Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 61. Rencana Sultan


__ADS_3

Wajah mereka yang awalnya antusias berharap mereka mendapatkan kabar yang baik tapi, ternyata semua usaha yang mereka lakukan sama tidak menghasilkan apa-apa.


"Kalau emang seperti ini hasilnya tidak apa-apa, yang penting kita sudah melakukan dan mengupayakan yang terbaik untuk melakukan pencarian tapi kehendak Allah SWT seperti ini, jadi Bapak harap kepada bapak-bapak dan ibu-ibu untuk bersabar dan tidak perbanyak berdoa agar Aza selalu dalam lindungan Allah SWT," terangnya Pak Ardi dengan panjang lebar sebelum mereka bertolak kembali ke kampung halamannya dengan berbagai macam perasaan yang berbeda-beda.


Santi dan Riswan sangat sedih menyesali keteledorannya karena gara-gara dia terlelap dalam tidurnya sehingga Aza menghilang dari pandangannya.


"Ya Allah… jaga dan lindungilah Mbak Aza dimana pun dia berada, ini semua terjadi karena kesalahanku ya Allah," gumamnya.


Pak Ardi sesekali mengusap air matanya yang berhasil lolos dari pelupuk matanya. Dia tidak menyangka gadis yang selalu ceria, baik hati bernasib seperti ini.


"Maafkan Bapak Nak yang tidak bisa menemukan kamu, bapak sudah berusaha yang terbaik tetapi apa boleh buat Allah SWT belum menjodohkan kita untuk bertemu kembali," lirihnya yang mengalihkan pandangannya ke arah jendela mobilnya.


Bu Melati yang menyadari hal tersebut segera memegang genggaman tangan suaminya.


"Insya Allah Aza akan pulang dan berkumpul bersama kita seperti dulu lagi, Ibu mohon bersabarlah dan perbanyak berdoa jangan selalu menyalahkan diri bapak karena semua ini pasti sudah kehendak Allah SWT," jelas Bu Melati.


Toko kelontong sembako milik Azalina sudah diputuskan oleh mereka jika Riswan dan Santi saja yang sangat pantas untuk mengurusnya dan mengelolanya. Karena menurut kesepakatan mereka lah yang sangat layak untuk melakukan hal itu dan mengemban amanah dari Aza.


Satu bulan kemudian…


"Bunda…!!" Teriaknya Sultan yang mencari keberadaan bundanya yang sudah mencarinya kemanapun tapi Sultan belum melihat keberadaan dari Bu Hamidah.


Sherly yang mendengar teriakan dari abangnya segera berjalan ke arah kakak sulungnya itu.


"Bunda tadi pagi ke rumah sakit Abang, katanya ada obat yang beliau ambil," jelasnya Sherly sembari mengambil remote TV yang tergeletak di atas meja sampingnya TV.


Sultan menatap ke arah adik bungsunya itu sambil berucap," kok kamu gak ikut bersama bunda ke RS?" Tanyanya yang ikut duduk di sampingnya Sherly sambil menikmati kacang polong sebagai cemilan mereka.


"Aku sangat Ingin menemani Bunda, tapi bunda menolak dan tidak ingin ditemani aku ngotot ingin ikut bersamanya tetapi, bunda selalu menolak dengan berbagai macam alasan juga," kesalnya Sherly yang merebut toples plastik dari tangan Sultan.


"Kalau Abang jam segini kok masih di rumah saja, apa gak ada kerjaan di kantor gitu?" Tanyanya Sherly yang seolah-olah ingin mengusir Abangnya sendiri.


"Hari ini entar sore baru berangkat ke Perusahaan, kan ada Anggara yang bisa menghandle semua pekerjaanku jadi untuk apa repot-repot ke sana buang-buang waktu saja," jawabnya Sultan dengan enteng sembari menguyah kacang mete bergantian dengan kacang polong itu.

__ADS_1


"Iiihh sebel deh mentang-mentang Abang bosnya jadi seenaknya menyiksa orang gitu," umpat Sherly yang jengah melihat sikap abangnya yang otoriter itu.


"Aku akan mengurus urusanku dengan Martin hari ini juga karena itu lah aku terlambat ke kantor dan semoga pihak kepolisian segera menindak lanjuti semua bukti-bukti yang kami temukan termasuk Selena Abang ingin sekali melihatnya hancur menderita hingga dia datang ke kakiku untuk mengemis belas kasihku," cecar Sultan yang sangat ingin melihat mereka berdua menderita," terangnya Sultan dengan menggebu-gebu.


"Mereka memang pantas untuk mendapatkan balasan yang setimpal Abang kalau perlu hukuman seumur hidup saja," timpal Sherly yang mengganti cenel saluran Televisinya.


"Tunggu Abang sayang, insya Allah dua hari lagi Abang akan segera menjemputmu," batinnya Sultan sambil tersenyum smirk.


Sedangkan di tempat lain tepatnya di rumah sakit. Bu Hamidah sedang duduk di salah satu kursi yang ada di depan apotek.


Bu Hamidah sesekali bibirnya mengucap zikir agar bisa lebih sabar dan selalu dalam lindungan Allah SWT.


Tubuhnya sedikit bergoyang karena ada seseorang yang duduk di sebelah kanannya.


"Permisi Ibu, apa boleh aku duduk di sampingnya itu ibu?" Tanyanya seseorng perempuan yang sangat cantik dan ayu dimatanya bunda Hamidah.


Saking terpana dan takjub melihat kecantikan alami perempuan tersebut sampai-sampai beliau tidak bisa berucap sepatah kata pun. Lidahnya tiba-tiba keluh seketika itu juga.


"Ibu apa baik-baik saja? Tanyanya yang keheranan karena ibu-ibu itu terdiam dan mematung di tempatnya seolah-olah dia seperti kesambet sesuatu sehingga menjadi patung.


"Apa yang terjadi dengan Ibu ini, apa dia sakit atau jangan-jangan ada makhluk halus yang merasukinya?" Tanyanya dengan nada kebingungan dengan kondisi Ibu yang masih cantik diusianya yang sudah tidak muda lagi.


Bu Hamidah masih diam membisu tanpa kata-kata. Hanya matanya yang mengisyaratkan dia masih hidup dan masih ada tanda-tanda kehidupan.


"Aku harus terus berusaha untuk menyadarkannya, kasihan kalau dibiarkan seperti ini terus," cicitnya yang usulannya secepatnya bergerak untuk meminta bantuan kepada suster atau dokter.


Dia baru ingin melangkahkan kakinya menuju ruangan salah satu dokter, tapi tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya.


"Tidak usah nak, Ibu baik-baik saja kok," terangnya Bu Hamidah.


Bu Hamidah segera mencegah gadis itu untuk bangkit dari tempat duduknya untuk meminta bantuan.


"Tapi, tadi Ibu tiba-tiba terdiam jadi aku sangat cemas melihat kondisi ibu dan berniat meminta bantuan, Alhamdulillah Ibu baik-baik saja itu sudah buat hatiku lega dan tidak khawatir lagi," sahutnya sembari tersenyum simpul ke arah Bu Hamidah yang masih memegang pergelangan tangannya.

__ADS_1


Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya:



Dilema Diantara Dua Pilihan


Hasrat Daddy Anak Sambungku


Cinta Yang Tulus


Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Benci


Bertahan Dalam Penantian


Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar


Pelakor Pilihan


Aku hanya sekedar baby sitter


Cinta Ceo Pesakitan


Tetanggaku Idola Suamiku



Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir..


I love you all Readers….

__ADS_1


__ADS_2