Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 28. Selamat Jalan Suamiku


__ADS_3

Mereka kembali ke rumah dengan mengendarai motor pemberian dari dokter Anggara tempo hari itu. Azalina dilatih oleh Raja hingga paham dan bisa memakai motor matic tersebut. Raja sama sekali tidak mengajak istrinya berbicara atau menimpali perkataan dari Azalina malahan berpura-pura seolah-olah tidak mendengar perkataan dari Azalina.


Mesin motornya segera dimatikan oleh Raja. Tanpa sepatah kata pun dia langsung ke dalam rumahnya, sedangkan Azalina melihat ke arah suaminya yang berjalan mendahuluinya tanpa ada niat untuk menyapa istrinya walaupun sekedar basa-basi saja.


"Abang Raja entah kenapa sikapnya seperti itu, padahal biasanya dia akan bertanya masalah toko, tapi hari semenjak kehadiran Anjas, sifatnya Abang berubah atau karena dia akan kembali ke Jakarta hari ini." Batin Azalina yang merasa heran dengan perubahan sikap yang diperlihatkan oleh Raja padanya.


Azalina membuka warung sembakonya karena seharian ini belum sempat dia buka karena baru balik dari Bank. Raja segera bersiap akan pulang ke Ibu Kota karena baru-baru Anggara menelponnya untuk segera bersiap.


Deru mesin mobil berhenti di depan tepat warung sembakonya. Azalina menolehkan kepalanya ke arah mobil tersebut. Sebuah mobil warna putih dengan plat mobil yang sangat cantik dan mudah dihafal yaitu 0712.


"Siapakah yang siang-siang gini datang bertamu?" Tanyanya yang penasaran dengan orang yang duduk dibalik kemudi mobilnya.


Orang itu membuka pintu mobilnya lalu melangkahkan kakinya menuju halaman rumahnya Azalina.


"Kalau tidak salah itukan dokter Anggara yang menangani kesehatan Abang Raja, kok dia ke sini yah, apa Abang sakit lagi?" Tanyanya yang kebingungan melihat kedatangan Anggara ke rumahnya siang itu.


Dokter Anggara melihat Azalina yang mengatur letak barang-barang di dalam warungnya yang sesekali menatap ke arah Anggara. Dia pun berjalan ke arah Azalina yang termenung. Anggara segera mengayunkan tangannya Di hadapan matanya Aza yang terdiam membeku di tempatnya.


"Aza!!! Apa Raja ada di dalam?" Tanyanya yang tersenyum ke arah Azalina.


Sedangkan Azalina tidak menggubris sapaan dari Anggara yang sedari tadi berdiri di hadapannya. Hingga Anggara menepuk pundaknya Azalina barulah ia tersadar dari lamunannya tersebut.


"Eeehhhh Pak Dokter maaf," ujarnya yang sedikit tersipu malu.


Anggara mengulang pertanyaan kembali," Aza apa Raja ada di dalam?" Tanyanya dengan senyumannya yang selalu menghiasi wajahnya.


"Ooohh Abang, dia ada dy dalam kok Pak Dokter, apa saya panggilkan dulu?" Tanyanya lagi yang menghentikan aktivitasnya.


Baru beberapa langkah Aza melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya dan belum sampai di pintu, Raja sudah berjalan ke arah luar dengan pakaian yang lengkap dan rapi. Penampilan Raja membuatnya pangling dan terpukau.


"Ayo kita berangkat, jangan membuang-buang waktu lagi," ujarnya di depan Anggara.


Raja berjalan ke arah mobil Anggara tanpa sedikitpun pamit ataupun menegur Aza. Anggara memperhatikan interaksi dari keduanya yang tidak seperti biasanya.

__ADS_1


"Sepertinya hubungan mereka ada yang tidak beres, nanti lah aku korek informasi darinya," tatapannya tertuju pada Aza yang sepertinya matanya sudah berkaca-kaca menahan air matanya.


Aza selalu mengalihkan pandangannya ke arah pohon untuk mencegah air matanya menetes membasahi pipinya.


"Aza, kami pamit dulu yah, kami akan ke Jakarta dan doakan kami semoga perjalanan kami aman dan lancar hingga sampai di tempat tujuan," pamit Dokter Anggara yang menggantikan Raja untuk berpamitan.


"Hati-hati yah Pak Dokter," balasnya Aza yang berusaha sekuat tenaga menahan laju air matanya.


"Assalamualaikum," salamnya Anggara.


"Waalaikumsalam Dok," balasnya.


Raja yang mengemudikan mobilnya karena jika dia yang duduk di samping kursi kemudi pasti pandangannya akan tertuju pada istrinya. Hatinya sedih melakukan hal itu, tapi rasa sedih dan kecewanya membuatnya terpaksa melakukan hal itu.


Aza berlari ke arah jalan raya,dia berharap agar apa yang dia lakukan membuat mobil yang ditumpangi oleh Raja dan dokter Anggara berhenti.


"Abang!!! stop!!!" teriaknya sambil terus berlari mengejar mobilnya Anggara yang terus berjalan menyusuri jalan kampung itu.


Azalina tidak putus asa dia terus mempercepat langkahnya agar dia bisa melihat suaminya dan berpamitan sebelum Raja pergi kembali ke kota.


teriaknya lagi hingga kakinya yang tidak memakai alas sandal tersandung dengan batu yang kebetulan dia injak hingga kakinya keseleo dan tubuhnya terjatuh ke atas aspal.


"Aaahhhh sakit!!" keluhnya saat terjatuh.


Azalina sudah berusaha sekuat tenaga, tapi mobil itu sama sekali tidak berhenti. Aza pasrah dengan usahanya yang gagal. Dia bangun dari tersungkurnya dan terduduk di atas aspal siang hari itu yang cukup terik.


"Abang tadi Aza ingin berpamitan sama Abang, kenapa Abang tega meninggalkan Aza tanpa pamit?" lirihnya yang terduduk sambil membersihkan pakaiannya yang terkena kotoran debu dan pasir.


Azalina terus memandangi mobil mereka hingga tidak terlihat lagi di ekor sudut penglihatannya. Orang-orang melihatnya dengan tatapan menyelidik penuh tanda tanya. Aza segera bangkit lalu berjalan kaki pulang ke rumahnya dalam keadaan yang cukup memprihatinkan.


Tumit dan lututnya yang tergores dengan aspal hingga lecet dan beberapa goresan luka di betisnya. Aza juga sedikit mengeluh dibagian dadanya saat tersungkur ke atas jalan.


"Aaauuuuhhh perih!!" keluhnya saat berdiri.

__ADS_1


Azalina berjalan terpincang-pincang dan sesekali mengerang kesakitan jika lukanya terkena tetesan peluh keringatnya. Ada beberapa orang yang ingin membantunya, tapi ditolaknya dengan halus. Azalina membersihkan tubuhnya yang terkena debu dan mendudukkan bokongnya ke atas kursi lalu menempelkan plester obat dibagian tubuhnya yang terluka.


Sore harinya, Azalina terduduk di dalam kursi warungnya. Dia pun menumpahkan segala kesedihannya. Dia meremas baju bagian dadanya.


"Ya Allah… kenapa Abang tega pergi meninggalkanku tanpa pamit sedikitpun padaku, apa salahku Abang padamu?" Lirihnya disela isak tangisnya.


Azalina tidak peduli jika ada yang melihatnya bersedih dan menangis. Dia tidak peduli dengan tanggapan orang lagi. Yang paling penting dia bisa menumpahkan segala gunda gulananya yang tersimpan di dalam hatinya itu.


Ibu Mina yang kebetulan ingin berbelanja di warungnya segera berjalan ke arah dalam dan memeluk tubuhnya Azalina dari samping.


"Kamu harus sabar Nak, sebagai seorang istri wajarlah jika kamu sedih dan sulit untuk melepas kepergiannya, tapi kalau kamu seperti itu terus juga tidak baik karena hanya akan menghalangi jalan dan pekerjaan suamimu," nasehatnya yang terharu melihat kesedihannya Azalina.


Ibu Mina menyangka jika kesedihannya karena didasarkan karena kepergian Raja ke Ibu Kota untuk merantau mencari pekerjaan.


"Makasih banyak Bu, Aza sangat sedih karena baru kali ini berpisah dengan Abang," ucapnya yang sesekali mengusap air matanya yang sedari tadi membasahi wajahnya.


"Ingat sabar dan setia itu kunci dari hubungan kalian, jangan sekali-kali Ingin tergoda dengan masa lalumu, Ibu hanya bisa mengingatkan, jangan pernah berpaling dari masa depanmu hanya untuk kembali mengenang masa lalumu, yang terjadi di masa lalu tidak perlu disesali dan diungkit-ungkit lagi, Ibu yakin kebahagiaan pernikahan kalian sudah terpampang jelas di depan pelupuk mata," nasehat Ibu Mina yang sudah seperti Ibu keduanya.


"Aza sangat bahagia karena Ibu selalu ada di samping Aza dalam suka dan duka, makasih banyak Bu," ucap Azalina yang tidak putusnya mengucap syukur kepada Ibu Mina


Mobilnya hanya sampai di Ibu kota provinsi, mereka selanjutnya melanjutkan perjalanannya dengan memakai pesawat pribadi milik Anggara. Raja sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun selama dalam perjalanan mereka menuju bandara. Raja bungkam dan wajahnya sesekali menyiratkan kesedihan yang mendalam.


"Aza pasti akan nantinya bebas bertemu dengan kekasihnya yang baru pulang, apalagi Abang sudah tidak ada di sisimu," gumamnya sambil memejamkan kedua matanya.


Anggara belum ingin bertanya apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Dia sangat tahu bagaimana karakternya Sultan jika dia marah, dia akan terdiam dan bungkam jika bukan dia sendiri yang terbuka padanya.


"Sultan sudah mencintai gadis itu, tapi katanya mereka belum malam pertama apakah itu salah satu pemicunya, Tapi kalau hanya masalah itu aku rasa itu tidak mungkin," pandangannya tertuju pada raut wajahnya Sultan yang berubah-ubah.


"Azalina tunggu Abang, cepat atau lambat Abang pasti akan datang kembali menjemputmu untuk tinggal bersamaku di Jakarta setelah semua urusanku selesai." Batinnya yang sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk akan kembali lagi.


"Kupinta jagalah selalu hatimu dan tubuhmu karena semua yang ada padamu adalah milikku hanya milik Sultan semata bukan pria lain," Sultan sangat berharap hal itu bisa dikabulkan oleh Azalina.


Sebenarnya Sultan ingin melakukan dan mengucapkan kata-kata itu tapi, apa daya hanya mampu diucapkannya sekarang. Tadi, pas sebelum pergi dia ingin sekali memeluk tubuh Azalina tapi, ego dan amarahnya lebih dominan dalam dada dan pikirannya. Padahal tadi, dia lihat dan mengetahui jika Aza mengejarnya hingga terjatuh ke atas jalan yang sudah aspalnya sudah bercampur batu itu.

__ADS_1


"Maafkan Abang yang sudah meneteskan air matamu sayang, Abang sangat mencintaimu Azalina."


__ADS_2