Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 83. Ancaman Arlan


__ADS_3

Beda orang, beda cerita, beda porsi, beda prinsip. Nikmati apa yang kamu jalani sekarang, karena pohon yang besar untuk tumbuh butuh proses yang panjang.


Berselang beberapa saat, pesanan mereka kembali datang. Semua mata keempat orang itu berbinar bahagia seketika itu melihat pesanan makanan mereka yang sudah tersaji di depan matanya.


"Lezat," puji Lili.


"Wow sepertinya sangat enak," timpal Mery.


"So jussi dan pastinya nyami yang mengenyangkan perut," terang Hesty yang memuji makanan tersebut.


Sultan terpaksa meninggalkan mereka karena Angga menelponnya untuk segera pulang ke kantornya.


"Maaf aku ijin pamit pulang dulu, kapan aku akan datang ke sini lagi untuk menemuimu, apa kamu tidak keberatan dengan hal itu?" Sultan menatap ke arah Azahra.


"Iya datang saja, aku pasti senang jika Abang datang lagi ke sini," jawabnya Aza dengan spontan.


Jawaban dari Aza mendapatkan pelototan dari Arlan.


"Kok cepat banget Abang pulangnya? Kita kan belum puas memandangi wajahnya Abang yang ganteng," ucap Mery dengan gayanya yang centil dan genit itu.


Perkataan dari Mery mendapatkan pukulan ringan di lengannya dari Hesty.


Plak…


"Mery!! Ganjeng amat loh jadi cewek, ihh aku ilfeel loh lihat tingkahmu yang godain pria," sarkas Hesty yang baru kali ini tidak menyukai sikapnya Mery.


Hahaha,"kamu serius amat sih, aku cuma bercanda kali, mau dikemanakan Simon tunanganku," pungkas Mery yang mengelus lengannya karena mendapatkan pukulan ringan dari Hesty.


"Makanya kalau bercanda jangan kelewatan, kamu juga sih jadinya dapat pukulan mesra dan kasih sayang dari tangannya Hesty," sahut Lili.


"Sudah-sudah Abang Raja mau pamitan, kalian bertengkar mulu sedari tadi, kayak kucing dan tikus saja," umpat Arlan yang jengah melihat tingkah laku sahabatnya itu.


Aza terus memandangi punggung Raja yang sudah semakin jauh berjalan meninggalkan meja tempat mereka makan.


"Kenapa juga Aza mengiyakan permohonan Pria itu dan juga Aza dengan mudahnya mengijinkan pria itu padahal dia baru bertemu pertama kali bagaimana kalau dia orang jahat," Arlan membatin dan menatap tajam penuh kebencian dan kesal ke arahnya Raja.

__ADS_1


Sedang Raja yang diperlakukan seperti itu hanya tersenyum tipis menanggapi sikapnya Arlan.


"Apa pun akan aku lakukan untuk merebut kembali hatinya istriku dan memulihkan ingatannya hilang dengan hal-hal yang baik dan romantis, itu janjiku padamu Azalina," Sultan bergumam sebelum meninggalkan kantin tersebut.


Arlan segera bangkit dari duduknya lalu berlari perlahan ke arah luar. Apa yang dilakukan oleh Arlan itu membuat mereka terkejut dan heran dengan sikap Arlan yang tumben pergi dari mereka tanpa pamit sedikit pun.


Mereka hanya saling berpandangan satu sama lainnya dan tidak ada yang banyak berkomentar dan memaklumi apa yang dilakukan oleh Arlan itu.


Arlan terus berlari mengejar Raja hingga ke tempat parkiran. Sultan baru ingin membuka kunci mobilnya, tetapi tangannya langsung ditarik oleh seseorang.


Raja yang tidak siap dan tidak menduga dengan kedatangan orang itu sedikit tertarik kebelakang. Arlan tidak menyia-nyiakan kesempatan dan peluang tersebut. Ia segera mendorong tubuhnya Raja hingga punggungnya membentur pintu jendela mobilnya.


Arlan mencengkram erat kera bajunya Sultan," ingat jaga batasan loh jadi orang!! Aza itu adalah pacarku sekaligus calon istriku jadi jangan sekali-kali berharap tinggi dan menggoda tunanganku," gertak Arlan yang serius mengancam Sultan.


Sultan yang diperlakukan seperti itu hanya tersenyum menanggapi tindakan berani dari Arlan.


Hahahaha," kekasihmu… tunanganmu!! Kamu sebaiknya ke toilet cuci muka biar gak mimpi disiang bolong, dan sepertinya kamu terlalu banyak bermimpi dan imajinasi kamu itu ketinggian bro," sarkasnya Sultan dengan bibirnya yang mencibir perilaku Arlan tersebut.


Perkataan dari Raja mampu menyulutkan emosinya Arlan. Perkataan dari Raja membuat kedua bola Matanya Arlan memerah, buku-buku urat di tangannya menonjol, jakunnya naik turun saking marahnya dibilangin seperti itu.


"Maaf!! Sampai detik ini tidak satupun Pria yang diterima oleh Aza untuk jadi kekasih atau pun tunangannya jadi jangan sok kepedean ngaku kalau kamu itu tunangannya," terang Raja sambil melepas pegangan tangannya Arlan lalu sedikit mendorongnya.


Dorongan dari Raja cukup membuat langkahnya Arlan mundur beberapa langkah.


"Maaf, aku tidak mau meladeni emosi kamu yang sudah memuncak dan menggebu itu, aku hanya ingin mengatakan mari kita bersaing secara sehat dan normal jangan berusaha untuk bermain kotor seperti ini kalau memang kamu seorang pria," paparnya Raja lalu bergegas mengunci otomatis mobilnya.


Raja melirik dengan di barengi senyum smirknya ke arah Arlan yang berdiri mematung dengan nafas tak beraturan dengan tatapan matanya yang membunuh.


"Bocah… kamu bukan lawanku dan tandinganku," cicitnya Sultan lalu segera melajukan mobilnya meninggalkan Arlan seorang diri.


Arlan mengepalkan tangannya dengan sekuat tenaganya, dia meninju kap mobil yang ada di sampingnya itu.


Bruk…


"Aku tidak akan mengijinkan Siapa pun pria yang merebut Aza dariku bahkan aku akan melakukan cara apa pun untuk mendapatkannya," amarahnya membuncah di dadanya.

__ADS_1


Satu minggu kemudian…


Hari ini adalah jadwal terapinya Azahra, dia pun pamit kepada Mamanya saja karena kebetulan papanya ada di luar negeri.


"Ma, hari ini jadwal terapinya Aza Mama gak perlu ikut mengantar Aza, kasihan Mama kalau selalu mengantar Aza ke rumah sakit," pintanya Aza dengan alasannya.


Aza mengolesi selei kacang di atas rotinya sambil berbicara untuk meminta ijin kepada Mamanya. Ibu Fauziah menatap ke arah putri tunggalnya itu.


"Tapi, sayang apa kamu bisa pergi dengan supir saja? Mama hanya takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepadamu," sanggah Mamanya Bu Fauziah.


Aza memegang tangan Mamanya," insya Allah Aza baik-baik saja kok Ma, Aza kan bukan anak kecil lagi lagian ada mang Udin yang nemenin Aza ke Rumah Sakit Pelita Harapan."


Dengan berat hati dan terpaksa Bu Fauziah mengijinkan putrinya berangkat ke RS tanpa dia mendampinginya.


"Kalau gitu, Mama telpon Aunty kamu dulu untuk mengabarkan kepadanya bahwa kamu akan ke RS untuk terapi," jelas Bu Fauziah.


"Siap Mamaku sayang," balasnya Aza.


Silahkan mampir juga ke Novel aku yang lain judulnya:



Dilema Diantara Dua Pilihan


Pelakor Pilihan


Cinta CEO Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan



Makasih banyak all Readers...


i love you full banget deh untuk kalian yang sudah mampir baca... jangan bosan yah..

__ADS_1


__ADS_2