Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 24. Bibit Pelakor Hempas


__ADS_3

"Aaaaahhhhhhh sakit!!!"


Winda terjatuh ke atas lantai dalam keadaan terduduk. Dia mulai aktingnya di saat Raja menghampiri mereka.


"Azalina kamu tega yah dorong aku, apa salahku Azalina sama kamu?" Ucapnya dengan suara yang dibuat-buat seperti orang yang sangat kesaktian dan teraniaya.


Winda menangis tersedu-sedu dan tetesan air matanya sudah membasahi pipinya. Dia tidak peduli terjatuh di atas lantai yang sedikit berdebu itu yang penting rencananya berhasil dengan lancar.


"Aku harus mengeraskan suara tangisanku, kalau perlu hingga semua tetangganya mendengar apa yang terjadi di sini dan disitulah saat yang tepat untuk menjatuhkan Aza perempuan miskin yang sok belagu itu."


Azalina menatap ke arah Winda dengan jengah, dia tahu jika Winda terjatuh sendiri tanpa didorong olehnya. Karena mulai sejak tadi, Azlina sedikitpun tidak pernah menyentuh tubuhnya Winda.


"Jangan pura-pura kesakitan deh, apa kamu kira aku orang bego yang bisa terkena tipuan murahanmu itu," sarkas Azalina lalu tersenyum licik ke arah Winda.


"Huhuhu, tolong sakit, Aza kamu sangat tega padaku sehingga kamu tidak berperasaan mendorongku hingga terjatuh," ujarnya Winda dengan deraian air matanya.


Winda masih terduduk di atas lantai dan menunggu reaksi dari Raja. Winda tersenyum sumringah dibalik tangis pura-puranya saat melihat ada beberapa orang warga di sekitar yang keluar dari rumah mereka yang terkejut dan heran dengan apa yang terjadi.


"Azalina, kamu tega sekali mendorongku padahal aku tidak punya salah apa pun sama kamu loh, aku datang baik-baik kesini dengan tujuan untuk mengantarkan makanan ini untuk kalian tapi, ini lah balasan yang aku dapatkan," jelas Winda yang semakin mengeraskan suara tangisannya.


Tetangganya Azalina hanya terdiam dan memperhatikan mereka dari jauh tanpa ada niat untuk ikut campur. Hal itu membuat dokter Winda jadi geram dan jengkel karena apa yang diharapkan dan dibayangkan tidak sesuai dengan kenyataannya.


"Hey tolong aku!! Azalina telah mendorongku hingga aku terjatuh hingga ekor pantatku kemungkinan besarnya patah," teriak Winda yang meminta tolong kepada orang lain.


Orang-orang baru berdatangan setelah mendengar teriakannya Winda yang cukup menggelegar memenuhi lorong perkampungan itu. Raja yang melihat aktingnya Winda sudah keterlaluan akhirnya maju ke depan dan segera membuka suaranya yang selama ini hanya terdiam dan mendengar kebohongan Winda. Tapi, baru ingin bersuara mulutnya kembali rapat saat mendengar suara istrinya lagi.

__ADS_1


Azalina jongkok di hadapan Winda,"apa akting Dokter Winda masih berlanjut atau sudah end gitu?" Tanyanya Azalina di hadapan Winda.


"Ibu Mina!! Tolong keluar jangan terus sembunyi di balik pohon," teriak Azalina yang mengetahui jika Ibu Mina melihat dari awal apa yang terjadi di sana.


Ibu Mina tersenyum karena ketahuan sudah sembunyi di balik pohon ketapang. Orang-orang sudah pada mulai berbisik-bisik tentang apa sebenarnya yang terjadi di sana, sehingga membuat keadaan sedikit ricuh dan ribut.


"Tolong katakan apa yang ibu lihat sedari tadi, karena Aza yakin dengan sangat Ibu Mina melihat dengan jelas apa yang terjadi tadi saat Dokter Winda terjatuh," pinta Azlina dengan tersenyum licik ke arah Winda.


Ibu Mina tersenyum sebelum menjawab permintaan dari Azlina,"eeehh maaf Ibu tidak bermaksud untuk sengaja menguping pembicaraan kalian, Ibu tadi numpang lewat saja karena kebetulan ikan yang ibu jemur tadi siang kelupaan dan tanpa sengaja melihat Dokter Winda terjatuh ke atas lantai dengan sendirinya, tapi Ibu tidak lihat apa ada hantu yang mendorongnya atau bukan karena dokter hanya terjatuh sendiri tanpa didorong oleh siapapun," jelasnya dengan panjang lebar.


"Kalau menurut ibu-ibu di sini apa kira-kira hantu yang selama ini mendiami rumahku yang mendorong Dokter Winda gak?"tanyanya yang sengaja agar Winda ketakutan dengan cerita rekayasa yang diucapkan oleh Azalina.


"Bisa jadi Mbak Aza, aku juga pernah terjatuh sendiri di depan rumahnya kakak padahal tidak kesandung atau pun ada orang yang mendorongku," sahut Indra tetangganya Aza anak dari pak Dodi.


Azalina menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan ekspresinya seperti orang yang keheranan sekaligus ketakutan dalam waktu yang bersamaan.


"Kalau gitu aku harus segera pergi dari sini, karena tadi aku cuma menjatuhkan diriku dengan pelan tapi ternyata sangat sakit." Winda mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan tiba-tiba bulu kuduknya meremang seketika itu juga.


Spontan Winda langsung berdiri dan tanpa aba-aba langsung lari terbirit-birit ke arah mobilnya berada. Semua orang yang kebetulan ada di sana langsung tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lakunya seorang dokter cantik yang bekerja di rumah sakit. Raja yang berada di belakang Azalina mau tidak mau ikut tertawa bersama mereka.


"Kalau gitu, ibu-ibu dan bapak-bapak yuk bubar, tontonan gratisnya sudah selesai, kapan-kapan kita lanjutkan lagi," terang Azalina yang membubarkan kerumunan orang itu.


"Sepertinya istri kecilku memang pantas untuk jadi pendamping hidup Sultan Albert Muhammad."


Azalina berbalik arah dan sedikit terkejut melihat suaminya sudah ada dibelakangnya. Azalina refleks tersenyum manis ke suaminya. Raja pun membalasnya.

__ADS_1


"Aza antar Abang masuk ke dalam kamar atau mau nonton tv sambil nunggu Aza masak?" Tanyanya dengan mendorong kursi roda Raja ke arah dalam ruangan tamu yang sekaligus menjadi ruangan ngumpul bersama anggota keluarganya.


"Apa aku bisa ikut bersama kamu ke dalam saja, aku takut nanti jika sendirian di luar, hantunya datang," ucap Raja yang seakan-akan ketakutan.


Azalina hanya tersenyum menimpali perkataan dari suaminya dengan tangannya yang masih setia mendorong kursi roda itu. Hanya butuh waktu setengah jam saja, semua masakan yang dimasaknya sudah matang dan siap untuk dihidangkan. Ada tumis cah kangkung, tempe goreng, ikan bawal goreng dan dabu-dabu khas buatan Aza. Dengan segera dia hidangkan semua makanan itu di atas meja makan minimalis itu karena hanya cocok dan menampung dua orang saja.


"Maaf yah Abang, hanya makanan ini yang bisa aku masak untuk Abang hari ini, semoga Abang suka," ujarnya dengan menaruh beberapa makanan di atas piringnya Raja.


"Ini saja sudah lebih dari cukup kok, dari pada kelaparan pilih mana, lagian kalau aku yang kamu suruh masak bisa-bisa kita puasa malam ini," guraunya lalu mulai menikmati makanannya.


"Yang Abang katakan benar adanya," timpal Azalina lalu mengikuti jejak Aza untuk makan malam yang sudah cukup larut malam karena sempat tertunda dengan insiden kecil yang cukup membuat perhatian beberapa tetangga.


Setiap hari Azalina dengan sabarnya menemani Raja ke RS untuk berobat dan terapi. Dengan terapi tersebut perlahan penyakit Sultan sembuh dan kondisinya semakin pulih dan membaik pula. Sungguh hal itu sangat diharapkan dan diinginkan oleh mereka berdua.


Setiap pagi, Azalina dan suaminya berendam di pinggir laut untuk terapi kakinya Raja. Suara tawa riang dari Aza terdengar. Dia dan Raja saling menyiram air laut ke tubuh mereka masing-masing. Raja yang sudah bisa berdiri walaupun masih sering goyah,tapi berusaha untuk meladeni permainan Aza hari ini.


"Iisss Abang curang, kalau gini caranya aku pasti kalah," ujarnya yang menghindari lemparan air kewajahnya Aza.


"Masa gini dibilang curang, kamu saja yang terlalu lemah dan lambat menghindar dari seranganku," balas Raja yang mengejar Aza.


Mereka terus saling berkejaran hingga tubuh Azalina ditangkap oleh Raja lalu menariknya ke dalam pelukannya. Pakaian yang dipakai Aza cukup transparan sehingga membuat Raja sedikit tergoda, tapi segera ditepisnya dari pikirannya.


Mereka berpelukan satu sama lain sambil bermain air dan sesekali berenang ke dalam air. Mereka melakukannya berulang-ulang hingga tengah hari.


"Nikmatilah semuanya sebelum aku memulai rencanaku yang hanya menunggu waktu yang tepat saja, dan jika waktu itu tiba maka bersiaplah Azalina!!"

__ADS_1


Orang itu duduk dibalik kemudi mobilnya yang tiba-tiba menghentikan laju mobilnya saat melihat Aza dan Raja yang saling bercanda di dalam air.


__ADS_2