
Penuturan dokter membuat semua orang sedih dan marah sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
Mereka tidak ada yang menyangka jika akibat dan dampaknya akan seperti ini jadinya.
"Kalau gitu saya permisi dulu Bu, karena masih banyak pasien yang harus kami tangani," ucap Pak Dokter yang berpamitan kepada ibu-ibu dan bapak-bapak yang semakin banyak yang berdatangan memenuhi ruang perawatan inap Aza.
Mereka saling bertatapan dan raut wajah mereka berbeda-beda yang tidak bisa tergambarkan. Raut wajah sedih bercampur kecewa dan marah menjadi satu bagian di dalam hati mereka
"Kalau seperti itu, Santi Ibu minta tolong pulanglah ke rumahnya Aza untuk mengemasi beberapa barang-barangnya Aza di rumahnya dan bawalah juga beberapa berkas penting miliknya, ini kunci rumahnya Nak," tutur Bu Mina sembari mengayunkan sebuah kunci ke tangannya Santi.
"Baiklah kalau begitu,saya sama Riswan pamit pulang, tapi kapan kita akan berangkat Bu?" Tanyanya Santi.
"Insya Allah besok pagi sesudah shalat subuh saja, bagaimana dengan kalian apa setuju dengan usulku ini?" Tanyanya Bu Mina.
__ADS_1
Bu Mina mengedarkan pandangannya lalu melihat satu persatu orang yang berada di dalam sana.
"Lebih cepat lebih baik kalau menurut saya Bu, kasihan dengan Aza jika harus menunda lebih lama lagi," jawab Bu Hana.
"Iya benar sekali, apa lagi Dokter menjelaskan semuanya tadi jadi sebaiknya secepatnya kita antar Aza hingga ke Jakarta," timpal Pak Toni.
Setelah mereka meremukkan dan berunding untuk membahas persiapan mereka ke Jakarta bertepatan dengan kedatangan Pak Ardi.
"Assalamualaikum," ucap salam pak Ardi selaku kepala Desa setempat.
"Apa maksud dari perkataan bapak dan ibu? Kalau tidak salah kalian tadi mengatakan akan membawa Aza ke Jakarta?" Tanyanya Pak Ardi yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan emak-emak dan bapak-bapak.
"Begini Pak Desa, setelah dokter memeriksa keadaan dari Nak Aza, beliau memutuskan dan menyimpulkan bahwa jalan terbaik dan satu-satunya cara untuk mengobati rasa trauma dan ketakutannya Aza akibat dari ulah anaknya Bapak kami akan membawa Aza besok ke Jakarta sesuai petunjuk dari Pak Dokter," sarkas Bu Hana dengan raut wajah yang kurang menyukai kedatangan Pak Ardi.
__ADS_1
"Betul sekali yang dikatakan oleh Bu Hana Pak Desa, tapi kami semua menyayangkan dengan sikap brutal dan tidak berprikemanusiaan perbuatan dan sikap brengseknya putra Bapak Anjas," terang Pak Anton yang sangat marah.
Pak Anton marah karena mereka tidak menduga anak seorang kepala desa yang dikenal baik, sopan, ramah dan berpendidkan tinggi ,tapi ternyata perbuatannya tidak mencerminkan semua itu.
Pak Ardi yang mendengar suara sumbang dan membuat dia malu hanya bisa bersabar dan tabah karena dia sadari wajar orang-orang bersikap seperti itu.
"Semoga saja pelakunya dihukum dengan hukuman yang berat dan setimpal, gak adil jika tersangkanya terbebas dari hukuman sedangkan korbannya sakit tidak berdaya karena keadaan dan kejadian yang memilukan," sindir ibu Hana lagi yang menatap jengah dan kesal kearah rombongan Pak Desa.
"Ya Allah… kuatkan aku dan berilah aku ketabahan," batinnya Pak Ardi.
"Jadi, apa putranya bapak sudah di penjara dan mendapatkan hukuman yang pantas untuk semua perbuatannya itu?" Tanyanya Bu Mina yang sangat kecewa dan sedih melihat kondisi dari Aza yang hampir jadi orang gila yang tidak waras.
"Kalau masalah hukumnya Anjas, ibu sama bapak tidak perlu risau dengan semua itu, karena bagi saya semua orang sama di depan mata hukum tidak ada perbedaan sedikit pun, jadi kalian perlu hanya fokus pada penyembuhan Aza dan Saya berjanji akan membantu untuk membiayai perawatan Aza selama di Jakarta," terang Pak Ardi dengan tegas.
__ADS_1
"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu, kami sangat bahagia karena mendengar perkataan dari Pak Desa, dan semoga Aza segera sembuh dan tidak akan ada lagi kejadian seperti ini dikemudian hari nantinya," harap Bu Mina sama dengan yang lainnya.