Pesona Perawan

Pesona Perawan
Chapter. 29. Rencana Penjebakan Musuh


__ADS_3

"Kupinta jagalah selalu hatimu dan tubuhmu karena semua yang ada padamu adalah milikku hanya milik Sultan semata bukan pria lain," Sultan sangat berharap hal itu bisa dikabulkan oleh Azalina.


Sebenarnya Sultan ingin melakukan dan mengucapkan kata-kata itu tapi, apa daya hanya mampu diucapkannya sekarang. Tadi, pas sebelum pergi dia ingin sekali memeluk tubuh Azalina tapi, ego dan amarahnya lebih dominan dalam dada dan pikirannya.


"Maafkan Abang yang sudah meneteskan air matamu sayang, Abang sangat mencintaimu Azalina."


Raja sangat berat untuk meninggalkan istrinya tanpa memeluk tubuh Azalina seperti yang biasa dia lakukannya selama ini. Biasanya jika tengah malam,Raja akan diam-diam masuk ke dalam kamarnya Azlina tanpa sepengetahuan Azalina hingga detik ini.


Raja bukannya memanfaatka kesempatan dalam kesempitan, tetapi dia selalu gelisah jika tidur tidak memakai kipas atau dalam cuaca yang panas dan membuat tubuhnya gerah dan berkeringat. Itu lah alasannya yang selalu membuatnya berjalan di tengah malam untuk selain merasakan dinginnya angin dari kipas angin,dia juga ingin menikmati pelukan ditubuhnya Azalina.


Raja tersenyum ketika mengingat hal itu, hingga dia melupakan masalah pertemuannya dengan Anjas beberapa hari yang lalu. Raja kembali memejamkan matanya dalam perjalanan pulang ke Ibu Kota Jakarta.


"Tunggu aku Aza, Abang pasti akan kembali menemuimu dan menjemput kamu untuk tinggal bersamaku," gumamnya.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai dengan selamat di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Awalnya Raja sedikit trauma dan teringat kepada masa lalunya saat kejadian peristiwa percobaan pembunuhan atas dirinya sendiri yang dilakukan oleh Martin selingkuhan tunangannya itu.


Sultan berusaha untuk membuat dirinya tenang dan tidak ketakutan, wajahnya Azalina terlintas dibenaknya saat trauma itu menggerogoti tubuhnya. Azalina yang selalu tersenyum manis ke arahnya mampu membuatnya bisa meredakan ketakutannya sendiri.


Pengawal dan beberapa anak buahnya segera menjemputnya di Bandara. Sultan akan menghancurkan Martin dan Selena ketika Bunda dan adiknya Sheila ditemukan keberadaannya.


"Selena tunggu aku akan datang memenuhi tanggung jawabku," ucapnya dengan penuh seringai liciknya.


"Apa kamu akan langsung ke perusahaan atau ke rumah dulu?" Tanyanya Anggara yang sekarang sementara menjadi asisten pribadinya.


Sultan menatap ke arah Anggara sahabatnya itu lalu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari Anggara," kita ke Perusahaan dan menangkap beberapa tikus got itu dan hancurkan mereka hingga tak tersisa," terangnya dengan tegas dan tidak ingin dibantah.

__ADS_1


"Pak Supir kita ke Perusahaan," perintah Anggara.


"Cari pengganti mereka dengan kualitas dan kualifikasi terbaik dan masukan mereka yang bersekongkol dengan Martin ke dalam daftar hitam agar mereka tidak bisa berbuat yang tidak baik lagi di Perusahaan lainnya," tuturnya dengan nada suara yang cukup tegas.


Anggara melirik sekilas ke arah Sultan yang berbicara tetapi arah pandangnya terus memperhatikan sebuah foto yang ada di dalam hpnya.


"Satu lagi buat mereka menderita hingga mereka datang mengemis di bawah kakiku," titah Sultan dengan wajahnya yang sangat marah mengingat anak buah kepercayaannya dan beberapa karyawannya yang berani mengkhianatinya.


"Semuanya akan berjalan sesuai dengan apa yang kamu inginkan, kali ini semuanya pasti aman terkendali asalkan kamu tidak bersifat lembek dan jatuh ke dalam pesona dan tipu daya Selena lagi untuk kedua kalinya," ujarnya Anggara yang menatap tajam ke arah Sultan yang membalas tatapannya Dokter tampan itu.


"Sultan yang ada di depanmu adalah bukan Sultan yang dulu terlalu naif dan bego dengan mudahnya dipermainkan beratas namakan cinta yang tulus," timpalnya dengan senyum smirknya.


"Ada yang ingin aku tanyakan padamu, tapi sedikit agak pribadi," ucapnya Anggara yang menimbang apa yang akan disampaikannya di depan Sultan.


"Katakan saja, tidak perlu ragu atau pun sungkan, kamu seperti orang yang baru kenal aku saja," balasnya dengan melihat Anggara yang seperti seseorang yang ragu saja dan sepertinya hal yang ingin disampaikannya adalah hal yang sangat berat.


"Iya, oke kami akan segera menuju ke situ, ingat atur dengan baik tanpa cacat dan kekurangan sedikit pun juga, jika semua rencana Kita sukses, kamu dan yang lainnya akan dapat bonus yang besar dari Tuan Muda Sultan," terangnya Anggara.


Sambungan telpon pun terputus, Anggara sumringah karena semua orang yang dia turunkan untuk menjalankan rencana mereka cukup bisa diandalkan dengan baik.


"Pak Supir tambah kecepatannya," teriaknya ke arah kursi bagian depan di mana sekretaris baru dan supirnya berada.


"Untuk kalian berdua jika ingin hidup bahagia dan sejahtera selama kerja dengan Tuan Sultan, maka sebaiknya kalian jangan sedikit pun berfikiran untuk melakukan hal-hal yang nantinya kalian sesali seumur hidup kalian, begitu pun sebaliknya dan jika kalian bekerja dengan memberikan dedikasi kalian yang terbaik maka bersiaplah menunggu bonus yang cukup besar," ungkap Anggara.


"Aku tahu tadi yang ingin kamu tanyakan kepadaku, dan bukan waktunya sekarang kamu tahu bro." Batin Sultan yang menatap ke arah Anggara dengan penuh selidik.

__ADS_1


Pak supir dan sekretaris pria itu saling bertatapan dan tersenyum puas dan merasa tidak salah melamar bekerja dengan mereka.


Sedangkan di tempat yang sangat jauh dari Ibu Kota Jakarta, seorang perempuan yang baru saja menutup warung sembakonya, dia berjalan ke arah belakang rumahnya yang terdapat sebuah balai-balai.


Balai-balai itu adalah tempat biasa dia tempati bersama dengan suaminya saat bersantai dan berbagi cerita kisah hidup mereka. Perempuan itu tidak lain adalah Azalina yang sedari tadi, tidak bosan-bosannya melihat ke arah layar HPnya.


Dia menantikan pesan chat dari suaminya yang mengabarkan bahwa dirinya sudah sampai dengan selamat di Jakarta. Dia menekuk lututnya dan tidak terasa tubuhnya bergetar menahan air matanya yang menetes membasahi pipinya.


"Ya Allah… kenapa hati ini tidak tenang dan serasa kepergiannya Raja adalah untuk selamanya."


Tinggalkan jejaknya kakak Readers setelah baca yah dan dukung juga Novelku yg lainnya:



Dilema Diantara Dua Pilihan


Hasrat Daddy Anak Sambungku


Cinta Yang Tulus


Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Benci


Bertahan Dalam Penantian

__ADS_1


Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar



__ADS_2