
Penyesalan itu datangnya selalu di akhir agar kita memiliki waktu yang lebih untuk belajar.
Adanya penyesalan adalah untuk menyadarkan bahwa waktu yang telah berlalu tidak dapat diulang. Ketakutan itu sementara, penyesalan itu hanya selamanya.
Ibu Melati segera mendudukkan tubuhnya di atas ranjang tempat Azalina berada. Dia mengelus punggung dari Aza penuh dengan kasih sayang dan kehangatan.
Tapi, apa yang dilakukannya ternyata membuat Azalina bereaksi dengan mendorong tubuhnya Ibu Melati lalu beringsut menjauh hingga tubuhnya bersandar ke sandaran bangkar rumah sakit.
"Pergi!!! Aku tidak ingin melihatmu ada di sini," pekik Aza lalu menunjuk ke arah Ibu Melati.
"Jangan dekati aku!!!" Teriak Azalina lagi.
Orang-orang yang kebetulan ada di dalam sana keheranan sekaligus bingung melihat sikap Azalina terhadap Ibu Melati.
Selama ini, sikap mereka berdua jika diperhatikan dan dilihat dari kesehariannya sepertinya hubungannya bagaikan anak dan ibunya saja.
"Apa yang terjadi padamu nak? Tenanglah ini ibu yang sengaja datang untuk melihat keadaanmu," tutur Ibu Melati.
Ibu Melati kembali mendekati Azalina yang berusaha untuk membujuknya. Ibu Mina yang melihat hal tersebut segera bertindak.
"Bu Melati mungkin sebaiknya Ibu jangan dekati Aza dulu Bu, kasihan dengannya Aza yang selalu histeris jika Ibu dekati," pungkasnya Bu Mina.
Ibu Aminah ikut menimpali pembicaraan mereka," iya ibu apa yang dikatakan oleh Bu Mina benar adanya, kita kasihkan melihat kondisi mental Aza jika Ibu terus terusan membujuk atau pun berusaha ibu dekati jadi sebaiknya jaga jarak dulu lah Bu."
"Benar sekali itu Bu, untuk menghindari agar kondisi psikis dan jiwanya Aza yang terguncang hebat akibat ulah putranya Ibu sebaiknya Ibu tinggalkan kami di sini saja bersama Aza," sarkas Ibu Hana sepupu dari Ibunya Aza.
Adinda segera merangkul ibunya agar bisa lebih tenang untuk menghadapi perkataan dari beberapa ibu-ibu di dalam ruangan itu.
"Benar sekali semua yang emak-emak katakan Bu Melati, demi kebaikan dan penyembuhan dari Aza sendiri, mungkin jalan terbaik dan sebaiknya ibu untuk sementara waktu jangan mendekat atau bisa jangan ganggu ketenangan dari Aza Bu," sahut Pak Toni yang ikut sedih melihat Aza.
Mereka sangat menyenangkan kejadian dan peristiwa tersebut terjadi dan menimpa Azalina. Gadis yang baik hati dan ramah itu bernasib sangat malang.
__ADS_1
Bu Melati dan putrinya meninggalkan ruangan tersebut tanpa pamit sedikit pun. Bu Melati meneteskan air matanya karena kasihan melihat kondisi Aza sendiri.
Beliau juga sedih menanggung beban rasa malunya akibat gara-gara perbuatannya anak sulungnya sendiri.
Adinda memegang mengapit lengan ibunya lalu berucap," Ibu harus kuat, sabar dan tabah menjalani semuanya, Adinda yakin akan ada hikmahnya dibalik semua ini."
Ibu Melati hanya menatap sendu anak bungsunya itu. Dia tidak menyangka jika sikap putrinya lebih dewasa dan bijaksana daripada dirinya sendiri.
"Ya Allah… maafkanlah hambaMu ini, aku sudah terlalu banyak dosa," lirih Bu Melati.
Mereka berdua meninggalkan rumah sakit DA berencana akan menuju kantor polisi untuk membesuk anaknya Anjas pelaku yang membuat Azalina depresi ringan setelah kejadian yang dialaminya.
"Jadi apa aku panggil dokter dan perawat ke sini untuk secepatnya memeriksa kondisi dari Aza?" Tanyanya Pak Anton suaminya Bu Hana.
"Jangan tunggu lama lagi Pak, cepat panggil dokter tidak baik dibiarkan seperti ini terus," imbuh Bu Mina lagi.
Pak Anton segera berlari ke arah ruangan praktek dokter yang menangani kesehatan dari Aza.
Dokter yang melihat pak Anton berlari segera mendekati Pak Anton," Maaf ada yang bisa kami bantu Pak?" Tanyanya Pak Dokter.
"Begini Pak, pasien atas nama Azalina mengamuk gara-gara kedatangan salah satu tetangga hingga dia histeris dan berteriak kencang," jelasnya dengan nafasnya yang ngos-ngosan.
"Baiklah kalau begitu ikut saya, kita akan segera periksa kesehatannya lebih pasien," ujar Pak Dokter yang berjalan mendahului Pak Anton yang masih berusaha untuk menenangkan nafasnya yang memburu.
Mereka berjalan segera ke arah ruangan perawatan Azalina. Sedangkan di dalam ruangan itu, Azalina sudah bisa sedikit tenang berkat rumah bujukan dan rayuan dari Bu Mina.
"Tolong jangan berkerumun di dekatnya pasien, karena dokter akan memeriksa kondisinya Mbak Azalina," terang salah satu suster yang berjalan berdiri di sampingnya Pak Dokter yang hanya tersenyum menanggapi perkataan dari bawahannya itu.
Mereka menuruti perkataan dari perawat tersebut. Mereka segera menyingkir dan memberikan kelonggaran kepada Dokter dan Perawat untuk memeriksa keadaannya Aza.
Setelah beberapa saat kemudian, dokter telah selesai memeriksa Azalina. Semua orang di sana harap-harap cemas dengan hasilnya.
__ADS_1
Bu Mina segera berjalan mendekati Pak Dokter," bagaimana dengan kondisi putri kami Dok?" Tanyanya yang sangat khawatir.
"Sebaiknya Azalina segera di bawah ke ibu kota Jakarta untuk segera mendapatkan perawatan medis yang lebih bagus lagi, karena kami meminta maaf di rumah sakit kita ini fasilitas dan dokter khusus spesialis psikiater di rumah sakit belum ada," terangnya Pak Dokter dengan tersenyum ramah agar mereka tidak terlalu cemas dan takut.
"Ke Ibu Kota Jakarta?" Santi membeo mendengar penjelasan dari dokter.
Begitu banyak kata andai untuk mengawali setiap penyesalan. Begitu kamu mulai menyesal itu sudah terlambat. Akan selalu ada penyesalan setelah kehilangan sesuatu, yang selama ini kamu sia-siakan.
...Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya:...
...1. Dilema Diantara Dua Pilihan...
...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...
...3. Cinta Yang Tulus...
...4. Diantara Dua Pilihan...
...5. Cinta dan Benci...
...6. Bertahan Dalam Penantian...
...7. Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar...
...8. Pelakor Pilihan...
...9. Aku hanya sekedar baby sitter...
...Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir.....
...I love you all Readers…...
__ADS_1