
Kejadian saat Perjanjian Berakhir ....
Niat sang Tuan akan menghabisi semua yang terkait dengan pesugihan Kanjeng Ibu, dengan cara berurutan agar lebih menyiksa. Namun, kenyataan berubah, Bu Sumarni ada yang mendahului, istananya mendadak di serang, membuat proses kematian sang Penerus yang gagal menjadi tidak beraturan dan terkesan acak tak pandang bulu.
Duuaarr!! .... Ledakan pintu utama istana hancur, mahluk-mahluk para musuh Tuan semakin merangsek masuk.
Sang Tuan pun bergegas, akan segera menyelesaikan pembantaian pengabdinya yang tersisa.
Saat sang Tuan hendak meraih Irwan pun, tertubruk oleh Mita yang tiba-tiba lari ke arahnya. Sang Tuan geram lantas tangannya mencengkram leher Mita lalu mengangkatnya keatas. Mita lantas meronta-meronta, dengan napas yang tercekat. Namun, sang Tuan tiba-tiba pendengarannya terfokus pada suara degup lirih yang berada tepat di wajahnya, lantas ia menurunkan Mita, dengan tetap masih mencengkram lehernya.
Sang Tuan lantas melirik Ki Brasta dan Sri, lalu tersenyum menyeringai, Sang Tuan berkata sesuatu yang hanya dimengerti oleh Ki Brasta.
Ki Brasta lantas mendekati sang Tuan, diraihnya tubuh Mita dan meletakan tubuhnya di lantai tanpa bisa melawan. Ki Brasta mengelus perut Mita, dan benar saja, apa yang diisyaratkan sang Tuan, bahwa Mita sedang mengandung anak perempuan.
Ki Brasta memberi tahu Mita bahwa perjanjian akan diteruskan oleh keturunan Irwan dari anak Mita yang sekarang masih dikandung. Jiwa sombong Mita membuat iblis seakan kembali terlahir.
Ki Brasta lantas memakaikan kalung milik kanjeng ibu ke leher Mita. Namun, kalung itu tak berpermata, sebab batu sudojiwo akan muncul dari anak Mita kelak. Sementara batu sudojiwo yang dihasilkan Wulan hancur bersamaan dengan kematian sang pemiliknya.
Ki Brasta mendekati Irwan yang tertunduk tak mengerti dan bersiap diri untuk melewati rasa sakitnya kematian, lalu Ki Brasta berbisik pada Irwan tentang perjanjian baru itu.
"Aaaaaaaaaaaggh!" Irwan berteriak sekeras-kerasnya, memukul-mukul dan menendang sang Tuan. "Lepaskan keluarga sayaaa! Ibliis!!"
Sang Tuan yang penuh tipu muslihat hanya menyeringai, menanggapi calon pengabdinya, yang dia tau bahwa Irwan pasti bakal menjadi pengabdinya kelak.
Irwan yang mendapat bisikan kesempatan hidup untuk dirinya, harus di tukar dengan tumbal pertama perjanjian baru ini, dari keluarganya. Sementara saat ini keluarga yang dia miliki hanya Mariska dan Putra.
"Aaaaaaaaaaggh!" Irwan kembali berteriak sambil menjambak rambutnya sendiri. Dia yang takut akan kematian tak mampu mengambil keputusan. Rasa takut pada kematian melebihi rasa sayangnya pada Mariska dan Putra, dia memilih mengorbankan salah satu dari mereka.
Irwan berpikir, jika kematian yang dia pilih seperti Wulan pun, hanya akan membuat anak dan istrinya binasa juga. Sungguh iblis sangat pintar dalam menata tipu dayanya.
Sang Tuan kembali menyeringai, atas keputusan Irwan, lalu mengirimkan para iblis untuk merekayasa kematian keluarga Kanjeng Ibu dengan menyertakan tubuh Kanjeng Ibu; Wulan, Sumarni, serta Fatmah dengan bantuan iblis-iblis pencabut nyawa yang ditugaskan mengakhiri hidup mereka, meski hanya Bu Sumarni yang tanpa kepala karena kematiannya bukan mereka yang melakukan.
Dihadirkannya sosok ilusi Putra dengan bantuan iblis yang menyerupai. Akankah Putra, ataukah Mariska yang akan turut serta dalam rekayasa itu, keputusan Irwan lah yang menentukan.
Sang Tuan berdiri di belakang Mariska dan Putra. Mariska masih bersimpuh dan menatap sedih perwujudan anaknya, dan Putra menangis memanggil-manggil sang Ayah. Dijambaknya rambut Mariska ke atas, dan diangkatnya kepala Putra yang digenggam tangan sang Tuan. Kedua tangan Sang Tuan mengangkat dua sosok yang di sayangi Irwan, dan kini berada dihadapannya menunggu ajal atas keputusannya.
"Ayah, Ayaah, Ayaaah."
"Mas, pilih aku," ucap Mariska dengan deraian air mata, menebak akan berlanjutnya perjanjian ini. "Aku yakin mas, Putra aman."
"Ayaah, Ayaaah."
"Relakan kepergianku, mas. Aku ikhlas," pinta Mariska dengan memohon. "Biarkan Putra Mas, jika kamu bertemu dengannya kelak." Mariska yakin bahwa Putra bersama Disa sekarang.
Irwan masih menangis, mendengar panggilan anaknya, mendengar ucapan istrinya. Dia masih belum bisa memutuskan, tapi sang Tuan menikmati ini.
__ADS_1
"Ayaaah!"
Karena ucapannya seperti tidak diindahkan, Mariska panik akan keputusan Irwan tentang Putra, lantas Mariska berucap hendak memprovokasi suaminya.
"Mas! Lepaskan! Biarkan aku pergi! Mungkin Tuhan lebih menyayangiku dari pada kamu, Mas!"
Irwan langsung menunjuk arah Mariska istrinya untuk di tumbalkan, tanpa sanggup melihat dan masih duduk menunduk, menahan rasa sakit di dada.
'Kamu pikir ini selesai, wahai manusia bodoh,' benak iblis menghardik. Iblis licik, senang mengaduk-aduk perasaan manusia, dia akan mengambil nyawa orang yang paling disayangi Irwan dari dua pilihan.
Dijatuhkannya salah satu tubuh di genggaman ....
Slaash! ....
Diarahkannya tebasan kuku-kukunya ke arah perwujudan Putra, sebab pilihan Irwan menunjukan bahwa dirinya lebih menyayangi Putra. Seiring dengan tebasan itu, iblis pencabut nyawa melesat menghampiri raga Putra yang tertidur pulas di pelukan Yanti di dalam mobil yang dikendarai Ki Wiryo.
"Tidaak!" Mariska menjerit, Irwan hanya terduduk lemas tak berdaya.
Tebasan pertama kuku sang Tuan tak mampu melukai perwujudan Putra, sebab iblis pencabut nyawa kiriman mampu dihalau Maung Rekso yang mengawal perjalanan Putra dalam mobil.
Slaash! ....
Mariska histeris lalu menyebut nama Tuhan-nya dan terkulai lemas, Irwan pun meraihnya di pangkuan.
Tebasan kedua pada Putra kembali gagal, meski sang Tuan mengirim iblis pencabut nyawa dengan jumlah banyak.
Do'a mereka terucap bersamaan, dan terus-menerus saat suasana horor dan mencekam terasa, setelah membicarakan penggalan kepala Bu Sumarni yang turut serta dalam mobil.
Duuaaarr! .... Pintu masuk ruang rahasia sudah jebol, serangan para mahluk semakin membabi buta, mencari, menelusuri keberadaan sang Tuan untuk membuat perhitungan.
Mendengar pintu rahasia sudah hancur, dia berpikir sebentar lagi keberadaannya akan ditemukan, Sang Tuan pun murka dan tak ada waktu lagi. Dilepaskannya iblis perwujudan Putra, lalu kembali menjambak rambut Mariska dan mendorong Irwan yang terjungkal kebelakang.
Slaash! ....
Sang Tuan pergi berlalu, dan kepala Mariska mengelinding di hadapan Irwan dan Mita, di saksikan oleh ki Brasta dan Sri yang akan menjadi kuncen baru mereka.
Sebaik-baiknya kematian adalah saat manusia ingat akan kematian itu, dan sebaik-baiknya ingatan dalam kamatian itu adalah mengingat Tuhan.
Kepergian sang Tuan diikuti Sri, Irwan dan Mita. Namun sang Tuan di hadang puluhan mahluk menyeramkan. Mereka para Tuan pimpinan pesugihan musuh sang Tuan.
Dengan ganas dan beringas mereka menyerang secara bersamaan dengan membabi buta. Setelah melewati pertarungan yang sengit sang Tuan berhasil menghabisi lawan-lawannya dan menyisakan tiga mahluk lagi yang baru datang.
Ternyata mereka bukan musuh Tuan, tetapi para mahluk abdi Tuan yang menginginkan kekuasaan, yang kini sedang Tuan duduki. Tuan menggeram dengan suara yang menakutkan, mengisyaratkan kekecewaan pada para mahluk pengikutnya itu.
Dengan kondisi yang sangat kelelahan sang Tuan mampu memenggal satu di antara lawannya, lalu dengan tenaga yang tersisa dia meggigit sadis kepala salah satu abdi pembelot yang tersisa sampai terputus.
__ADS_1
Kini pertarungan terakhirpun Tuan lewati seimbang satu lawan satu. Namun, keadaan Tuan sudah dalam kondisi kelelahan.
Weerrg!! ...
Weerrg!! ...
Mereka menggeram saling menunjukan kekuatan, seolah berkata, siapa yang pantas menduduki singgasana tertinggi.
Sementara Ki Brasta menuntun Sri, Mita dan Irwan melewati lorong goa rahasia yang biasa dilewati sang Tuan. engan terburu-buru menghindari pemandangan mengerikan perkelahian para mahluk menyeramkan.
Akhirnya sang Tuan berhasil dikalahkan, dan dilenyapkan secara sadis, mengerikan, dan menyakitkan, yakni dengan Mahluk pengikutnya sendiri. Pucuk pimpinan tertinggi pun kini diambil alih oleh sang Tuan yang baru.
Diendusnya bau tubuh pengikut sang Tuan, dan langsung melesat lari ke arah lorong rahasia.
Irwan dan Mita berlari tergopoh-gopoh dan kadang terjatuh mengikuti arah yang di tuntun kedua kuncen.
Weerg!! ....
Suara geraman mengikuti, mereka takut. Namun, berusaha biasa saja, karena dirasa itu pasti Sang Tuan.
Mahluk itu loncat melewati mereka berempat yang berlari di lorong, sontak membuat mereka menghentikan pelariannya.
Duuaar!! ... suara ledakan yang menggetarkan dan menggema, sepertinya itu yang menghancurkan istana sang Tuan.
Bersamaan dengan ledakan itu mahluk menyeramkan yang baru bergabung menghadangnya, dan mendekati Ki Brasta dan menggeram.
Weerrg!! ....
Ki Brasta mengangguk, karena dia tau itu bukan sang Tuan tapi pengabdi yang berhasil membinasakan sang Tuan. Anggukan itu sepertinya isyarat persetujuan bahwa, perjanjian Mita bersama Irwan dengan sang Tuan kini dia yang menggantikan.
Perjanjian pesugihan yang baru pun dimulai, dengan penerus dan kuncen baru serta sang Tuan baru sebagai pucuk pimpinan.
Apakah ini tanda-tanda kiamat sudah dekat ...?
Masa dimana Tuhan akan mengabarkan lewat angin, sangat harum nan lembut, angin itu pula yang akan mengambil nyawa orang yang di hatinya terdapat iman meski hanya setitik, karena akhir jaman akan menyisakan orang-orang berperangai buruk.
Tidak akan terjadi kiamat, sampai tidak ada lagi orang di muka bumi ini yang menyebut nama Tuhan .…
.......
.......
.......
....... TAMAT .......
__ADS_1
...****************...