Pesugihan

Pesugihan
Perewangan Bu Sumarni


__ADS_3

Setelah mereka membubarkan diri, pak Wahyu melanjutkan pekerjaannya sebagai penjaga malam, sedangkan Yanti dan Fatmah mereka akan kembali ke kamar untuk tidur.


Sementara Mariska masih memeluk Putra, ingin sekali dia segera tidur, namun teringat jika ia tak punya waktu lagi untuk segera menghubungi Disa, tapi sedikit ragu.


Dalam keraguannya lantas memberanikan diri keluar dari kamarnya, namun kali ini dia bersikap biasa, takut ketergesa-gesaannya malah membuat mahluk itu muncul kembali.


Apalagi saat kejadian tadi mahluk itu memangku putra, lalu menghadap padanya dan menaruh telunjuk di bibirnya sendiri bermaksud agar dia tak perlu berteriak.


Apa mungkin ada maksud lain, bahwa aku di suruh diam untuk tidak membagi misteri ini? atau jangan-jangan mahluk itu sudah tau rencanaku yang akan menghubungi Disa lewat bantuan Yanti? jika ya, maka kami akan di lenyapkan.


Dan seringaian dia saat memangku putra dan mengelus wajah putra dengan kuku panjangnya juga merupakan suatu ancaman? Batin Mariska terus menerka, di bayang-bayangi anaknya yang dalam bahaya.


Mariska hendak menuju kamar tidur Yanti. Seraya menyusuri ruang-ruang redup nan sepi karena tak berpenghuni, menghempaskan segala rasa takutnya dengan tetesan air mata yang kini semakin deras dan di iringi suara lolongan anjing yang membuat ciut nyali siapapun yang mendengarnya.


Jarak dari kamar Putra memang cukup jauh ke tempat yang dituju, namun kali ini terasa seperti tiga kali lipat dari biasanya. Namun Mariska tidak mempedulikannya, jika tidak sekarang kapan lagi? Pikirnya.


Suasana semakin mencekam, Mariska tergopoh-gopoh karena mungkin kondisinya yang masih lemah harus berjalan sendiri tanpa ada yang membantu membuatnya sempoyongan. Benar saja kehadiran mahluk itu mulai Mariska rasakan lagi dari tangannya yang kini mulai meremang, meski dia belum menampakan diri tapi suaranya mulai terdengar dari kejauhan, tapi kali ini seperti di langit-langit.


Shrek ... shreek!! suara seretan kaki terdengar pelan, kini mulai terdengar jelas dan semakin nyata.


Mariska lantas mempercepat langkahnya menuju kamar Yanti dan Fatmah yang sudah dekat, lalu mengetuk kamar.


"Y ... Yan ...." panggilnya terbata-bata dan pelan.


Sosok itu perlahan muncul dari langit-langit lalu seperti menjatuhkan diri ke lantai. Sosok gumpalan asap hitam yang kini mulai memadat dan membentuk Mahluk tadi dalam posisi merangkak.


"Yan, Yanti!" Mariska meninggikan suaranya meski masih terdengar lirih karena terpekik oleh rasa takut yang mendera.


Sosok itu mulai mendekat dengan sorot matanya yang tajam dan juluran lidah panjangnya yang meneteskan air liur.


Saat mendengar suara Nyonya Mariska yang mengetuk, tak lama Yanti membuka kan pintu, sinar dari dalam kamar memancar keluar membuat cahaya redup ruangan dimana Mariska berdiri kini menjadi lebih terang.


"Nyonya, ada apa?" ucap Yanti takut-takut.


Nyonya Mariska masih terpaku, tergagap tak dapat bicara, menyaksikan mahluk itu yang terusik oleh sinar terang dan kehadiran Yanti, dan kini merayap ke arah tembok dengan posisi kayang, dia merangkak perlahan sampai ke atap dan menghilang di sana.


"Nyonya!" ucap Yanti mencoba menyadarkan majikannya itu.


Mariska tersentak lantas menarik tangan Yanti agar keluar dari kamarnya.


"Fatmah mana?" tanya Mariska karena tak melihat sosok pembantunya berada di kamar, dengan tetesan peluh serta kepanikan di raut wajahnya sesekali ia melihat arah dimana mahluk itu menghilang.


"Lagi di kamar mandi Nyonya," jawab Yanti yang nampak bingung lalu memilih untuk menunduk.


Mariska lantas menyerahkan kertas yang berisi alamat Wiwit pada Yanti.


"Sms Disa kasih nama sama alamat itu ya, sekarang!" paksa Nyonya Mariska dan berbalik akan segera pergi.

__ADS_1


Saat dia akan berjalan meninggalkan kamar pembantunya, Fatmah kebetulan keluar kamar mandi, Yanti segera mengantungi kertas catatan itu.


"Nyonya mo ngapain ke sini Yan?"


"Cuma pesen besok mau makan di kamar aja katanya," ucap Yanti berbohong.


Mereka lantas segera kembali kekamar, saat sedang berbaring Yanti gelisah karena dia di beri tugas untuk mengabari Disa, namun dia takut ketahuan oleh Fatmah, sehingga dia menunggu Fatmah terlelap.


Tak lama terdengar dengkuran halus dari Fatmah, Yanti lantas bangkit ke arah lemari pakaiannya untuk mengambil hand phone dan mengirim pesan untuk Disa.


Yanti menulis nama dan alamat Wiwit, saat akan menuliskan bahwa itu pesan dari Mariska, Fatmah mengulat dari tidurnya membuat Yanti deg-degan dan langsung mengirimnya saja.


Ah ... sudahlah semoga besok aku bisa hubungi Disa lagi, malam ini aku benar-benar takut.


Yanti segera menonaktifkan kembali hand phone-nya, berharap esok dia akan bisa memberi tau Disa.


Siapa Wiwit? kenapa Nyonya Mariska seperti berharap sekali sama Disa.


Lalu mahluk apa tadi, itu beneran setan bukan ya?


Aku ngerasa rumah kanjeng ibu udah ngga aman.


Yanti berpikir hingga ia terlelap tidur, dengan perasaan dan pikiran yang kacau.


Tak lama Kanjeng ibu sekeluarga sudah kembali ke rumah, setelah acara lamaran itu.


Saat mobil kanjeng ibu dan mobil yang di supiri Yuda sudah masuk semua ke dalam rumah, pak Wahyu berlari kecil menghampiri Bu Sumarni.


"Maaf Bu, tadi rumah sempet ada kepanikan," lapor Wahyu kepada ketua pekerja di rumah majikannya itu.


"Kepanikan apa?" tanya Bu Sumarni heran.


Kanjeng ibu lantas mendekat ke arah mereka, sedang Pak Hanubi beserta Tuan Irwan mereka lebih memilih segera masuk untuk mengistirahatkan tubuh mereka.


Terlebih lagi Irwan yang menyetir sendiri mobil mereka, walau jarak tempuh ke kampung Mita hanya tiga setengah jam namun tetap saja tubuhnya lelah, apalagi esok dia harus membuka toko.


"Ada apa Sum?" tanya Kanjeng ibu.


"Ini Kanjeng, Wahyu lapor katanya tadi terjadi kepanikan," ucap Bu Sumarni.


"Ini Kanjeng, tadi Nyonya Mariska sama Yanti trus Fatmah, menggedor-gedor kamar Ndoro Putra." Wahyu menambahkan ucapan Bu Sumarni kepada majikannya, "katanya ndoro Putra kekunci di kamar, pas saya udah dapet kunci cadangannya, ternyata malah sudah kebuka."


"Oh ya sudah, mungkin di isengi sama Putra saja, sudah Pak Wahyu saya masuk dulu," ucap kanjeng Ibu lantas berlalu dari sana, namun tak di ikuti oleh kuncennya.


Bu Sumarni masih berdiri di depan Pak Wahyu. "Kamu ambil kunci cadangan di mana?" tanya Bu Sumarni dengan ketus.


Karena hanya dia yang menyimpan semua kunci cadangan semua kamar majikannya, bahkan kamar pembantunya.

__ADS_1


"Di dapur Bu, waktu itu Tuan Irwan bilang ke kami, bahwa itu kunci cadangan kamar Ndoro Putra, takut terjadi kaya gini mungkin Bu," ucap Pak Wahyu dengan perasaan takut.


Bu Sumarni lantas bernafas lega, dia tadinya berpikir jika penjaga rumah majikannya itu sudah lancang memasuki kamarnya, jika itu terjadi yakinlah Bu Sumarni akan segera melenyapkannya.


Karena hanya kamarnya dan kanjeng ibu yang tak boleh sembarang orang memasukinya, bahkan untuk urusan membersihkan kamar mereka berdua, Bu Sumarni turun tangan sendiri.


Irwan memasuki kamarnya namun melihat jika ranjang tempat tidurnya kosong, dia lantas menuju kamar Putra anaknya, untuk melihat apakah istrinya ada di sana.


Saat membuka kamar Putra terlihat jika Mariska tengah memeluk anak mereka, lantas Irwan pun memilih berbaring di belakang istrinya sambil memeluknya erat.


"Mas ...." ucap Mariska lantas berbalik menghadap suaminya.


"Hemmm ... sudah ayo tidur lagi, aku lelah sekali, tanyanya besok pagi saja ya?" pinta Irwan yang lantas di angguki Mariska yang merasa tenaganya juga telah habis terkuras.


Mereka pun kembali memejamkan mata, hanyut dalam alam mimpi.


Bu Sumarni juga kembali ke kamarnya, dan saat itu lah mahluk perewangannya keluar dari dalam pintu lemari, dia mendekati majikannya, mengendus tubuhnya dan menjilatinya.


Bu Sumarni menikmati itu tanpa rasa jijik sedikit pun, dia lantas membuka satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya dan perlahan masuk ke dalam kelambu ranjang. Melihat Sumarni yang kini terbaring polos membuat mahluk itu beringasan menghampiri dengan ganas.


Mereka melakukan hubungan selayaknya pasangan tanpa lelah, memang suatu kegilaan yang sangat tidak wajar, tetapi malam ini mereka lewati dengan sangat menggairahkan. Mungkin itu alasan Sumarni sampai kini masih sendiri, karena hasratnya terhadap laki-laki sudah terpenuhi.


.


.


Di kontrakan Disa tidur dengan gelisah, dia bermimpi buruk di mimpinya dia melihat Nyonya Mariska berjalan ke arah hutan yang gelap, Disa berteriak memanggilnya namun suaranya seperti tenggelam, Nyonya Mariska tetap melanjutkan jalannya, hingga tak lama terdengar bunyi 'Krasss ....' dan suara seperti benda terjatuh dan menggelinding ke arah Disa.


Disa terpaku saat melihat benda yang sudah berada di kakinya itu, ternyata kepala Nyonya Mariska.


Disa pun menjerit, dia lantas bangkit dari tidurnya dengan keringat bercucuran deras, nafasnya terengah-engah.


Tia lantas bangkit dan segera mengambilkan Disa minum. "Kamu mimpi buruk Dis?" tanyanya sambil mengusap punggung Disa.


"Iya ...." Ucap Disa lantas menandaskan sisa air minumnya.


"Ya udah tidur lagi yuk? Jangan lupa berdo'a," pinta Tia, lantas ikut merebahkan dirinya.


Sebenarnya Tia pun sulit tidur, dia tak tenang memikirkan nasib dirinya, tapi dia mengingat perkataan Disa jika dia berhenti kerja maka kemungkinan dia juga akan mati.


Tia ingin sekali mencari tahu keberadaan Erna, apa temannya itu baik-baik saja atau sudah ... Tia tak berani melanjutkan pikirannya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2