Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter 12. Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Raja bersyukur karena mendapatkan gadis yang perhatian padanya dan baik hati walaupun mereka akan menikah tanpa adanya cinta dan kasih sayang dari keduanya.


"Ya Allah… kalau gadis kecil ini yang akan menjadi pendampingku hingga tutup usiaku maka dekatkanlah dia padaku ya Allah… dan satukanlah kami di dalam hubungan halal yang Engkau ridhoi."


Setelah mereka sarapan, Pak Heru dan Azalina pamit untuk pulang karena perawat yang bertugas untuk menjaga Raja sudah datang ke rumah sakit.


"Raja, kami pamit pulang dulu, insya Allah besok pagi kami akan datang saat kalian akan menikah," ucap Pak Heru pamannya Azalina.


"Makasih banyak atas semuanya paman, saya sangat menyukai masakan istrinya Paman," balasnya dengan senyumannya.


Azalina hanya tersenyum ke arah Raja dan langsung pulang tanpa mengucapkan kata pamit terlebih dahulu. Azalina cukup segan dan malu untuk bersalaman atau pun lebih dekat dari waktu dia menyuapkan makanan untuk Raja. Hatinya masih enggan untuk berdekatan dengan Raja karena belum ada hubungan yang mengikat mereka.


Tinggallah Raja seorang diri, dia masih merenungi nasibnya dengan menatap nanar ke arah luar jendela, "Semoga ini awal yang baik untuk semuanya."


Azalina mengambil sepedanya yang terparkir di tempat biasa. Dia masih memikirkan keputusannya dan apa yang akan dia katakan jika suatu saat nanti Anjas pulang.


Azalina tidak langsung pulang ke rumahnya, malah dia mengayuh sepedanya ke Pantai. Dia ingin mengingat terakhir kalinya kebersamaannya bersama dengan Anjas. Azalina sudah bertekad dan memutuskan untuk tidak akan mengungkit atau pun mengingat kembali masa kebersamaannya sewaktu mereka pacaran, walaupun hal itu sangat sulit untuk dia lakukan.


Angin sepoi-sepoi menyambut kedatangannya, angin itu menerpa wajahnya dan menerbangkan anak rambutnya hingga menerpa wajahnya yang berkilauan terkena sinar matahari. Dingin angin serta panasnya cahaya mentari siang hari itu tidak membuatnya untuk goyah dari tempatnya berdiri.


"Abang, maafkan Azalina bukannya Aza tidak mencintai Abang lagi ataupun menghianati cinta kita dengan menerima lamaran dari pria lain, tapi Aza terpaksa untuk melakukannya," ujarnya dengan linangan air matanya yang sudah membasahi pipinya.


Dia sudah duduk di ujung dermaga sambil memainkan air dengan kedua kakinya hingga wajahnya terkena cipratan air. Dia masih muda, tapi sudah harus dihadapkan pada cobaan yang begitu besar. Umurnya yang baru menginjak sembilan belas tahun, harus siap untuk menikah dengan seorang pria yang tidak dikenalnya yang terdampar ke kampungnya.


"Ya Allah… semoga pernikahanku ini bertahan hingga akhir waktu seperti bapak dan ibu yang hanya maut memisahkan cinta mereka, dan lindungilah pernikahan kami nantinya dari segala fitnah dan hal yang tidak baik."

__ADS_1


Perlahan matahari sudah condong ke arah barat, cahayanya kemilauan menerpa wajahnya hingga dia refleks menghalau sinar mentari yang mengenai matanya dengan telapak tangannya. Sunset sore hari itu sangat cantik, sehingga siapapun yang melihatnya akan betah berlama-lama hingga sore hari.


"Kak Azalina!!!" Teriak seseorang yang berlari ke arahnya.


Azalina yang mendengar seruan namanya dipanggil segera menolehkan kepalanya ke arah orang tersebut. Azalina masih tidak bergeming ditempanya sedikit pun hanya sekedar melirik sekilas ke orang itu.


"Ka Aza dipanggil sama Ibu Mina," ucapnya sambil membungkukkan tubuhnya lalu memegang kedua lututnya dengan nafasnya ngos-ngosan saking lelahnya berlarian.


"Ada apa Zul? Sehingga kamu mesti berlarian sambil berteriak apa sudah tidak bisa tenang dan istirahat dulu baru bicara," ucapnya dengan menatap jengah kearahnya Zul.


"Maaf Kak," jawabnya dengan cengengesan.


"Kebiasaan, dari dulu masih seperti itu," tutur Azalina.


"Terus ibumu bilang apa dan kenapa mencariku?"tanyanya lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah sunset.


"Katanya kakak harus pulang sekarang, orang dari panitia pelaksana Pernikahannya kakak besok datang dan meminta untuk mencoba pakaian pengantinnya kakak," terangnya dengan sesekali menarik nafasnya yang masih tersengal-sengal itu.


"Baiklah,kamu pulang duluan, aku ambil sepedaku di sana," ujarnya sembari menunjuk ke arah sepedanya yang tersandar di bawah pohon besar itu.


"Kakak jangan lama yah, kalau tidak segera pulang pasti emak akan suruh Zul ke sini lagi," ungkapnya sambil berjalan perlahan meninggalkan Aza.


"Aku akan segera Vie sana,tenang saja aku tidak akan kabur kok," ucapnya yang sedikit jengkel karena aktivitasnya terganggu.


Azalina mulai mengayuh sepedanya dan sudah meninggalkan pantai yang penuh dengan kenangan indah bersama kekasih pujaan hatinya.

__ADS_1


"Apa tidak bisa besok saja pakaiannya dicoba, ibu Mina ada-ada saja deh,"Aza mendumel kesel.


Kayuhan sepedanya sedikit lambat karena bertemu dengan terpaan angin yang langsung mengarah padanya. Hanya butuh waktu beberapa menit saja dia sudah sampai di rumahnya ibu Mina selaku tetangganya yang akan membantunya untuk melaksanakan Pernikahannya esok harinya.


Sudah banyak warga Masyarakat yang memenuhi rumahnya Ibu Mina. Banyak dari mereka yang sudah membuat kue khusus pernikahan yang akan mereka sediakan untuk beberapa tamu yang akan datang.


Walaupun hanya akad dan syukuran yang sederhana saja tapi sebagian masyarakat sudah sepakat untuk membantu Azlina menyelenggarakan pernikahannya serta syukurannya. Mereka tak segan untuk membawa beberapa barang kebutuhan pokok yang akan mereka pakai esok hari.


"Assalamualaikum," ucapnya dengan melepas sandalnya yang terpasang di kaki jenjangnya sedari tadi itu.


"Mari masuk nak Aza,"ucap Ibu Mina yang berdiri menyambutnya Aza, ketika menyadari kedatangannya Azalina.


Azalina langsung meraih tangannya ibu itu lalu mencium punggung tangannya mereka yang ada di dalam sana.


"Calon mantennya cantik yah, pantesan pria dari Kota itu tergila-gila padanya," ujar Ibu Jannah yang nantinya besok akan mendandani Aza sebelum akad nikahnya.


"Silahkan duduk Nak Aza, ibu Linda ingin memperlihatkan beberapa potong model pakaian pengantin untuk kamu, dan kira-kira mana yang cocok di tubuhmu dan kamu pilih untuk dipakai besok," terang Ibu Husnah tetangganya Aza.


Aza menatap mereka satu persatu sebelum menjawabnya, "Aku serahkan sama ibu saja,mana yang paling terbaik dan cocok untuk Aza pakai, Aza tidak pintar memilih soalnya," terangnya yang sedikit malu karena dia buta kalau masalah model fashion sekarang yang lagi ngetrend di kampungnya.


Ibu Jannah tersenyum sebelum menimpali perkataan dari Aza,"kalau begitu Ibu punya dua pakaian baru dan menurutnya ibu pasti kedua pakaian ini sangat cocok dan pas di tubuhmu,"ucapnya dengan mengambil dua model gaun pengantin itu.


Ada dua lembar gaun pengantin satu warna gold dan satunya lagi warna putih gading. Ibu Jannah menaruh pakaian itu ke atas meja.


"Bagaimana kalau kamu coba satu persatu dulu dari duanya baru kita bantu kamu untuk memilihnya yang paling bagus untukmu," ujar ibu Jannah.

__ADS_1


__ADS_2