
Air matanya menetes membasahi pipinya, dia menatap ke arah cincinnya yang warnanya sedikit pun tidak pudar padahal sudah tiga tahun lebih dia pakai.
"Abang, maafkan aku." Dia menekuk kakinya lalu memeluk dengan kuat, air matanya terus menetes membasahi wajahnya. Hingga teriakan dari seseorang yang membuatnya mengakhiri lamunannya.
"Azalina!!!!"
Azalina terlonjak kaget mendengar teriakan dari Bibinya. Doa spontan berdiri sambil menghapus air matanya.
"Hey!!! Apa alasanmu tidak ingin menerima pernikahanmu dengan pria itu?" Tanyanya Bibinya dengan mendorong tubuhnya Azalina hingga terduduk kembali ke atas balai-balai.
"Saya dengan pria itu tidak melakukan apa pun yang tidak baik, jadi apa alasannya saya harus menerimanya?" Tanyanya dengan ikut berdiri di depan bibinya.
"Bibi ingin tertawa terbahak-bahak mendengar perkataanmu, terus yang mereka lihat itu apa? Kamu terlalu pintar bicara, tapi kamu perlu tahu jika menolak untuk menikah dengannya jangan salahkan Bibi jika kamu diusir dari kampung kita," tunjuknya tepat di depan wajahnya Azalina.
Azalina memegang jarinya Ibu Lina lalu membalas perkataannya, "Aku tahu maksud Bibi memaksaku untuk menikahi pria itu," ujarnya sembari menghempaskan tangannya Ibu Lina.
"Oohh sekarang kamu sudah bisa melawan rupanya, kenapa baru sekarang haaa!!!" Teriaknya sambil menjambak rambutnya Azalina.
Azalina tidak tinggal diam, menurutnya sekaranglah saatnya untuk melawan kezaliman bibinya. Dia tidak ingin membiarkan bibinya bertindak semena-mena lagi.
Azalina memegang tangan bibinya lalu memelintirnya dengan lumayan kuat hingga tangannya terlepas dari rambutnya.
"Mulai detik ini, aku tidak akan membiarkan siapapun terutama bibi untuk mengganggu ataupun merecoki hidupku lagi, selama ini aku tidak melawan apa pun yang Bibi lakukan karena aku sangat menghormati pamanku, tapi hal itu tidak berlaku lagi," jelasnya dengan menghempaskan tangannya Ibu Lina.
"Ternyata anak sial ini sudah menjadi kuat, aku harus segera menjalankan rencana ku untuk mendesak para warga untuk memaksa mereka segera menikah jika tidak sebelum Anjas pulang dari kota, aku tidak ingin tahu yang jelasnya Anjas harus jadi menantuku." Seringai liciknya nampak di raut wajahnya.
"Tolong tinggalkan rumahku sebelum aku berteriak meminta tolong kepada masyarakat kalau Bibi datang untuk memukuliku," ancamnya agar Bibinya segera pergi dari sana.
__ADS_1
Ibu Lina mendumel kesal di depan Azalina lalu menghentakkan kakinya sebelum meninggalkan rumah Azalina. Tapi baru beberapa meter langkahnya, dia kembali memutar balik tubuhnya lalu kembali berjalan ke arah Azalina yang ingin menutup pintu rumahnya.
"Ingat baik-baik, Bibi tidak akan menyerah begitu saja sebelum kamu berhasil menikah dengan pria itu, camkan itu," ujarnya lalu meninggalkan rumahnya Azalina dengan raut wajahnya yang ditekuk dengan mulutnya yang komat kamit.
Azalina menutup rapat pintu rumahnya dia melorotkan tubuhnya di balik pintu. Tangisannya kembali pecah, dia tidak menyangka jika keluarganya sendiri lah yang ingin melihatnya menderita.
"Ya Allah… kuatkan dan sabarkan hatiku untuk menghadapi semua ini."
Beberapa hari kemudian, Azalina diminta oleh Pak Desa untuk segera datang ke rumah sakit. Azalina yang mendengar perintah tersebut bergegas bersiap berangkat ke RS. Dia mengeluarkan sepeda kesayangannya yang berwarna putih itu. Sepeda itu lah yang selalu menemani aktivitasnya.
"Bismillahirrahmanirrahim, semoga saja Pria itu sudah sembuh dan ingatannya bisa kembali normal seperti sedia kala." Lalu menutup pintu rumahnya lalu menguncinya dengan rapat.
"Azalin!! kamu mau ke mana Nak?" Tanya seorang ibu yang kebetulan berpapasan dengannya di jalan yang dilaluinya.
Azalina tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari Ibu itu, "Rencananya mau ke rumah sakit Bu, pak desa memerintahkan saya untuk segera kesana," jelasnya.
"Raja!! Siapa yang dibilang Raja Bu?"tanyanya yang tidak mengerti dengan maksud dari perkataan Ibu Mutia.
"Yaelah Azalina, Raja itu pria yang tempo hari kamu selamatkan di Pantai, pria yang paling ganteng di Kampung kita ini," jawabnya dengan antusias sembari membayangkan wajahnya Raja.
"Raja? Jadi Raja namanya toh."
Azalina terdiam sesaat mencerna perkataan dari ibu Mutia.
"Andai saja dia belum dicalonkan denganmu, pasti aku akan menjodohkannya dengan putriku," terangnya dengan senyuman yang sudah membayangkan putrinya bersanding dengan Raja.
Azalina yang melihat hal tersebut segera berlalu dari hadapan ibu Mutia yang masih berdiri mematung tersenyum-senyum sendiri. Dia tersenyum memikirkan tingkah lakunya Ibu Mutia yang menurutnya lucu sangat.
__ADS_1
"Apa setampan itu Raja yang dikatakan oleh Ibu Mutia?"tanyanya yang berusaha untuk mengingat wajahnya Raja.
Dia perlahan mengayuh sepedanya ke arah rumah sakit. Orang-orang yang bertemu dengannya di jalan selalu menjaganya dengan senyuman ramahnya. Dari hal itu lah, masyarakat heran jika ada yang mengatakan kalau Azalina adalah gadis yang nakal dan rela melakukan hal-hal yang tidak baik terutama yang dilarang oleh agama.
Beberapa saat kemudian, ia sudah sampai di depan rumah sakit. Dia pun memarkirkan sepedanya.
"Assalamualaikum Neng geulis," ucap salam Security Rumah Sakit yang sudah mengenal Azalina.
Azalina dikenal oleh beberapa karyawan RS sakit karena dia setiap hari mengantar ikan segar pesanan rumah sakit. Mereka mengenal Azalina gadis yang ramah, sopan, baik hati dan tidak pernah didengar sedikit pun apabila selalu bertindak yang tidak-tidak.
"Waalaikum salam Pak, gimana kabarnya Pak, sehat kan? Tidak perlu pakai Neng geulis segala lah Pak, aku kan bukan orang Bandung," Terangnya dengan ramah saat sudah memarkirkan sepedanya di tempat yang biasanya.
"Syukur Alhamdulillah, Bapak baik-baik saja, kalau kamu bagaimana Nak?" tanyanya balik lalu memberikan nomor parkiran ke tangannya Azalina.
"Alhamdulillah seperti yang Bapak lihat, aku baik-baik saja dan selalu sehat karena Allah SWT sayang sama Aza Pak," terang Azalina dengan senyuman ramahnya.
"Alhamdulillah Nak, Bapak senang dengarnya semoga kamu selalu bahagia dan segera diberikan jodoh yang baik agar kamu tidak perlu repot-repot bekerja seperti ini terus, lambat laun pasti kamu butuh seseorang yang akan jadi pendamping hidup yang akan menjagamu," tuturnya Pak Budiman.
"Ihh Bapak kok ngebahas hingga ke masalah jodoh, aku masih sangat muda loh pak belum setua itu juga untuk memusingkan masalah jodoh,kalau jodoh tak akan lari ke mana," terang Azalina.
"Kamu selalu seperti itu Nak, Bapak ikut bahagia jika kamu juga bahagia, Bapak itu sudah mengenalmu saat kamu masih berusia 1 tahun jadi bapak sangat tahu siapa kamu dan jika ada orang yang berbicara tidak-tidak bapak yang akan menjadi orang pertama yang akan menentang dan menyanggah perkataan mereka," tuturnya dengan panjang lebar.
"Makasih banyak Pak, Aza sangat bahagia dengannya seakan-akan bapak Aza masih hidup dari dalam dirinya bapak," timpal Azalina.
"Kamu harus sabar Nak, walaupun bapakmu hingga sekarang belum ditemukan keberadaannya, tapi beliau adalah sahabat terbaiknya bapak," ujarnya.
"Maaf Pak, bukannya saya ingin mengganggu nostalgia bapak tapi, karena Aza sudah ditungguin sama Pak Desa, jadi Aza pamit dulu yah pak, assalamualaikum," ucapnya dengan tersenyum sambil berjalan ke arah dalam rumah sakit.
__ADS_1