Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 23. Gagal Memulai


__ADS_3

"Aaaahhhhh!!!!" Teriak Azalina dengan suara cemprengnya.


Tapi, karena kurang hati-hati saat berjalan kakinya tersandung dengan ujung meja sehingga dia terjatuh ke atas tubuhnya Raja dengan posisi tengkurap dan kepalanya pas di atas bagian sensitifnya Raja.


Raja yang mendapatkan ciuman yang tiba-tiba di bagian sensitifnya hanya terdiam dan terpaku, tidak tahu harus berbuat apa. Wajahnya memerah menahan rasa malunya serta sesuatu yang memberontak dibawah tepat di atas pusat intinya.


Azalina yang merasakan ada yang tiba-tiba mengeras langsung bangkit dari posisinya. Wajahnya memerah menahan rasa malunya sendiri. Dia langsung ngacir ke arah jendela untuk segera membukanya lalu berjalan tergesa-gesa ke dalam kamarnya.


Raja pun sama dengan apa yang dialami oleh Azalina. Dia tidak menyangka jika miliknya akan terbangun disaat yang tidak tepat. Andai saja dia tidak dalam kondisi yang sakit, pasti juga ikut bersembunyi seperti yang dilakukan oleh Azalina.


Beberapa jam kemudian, sudah masuk waktu magrib, barulah Azalina keluar dari kamarnya, sedangkan Raja sedari tadi hanya terduduk di atas kursi rodanya. Awalnya dia duduk di atas kursi milik Azalina, tapi karena lama-lama bokongnya kesakitan hingga memutuskan untuk berpindah tempat ke atas kursi roda yang lebih empuk dan nyaman diduduki.


Azalina berjalan ke arah Raja yang masih menatap indahnya senja hari itu. Dia tidak bosan-bosannya mengagumi keindahan sunset sore itu. Warnanya yang jingga masuk ke dalam rumahnya melalui celah-celah rumahnya yang sudah berlobang.


"Abang mau shalat magrib bareng Aza gak?"tanyanya saat sudah duduk di hadapan Raja.


Raja yang mendengar seruan dari Azalina segera mengalihkan perhatiannya ke arah istrinya itu.


"Iya, tapi seperti biasa saja yang sering kamu lakukan sewaktu di RS, kamu akan membantu Abang untuk ambil wudhu kan?" ucapnya yang lebih mirip permintaan.


Azalina tersenyum sebelum menjawab perkataan dari Raja, "itu sudah pasti lah Abang, siapa lagi yang akan lakukan itu kalau bukan Aza Istrinya Abang, emangnya ada istri lainnya Abang?" Tanyanya yang tidak menyadari apa yang telah diucapkannya yang dianggapnya hanya gurauan semata tapi bagi Raja itu perkataan yang membuat sesuatu yang terjadi di dalam hatinya, perasaannya tiba-tiba menghangat seketika.


Azalina segera membantu Raja untuk mengambil wudhu. Dengan penuh perhatian dan telaten, Azalina berhasil melakukan tugasnya dengan baik. Azalina kembali mendorong kursi roda itu ke dalam kamarnya yang cukuplah untuk mereka tempati berdua.


"Maaf yah bang, kamarnya Aza sempit, mungkin tidak seperti kamar Abang yang ada di Kota," ujarnya sembari mengambil sarung, kopiah dan sajadah di dalam lemarinya.


Dia segera merentangkan dua lembar sejadah ke atas lantai yang sudah dilapisi tikar alasannya yang bagian bawahnya. Raja melaksanakan shalat diatas kursi rodanya dan menjadi imam shalat Magrib Azalina. Sedangkan Aza berada di belakangnya. Mereka melaksanakan shalat maghrib dengan penuh khusyuk. Mereka larut dalam shalatnya masing-masing dan melakukannya dengan penuh penghayatan.


Beberapa saat kemudian, mereka segera menyelesaikan shalatnya. Azalina kembali merapikan kembali perlengkapan shalatnya ke dalam lemari.

__ADS_1


"Abang kalau mau nyalain tv silahkan, Aza mau ke dapur dulu untuk masak makanan," ucapnya yang meminta izin kepada suaminya.


Raja hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dan segera meraih remote tv tersebut. Dia kemudian menyalakan tv. Dan betapa terkejutnya melihat siaran TV tersebut. Di dalam siaran tv, dia melihat Selena yang sedang berbadan besar dan menangis tersedu-sedu di depan kamera para wartawan yang mencari informasi dan berita.


Selena dalam wawancara itu mengatakan jika dia sangat sedih karena calon tunangannya mengalami kecelakaan dan belum ditemukan keberadaannya hingga detik ini sedangkan dirinya sudah hamil.


"Sepertinya, aku harus segera mengakhiri dramaku di sini dan segera kembali ke ibukota, jika tidak mereka akan semakin bahagia dan terus menikmati kekayaanku, kelicikan mereka harus segera dihentikan juga." Raja menggenggam remot itu hingga berbunyi seperti benda yang retak.


Azalina yang baru mengambil beberapa bahan makanan di dalam lemari pendingin gerakannya terhenti karena dia mendengar ada seseorang yang mengetuk pintunya.


"Siapa yah malam-malam begini datang bertamu?" Tanyanya dengan melap tangannya yang sedikit basah.


Raja sama sekali tidak mendengar jika mereka kedatangan tamu. Raja fokus dan serius melihat tayangan televisi. Wajahnya memerah menahan amarahnya saat melihat Martin dan Selena yang sudah dua bulan lebih dia tidak bertemu.


"Tunggulah kepulanganku, aku akan segera membalas perbuatan kalian padaku."


"Tunggu, sabar kenapa," tuturnya yang sudah mempercepat langkahnya agar orang tersebut berhenti untuk mengetuk pintu rumahnya.


"Dimana sih gadis kampung dekil dan tengik itu? Sedari tadi aku mengetuk pintunya tapi belum nongol juga, dimana tanganku sudah kotor terkena debu lagi," ucapnya dengan mendumel kesalnya.


Azalina segera memutar knop pintunya dengan cepat. Dia juga sedikit jengkel dengan sikap dari tamunya itu yang tidak ada hentinya terus mengetuk pintu. Azalina tersenyum kearah orang yang berada di balik pintu.


"Eeehh Mbak Dokter, maaf ada apa yah Mbak Dokter? Malam-malam datang bertamu ke rumahku yang kumuh ini?" Tanyanya Azalina dengan senyum khasnya itu.


Winda yang mendengar perkataan dari Azalina menohok hatinya tapi, baginya Azlina bukanlah lawan yang harus ditakutinya untuk mendapatkan Raja walaupun statusnya istri sah.


"Ada Abang Raja gak Ada? Aku bawain makanan soalnya untuk Abang,"tuturnya yang menenteng dua buah kantong kresek di depan matanya Azlina.


Azalina menatap jengah kearah Winda. Setelah berbicara dengan Ibu Mina sore tadi, dia sudah siap untuk mengantisipasi pergerakan dari Dokter Winda untuk berjaga-jaga agar tidak menggoda dan memiliki kesempatan untuk merebut Suaminya yang belum dia cintai.

__ADS_1


"Aza apa aku boleh masuk? Pegel nih berdiri terus apa cuacanya dingin banget lagi," ujarnya dengan kesal sambil menghentakkan kakinya karena Aza seakan-akan menghalanginya untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Maaf, aku hanya tidak menyangka jika seorang dokter yang cantik dan kaya datang mengunjungi dan menginjakkan di gubuk kumuh ku ini," ujarnya Azalina yang melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Kalau bukan karena Abang Raja, aku pun tidak sudi untuk datang ke rumahmu yang jelek dan kotor ini, aku hanya tidak habis pikir kenapa bisa Abang menikahi gadis jelek, miskin, kandungan dan bego kayak kamu," jelasnya Winda yang tidak mau kalah dengan Azlina, Winda sengaja memprovokasi Azalina agar Raja mengamuk dan Raja simpatik padanya.


Raja yang mendengar suara keributan di depan segera menjalankan kursi rodanya untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi. Matanya menatap tajam ke arah Dokter yang sangat ingin dia hindari itu.


"Sudah tahu rumahku jelek dan kotor kamu tetap datang, apa itu bukan bodoh namanya haaa!!" Ujarnya Azalina yang berdiri di ambang pintu.


"Emangnya kenapa kalau Abang menikahi gadis jelek, miskin, kampungan, bodoh dan apakah menurutmu, apa kamu rugi?" Tanyanya Azalina yang memajukan wajahnya ke wajah Winda.


"Hahahaha dasar gadis bodoh, jangan terlalu besar kepala, aku yakin Abang Raja itu nikahi kamu karena terpaksa, kasihan sama kamu dan sama sekali tidak mencintaimu," terang Winda yang sudah mulai terbakar api amarah tapi masih sempat tertawa merendahkan Aza.


"Masalah buat loh!! Kalau kami menikah karena alasan itu? Bagiku itu tidak masalah sih yang penting saya sudah berhasil menikahi Abang Raja dari pada kamu yang seorang dokter, cantik, kaya, pintar tapi ti-dak la-ku," balasnya dengan sengaja mengeja dan menekan kata terakhirnya.


Winda tidak menyangka ternyata Azalina gadis yang bar-bar juga. Semua perkataan yang dia lontarkan dikembalikan oleh Azalina dengan memukul telak perkataannya.


"Ternyata istrinya Raja adalah perempuan yang tidak punya sopan santun dan bar-bar, kalau aku jadi Raja pasti aku akan ceraikan kamu," kata Winda yang matanya sudah memerah dan sengaja membesarkan suaranya agar Raja keluar dari dalam kamarnya.


"Kalau aku diceraikan, aku juga tidak yakin sih jika Abang Raja akan menikahi perempuan seperti kamu," Azalina semakin tertantang untuk membalas perkataan dari Winda dengan menatapnya sebelah mata.


Winda ingin kembali meladeni Azalina, tapi belum sempat dia berbicara Raja sudah menginterupsi mereka agar segera berhenti berdebat. Winda tersenyum karena merasa kalau Raja akan membantunya untuk melawan Azalina.


"Abang Raja keluar juga, aku yakin dia akan memarahi Azalina, kalau gini harus berpura-pura jatuh di depannya Abang." Tatapannya yang tajam meremehkan ke arah Azalina.


Winda mengayunkan sedikit tangannya ke arah Azlina yang dilihat langsung oleh Raja, seakan-akan Azlinalah yang mendorongnya hingga terjatuh.


"Aaaaauuuuuhhhhh sakit!!!"

__ADS_1


__ADS_2