
Disa dan Tia merasa aneh dengan keadaan majikannya itu, setelah liburan yang mereka jalani, wajah pak Hanubi nampak pucat dan tak semangat.
Terutama Disa yang mulai semakin kebuka mata batinnya, memandang iba majikannya itu karena firasat aneh sering berkutat di batinnya yang bertolak belakang dengan fikirannya.
Seperti halnya saat ini, ketenangannya menjadi gundah selalu tertuju pada keluarga sang majikan.
Dan benar saja berita duka itu pun datang, dimana pak Hanubi dinyatakan meninggal di rumah sakit tadi malam saat Disa sedang mengurai beberapa kejanggalan.
Sontak saja Disa terkejut bukan karena berita duka itu sendiri, namun perkiraan yang di pendamnya dalam hati seperti kenyataan. Disa bergidik berusaha tak merestui instingnya, dan menganggap ini semua hanya kebetulan saja.
Sebenarnya mereka menerima kabar itu dari Yuda, yang datang keesokan paginya saat toko milik keluarga majikan mereka yang seharusnya sudah buka.
Disa, Tia beserta Joko dan Ari, bergegas kerumah kanjeng ibu, untuk segera melayat majikan mereka.
Yuda tak bisa mengantar mereka sebab dia menggunakan motor untuk memberitahu berita duka tersebut.
Setelah sampai di kediaman kanjeng ibu, Disa dan kawan-kawannya, mendapati rumah yang tak terlalu ramai para pelayat. Tanpa bendera kuning sebagai tanda, apa lagi tenda.
Meski aneh, namun Disa berusaha bersikap tenang karena bagaimana pun dia turut berduka atas kepergian kepala keluarga itu.
Disa memang melihat jika sosok pak Hanubi nampak lain selama seminggu itu, dia jadi berpikir jika pak Hanubi mungkin sakit keras hingga dia akhirnya meregang nyawa.
Disa tak melihat jenazah pak Hanubi, di ruang tengah itu sudah nampak kosong, tak ada sofa yang biasa berada di sana,. Disa berpikir mungkin jenazah pak Hanubi sudah di kebumikan.
Hanya tersisa beberapa pelayat yang sedang melantunkan doa-doa di ruang tengah itu, tak lama mereka juga berpamitan undur diri.
Disa mendekat dan duduk di sebelah kanjeng ibu, yang Disa perhatikan di wajahnya yang telah keriput halus karena usia, tetap saja Disa melihat aura ayu sang majikan belum pudar, hanya kini nampak pucat dengan tatapan mata kosong menatap kedepan.
"Ibu ... Kami turut berbela sungkawa, semoga almarhum tenang disisi-Nya, semoga Ibu dan keluarga ikhlas melepaskan beliau," ucap Disa menunduk, Tia dan yang lainnya duduk berjejer di belakang Disa sembari menunduk juga.
Kanjeng ibu tertawa getir dalam hati, tak mungkin Tuhan akan menerima dirinya dan keluarganya yang sudah meninggalkan kepercayaan mereka itu. "Terima kasih, sepertinya Toko akan libur dulu beberapa hari," ucap Kanjeng ibu sembari mengusap bahu Disa.
"Iya Bu ..."
"Ya sudah kalian makan dulu di belakang," pinta kanjeng ibu kepada mereka dengan suara parau dan mata sembab.
Kanjeng ibu tau, itu adalah ucapan biasa para pelayat yang sedang melayat kerumah duka, hari ini dia sudah menerima ucapan bela sungkawa seperti itu dari para tetangganya.
Disa sebenarnya heran sebab hanya ada kanjeng ibu dan Tuan Irwan yang berada di sana, jika Nyonya Mariska Disa berpikir mungkin beliau sedang menenangkan Putra anaknya.
'Dimana Nona Wulan? Mengapa dia tak nampak? Apa dia berada di kamarnya?' tanya Disa dalam hati, karena tak berani mengutarakannya dalam situasi saat ini.
"Maaf kanjeng, apa jenazah pak Hanubi sudah di makamkan?"
"Sudah, semalam," jawab Kanjeng ibu dan kembali menatap lurus kedepan.
__ADS_1
"Saya tinggal ke belakang, Kanjeng Ibu." Disa yang tak enak, memilih pergi dari sana dan menuju kebelakang, hanya anggukan kanjeng Ibu yang dia dapatkan.
Dia akan bertanya banyak kepada Yanti dan Mbak Fatmah. Saat Disa sampai di dapur, Yanti yang melihatnya segera menghampirinya dan memeluk Disa.
"Maaf aku ngga bisa kabarin kamu, kamu tau kan situasi aku," bisiknya.
"Iya ngga papa,"
"Kamu sudah makan Dis, Ya?" sela Mbak Fatmah.
"Sudah Mbak, sebelum ke Toko kami sarapan dulu tadi," jawab Disa.
"Ya sudah Mbak bikinkan teh saja ya," Fatmah kembali ke meja dapur dan membuatkan teh untuk Disa dan Tia.
Joko dan Ari memilih duduk di depan menemani Pak Jarwo dan Pak Wahyu.
"Mbak buatkan untuk Joko dan Ari saja, gampanglah kita mah," Disa yang baru sadar jika dia bersama Joko dan Ari.
"Pak Hanubi kapan di makamkan Yan?" ucap Disa dengan suara pelan.
"Semalam, bapak meninggal malam tadi, setelah di pastikan dari rumah sakit, beliau langsung di makamkan."
"Bapak meninggal di rumah?"
"Iya, dibawa kerumah sakit semalam cuma buat mastiin aja."
Yanti mengedarkan pandangannya, sebelum menjawab pertanyaan Disa, memastikan tidak ada keluarga kanjeng ibu, atau Bu Sumarni.
"Semalem tetangga udah pada ngelayat kok."
"Sedikit banget pelayat yang do'a tadi, kalian udah berdoa juga buat almarhum bapak?" tanya Disa, sebab dia belum mendoakan majikannya itu.
"Sudah semalem, sama pelayat lain, lagian cuma kita, keluarga bapak sama sekali ngga ada yang ikut do'ain," bisik Yanti.
Disa memang heran, apa keluarga kanjeng ibu masih menerapkan kepercayaan kejawen, sebab keluarga mereka lebih memilih melestarikan peninggalan leluhur di banding ilmu agama, namun masalah kepercayan memang hak seseorang dan orang lain tak bisa ikut campur apalagi menggurui.
Saat melayat pun seperti itu, Disa yang sudah tak asing dengan keberagaman agama, dia pernah melihat jika pelayat melantunkan do'a sesuai kepercayaan masing-masing.
"Nona Wulan apa pulang?"
"Engga, Mita aja habis pemakaman semalam ngga keluar lagi dia, makan di bawain sama Bu Sum."
"Nyonya Mariska?"
"Beliau ada di kamarnya, soalnya dari semalem Ndoro Putra itu rewel banget."
__ADS_1
"Bu Sum?"
"Dia masih di kamar Mita kayaknya, ngga tau juga, abis ambil sarapan buat Mita belum keliatan lagi."
Mereka berbincang masih dengan berbisik, walau Tia dan Fatmah masih mendengar percakapan mereka, namun Tia hanya mendengarkan, dia juga takut membuat pembicaran mereka di dengar orang lain.
"Mita Mita! ... Nyonya Mita! Biasain manggil begitu, kalo tau-tau dia denger, bisa celaka kalian," ujar Fatmah mengingatkan mereka.
"He ... he ...iya Mbak Maaf," ucap Yanti.
"Sudah jangan ngobrol sekarang, ngga enak, takut kedengeran keluarga kanjeng ibu, apa Bu Sum," pinta Fatmah.
Disa dan Yanti mengangguk patuh, biarlah pertanyaan itu dia simpan sampai malam nanti, baru mereka akan mengeluarkan unek-unek mereka.
Bu Sumarni tak heran melihat keberadaan Disa dan Tia, dia tak banyak bertanya apa-apa, sebab dia lebih memilih fokus pada tugasnya yaitu menjaga keluarga kanjeng ibu, karena saat ini kekuatan dari batu Sudojiwo sedang melemah.
Dimana Bu Sumarni harus membentenginya dari musuh-musuh majikannya yang lebih berbahaya, itu lebih penting ketimbang memikirkan Disa.
.
.
.
Pagi hari setelah sarapan Disa pergi menemui kanjeng Ibu di ruang baca, setelah dia tau majikannya sedang duduk santai disana dengan lamunan.
Disa takan menyia-nyiakan waktu liburannya, dia bersimpuh di hadapan kanjeng Ibu hendak meminta ijin untuk pulang selama toko tutup.
"Ya sudah, salam buat keluarga—"
"Saya juga, Kanjeng Ibu," ucap Tia sambil berlari lalu bersimpuh di samping Disa, dan langsung menyikutnya.
"Aku ikut," ucapnya pelan pada Disa tanpa menggerakan mulutnya. Kanjeng Ibu hanya tersenyum melihatnya, seolah berusaha melepaskan beban fikiran yang remeh ini.
Tia ikut karena mengetahui rencana kepulangan Disa sebenarnya untuk pergi mencari Wiwit. Karena Disa sendiri selama ini berusaha mempersiapkan fisik dan mentalnya terutama saat hari libur, dengan berolah raga dan lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Karena perjalanan yang akan di tempuh jalur menuju tempat Wiwit membutuhkan ketahanan tubuh dan mental yang kuat.
Dan Disa pernah berucap jika mendapatkan kesempatan libur panjang, akan dia gunakan untuk mencari Wiwit.
Disa dan Tia pun merasa lega setelah majikannya mengijinkan, merekapun pamit dan bersiap pulang ke kontrakan untuk persiapan pencarian.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....