Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 87. Bayu Terpesona


__ADS_3

Bayu segera mengulurkan tangannya ke arah Aza," Bayu Alfiansyah," tutur Bayu.


"Azzahrah Almeera Farhan," sahut Aza memperkenalkan dirinya sembari membalas menjabat tangannya Bayu dengan seulas senyuman manis darinya.


"Sepertinya Bayu tertarik dan terpesona melihat Aza dari arti tatapannya itu yang membuktikan hal tersebut," Dokter Wanda membatin.


Bayu tidak jemu dan tak bosan-bosannya memandangi wajah cantik nan ayu tanpa polesan make up yang tebal milik Aza. Sedangkan yang ditatap dan diperhatikan sedari tadi tidak merasa curiga jika dirinya menjadi pusat perhatian seorang dokter tampan.


"Azahrah mulai hari ini dan untuk kedepannya hingga kamu sembuh total, dokter Bayu yang akan menangani pengobatan dan terapimu karena beliau lah yang lebih berkompeten di bidang ini," terang Dokter Amanda adik sepupunya Mamanya sendiri.


Aza hanya menatap sekilas ke arah Dokter Bayu dan masih berusaha untuk menetralkan emosinya yang masih sesekali tersenyum mengingat kejadian lucu waktu itu.


Setelah melalui proses yang cukup lumayan panjang. Aza dan Bayu telah melalui tahapan awal terapi. Dokter Bayu bersyukur karena cara yang dia tempuh cukup ampuh untuk membantu Aza mengingat kembali kejadian di masa lalunya.


"Makasih banyak Dok atas bantuannya, kalau gitu saya pamit pulang dulu," ujarnya Aza sambil melirik jam yang melingkar cantik di pergelangan tangan kirinya dengan cantik.


Aza segera berjalan meninggalkan ruangan tersebut tanpa perduli dengan tatapan Bayu yang ingin mengatakan sesuatu. Aza berjalan tanpa menoleh sedikit pun dia merogoh tasnya untuk mencari keberadaan hpnya.


"Ya Allah… pesan bunda Hamidah banyak banget, pantesan saya kan janji mau nelpon bunda setelah terapi," tuturnya Aza dengan menyesali yang mematikan nada dering dan getaran hpnya.


"Semoga saja Bunda tidak marah dan mengerti jika aku tadi sibuk," ujar Aza yang berharap agar bunda Hamidah tidak marah dan kecewa kepadanya.


Aza segera menghubungi nomor hp Bu Hamidah tetapi tidak aktif. Sudah berulang kali bahkan banyak kali tapi tidak aktif.

__ADS_1


"Apa bunda marah yah gara-gara aku gak balas chatnya," gumam Aza.


Sambil berfikir tentang itu, Aza terus melangkahkan kakinya menuju tempat area parkiran mobil.


"Mang Udin!!" Teriak Aza yang mengetuk pintu mobilnya yang ternyata terkunci dari dalam.


Mang Udin tertidur pulas di dalam mobil sehingga sedari tadi ditelpon oleh Aza dia sama sekali tidak menggubrisnya. Aza menggelengkan kepalanya melihat mang Udin yang mulutnya menganga dan sedikit ileran terlalu asyik dan menikmatinya acara tidur siangnya saat itu.


Hingga yang kesekian kalinya, Mang Udin akhirnya bangun juga dari tidurnya dan tersentak kaget ketika melihat Nona mudanya sudah berkacak pinggang kehadapannya itu.


Mang Udin gelagapan dan saking buru-buru nya dia bangun, hingga tubuhnya terjatuh ke atas lantai mobil.


Bukk….


"Mang Udin.. hati-hati dong kalau bangun kalau gini jadinya kan sakit banget," sarkas Aza yang tertawa menutup mulutnya agar supaya suaranya tidak terlalu berisik.


Mang Udin pun ikut tertawa terpingkal-pingkal menertawai dirinya sendiri. Dia tidak menyangka jika dirinya harus terjatuh karena terkejut melihat Aza yang sengaja melototkan matanya dan menggerai rambut panjangnya ke arah depan sehingga mirip dengan si kunti.


"Nona Muda, Mamang kira siapa bikin kaget saja," jelasnya dengan tawa cengengesan khasnya.


Pintu mobil itu terbuka lebar, Mang Udin keluar dari mobil lalu berjalan ke arah Aza.


"Mang ke Toilet saja dulu, bersihin tuh wajahnya yang penuh dengan saliva," pinta Aza yang menyarankan agar mang Udin ke belakang dulu.

__ADS_1


"Baik Non, saya kebelakang dulu sebentar saja, tapi Nona jangan-jangan kemana-mana yah, tunggu Mamang sampai datang lagi," wanti Mang Udin kepada Aza yang mengganggap Aza anak kecil saja.


"Mamang emangnya aku bocah apa? Harus diperingati seperti itu," balasnya Aza dengan menatap jengah ke arah mang Udin yang sudah ngacir ke arah toilet umum.


"Kamu sangat cantik dan betapa rugi dan menyesalnya diriku jika aku tidak berhasil merebut dan jadi Raja di dalam hatimu, aku akan berusaha merebut hatimu itu Aza," lirihnya yang sedari tadi mengawasi dan memandangi ke arah Aza.


Azahra memutuskan untuk masuk ke dalam mobilnya sambil menunggu kedatangan kembali Mang Udin. Dia duduk dan memeriksa hpnya. Ternyata banyak balasan chat dari Bu Hamidah. Dia membuka chat tersebut dan membacanya tapi, tiba-tiba ada bayangan seseorang yang terlintas di dalam benaknya.


Aza memegang kepalanya yang sedikit sakit. Bayang-bayang seseorang yang terus memanggil namanya.


"Azalina istriku!!" Lirihnya Aza yang terlintas di dalam pikirannya.


Silahkan mampir juga ke Novel aku yang lain judulnya:


...1. Dilema Diantara Dua Pilihan...


...2. Pelakor Pilihan...


...3. Cinta CEO Pesakitan...


...4. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...


Makasih banyak all Readers...

__ADS_1


i love you full banget deh untuk kalian yang sudah mampir baca... jangan bosan yah..


__ADS_2