
Setelah berbincang-bincang dengan santai dan sesi tanya jawab yang dilakukan oleh Pak Budiman. Azalina kembali berjalan perlahan ke arah dalam rumah sakit.. Dia akan mengunjungi Raja sesuai arahan dari Pak Ardi selaku kepala Desa.
"Aku yakin ada seseorang yang merencanakan dan memperparah keadaan agar kamu terjebak hingga menikahi pria yang sama sekali tidak kamu kenal, bapak sangat berjasa pada bapakmu, berkat dia yang menyelamatkan kami beberapa warga dan mengorbankan dirinya hingga bapakmu tidak ditemukan hingga detik ini," tuturnya senantiasa mengingat jasa-jasa dan kebaikan bapaknya Azalina.
"Semoga saja Raja sudah sembuh dari sakitnya, kasihan juga dia sudah hampir sebulan di rawat di sini," batinnya yang ikut sedih dengan musibah yang menimpa Raja.
Dia sama sekali tidak memusingkan dan mengambil pusing kesalah pahaman yang terjadi diantara mereka hingga mereka akan menikah. Walaupun dia sangat sedih, karena harus mengingkari dan mengkhianati janjinya bersama calon suaminya yaitu Anjas anak sulung dari Pak Ardi. Dia terus berjalan dengan senyuman khasnya diperlihatkan untuk orang-orang yang kebetulan berpapasan dengannya di jalan.
Tidak jauh dari rumah sakit, seorang ibu-ibu tertawa terbahak-bahak di depan putrinya, "kita harus merayakan keberhasilan kita ini, karena anak sial itu akan segera menikah dengan pria tidak jelas itu," ucapnya dengan tawanya yang masih membahana.
"Ibu memang pintar sekaligus licik, kita memang patut untuk merayakan kesuksesan kita, walaupun kita belum bisa mengusirnya dari dalam rumahnya setidaknya membuatnya menderita harus menikah dengan pria tidak jelas, penyakitan dan amnesia itu sudah menjadi satu keuntungan besar Bu," terangnya dengan senyuman liciknya yang duduk di hadapan Ibunya.
"Anjas akan sepenuhnya menjadi milikmu jika dia menikah dengan pria itu, dan Ibu akan selalu menjaga agar pernikahan mereka segera terlaksana," ujarnya sambil menikmati aneka macam gorengan siang hari itu.
"Itu harus Bu, sebelum Bapak pulang mereka harus sudah menikah, dan Masalah Anjas serahkan padaku Bu aku yang akan mengurusnya," dia tersenyum licik penuh arti dan membayangkan bakal apa yang akan terjadi nantinya.
Mereka tidak hentinya tertawa terbahak-bahak sedangkan orang-orang yang melewati rumah mereka kadang merasa aneh dengan apa yang mereka lakukan.
"Biasa mungkin mereka sedang menang lotre jadi bahagia banget sampai-sampai tertawa seperti orang kerasukan saja," ucap salah satu dari mereka lalu melanjutkan perjalanannya.
Yang lain hanya tertawa mendengar perkataan dari ibu Elisa. Mereka menggelengkan kepalanya tanda ikut heran juga.
__ADS_1
Azalina membuka pintu kayu bercat putih itu khas pintu rumah sakit. Azalina berjalan masuk dengan pelan karena tidak ingin mengganggu pembicaraan dari keduanya.
"Assalamualaikum," ucapnya sembari melepas sandal jepit yang membungkus kaki jenjangnya.
Semua orang yang berada di dalam sana menoleh ke arahnya. Raja dan Aza tanpa sengaja tatapan mata mereka bersirobot hingga mata mereka saling bertatapan dan tidak ada yang berkedip salah satunya. Pak Ardi yang melihat hal tersebut segera berdehem untuk memutuskan kontak mata mereka.
"Ya Allah… kenapa hati ini tidak rela jika Azalina tidak menikah dengan Anjas puteraku." Pandangan matanya Pak Ardiyanto berubah sendu dan memikirkan nasib putra sulungnya.
"Maaf Pak, katanya Pak Dodi, Bapak memanggil saya untuk datang ke sini?" Tanyanya yang sudah berdiri di tengah-tengah mereka.
"Oh iya benar sekali Nak, Bapak Ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting dan hari ini menurut bapak adalah waktu yang paling tepat," ungkap Pak Ardi.
"Kira-kira apa yang ingin Bapak sampaikan kepada Aza?" Tanyanya yang sedikit salah tingkah karena terus ditatap oleh Raja.
Azalina mengulurkan tangannya untuk mengambil pasport tersebut lalu membacanya dan tepat di tulisan nama pemilik KTP tidak bisa terbaca sedangkan yang lainnya masih jelas, umur, jenis kelamin, status,alamat rumah hanya itu saja sedangkan paspor sudah rusak parah.
"Apa!! umurnya sudah 27 tahun, sudah tua rupanya." Gumamnya yang untungnya tidak terdengar hingga ke telinga yang lainnya.
"Jadi kami sudah memutuskan untuk menikahkan kalian hari Jumat lusa dan kebetulan kami sudah mengurus untuk membuat identitas baru untuk nak Raja," ujarnya Pak Ardi yang tersenyum simpul.
"Apa!!! hari Jumat," teriak Azalina yang terkejut mendengar penuturan dari pak Ardi.
__ADS_1
Mereka kembali menatap ke arah Azalina yang membuat mereka tercengang dengan reaksi dari Aza yang menurut mereka berlebihan. Menurut mereka biasanya orang yang akan menikah itu kegirangan dan bahagia karena akan menikah tapi bagi Azalina dikit-dikit shock.
"Apa terlalu lama Nak? Atau kamu ingin memajukan hari dan tanggalnya?" Tanyanya Pak Toni yang kebetulan juga ada di ruangan itu.
Azalina kembali salah tingkah karena kembali bereaksi heboh,dia cengengesan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Anak ingusan yang akan menjadi istriku, apa ini tidak salah?" Raja membatin melihat tingkah lakunya Azalina.
"Kami memutuskan untuk memilih hari Jumat kebetulan pamanmu akan kembali malam jumatnya jadi sebaiknya jangan ditunda-tunda lagi hal yang baik," tutur Pak Toni yang ikut berbicara.
"Benar sekali apa yang dijelaskan oleh pak Toni, jadi paman harap kamu bersiap dan terima semua keputusan ini dan mungkin seperti ini lah takdirmu nak," Pak Ardi memegang tangan Aza dengan penuh kasih sayang.
Sedangkan Azalina hanya terdiam dan menundukkan kepalanya sambil menggulung ujung tikar yang mereka duduki bersama. Suasana semakin lengkap, karena ditemani oleh beberapa cemilan dan minuman menemani perbincangan hangatnya.
"Ya Allah…. Semoga keputusan dan pilihanku kali ini benar dan baik untuk hubungan kami kedepannya."
"Bagaimana Aza, apa kamu bersedia menerima pinangan dari Raja?" Tanya Ibu Mina sebagai perwakilan dari Raja yang tidak memiliki satupun sanak keluarga.
Ibu Mina mengelus rambut panjang sebahu milik Azalina, dia salah satu tetangga Azalina sekaligus orang yang biasa menggendongnya sewaktu dia masih kecil. Mereka terdiam menunggu jawaban dari Azalina, sedangkan yang ditunggu-tunggu sibuk dengan pemikirannya dengan jawaban yang akan dipilihnya.
Wajahnya Anjas terbayang-bayang di pelupuk ujung matanya. Dia kembali teringat saat di hadapan pamannya, Anjas berani melamarnya dan melingkarkan cincin tunangan di jari manisnya. Air matanya perlahan menetes tanpa aba-aba dia refleks menghapus jejak air matanya diam-diam, ia tidak ingin ada yang melihat kesedihan dan dukanya.
__ADS_1
"Maafkan aku Abang, semua ini aku lakukan demi ketenangan masyarakat yang sudah mengira aku gadis yang tidak baik, semoga Abang menerima kenyataan ini dan menghargai keputusanku."
"Bagaimana Nak Aza, apa kamu bersedia menikah dengan Raja?" Tanyanya Ibu Mina lagi.