Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 15. Sah


__ADS_3

Alhamdulillah semua persiapan di RS sudah selesai dan hanya menunggu rombongan dari sini," sahut Ibu Mina lagi.


Azalina yang mendengar perkataan dan berbagai pujian yang dilayangkan kepadanya membuatnya tersipu malu dan wajahnya memerah menahan rasa malunya tersebut.


Beberapa saat kemudian, rombongan sudah berjalan beriringan menuju ke rumah sakit, tempat pelaksanaan acara akad nikah dan ijab kabul antara Raja dengan Azalina. Iringan pengantin hari itu cukup banyak, ada lebih dari sepuluh mobil yang mengantar iringan tersebut.


Pihak RS sama sekali tidak merisaukan hal tersebut, bahkan pihak Rumah Sakit memberikan dukungan dan kelonggaran untuk mengadakan pernikahannya di Aula rumah sakit. Tapi, ibu-ibu sepakat jika sebagian dari mereka yang akan masuk ke dalam dan duduk untuk menyaksikan langsung akad nikahnya. Sedangkan yang lainnya akan menunggu di dalam mobil saja, jika ruangannya tidak bisa menampung keseluruhan pengantar pengantin tersebut.


"Raja sangat beruntung mendapatkan Azalina yang sangat cantik, apalagi Aza anaknya baik, sopan dan ramah dan berkat kesalahpahaman waktu itu, Aza akan menjadi istri dari Raja yang tidak kalah ganteng juga," ucap Ibu Mina.


"Betul sekali apa yang kamu katakan Bu Mina, mereka benar-benar pasangan yang sangat serasi tapi, sayangnya Raja masih belum bisa berjalan dan ingatannya masih belum kembali," ucap sendu Ibu Linda lagi.


Mereka setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ibu Linda dan mereka ikut sedih karena kondisi Raja yang tidak baik-baik saja.


"Tapi, apa kalian tidak berpikir jika, Raja itu pemuda dari ibu Kota yang terdampar di Desa kita? Seperti sinetron yang biasa kita lihat itu loh di tv," tutur ibu Mina.


"Iya juga yah, aku pernah kepikiran ke situ juga, sesuai yang aku baca dari KTP yang sempat ditemukan alamat rumahnya adalah kalau tidak salah dengar dari Pak Doni kalau itu perumahan elit dan mewah khusus sultan loh," sahut ibu Linda yang ikut menambahi.


Sedangkan Ibu Lina Bibinya Aza sangat geram dan jengkel mendengar perkataan dari ibu-ibu rempong itu yang sedari tadi, tidak bosannya memuji kecantikan dari Azlina dengan calon suaminya itu.


"Aaahhh!! Itu tidak mungkin, lagian jangan sampai itu KTP orang lain yang kebetulan hanyut di dekatnya Raja dulu, kalian terlalu melebih-lebihkan dan membesarkan kejadian ini," ucapnya yang sangat jengah melihat reaksi dari emak-emak yang berlebih-lebihan menurut penglihatannya.

__ADS_1


Ibu-ibu saling berpandangan dan tersenyum mendengar reaksi dan tanggapan dari Ibu Lina.


"Wajar saja Ibu Lina berbicara seperti itu, karena Ibu Lina kan apa yah kita tahu lah sedari dahulu tidak menyukai apapun yang ada pada Aza, iyakan ibu-ibu?"tanyanya dengan wajahnya yang merendahkan Ibu Lina.


"Aku sepaham dengan apa yang dijelaskan oleh Ibu Norma, apa Lina tidak menyadari bahwa Azlina sedari dulu memang layak dan pantas mendapatkan pria dari kalangan manapun, buktinya anaknya saja Pak Ardi kepincut dan jatuh cinta pada Azalina, iya kan ibu-ibu?" Timpal ibu Linda yang sengaja memancing dan memanasi emosi ibu Lina yang sudah terkenal jahatnya minta ampun.


Azalina yang duduk di kursi depan hanya mendengarkan pembicaraan mereka tanpa ada niat untuk menimpali ataupun menyanggah perkataan mereka. Dia hanya sesekali tersenyum manis ke arah orang yang berpapasan dengannya yang melihat ke dalam mobil yang dipakainya.


Beberapa saat kemudian, rombongan mobil mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit. Satu persatu mereka berjalan dan membawa beberapa nampan yang berisi beberapa kebutuhan yang diperlukan sebagai barang-barang seserahan pernikahan yang akan dipersembahkan oleh Raja untuk Azalina.


Mereka sengaja melewati pintu belakang supaya kedatangan mereka tidak mengganggu aktifitas dokter dan kenyamanan pasien. Mereka tidak menimbulkan sedikit pun keributan yang nantinya akan mengganggu istirahat dari pasien.


"Cantik," gumamnya yang masih mampu didengar oleh Pak Arman selaku Penghulu.


"Karena pengantin perempuannya sudah datan, alangkah baiknya jika kita memulai acara ijab kabulnya sebelum waktu yang baik terlewatkan, dan karena wali nikah Azalina tidak ada jadi diserahkan sepenuhnya kepada kami selaku pihak dari kantor urusan agama setempat untuk menggantikan walinya," tutur Pak Arman.


"Sebaiknya seperti itu saja Pak Arman, karena mempercepat sesuatu yang baik itu hal yang sangat baik pula," Pak Heru ikut menambahi.


"Lebih cepat lebih baik maksudnya kan Pak Heru," timpal Pak Dodi.


Semua orang jadi heboh dan tersenyum menanggapi candaan dan gurauan mereka. Pak Arman sudah memegang tangan kanannya Raja mereka sudah saling berjabat tangan.

__ADS_1


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Raja dengan Azalina Adelia Lukman bin Lukman Prayoga dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas dua gram 24 karat dan uang sebesar dua juta rupiah dibayar tunai," ucap Pak Arman.


"Saya terima nikah dan kawinnya Azalina Adelia Lukman dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," dengan ucapan yang cukup lantang dan hanya dengan sekali tarikan hembusan nafasnya Raja mampu mengucapkan ikrar pernikahan mereka.


"Bagaimana para saksi, apakah sah?" Tanyanya pak Arman sambil menatap ke seluruh orang yang berada di dalam ruangan tersebut.


"Sah!!!" Teriak mereka lebih lantang dan jelas dari Raja.


"Alhamdulillah, kalau begitu kalian sudah resmi menjadi pasangan suami istri mulai detik ini," ujarnya Pak Arman.


Ibu Mina dan Ibu Jannah menggandeng Azalina ke arahnya Raja. Aza sedari tadi menurunkan pandangannya, karena malu jika tiba-tiba pandangan mata mereka saling bertemu dan beradu pandang.


"Ayo Nak Raja sematkan cincin itu ke dalam jari manisnya istrimu," perintah Ibu Jannah.


Azalina segera mengulurkan tangannya ke arah Raja, dengan sedikit gemetaran dan keringat dingin membasahi tangannya. Ibu Jannah yang menyadari hal tersebut, hanya tersenyum menanggapi sikap grogi dari Azalina.


Raja tanpa segan meraih tangannya Aza lalu menyematkan cincin itu ke dalam jari manisnya. Mereka bertukar cincin nikah sebagai tanda pengikat jika, mereka sudah resmi menjadi suami istri yang sah dimata agama dan negara.


"Nak Raja dikecup dong pucuk kepalanya Aza, kalian kan sudah halal menjadi suami istri," tutur Ibu Jannah yang menyadari jika mereka sama-sama malu-malu dengan status barunya.


Wajah Azalina sedari tadi tersipu memerah, saking malunya hingga hidung dan telinganya ikut memerah menahan rasa grogi dan salah tingkah. Raja langsung menciumi pucuk kepalanya Azalina dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Azalina pun langsung meraih tangannya Raja, lalu mencium punggung tangan pria yang baru beberapa menit yang lalu menjadi suaminya.

__ADS_1


__ADS_2