
Entah kenapa Azzahra ingin melakukan hal itu padahal sebelumnya tidak pernah terlintas sedikitpun di dalam benaknya itu.
"Ya Allah.. kalau emang cowok yang selalu hadir membayangi hidupku adalah suamiku aku minta dekatkanlah dia denganku dan satukan lah kami dalam ikatan pernikahan seperti dulu lagi," harapnya Aza dengan tatapannya tertuju pada tembok kamarnya yang menjadi saksi kebingungannya itu.
"Bunda tutup dulu telponnya yah, aku tungguin kamu di rumahnya Bunda sebelum jam 12 siang yah, karena bunda akan memasak banyak makanan kesukaan kamu," tuturnya Bu Hamidah sebelum menutup telponnya.
"Assalamualaikum Bun," ucap salam dari Aza lalu layar hpnya kembali mati setelah Bu Hamidah menutup dan mematikan sambungan teleponnya.
Aza mulai memejamkan matanya untuk segera menuju pulau kapuk. Sudah berulang kali menguap dan mengantuk tapi,bayangan yang pria dengan seorang gadis yang sedang berciuman mampu mengusik ketenangan tidurnya malam itu.
Aza bolak balik tapi, tetap saja matanya belum mampu terpejam dengan baik. Sudah dia coba untuk menutupi wajahnya dengan bantal, tapi tetap saja dia tidak bisa terlelap dalam tidurnya.
"Aaahhhh!! Aku mau tidur!!" Pekiknya Aza yang berusaha berteriak kencang agar bayang-bayang seorang pria mampu meninggalkan pikirannya yang sudah bertahta dan menguasai sebagian pikirannya itu.
Cicak, nyamuk dan kecoa menjadi saksi bisu dari apa yang dialami oleh Aza tengah malam itu. Padahal jam di dinding sudah menunjukkan pukul 2 dini hari tapi, matanya tidak bisa diajak kompromi dengan pikirannya sendiri. Hingga membuatnya tidak berdaya.
Tanpa sengaja hpnya yang terbuka layar kuncinya sedari tadi langsung menekan tombol nomor seseorang yang dia tidak disadarinya. Hpnya menekan tombol nomor hp Bu Hamidah yang barusan berbincang-bincang dengannya.
Sultan yang kebetulan melewati kamar bundanya tanpa sengaja melihat pintu kamarnya yang terbuka sedikit hingga cahaya lampu mampu menerobos sedikit dari celah pintu itu.
"Bunda, tumben dia ceroboh sampai-sampai melupakan untuk menutup pintu kamarnya," cicitnya Sultan lalu berniat menutup pintu kamar itu tapi tangannya hanya menggantung di udara.
Telinganya menangkap suara dering hp, karena penasaran dia berjalan masuk ke dalam kamarnya perempuan yang sangat besar jasanya dalam hidupnya itu.
Ia semakin mempercepat langkahnya hingga tepat di depan ranjang bundanya. Dia meraih hp itu yang tidak berhenti untuk berdering hingga detik itu juga. Sultan mengambil hp bundanya dan begitu terkejut sekaligus bahagianya karena nama orang yang tertera di layar hpnya adalah Aza.
__ADS_1
Tanpa ragu dan banyak pikir lagi dia menekan tombol hijau. Dengan senyumannya yang terpancar dari wajahnya itu.
"Assalamualaikum Aza," sapanya Raja saat sambungan telepon terhubung.
Tapi, hanya dengkuran halus yang mampu terdengar hingga ke gendang telinganya itu.
"Aza!! Apa kamu baik-baik saja?" Tanyanya Raja yang sedikit mengeraskan suaranya hingga terkesan berteriak.
Hingga berulang kali dia lakukan hal seperti itu terus tapi apa yang dia dapatkan balasannya dari Aza, yaitu dengkuran halus yang sangat kecil hingga terkesan seksi di telinganya Raja. Sultan hanya tersenyum menanggapi sikapnya Aza yang menurutnya lucu.
"Besok kita akan berjumpa lagi, aku akan buat kamu untuk perlahan mengingat kenangan kita berdua dan aku sangat yakin dengan hal tersebut akan berhasil dan kamu akan sembuh total dari sakitmu istriku sayang," Sultan berucap sepert itui sambil menciumi foto Aza yang ada di dalam gawai bundanya.
Sultan menciumi foto Aza yang menurutnya sangat lucu dan cantik. Bu Hamidah dulu diam-diam mengambil gambar Aza saat mereka berbincang-bincang di rumah sakit beberapa minggu lalu.
Anjing menggonggong dan burung hantu saling bersahutan di tengah malam buta itu. Mereka memeriahkan acara malam itu yang begitu panjang dan heningnya tanpa ada aktifitas yang dilakukan oleh umat manusia.
Aza sudah terlelap dalam tidurnya dan terbuai dengan mimpi indahnya. Begitu pula dengan yang dialami oleh Raja yang hanya butuh waktu sebentar saja matanya sudah mampu terpejam menikmati buaian mimpi.
Keesokan paginya, Pak Farhan dan Bu Fauziah sudah meninggalkan kota Jakarta bertolak menuju kampung halamannya Azalina. Mereka akan berkunjung sekaligus berziarah ke makam Ibunya Azalina yang ada di sana. Sekalian menikmati indahnya pesona kampung tersebut yang semakin maju.
Hal itu terjadi berkat bantuan dari Sultan dan program pemerintah setempat yang bekerja sama dengan Perusahaan Sultan untuk memajukannya.
Kedua orang tuanya hanya pamit kepada kedua putranya yaitu Daniel dan Davindra yang kebetulan mereka bangunnya cepat sedangkan Aza masih bergelut dalam selimutnya karena asyiknya tidur yang baru beberapa jam lalu bisa dia nikmati dengan baik.
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:
__ADS_1
Dilema Diantara Dua Pilihan
Hasrat Daddy Anak Sambungku
Aku Diantara Kalian
Cinta dan Dendam
Cinta yang tulus
Bertahan Dalam Penantian
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you
__ADS_1