masing," jelas Anjas yang semakin mempercepat langkahnya.


Wajahnya tampak selalu menyunggingkan senyum licik. Matanya merah menyala, wajahnya seperti seseorang yang telah terkontaminasi oleh obat dan minuman yang tidak baik.


Aza terus menggedor-gedor pintu rumahnya Bu Mina, tapi sedikitpun mereka tidak ada yang terbangun dan terusik dari keributan dan kebisingan ulah mereka.


Angin malam itu berhembus kencang, deburan ombak di pantai semakin menambah ributnya suasana malam itu. Angin menerbangkan anak rambutnya, hingga kadang menghalangi jarak pandangnya.


"Ya Allah… kenapa Ibu Mina tidak bangun? Apa benar yang dikatakan Abang Anjas kalau dia sudah memberikan mereka obat tidur?" Batinnya Aza yang sudah mulai ketakutan.


Tidak ada respon sedikitpun dari dalam rumahnya Bu Mina, Aza kemudian berpindah tempat dia kembali berlari ke arah jalan raya yang sedikit berlubang dan berbatu itu.


Azalina menambah kecepatan langkah kakinya, dengan mulutnya yang komat kamit meminta tolong.


"Tolong!!!! Siapapun yang mendengar teriakanku, tolonglah aku!!" Teriak Azalina yang terus berlari menuju rumah kepala Desa.


"Malam ini, kamu tidak akan lolos dari diriku, aku akan menikmati indahnya tubuhmu itu!!" Teriak Anjas yang semakin menambah kecepatan larinya.


"Aaahhhhhh!!!" Pekik Azalina ketika terjatuh ke atas jalan karena kakinya masuk ke dalam kubangan air yang kebetulan ada di jalan itu.


Aza tersungkur ke atas jalan, posisinya tengkurap, dadanya bersentuhan dengan aspal, kepalanya sedikit membentur batu yang kebetulan ada di pinggir jalan tersebut.


Anjas yang melihat hal itu, semakin kegirangan bahagia. Anjas memperlambat larinya karena melihat Aza yang terduduk sambil memeriksa lututnya yang sudah berdarah.


Hahahaha, "Kamu tidak perlu lari dariku, aku akan membantumu untuk memberikan kenikmatan yang tiada kira yang belum pernah kamu rasakan!!"

__ADS_1


Azalina yang melihat Anjas mendekatinya tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi. Dia ingin bangkit dari duduknya, tapi kakinya yang berdarah susah untuk digerakkan karena sakit.


"Ya Allah… tolonglah aku.. aku tidak ingin disentuh oleh pria lain yang bukan suamiku," gumam Aza dengan deraian air matanya.


Aza melihat batu dia segera melemparkan batu itu ke arah Anjas beberapa kali, tapi tidak membuat Anjas menyerah.


"Semoga batu yang sedikit besar ini mampu melukai kepalanya hingga terluka," cicitnya yang sudah bersiap kembali mengayunkan tangannya untuk melempari di bagian kepalanya Anjas.


Percobaan yang dilakukan oleh Azalina tepat sasaran.


"Auuuhhh!!" keluh Anjas yang memegangi kepalanya yang terkena lemparan batu.


Matanya Anjas semakin memerah dan melotot hingga seakan-akan urat syaraf matanya semakin menonjol dan bola matanya akan keluar dari tempatnya.


Azalina ingin berlari, tapi lagi-lagi usahanya terhenti dan gagal karena kakinya kemungkinannya keseleo saat terjatuh di dalam kubangan tersebut.


Pakaian yang sempat tadi dirobek oleh Anjas semakin kotor terkena cipratan air yang ada di dalam kubangan lumpur.


"Aku tidak boleh kalah dengan keadaanku yang seperti ini, aku harus bangkit dan segera lari," lirihnya yang sesekali menahan sakitnya dan meringis kesakitan dari beberapa luka yang dideritanya akibat saat dia terjatuh.


Anjas memeriksa kepalanya yang terkena lemparan batu tersebut. Ada tetesan darah segar yang mengalir membasahi keningnya. Wajahnya semakin merah padam dan amarahnya semakin membuncah hingga ke ubun-ubun.


"Kali ini aku tidak akan memberikan ampun kepadamu Aza, dasar wanita ******, wanita brengsek tidak tahu diri!!" Umpatnya Anjas dengan berbagai cacian yang meluncur dari bibirnya.


Aza baru ingin bangkit dari posisinya semula, rambutnya panjangnya ditarik dengan paksa oleh Anjas.


"Aaaahhhh!!! Sakit Bang??" Teriaknya meringis kesakitan saat Anjas menarik ikatan rambutnya yang sudah berantakan.


"Kamu mau kemana sayang, lebih baik kamu melayaniku malam ini dari pada kamu lari dan terluka seperti ini," rayunya Anjas dengan sinar matanya menyala menandakan bahwa dirinya menginginkan sesuatu pelampiasan nafsu malam itu juga.


"Abang jangan, aku mohon jangan lakukan ini padaku, aku mohon," ratap Azalina yang memohon kepada Anjas.

__ADS_1


Anjas membungkukkan tubuhnya sedikit condong ke arah Aza dengan memegang dagunya Aza lalu berkata," aku tidak akan kasar padamu asalkan kamu mau memuaskan aku malam ini juga."


Aza yang mendongak ke atas wajahnya Anjas segera meludahi wajahnya Anjas lalu menendang alat vitalnya Anjas. Setelah melakukan itu, Aza kemudian kembali berteriak karena sudah tidak mampu untuk bangkit dan berlari dari sana.


"Toloooooooongggggg!!!!"


Suara teriakannya yang sangat keras melengking tinggi itu mampu membuat dua orang tersadar dan mengalihkan perhatiannya.


Ke dua orang tersebut segera menghentikan laju motornya, ketika melihat Azalina dipukuli oleh Anjas.


"Hey!!!! Berhenti!!! Teriak mereka yang kemudian berlari ke arah Anjas yang sudah kalap dan buta karena pengaruh minuman beralkohol.


...Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya:...


...1. Dilema Diantara Dua Pilihan...


...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...


...3. Cinta Yang Tulus...


...4. Diantara Dua Pilihan...


...5. Cinta dan Benci...


...6. Bertahan Dalam Penantian...


...7. Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar...


...8.Pelakor Pilihan...


...Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir.....

__ADS_1


...I love you all Readers…...


__ADS_2