Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 94. Suami??


__ADS_3

You will not find happiness if you continue to demand perfection. Be grateful for what you have, then there you will find happiness.


Kamu tidak akan menemukan kebahagiaan jika terus menuntut kesempurnaan. Syukuri apa yang kamu miliki, maka di sana akan kau temukan kebahagiaan.


Aza masih bingung dengan apa yang barusan dialaminya. Dia mencari tahu apa yang sebetulnya terjadi pada dirinya.


"Apa itu bayangan masa lalu aku? Karena tidak mungkin itu hantu yang sedang berciuman," lirihnya Aza sambil membaringkan tubuhnya keatas ranjang king size-nya.


Aza berbaring sambil memeluk bantal gulingnya, dia sudah mengantuk tapi entah kenapa matanya sulit terpejam. Dia melamun memikirkan siapa orang yang ada di dalam ingatannya itu.


"Apa itu aku? Tapi, kalau itu aku terus pria itu siapa?" Aza bergumam dalam lamunannya tatapan matanya menatap langit-langit kamarnya sedangkan salah satu tangannya bertumpu di atas dahinya.


Dengan berusaha untuk mengingat kejadian itu, untung saja kepalanya sudah tidak sakit seperti dulu jika, sedang berpikir keras tentang potongan-potongan ingatannya seperti puzzle games saja pasti akan mengalami kesakitan yang sangat dan berujung pada dirinya akan berbaring di bangkar rumah sakit.


Hingga dia tersentak terkejut saat nada dering dan getaran hpnya berdering membuatnya harus mengakhiri lamunannya itu. Dia mengelus dadanya saking terkejutnya dengan hpnya yang berbunyi itu.


Aza segera bangun dari tidurnya lalu merangkak sedikit ke arah nakasnya untuk mengambil hpnya. Dia memeriksa layar HPnya ternyata yang nama id si pemanggil adalah Bunda Hamidah.


"Bunda!" Aza membeo sambil melirik ke arah jam yang terpasang di dinding tembok kamarnya dengan rapi dan cantik.


Aza buru-buru menekan tombol hijau untuk mengangkat telponnya itu. Ia tidak ingin membuat Bu Hamidah menunggu terlalu lama. Wajahnya Aza berseri-seri bahagia setelah mengetahui siapa sosok orang yang menelponnya. Sepintas dia melupakan apa yang barusan terjadi padanya.


Aza duduk bersila dua atas ranjangnya," assalamu alaikum bunda."


"Waalaikum salam cantik, kamu ingat janji kamu besok siang kan?" Tanyanya Bu Hamidah yang ingin memastikan bahwa apa Aza tidak lupa dengan janjinya untuk datang ke rumahnya makan siang.


"Insya Allah Az akan datang kok Bunda, Aza ingat baik kok tidak lupa kalau besok siang aku akan bertamu ke rumahnya Bunda untuk menghadiri makan siang," ungkapnya dengan tersenyum simpul dibalik telepon seakan-akan Bu Hamidah melihat senyumannya itu.

__ADS_1


"Syukur Alhamdulillah, Bunda sangat bahagia mendengarnya kalau gitu nak, malahan bunda sangat bersyukur karena kamu ingat dengan jelas janjimu," balasnya bunda Hamidah menyandarkan punggungnya lalu bersandar di sandaran ranjangnya.


"Bunda apa boleh Aza bertanya sesuatu sama bunda?" Tanyanya Aza penuh harap mudah-mudahan bunda Aza bisa membantunya.


"Katakan saja sayang,kalau bunda bisa pasti akan bunda jawab dan lakukan apa pun itu," timpal Bu Hamidah.


Aza pun mulai menjelaskan panjang lebar apa yang dia rasakan pada pikiran dan hatinya beberapa hari belakangan ini. Bu Hamidah tersenyum penuh bahagia karena dia akhirnya sudah tahu dengan pasti dan jelas sesuai yang disampaikan oleh putranya tadi sore tentang Azalina yang amnesia hilang ingatan.


"Ya Allah… pantesan dia tidak mengingat Wajahnya putraku yang ganteng paripurna itu melebihi tampannya Lee Min-ho dan Chi Chan Wook," lirih Bu Hamidah yang tersenyum penuh kebahagiaan.


"Kalau menurut bunda, siapa pria itu yang suaranya selalu terngiang di dalam pikiranku?" Tanyanya Aza yang merapatkan lipatan kakinya di atas sprei bermotif bunga edelweis yang sangat cantik.


"Hemmm.. sepertinya dia suami kamu," jawab Bu Hamidah.


"Suami," beo Aza.


"Apa pria itu yang bernama Raja yang tertulis di dalam cincinku ini adalah benar adanya suamiku? Lagian tidak mungkin juga aku buat cincin yang hanya menulis asal nama orang begitu saja, atau apa dia tunangan aku di kampung katanya Papa kan aku lahir, besar dan tinggal di kampung sebelum menetap di Ibu Kota Jakarta?" Aza membatin memikirkan banyak kemungkinan besar yang bisa terjadi.


Aza memperhatikan dengan seksama cincin yang berada di jari tangan kirinya itu.


"Aza, apa kamu baik-baik saja Nak?" Tanyanya Bu Hamidah yang tidak lagi mendengar suaranya Aza dari balik teleponnya yang masih setia berada di dekat telinganya itu.


"Eeehh, saya baik-baik saja Bun, makasih banyak atas masukan dan penjelasannya Bun, insya Allah besok Aza akan datang ke rumahnya bunda sebelum Dzuhur, aku ingin shalat berjamaah bareng dengan Bunda, boleh kan?" Tanyanya Aza yang berharap agar apa yang diinginkannya dikabulkan oleh bundanya.


Entah kenapa Azzahra ingin melakukan hal itu padahal sebelumnya tidak pernah terlintas sedikitpun di dalam benaknya itu.


"Ya Allah.. kalau emang cowok yang selalu hadir membayangi hidupku adalah suamiku aku minta dekatkanlah dia denganku dan satukan lah kami dalam ikatan pernikahan seperti dulu lagi," harapnya Aza dengan tatapannya tertuju pada tembok kamarnya yang menjadi saksi kebingungannya itu.

__ADS_1


"Bunda tutup dulu telponnya yah, aku tungguin kamu di rumahnya Bunda sebelum jam 12 siang yah, karena bunda akan memasak banyak makanan kesukaan kamu," tuturnya Bu Hamidah sebelum menutup telponnya.


"Assalamualaikum Bun," ucap salam dari Aza lalu layar hpnya kembali mati setelah Bu Hamidah menutup dan mematikan sambungan teleponnya.


Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:


...1. Pesona Perawan...


...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...


...3. Aku Diantara Kalian...


...4. Cinta dan Dendam...


...5. Cinta yang tulus...


...6. Bertahan Dalam Penantian...


...7. Pelakor Pilihan...


...8. Hanya Sekedar Pengasuh...


...9. Ceo Pesakitan...


...10. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...


Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all....

__ADS_1


__ADS_2