Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter 95. Dia?


__ADS_3

Keesokan paginya, Pak Farhan dan Bu Fauziah sudah meninggalkan kota Jakarta bertolak menuju kampung halamannya Azalina. Mereka akan berkunjung sekaligus berziarah ke makam Ibunya Azalina yang ada di sana. Sekalian menikmati indahnya pesona kampung tersebut yang semakin maju.


Hal itu terjadi berkat bantuan dari Sultan dan program pemerintah setempat yang bekerja sama dengan Perusahaan Sultan untuk memajukannya.


Kedua orang tuanya hanya pamit kepada kedua putranya yaitu Daniel dan Davindra yang kebetulan mereka bangunnya cepat sedangkan Aza masih bergelut dalam selimutnya karena asyiknya tidur yang baru beberapa jam lalu bisa dia nikmati dengan baik.


Sekitar jam 10 pagi baru lah Aza terbangun dari tidurnya. Dia bergegas bersiap untuk berangkat ke rumahnya Bu Hamidah. Dia mempersiapkan dirinya sebaik mungkin karena dia tidak ingin membuat malu dirinya sendiri.


"Masih ada dua jam sebelum berangkat," ucapnya sambil melihat ke arah jam di dinding.


Aza mematut dirinya Dy depan cermin besar yang terdapat di dalam kamarnya yang tergantung di tembok yang bercat pink soft itu.


Daniel baru saja berjalan ke arah luar dari dalam dapur saat Aza menuruni tangga. Daniel memperhatikan penampilan adik sambungnya itu yang tidak seperti biasanya.


"Cantik amat loh hari ini,mau ke mana?" Tanyanya Daniel yang melirik penampilan adiknya yang tidak seperti biasanya itu.


Aza menatap sekilas ke arah Abangnya sebelum melangkahkan kakinya menuju ruangan makan.


"Asa janji sama teman Abang, kalau Abang jam segini kok belum ngantor, Abang baik-baik saja kan?" Tanya balik Aza yang sudah berada di hadapan Kakak sambungnya itu.


"Sengaja terlambat perginya soalnya nungguin Tuan Putri Tidur yang baru bangun padahal sudah siang," gurau Daniel yang menyunggingkan senyuman tipisnya.


"Emang ada yang penting yah Bang? Sampai-sampai harus nungguin Aza dulu baru berangkat ke kantor?" Tanyanya Azzahrah yang kebingungan dan tidak mengerti dengan maksud dari perkataan Abangnya itu.


Daniel langsung mengelus wajahnya Aza yang terbengong memikirkan tentang apa maksud dari perkataan dari Daniel.


"Ihh Abang!! Make up aku bisa berantakan kalau gini," pekik Aza yang marah karena jengkel dengan sikap jahil Abangnya itu.


Daniel hanya tertawa terbahak-bahak melihat reaksi dari Aza yang marah dan ngomel-ngomel karena make up-nya sedikit belepotan. Hal itu terjadi, karena ulahnya tangannya Daniel yang sengaja membuat Aza harus kembali berulang kali bercermin untuk memperbaiki dandanannya yang awalnya sudah rapi.


"Sana makan dulu baru setelah itu perbaiki makeup mu, apa kamu gak takut terlambat ketemuannya," ujarnya Daniel yang mendorong tubuh adiknya itu.

__ADS_1


Aza yang diperlakukan seperti itu menurut saja hingga sudah duduk di kursinya. Davindra yang melihat mereka hanya terdiam dan tidak ingin ikut campur atau menimpali perdebatan kecil dan pembicaraan mereka.


"Abang, Papa dan Mama di mana?" Tanyanya yang celingak-celinguk mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari keberadaan kedua orang tuanya.


Daniel yang melihat apa yang dilakukan oleh adiknya itu segera menimpali pertanyaannya.


"Papa dan Mama pulang ke kampung halamannya Papa, katanya dalam rangka urusan bisnis sekalian ziarah ke makam saudara," tuturnya Daniel.


"O gitu toh," jawabnya Aza yang mulutnya membentuk huruf O bulat sempurna.


Aza segera membalik piring yang sudah tersedia di hadapannya lalu mengisi beberapa macam makanan ke dalamnya. Dia kemudian segera makan karena jam sudah menunjukkan pukul 11 lewat.


"Dafin, Udah diganti gak olinya mobilku?" Tanyanya Aza yang mulutnya penuh dengan makanan sehingga suaranya kurang jelas di telinganya Dafin.


Davin menatap sekilas ke arah kakaknya sebelum menjawab pertanyaan dari Aza karena kurang mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Azzahrah.


"Kamu kalau makan yah makan, kalau mau ngomong habisin dulu makanan yang ada di dalam mulutmu," sarkas Davindra yang menggelengkan kepalanya melihat kakaknya yang hanya beda dua bulan saja dengan usianya.


Sebelum berdiri meninggalkan Aza sendirian di dalam ruangan dapur tepatnya di meja makan," Aku sudah ganti olinya, jadi mobil kamu siap dipakai tapi ingat jangan sekali-kali balapan."


"CK… seperti orang tua saja nasehatnya, siapa sih yang lebih tua saya atau dia yah?" Umpatnya Aza yang kadang heran dengan sikap dan perilaku adiknya itu.


Davindra yang mendengar umpatan dan omelan kakaknya hanya tersenyum tipis. Karena seperti itu lah kebiasaannya Aza setiap harinya. Berkat kehadiran Aza di dalam hidup mereka, rumah itu menjadi ramai dan penuh kebahagiaan serta canda tawa yang biasanya setiap hari terkesan kaku.


Aza segera kembali menaiki tangga menuju kamarnya, ia ingin memperbaiki kembali make up-nya sebelum on the road menuju alamat yang baru saja di share lock oleh Bunda Hamidah.


Berselang beberapa saat kemudian Aza sudah sampai di sekitar alamat yang sesuai dengan yang diberikan oleh bunda Hamidah melalui pesan chat yang berlogo hijau itu.


"Sepertinya itu deh rumahnya, itu ada tulisan nomor rumahnya yang sama persis dengan yang dikirim oleh bunda," cicitnya yang melihat layar hpnya.


Aza segera melajukan mobilnya lalu mematikan mesin mobilnya tepat di depan pagar menjulang tinggi itu. Aza berjalan ke arah pos Security untuk bertanya agar lebih pasti.

__ADS_1


"Maaf Pak, numpang tanya apa ini rumahnya Bu Hamidah?" Tanyanya dengan ramah ke arah Bapak yang berumur kira-kira sama dengan Papanya itu.


Bapak itu segera berjalan ke arah Aza," boleh, dan benar sekali ini rumahnya Bu Hamidah."


"Suruh langsung masuk ke dalam saja Pak Tarno," perintah seseorang dari arah belakang Aza.


Aza yang mendengar suara teriakan Pria tersebut refleks menolehkan wajahnya ke arah sumber suara. Dan betapa terkejutnya saat melihat siapa sosok orang itu.


Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:


...1. Dilema Diantara Dua Pilihan...


...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...


...3. Aku Diantara Kalian...


...4. Cinta dan Dendam...


...5. Cinta yang tulus...


...6. Bertahan Dalam Penantian...


...7. Pelakor Pilihan...


...8. Hanya Sekedar Pengasuh...


...9. Ceo Pesakitan...


...10. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...


Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...

__ADS_1


__ADS_2