Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 34. Sesal Azalina


__ADS_3

Azalina juga merasakan geli jika ada pria yang menyentuh anggota tubuhnya. Anjas selalu tersenyum sedari tadi, tapi Aza malahan tidak sama sekali mengetahui penyebabnya.


"Makasih banyak Abang, Aku sangat berterima kasih kepada Abang yang sudah membantuku untuk mengobati luka di kakiku," ujarnya lagi.


"Tidak apa-apa kok, kamu tidak perlu berterima kasih kamu seperti orang lain saja," jawabnya yang bahagia mendengar perkataan dari Azalina.


Anjas mengira jika di dalam hatinya Azalia masih ada namanya dan Aza masih menyukainya hingga detik ini walaupun Aza sudah menikah.


"Kakak, tapi kok Abang mempersiapkan segala macam obat dan perlengkapan kedokteran di saku celananya Abang seolah-olah Abang tahu jika aku terluka?" Tanyanya dengan nada kebingungan yang menatap langsung ke dalam kedua bola matanya Anjas yang seperti orang yang mencari kebenaran dari dalam matanya itu.


Anjas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menjawab pertanyaan dari Aza,"Abang mendengar tidak langsung dari mulut tetangga yang melihat kamu terjatuh di atas aspal panas tadi siang," jawabnya dengan cengengesan.


"Oh gitu, pantesan Abang persiapkan segalanya untuk Aza, tapi maaf yah bang, kalau bisa jangan sekali-kali lagi mengungkit atau pun mengingatkan Aza tentang masa lalu kita, bagi Aza itu semua tinggal kenangan dan masa lalu yang tidak perlu diungkit-ungkit lagi karena saya sudah menikah dengan pria lain," jelasnya yang berharap apa yang dikatakannya dapat dimengerti dan dimaklumi oleh Anjas.


Anjas segera memeluk tubuh Azalina bersamaan dengan kedatangan Putri.


"Ini kesempatan yang sangat bagus, aku yakin Ibu Lina akan memberikan imbalan kepadaku uang yang cukup banyak, dan aku akan memeras mereka hingga mengeluarkan uang yang banyak untuk informasi ini," gumamnya sembari mengambil gambar Aza dan Anjas yang sedang berpelukan satu sama lainnya.


Sedangkan Orang yang diperintahkan oleh Anjas pun tidak mau kalah. Dia segera memfoto mereka sehingga banyak gambar yang diambil olehnya sambil tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"kalian berdua bersiaplah, tunggu waktu yang tepat untuk memviralkan berita ini pasti seluruh kampung akan kembali heboh dan gempar lagi seperti dahulu," gumamnya yang penuh dengan kelicikan.


Aza dan Anjas sama sekali tidak menyadari jika apa yang mereka lakukan yang hanya sekedar berbincang-bincang biasa santai akan membawa mala petaka untuk mereka berdua.


"Aku akan memanfaatkan foto ini dan membuat kamu dimarahi oleh kedua orang tuamu," ucapnya yang ternyata memiliki maksud yang terselubung sehingga rela membantu Anjas untuk menolongnya malam itu.


"Abang sangat mencintaimu Aza, hingga akhir hidupnya Abang, aku tidak pernah berhenti untuk melupakanmu walaupun aku sudah berusaha untuk mengeluarkan namamu dalam hatiku, bahkan aku tidak bisa berhenti untuk melupakan semua kenangan indah kita dulu Aza, namamu selamanya akan tersimpan di hatiku," jelas Anjas yang menarik tangannya Aza kemudian menyentuh dadanya.


Azalina yang diperlakukan seperti itu, segera bertindak untuk menarik tangannya. Dia tidak ingin kembali hanyut dalam kata-kata dan rayuan gombalnya Anjas seperti dulu lagi.


"Maaf Abang, tolong pulanglah, sudah terlalu larut malam, aku ingin istirahat," balasnya lalu berdiri dan berjalan ke arah dalam rumahnya.


Aza menutup pintunya segera lalu memutar kuncinya dengan rapat. Aza meneteskan air matanya, dia tidak mungkin membohongi dirinya jika di dalam hatinya yang terdalam masih ada namanya Anjas. Bukan hal perkara mudah untuk melupakan seseorang yang pernah hadir dan singgah di dalam hati dan hidupnya.


Air matanya menetes membasahi pipinya, dia sangat sedih karena pria yang selama ini disayangi harus menjadi sekedar sahabat dan mantan kekasihnya.


"Ya Allah… Aku mohon bantulah aku untuk melupakannya, aku sudah tidak sanggup jika harus terus seperti ini, aku juga tidak mau menyakiti Abang Raja yang sudah menjadi suamiku," tubuhnya terduduk di atas kursi kayu yang sudah usang dimakan rayap.


Anjas sedih karena dengan berat hati dia harus berusaha sekuat tenaga lagi untuk kembali meluluhkan hatinya Aza dan kembali ke dalam pelukannya dan berpaling pada suaminya. Tapi, disisi lain, dia bahagia karena berhasil mengambil beberapa bukti yang akan dipergunakan untuk menghancurkan pernikahan mereka yang baru seumur jagung itu apalagi mereka LDR dan kemungkinannya mereka belum pernah berhubungan, hal itu lah yang mendasari Anjas semakin gencar mendekati Azalina.

__ADS_1


"Sampai kapan pun, aku tidak akan mengijinkan dan membiarkan kalian bahagia kalau perlu sampai rambutku memutih aku akan tetap berusaha dan berjuang untuk merebut kamu dari sisinya," umpat Anjas lalu meninggalkan teras rumahnya Azalina yang remang-remang itu.


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya:



Dilema Diantara Dua Pilihan


Hasrat Daddy Anak Sambungku


Cinta Yang Tulus


Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Benci


Bertahan Dalam Penantian


Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar

__ADS_1



Makasih banyak untuk Readers yang telah Sudi mampir..


__ADS_2