Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 45. Lampu Hijau Restu Orang Tua


__ADS_3

Jika dia tidak mengupayakan yang terbaik untuk memilikimu, maka dia bukan yang terbaik untukmu...


"Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu, kalau bunda butuh sesuatu tidak usah segan untuk menelpon Sherly atau Abang Sultan," ujar Sherly lalu meraih tangan perempuan yang sangat penting dan berjasa dalam kehidupannya selama ini.


Wanita yang selalu mengajarkannya nilai-nilai kehidupan yang sangat berguna sekali dalam membentuk kepribadiannya.


Mereka berjalan ke arah luar lalu menutup pintu dengan rapat. Anggara berperang dengan pemikirannya sendiri. Sedangkan Sherly berjalan beriringan dengan pacar backstreetnya dengan kebanyakan terdiam dan sesekali melirik sepintas kearah Anggara.


Mereka duduk di kursi panjang yang kebetulan sengaja disediakan di sekitar area taman. Bunga-bunga bermekaran yang sangat cantik dan elok dipandang mata.


Kupu-kupu beterbangan kesana kemari menghisap nektar bunga yang menambah semarak taman itu.


"Sepertinya ada yang ingin Abang sampaikan kepada Sherly?" Tanyanya Sherly yang berhasil mencairkan suasana hening yang tercipta di antara mereka.


Anggara menatap sekilas ke arah Sherly lalu kembali menundukkan kepalanya untuk melihat rumput yang tumbuh subur yang kebetulan dia injak.


"Bagaimana caranya aku menyampaikannya, aku takut jika Sherly mendengarnya dan marah dan sama sekali tidak bisa memenuhi permintaan dari Papi dan mami?" Cicitnya.


"Abang!! Apa yang terjadi padamu sedari tadi aku perhatiin sepertinya ada yang mengganjal di pikirannya Abang tapi Abang tidak mau jujur sama Sherly," ucap Sherly yang keheranan dan sama sekali tidak mengerti dengan maksud Angga yang diam dan bungkam seribu bahasa.


Anggara berulang kali menghembuskan nafasnya dengan kasar. Apa yang dilakukannya, diam-diam diperhatikan oleh Sherly.

__ADS_1


"Kenapa lidahku kelu dan sulit untuk berbicara padahal hanya menyampaikan maksud dan tujuan Papi saja tapi seakan-akan lebih sulit dari pada sewaktu menghadapi ujian dengan dosen killer saja," sesalnya yang menatap ke arah Sherly.


Sherly memiringkan sedikit tubuhnya agar dirinya lebih leluasa berbicara dan mampu menatap ke dua matanya Anggara ketika berbicara. Lalu ia meraih tangannya kekasih pujaan hatinya itu.


"Abang, sampai kapan harus terdiam seperti ini?, jika Abang bicara terbuka dan jujur sama Sherly baru aku bisa menyimpulkan dan mengambil keputusan untuk kedepannya," terang Sherly dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.


"Hanya kurang lebih enam bulan kita tidak bertemu, sifat manja, kekanak-kanakan dan egoisnya perlahan aku perhatikan sudah tidak ada di dalam dirinya, mungkin jujur adalah solusi dan jalan yang terbaik dari kemelut permasalahan hatiku dan untuk masa depan hubungan kami," batin Anggara.


Mereka kembali terdiam dalam beberapa waktu. Sherly mengalihkan pandangannya ke bunga melati karena grogi harus ditatap intens dari Pria yang sudah membuat dirinya berubah dan menjadi lebih dewasa.


"Sherly apa kamu bisa masak makanan opor lontong sayur dengan rendang daging khas Palembang?" Tanyanya yang tidak menjawab perkataan dari Sherly malahan balik bertanya dan menurut Sherly sudah keluar dari pokok pembahasan mereka.


"Insya Allah bisa Abang, emangnya Abang ingin makan masakan khas Indonesia itu?" Balasnya yang memberikan pertanyaan balik kepada Anggara.


"Alhamdulillah," lirihnya dengan bisa bernafas lega setelah mendengar penjelasan dari mulutnya Sherly.


"Emangnya kenapa sih bang, tanya masalah masak sama makanan, jangan-jangan Abang lapar lagi?" Tanyanya Sherly yang diliputi perasaannya dengan kebingungan dan tanda tanya.


Anggara bukannya menjawab malah hanya menyunggingkan senyum termanis yang dia miliki di wajahnya.


" Iiih Abang Angga aneh," pekiknya lalu memukul pelan lengannya yang Anggara yang menurutnya buat gemes dan greget dengan tingkah dan ulahnya Anggara yang seperti ini.

__ADS_1


"Kalau gitu besok kamu datang ke rumah untuk masakin makanan yang Abang tadi sebut untuk Mami sama Papi, mereka paling doyan makan makanan itu," pungkasnya Anggara yang perasaannya sudah plong.


Perasaan dan pikirannya Anggara seolah-olah seperti ada batu yang sangat besar menimpanya serta dipikulnya selama seharian ini.


Tetapi setelah melihat keseriusan dari wajahnya Sherly saat menjelaskan bahwa dia bisa masak, wajahnya sumringah dan matanya berbinar-binar saking bahagianya.


Anggara menarik tubuhnya Sherly dan kedalam pelukannya lalu memeluknya cukup erat.


"Makasih banyak sayang, kalau kamu bisa masak dengan enak dan lezat untuk papi dan mami, mereka akan memberikan lampu hijau dan tidak perlu main sembunyi segala dan yang paling penting kita akan segera menikah," teriak Anggara saat menyebut kata terakhirnya.


Sherly yang mendengar penjelasan dari Anggara sangat bahagia. Dia tidak menyangka jika belajar memasak dengan bundanya dan beberapa emak-emak tetangganya sewaktu tinggal di perkampungan membawa berkah tersendiri untuk kehidupan dan masa depannya.


Syukur Alhamdulillah kemarin ada lagi satu novel recehanku yang lulus kontrak, ini semua berkat dukungan kalian para Readers setianya novel Fania.


Tetap Dukung terus novel-novel remahan rengginan milik Fania yah.. makasih banyak i lope lope pull…


Yuk mampir juga ke novel salah othor multi talenta temannya fania judulnya ada dibawah ini:



Ceritanya gak kalah seru loh dengan Novelnya Fania malahan lebih bagus yang penasaran cus saja baca..

__ADS_1


__ADS_2