Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 71. Bantuan Raja


__ADS_3

"Kami tidak akan pernah mengijinkan dan membiarkan hal itu terjadi selama kami masih hidup dan bernafas jadi jangan banyak bermimpi yang tinggi pula," sahut Pak Doni.


"Ayo kita segera ke rumahnya pak kepala Desa sebelum terlambat," perintah Pak Anton.


Beliau berusaha untuk mencegah perpecahan dan pertikaian antara Sultan dengan Anjas.


Mereka terburu-buru berjalan dan meninggalkan depan lokasi Tokonya Aza dan bergegas ke rumahnya Ibu Melati.


Mereka berbondong-bondong mendatangi rumah pribadi Pak Ardi selaku kepala Desa. Mereka sangat takut terjadi sesuatu kepada Raja yang khilaf karena dibutakan oleh amarah yang membara.


"Semoga saja mereka bisa duduk berhadapan saling berbicara dari hati ke hati dengan kepala dingin," tutur Pak Toni.


"Amin! Aku juga berharap besar itu terjadi pada mereka, dan moga mereka sama-sama bisa saling mengerti dan berbicara dengan baik agar kedepannya tidak ada lagi masalah yang seperti ini," harap Bu Mina yang sudah was-was memikirkan keadaan yang kemungkinannya bisa terjadi.


Mereka berjalan kaki saja karena jarak rumahnya Aza dengan pak Ardi hanya beberapa meter. Hingga mereka memilih berjalan santai tapi pikiran mereka masing-masing tidak ada yang santai.


Mereka sampai di depan rumahnya Bu Melati, tapi mereka tidak mendengar suara apapun dari arah dalam rumah. Malahan terdengar seperti tidak sedang menerima tamu.


Mereka saling berpandangan satu sama lainnya. Mereka melihat mobil yang dipakai Raja terparkir dengan rapi di depan pagar rumahnya Pak Ardi.


Mereka memutuskan untuk berjalan masuk ke dalam lalu bergantian mengetuk pintu rumah itu.


Tok.. tok..


Bu Melati yang mendengar suara ketukan pintu segera berjalan tergopoh-gopoh ke arah depan. Dia membuka pintu itu dengan perlahan dan betapa terkejutnya melihat ada banyak orang yang berada di depan rumahnya.

__ADS_1


Wajah keheranan jelas terpancar dari wajahnya. Tapi,ia enggan dan sedikit malu jika harus bertanya maksud kedatangan mereka.


"Maaf apa Pak Kepala Desa ada di dalam Bu?" Tanyanya Pak Toni yang celingak-celinguk mencari keberadaan dari Pak Ardi.


"Kalau Pak Ardi ada di belakang rumah dia sedang menerima tamu," jawabnya dengan suara yang pelan dan lemah.


"Apa kami boleh bergabung dengan mereka Bu? Karena ada yang ingin kami katakan," pinta Bu Mina.


"Silahkan masuk kalau gitu, aku akan panggilkan mereka agar segera menemui kalian," ujarnya Bu Melati yang sudah meninggalkan tempat mereka berada.


Beberapa saat kemudian, Pak Ardi dan Raja berjalan ke arah ruang tamu di mana ada beberapa warga masyarakat yang sudah duduk menanti kehadiran mereka berdua.


Mereka terkejut saat melihat Pak Ardi dan Raja berjalan sambil bercanda dan tersenyum. Wajah mereka nampak biasa saja tidak ada tanda-tanda bekas perselisihan atau pun perdebatan yang terjadi di antara mereka.


"Raja, Saya selaku kepala desa di sini sangat bersyukur dan bahagia jika kamu berniat untuk membangun dan memajukan kampung kita agar tidak ketinggalan dari daerah lain," tutur Pak Ardi.


Bapak-bapak dan ibu-ibu masih tercengang memandangi mereka berdua yang saling berbicara merencanakan beberapa rencana yang baik untuk memajukan kampungnya untuk beberapa tahun kedepannya nanti.


"Kami kira Bapak sama Raja sedang cekcok mulut dan bertengkar gitu," Bu Hana membeo.


Raja dan Pak Ardi sama-sama saling beradu pandang satu sama lainnya,lalu tersenyum.


"Alhamdulillah Raja bisa mengerti dan memaklumi serta memaafkan kesalahannya Anjas atas kelakuan kasarnya terhadap Aza, dan saya selaku bapaknya sangat lah sedih, kecewa dan menyesali kejadian tersebut," ujarnya Pak Ardi dengan wajah sendunya.


"Alhamdulillah kalau seperti itu, kami selaku warga masyarakat sangat senang mendengarnya dan kami berharap agar kedepannya jika ada masalah lagi kalau bisa tolong diselesaikan dengan baik-baik dan dengan kepala dingin jangan selalu dengan kekerasan," timpal Pak Heru pamannya Azalina.

__ADS_1


"Betul sekali apa yang dikatakan oleh Pak Heru," sahut Pak Toni.


"Jadi bagaimana nak Raja dengan yang kami bicarakan tadi,apa kamu akan membantu mereka mencari keberadaan Ridho dan Putri karena mereka ternyata yang menjadi otak dibalik peristiwa yang menimpa Aza dan Anjas," jelasnya Pak Ardi.


Pak Ardi sangat berharap kepada Raja agar membantunya menyelesaikan masalah tersebut agar supaya Anjas mendapatkan keringanan hukuman.


Ibu-ibu dan bapak-bapak terkejut mendengar penuturan mereka berdua dan tidak menduga jika Ridho dan Putri serta Sartika putrinya Pak Camat juga ikut andil dalam peristiwa itu.


Silahkan mampir juga ke Novel aku yang lain judulnya:



Pesona Perawan


Dilema Diantara Dua Pilihan


Pelakor Pilihan


Cinta CEO Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan



Makasih banyak all Readers...

__ADS_1


i love you full banget deh untuk kalian yang sudah mampir baca...


Jangan pernah bosan yah dengan karya recehannya Fania Mikaila AzZahrah daeng Sayang...


__ADS_2