Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 22. Angan-angan Pelakor


__ADS_3

"Aku yakin aku bisa menyingkirkan Istrinya yang kampungan itu, secara jika dibandingkan dengan diriku, jauh banget lah bedanya." Dia tersenyum meremehkan saat melihat kondisi rumahnya Azalina.


Winda menoleh ke arah belakang dan menatap ke arah Raja,"Bang apa benar ini rumahnya Azlina?"tanyanya yang tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya itu.


"Sepertinya langkahku semakin mudah untuk mendapatkan Raja, pasti dia lama-lama tidak tahan dan betah hidup menderita bersama dengan istrinya yang cewek kampung, penampilannya jelek, dan miskin."


Lamunannya buyar seketika saat Raja menjawab pertanyaannya.


"Iya, karena istriku memarkirkan sepedanya di depan sana," jawabnya sembari mengarahkan jari telunjuknya ke arah Azalina yang memarkirkan sepedanya.


Winda menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan kenyataan yang ada di depan matanya itu,"serius bang ini rumahnya Aza? Kok jelek amat yah," tutur Winda yang sengaja berbicara hiperbola di depannya Raja agar hasutannya berhasil.


Azalina segera berjalan ke arah mereka dan tersenyum ramah ke arah Winda, "Makasih banyak atas bantuanya Mbak," ucap Azalina setulus hatinya saat Raja sudah berada di dalam rumahnya.


Winda tidak ingin membalas perkataan dari Azalina awalnya, tapi karena ingin mendapatkan perhatian khusus dari Raja sehingga dia harus kembali berakting menjadi perempuan yang baik dan sopan.


"Sama-sama, kamu santai saja, lagian ini adalah kewajiban aku untuk membantu kalian," jawabnya dengan senyuman palsunya.


"Mbak mampir lah dulu, kasihan Mbak sudah nyetir mobil yang lumayan jauh kalau gak istirahat sejenak nanti kelelahan di jalan," terang Azalina.

__ADS_1


"Iiihhh, amit-amit lah kalau aku harus masuk ke dalam, pasti di dalam itu bau, pengap dan banyak debu sama hewan kecilnya yang berkeliaran,"gumamnya yang sudah merinding.


"Aahhh, Mbak ngomong apa? Maaf aku kurang jelas dengernya," jelasnya.


"Ooohh tidak ada kok, aku tidak bicara apa-apa pun," jawabnya dengan menutupi kenyataan yang ada.


"Dasar perempuan munafik, jangan harap rencanamu berhasil,aku tidak akan pernah ijinkan untuk berhasil." Raja menatap ke arah Winda yang wajahnya sudah tidak enak dipandang.


"Lain kali saja aku mampirnya, maaf yah bang, aku buru-buru soalnya mau balik ke Rumah Sakit," balasnya yang menampilkan wajah menyesalnya dan langsung berbalik ke arah luar.


Nafeesa mengantar Winda hingga ke depan mobilnya. Nafeesa mendengar beberapa sapaan dari tetangganya yang bertanya tentang siapa perempuan cantik tadi.


"Hey Naf, yang barusan pergi itu siapa?"tanyanya Ibu Mina yang melihat Winda baru saja pergi.


"Aza, loh harus hati-hati, karena menurutnya Ibu sepertinya dia menaruh hati dan cari-cari perhatian sama suamimu loh, itu sih sesuai yang Ibu lihat," terang ibu Mina yang sedikit mengeraskan suaranya agar Raja mampu mendengar perkataannya itu.


"Aahh Ibu bisa saja, itu tidak mungkin lah Bu, Dokter Winda itu baik banget sama kami,tadi saja nganterin Abang Raja hingga kesini," sanggah Azalina.


"Ibu hanya mengutarakan apa yang ibu lihat dan rasakan, semuanya terserah kamu saja sih apa mau percaya atau tidak, ibu hanya mengingatkan sebelum ter-lam-bat," ucap ibu Mina yang sengaja mengeja perkataannya yang terakhir.

__ADS_1


"Ibu ada-ada saja, mana ada yang berani merebut Abang Raja dariku, kalau ada yang berani hadapi Aza dulu lah Bu," gurau Azalina.


Candaan Aza yang didengar langsung oleh Raja membuat hatinya bergetar dan menghangat seketika itu juga.


"Kamu harus kuat dan tahan banting, karena suami kamu itu ganteng walaupun belum bisa jalan sih tapi, ibu yakin Raja banyak yang suka padanya," tambah Bu Mina sebelum berlalu dari hadapannya Azalina yang terdiam dan terpaku meresapi perkataannya Ibu Mina.


"Ibu Mina ada-ada saja deh, buat ketawa saja siang gini," ucapnya lalu berjalan ke arah dalam rumahnya.


"Aku harus bersiap setiap saat jika suatu saat nanti Abang Raja pulih ingatannya dan kembali ke Ibu Kota." Batinnya berbicara dan hanya tersenyum menanggapi pikirannya sendiri.


Raja yang duduk di kursi sedikit merasa gerah sehingga dia gelisah duduk. Azalina yang baru saja masuk ke dalam rumahnya. Dia tanpa sengaja melihat Raja yang gelisah.


"Abang kenapa?" Tanyanya yang duduk di sampingnya Raja.


"Abang bisa minta tolong gak? Jendelanya dibuka sedikit biar udara segar masuk ke dalam rumah, aku juga mau lihat pemandangan laut lepas," jawabnya yang mengibaskan kerah bajunya karena keringat sudah membasahi pipinya dan sebagian tubuhnya.


Azalina langsung sigap berdiri untuk menjalankan perintah pertama dari suaminya untuk membuka jendela rumahnya yang langsung berhadapan dengan laut.


"Aaaahhhhh!!!!" Teriak Azalina dengan suara cemprengnya.

__ADS_1


Tapi, karena kurang hati-hati saat berjalan kakinya tersandung dengan ujung meja sehingga dia terjatuh ke atas tubuhnya Raja dengan posisi tengkurap dan kepalanya pas di atas bagian sensitifnya Raja.


"Ini apa!!!"


__ADS_2