
Ibu-ibu kalem baik hati, emak-emak rempong dan bapak-bapak yang tidak suka ghibah hanya terdiam dan saling berpandangan satu sama lainnya. Mereka masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri dan ada rasa takut, khawatir dan was-was jika Raja akan marah dan mengamuk dengan kejadian yang menimpa istrinya.
"Ya Allah... kenapa bisa dua benalu itu datang ke sin" gumam Santi yang sedari tadi hanya sibuk melayani para pelanggan dan pembelinya hari itu.
Raja spontan menatap tajam ke arah kedatangan Anjani yang berjalan berlenggak-lenggok bagaikan artis ibu kota dan model papan atas segala.
Anjani tersenyum menggoda ke arah Sultan, tapi Sultan sedikit pun tidak menggubris tatapan memuja dan senyuman menggodanya Anjani karena di dalam bola matanya dan relung hatinya yang terdalam hanya senyuman Azalina yang termanis yang pernah dilihat oleh Raja.
"Katakan cepat apa maksud dari perkataanmu itu?" Tanyanya Sultan yang to the point saja tanpa tedeng aling-aling.
"Yang sabar dong Abang, kenapa meski terburu-buru orangnya kok gak akan bisa lari kemana juga," balasnya Anjani dengan sengaja mengulur waktu lebih lama lagi untuk mempermainkan beberapa orang yang berada di depan tokonya Aza.
Sultan hanya menaikkan kedua alisnya yang tidak mengerti dengan maksud dari perkataannya Anjani, kakak sepupu dari Azalina.
"Azalina istrimu sudah lebih enam bulan tidak ada di kampung dan dia menghilang saat mereka mengantar Aza ke Kota," terangnya Anjani dengan penuh percaya diri.
Sultan tersentak terkejut mendengar perkataan dari Anjani lalu refleks mengalihkan pandangannya ke arah beberapa ibu-ibu yang refleks menundukkan kepalanya ke arah bawah yang tidak berani menatap langsung ke arah Sultan yang sudah meminta jawaban dari perkataannya Anjani.
"Sepertinya ada yang tidak beres di sini dan aku yakin ada orang yang menjadikan Aza sebagai kambing hitam untuk melancarkan rencananya untuk menghancurkan hidup Aza," Sultan membatin.
__ADS_1
"Kalau mau jawaban yang lebih lengkap dan jelas datang saja di rumahnya Pak kepala desa kita yang terhormat yaitu pak Ardi, Abang pasti akan mengetahui semuanya dengan jelas," tutur Anjani dengan menyunggingkan senyuman liciknya yang penuh kemunafikan.
Sultan tanpa sepatah kata pun segera meninggalkan depan rumahnya Azalina dan segera berlari kecil ke arah mobilnya yang terparkir cantik dengan dikerumuni oleh beberapa orang dan anak-anak yang ingin langsung melihat mobil super mewah tersebut.
"Ini tidak boleh dibiarkan aku harus tahu kenapa istriku tidak ada di kampungnya lagi," cicitnya dengan sedikit amarah dan emosi yang sudah mulai muncul di dalam hatinya.
Raja menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sedang karena berhubung kondisi jalan yang banyak berlobang di sana sini.
"Aku yakin kamu dengan ibumu sedang merencanakan rencana yang sangat besar dan aku yakin hal ini kalian Sudah memikirkannya dengan matang-matang," sarkas Bu Hana.
"Betul sekali yang ibu bilang, aku yakin dua ulat bulu ini bisa Raja termakan hasutan dan adu dombanya,"sahut Pak Toni.
"Aku heran dengan sangat, kenapa yah di dunia ini bisa terlahir dan hidup manusia jahat seperti kamu bahkan perbuatan kalian berdua sudah mengalahkan jahatnya orang-orang yang ada di penjara," jelas Bu Hana.
"Tapi Kok bisa yah paman Heru sama sekali terdiam dan tidak melarang kalian atau apa kalian berpura-pura baik di hadapannya Paman Heru yang bertindak dan berperilaku yang sangat baik di depannya hingga keburukan dan kesalahan besar kalian tidak tercium oleh paman dan mungkin kamu memberikan obat dari dukun agar Paman Heru manut dengan semua kejelekan kalian berdua," terang Santi yang ikut menimpali perkataan yang lainnya.
"Kami tidak mau ambil pusing, tidak mau mendengar bullyan dari kalian tapi satu hal yang perlu kalian ketahui akan segera terjadi perang dunia ke tiga antara pak Ardi, Anjas dan Raja tidak lama lagi," pungkasnya Bu Lina.
"Kami tidak akan pernah mengijinkan dan membiarkan hal itu terjadi selama kami masih hidup dan kami bernafas jadi jangan banyak dan bermimpi yang tinggi pula," sahut Pak Doni.
__ADS_1
"Ayo kita segera ke rumahnya pak kepala Desa sebelum terlambat," perintah Pak Anton yang berusaha untuk mencegah perpecahan dan pertikaian antara Sultan dengan Anjas.
Mereka terburu-buru berjalan dan meninggalkan depan lokasi Tokonya Aza dan bergegas ke rumahnya Ibu Melati.
Silahkan mampir juga ke Novel aku yang lain judulnya:
...1. Pesona Perawan...
...2. Dilema Diantara Dua Pilihan...
...3. Pelakor Pilihan...
...4. Cinta CEO Pesakitan...
...5. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...
Makasih banyak all Readers...
i love you full banget deh untuk kalian yang sudah mampir baca...
__ADS_1
Jangan pernah bosan yah dengan karya recehannya Fania Mikaila AzZahrah daeng Sayang...