
"Maaf seperti itulah kenyataannya Abang, aku sudah menikah dengan pria lain," lirihnya dengan wajahnya yang sendu.
Tetesan air matanya membasahi pipinya, dia tidak menyangka jika secepat ini Anjas mengetahui kenyataan jika dirinya telah menikah dan menjadi istri orang lain. Anjas bungkam dalam keterpurukannya, ia sama sekali tidak menduga bahwa kekasihnya yang sangat dicintainya telah melanggar janjinya untuk menikah dengan pria lain.
"Abang yakin apa yang kamu katakan adalah prang saja, iya kan Aza??" Tanyanya yang langsung bangkit dari posisinya yang berlutut sedari tadi.
"Maafkan Aza, semua ini sudah ditakdirkan oleh Allah SWT kalau hubungan kita cukup sampai di sini, dan tidak perlu ada yang disesali," ungkapnya yang mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Tangannya Anjas mengepal kuat, matanya memerah, dadanya kembang kempis menahan amarahnya,"aku tidak akan membiarkanmu bahagia dengan suamimu dan aku akan buat kalian menderita, terlalu sakit dan hancur hatiku kalian sakiti seperti ini." Tatapannya tajam menatap ke arah Azalina yang terdiam terpaku dalam pikirannya.
Anjas lalu meninggalkan Azalina yang sedari tadi menangis tersedu-sedu. Anjas berjalan ke arah luar dan menyenggol lengan Azalina dengan kuat, tanpa meminta maaf dan menyapa Azalina ketika meninggalkan rumahnya Aza.
"Maaf, hubungan kita cukup sampai di sini, entah kenapa perasaanku mengatakan jika Abang sudah berubah tidak seperti dulu lagi," lirihnya yang terduduk di kursi kayunya yang usang itu.
Pandangannya tertuju pada lantai dengan sesekali air matanya terjatuh ke atas pahanya yang terbungkus celana treningnya yang berwarna biru tua itu. Azalina melupakan keberadaan suaminya yang sudah lama pergi.
Anjas berjalan pulang ke rumahnya, di jalan dia bertemu dengan Raja. Anjas menatap tajam ke arah Raja dengan penuh dendam dan kebencian yang membuncah di dalam dadanya. Anjas berjalan ke arah Raja dengan tatapan membunuhnya.
"Ingat baik-baik!! Aku selamanya tidak akan pernah mengijinkan kalian bahagia, apa pun akan aku lakukan untuk memisahkan kalian dan Aza akan menjadi milikku seorang, camkan itu!!" Bentaknya sembari menunjuk langsung tepat di wajahnya Raja.
Sedangkan Raja sama sekali tidak menimpali perkataannya Raja sedikit pun. Dia berdiri tak bergeming diam dalam kebungkamannya. Anjas segera berlalu dari hadapannya Raja yang terpaku dalam kediamannya itu, hanya senyuman tipisnya yang tersungging dari sudut bibirnya.
"Aku tidak akan biarkan wanitaku direbut oleh pria manapun, aku akan menunggu tantanganmu," pekiknya saat Anjas belum terlalu jauh dari tempatnya berdiri di pinggir pantai.
Anjas hanya menoleh sesaat dan tersenyum licik ke arah Raja. Dua pria itu melakukan perang dingin memperebutkan seorang perempuan Kampung. Raja sudah bertekad apa pun yang terjadi dia akan mempertahankan hubungannya dengan Azalina, walaupun besok dia akan bertolak ke Jakarta.
__ADS_1
Malam semakin larut, tetapi Raja belum pulang juga ke rumahnya padahal cuaca malam itu sangat dingin. Sedangkan Azalina meringkuk di atas dipannya. Sedikit pun tidak bisa memejamkan kedua matanya. Pikirannya bercabang-cabang tertuju pada suaminya dan mantan tunangannya.
Air matanya tak kunjung berhenti, malahan semakin menjadi saja. Hingga pintu kayu itu berdecit dengan perlahan pertanda Raja telah kembali tepat jam 24 tengah malam. Azalina segera keluar dari kamarnya dan ingin melihat suaminya itu.
"Abang sudah pulang, tadi dari mana saja bang?" Tanyanya yang mengintrogasi Raja karena sedari tadi sudah mengkhawatirkan keadaannya Raja.
Raja sama sekali tidak menggubris pertanyaan yang meluncur dari bibirnya Azalina hanya berlalu dari hadapan Aza yang masih berdiri di depan pintu. Raja masuk ke dalam kamar lalu mengambil bantalnya yang biasa dia pakai dan segera merebahkan tubuhnya di atas kursi panjang.
"Masuklah sudah malam, waktunya untuk istirahat ingat besok pagi kita harus ke bank untuk urus rekening barumu," ucapnya dengan nada dingin tanpa melihat ke arah Aza sedikitpun.
Glek..
Entah kenapa perasaannya Aza terasa lain-lain, ada ribuan jarum yang menusuk hingga ke dalam hatinya. Wajahnya spontan berubah sendu yang awalnya sumringah mengetahui jika Raja sudah pulang.
Raja segera memejamkan matanya tanpa peduli sedikit pun dengan Aza yang masih terdiam membisu seribu bahasa di tempatnya semula.
Azalina masuk ke dalam kamarnya, rencananya hari ini dia ingin mengajak Raja untuk tidur bersamanya di dalam kamarnya, karena sudah beberapa hari ini, dia melihat dan memperhatikan Raja yang gelisah dalam tidurnya. Azalina tidak lupa membakar obatnya untuk suaminya. Dia walaupun belum memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri seutuhnya, tapi hal itu juga terjadi karena permintaan dari Raja sendiri sebelumnya.
Raja menoleh sesaat ketika Azalina sudah berjalan masuk ke dalam kamarnya,"maaf Abang terlalu kecewa Aza."
Ayam jantan milik Raja berkokok di belakang rumahnya, pertanda pagi sudah datang menjemput. Matahari bersinar menyinari seluruh jagad raya. Sinar mentari menyelinap masuk ke dalam celah dinding rumahnya Azalina yang terbuat dari kayu itu.
"Huummm," Azalina mengerjapkan matanya lalu merentangkan kedua tangannya.
"Alhamdulillah, sudah pagi rupanya, padahal serasa baru beberapa menit saya tertidur," tuturnya lalu bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Azalina berjalan ke arah luar kamarnya, dan melihat kursi tempat tidur Raja sudah kosong. Azalina mencepol rambutnya dengan asal agar anak rambutnya tidak terjatuh mengenai wajahnya sehingga menggangunya untuk beraktifitas.
"Mungkin Abang sudah berada di belakang kasih makan ayamnya," gumamnya lalu berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan makanan untuk suaminya.
Beberapa saat kemudian, makanan sudah tersaji di atas meja makan, bersamaan dengan pintu belakang terbuka. Azalina segera menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman termanisnya. Tapi, Raja sedikit pun tidak membalas senyuman tulus yang Azalina perlihatkan.
Gleduk….
Perasaan Azalina mencelos saat senyumannya tak terbalas, tapi Aza sama sekali tidak ingin berfikiran yang macam-macam. Dia segera menarik kursi segera agar Raja bisa duduk. Dia juga mengambil piring dan menaruh beberapa makanan ke atas piringnya.
"Cepatlah makan, karena kita akan segera ke bank, dan setelah itu aku ingin berangkat ke Jakarta setelah temanku datang menjemputku," ujarnya yang sama sekali tidak melihat ke arah Aza sedikitpun hanya fokus pada makanannya saja.
"Iya Abang," jawabnya dengan lemas.
Setelah mereka menyelesaikan makannya, mereka segera berangkat menuju salah satu Bank swasta yang ada di Ibu kota kabupaten. Hanya butuh waktu yang sebentar saja, Aza sudah mendapatkan buku tabungan serta kartu anjungan tunai mandiri yang orang lebih kenal dengan atm.
Teller dan customer servis Bank tersebut menjelaskan secara rinci dan detail cara penggunaan atm dan manfaat buku rekening. Azalina cepat paham dan tanggap dengan penjelasan tersebut sehingga tidak membuat Raja mengulang kembali penjelasan tersebut.
Mereka kembali ke rumah dengan mengendarai motor pemberian dari dokter Anggara tempo hari itu. Azalina dilatih oleh Raja hingga paham dan bisa memakai motor matic tersebut. Raja sama sekali tidak mengajak istrinya berbicara atau menimpali perkataan dari Azalina malahan berpura-pura seolah-olah tidak mendengar perkataan dari Azalina.
...Tetap Dukung Pesona Perawan dengan:...
...Cara Like setiap Babnya...
...Rate bintang lima...
__ADS_1
...Gift Poin atau Koin Seikhlasnya...
...Favoritkan agar selalu mendapatkan Notifikasi Updatenya....