Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter 59. Azalina Menghilang


__ADS_3

"Mari kita secepatnya berpencar untuk mencarinya hingga kita ketemu dengan Aza," jelas Pak Ardi.


"Ya Allah… jaga dan lindungilah Aza, dia anak yang baik dan sedang sakit bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak baik padanya," ucap Bu Mina yang sangat menyayangkan kejadian ini terjadi dan menimpa Aza.


Hingga tanpa diketahui oleh Azalina ada mobil yang berhenti saat melihatnya terduduk seperti orang gila di trotoar. Orang itu segera mengulurkan tangannya ke hadapan Azalina.


"Aku yakin Aza akan baik-baik saja karena dia anak yang baik, dan semoga dia selalu dalam lindungan Allah SWT," harap Ibu Mina yang sudah menangis tersedu-sedu memikirkan nasibnya Aza yang menghilang.


Hingga siang berganti malam, sinar rembulan malam telah menyinari bumi indonesia bagian barat. Pencarian mereka masih belum berhasil juga dan tidak ada sedikit pun petunjuk yang mereka dapatkan.


"Bagaimana ini Pak, kita belum berhasil juga menemukan Azalina," keluh kesahnya Bu Melati yang pasrah dengan keadaan dan ingin menyerah mencari Azalina.


"Besok pagi kita ke kantor polisi untuk melaporkan kehilangan Azalina," balas Pak Ardi yang diam-diam menetaskan air matanya.

__ADS_1


"Ya Allah… aku harus bilang apa jika suatu saat nanti Raja pulang dan mencari Istrinya? Padahal aku sudah berjanji padanya untuk menjaga Aza untuknya selama dia pergi," Pak Ardi membatin.


Ibu Melati yang melihat raut wajah suaminya yang berubah sendu itu segera memegang genggaman tangannya Pak Ardi.


"Ibu yakin bapak sangat sedih, ibu pun sama halnya dengan yang dirasakan oleh bapak, tapi apa lah daya kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari Aza yang tiba-tiba menghilang entah kemana rimbanya," tutur Ibu Melati yang sangat sedih dan kecewa karena telah lalai menjaga Aza.


"Pak Ardi apa ada nomor telpon yang bisa dihubungi untuk menelpon nomor hpnya Raja, karena sebaiknya kita tanya semua kondisi kesehatan dan berita kehilangan istrinya saja, alangkah ganjal dan tidak baiknya jika dia tahu nantinya dari orang lain yang bisa memperparah keadaan," ungkap Pak Anton yang memberikan usul dan saran kepada mereka.


"Santi apa hpnya Aza sama kamu!" Tanyanya Bu Hana.


Santi tersentak kaget ketika dilayangkan pertanyaan kearahnya.


"Eeehh aku tidak mengambil hpnya Mbak Aza dan sejak kemarin Mbak Aza mencari keberadaan handphonenya tapi tidak ketemu juga, aku sudah mencoba untuk menelponnya tapi selalu tidak aktif atau berada di luar jangkauan nomornya Bu," jawabnya dengan kecewa karena satu-satunya harapan mereka menuai kegagalan dan tidak berhasil.

__ADS_1


Mereka kemudian saling berpandangan satu sama lainnya. Mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi. Mereka hanya bisa berharap dari pihak kepolisian semoga pihak polisi bisa membantu menyelesaikan masalah besar tersebut.


"Beginilah rasanya jika berada di kampungnya orang lalu kita mendapatkan ujian dan cobaan yang cukup besar, tidak ada yang bisa kita lakukan hanya bisa bersabar dan perbanyak berdoa dan tawakal berserah diri kepada Allah SWT," tutur Pak Toni yang juga sedih.


"Kasihan Aza sejak kecil sudah menderita selama bapak dan ibunya meninggal dunia hingga Perlakuan kasar dan kekerasan yang sering kali dia dapatkan dari bibinya sendiri, oercobaan penganiyaan yang berakibat trauma hingga sekarang menghilang entah kemana perginya," timpal Bu Mina.


"Iya benar sekali apa yang Ibu katakan, anak yang tidak bersalah sedikit pun dan baik hati harus hidup dengan penuh perjuangan di usianya yang masih sangat muda 19 tahun," sahut Pak Anton.


Mereka sangat sedih dan terpuruk hingga berputus asa, karena pencarian mereka tidak berhasil juga hingga membuat mereka menyerah.


Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..


I love you all Readers…

__ADS_1


__ADS_2