
Isi pesan itu hanya bertuliskan nama seseorang, Disa tak yakin apa dia seorang laki-laki atau perempuan.
Wiwit, Desa Batumulya kecamatan Rancangan kabupaten Sido makmur.
"Kenapa Dis?" ucap Tia yang melihat jika Disa seperti melamun, Tia lantas melongok hp Disa dan melihat pesan masuk di sana.
"Ada apa sih!" sungut Tia yang tak di respon oleh Disa.
"Ngga tau, orang salah kirim kali." Saat Disa akan menghapus pesan itu Indah mencegahnya.
"Kata pak Tua di belakangmu, jangan di hapus, kamu cari aja orang di alamat itu," ucap Indah yang di perintah oleh Amung.
"Apa lelaki tua itu ada di sini?" tanya Disa heran.
"Iya"
"Ndah, dia tau ngga ini siapa? Atau ini pesan dari siapa?"
"Hey kau pikir kami ini Tuhan yang tau segalanya, Pak Tua itu menggeleng, tapi dia ngomong instingnya mengatakan itu sebuah pesan," sungut Indah yang menjadi perantara antara Disa dan Amung.
"Siapa tau aja kalian tau," omel Disa.
Disa dan Tia memilih tidur, karena esok mereka akan kembali bekerja. Disa masih memikirkan perasaan Nyonya Mariska.
Dan bagaimana kejadian sebenarnya hingga Mita mau saja menjadi bagian keluarga itu.
.
.
.
Sebelumnya di kediaman Kanjeng Ibu, Mariska yang sedang melamun di kamar Putra, memikirkan suaminya yang saat ini pasti sudah sampai di kediaman Mita.
Perasaannya masih antara kasian dan takut, karena masa depan tak dapat dia tebak, atau baca.
Mariska mengingat mantan pembantunya dulu yang bernama Wiwit, dia bekerja pada Mariska dari awal pernikahannya dengan Irwan.
Saat itu Mariska dan Irwan tinggal terpisah dengan kanjeng ibu, sehingga dia memperkerjakan Wiwit tanpa campur tangan Bu Sumarni.
Namun keadaan berubah, saat kejadian nahas itu terjadi, Mariska terpaksa harus pindah ke kediaman Kanjeng ibu, dan dia meminta Wiwit untuk ikut bersamanya, dan merawatnya karena ritual mengerikan yang di alaminya.
Semenjak tiba Wiwit selalu merasa gelisah di rumah kanjeng ibu, Mariska mengingat jika dulu bahkan Wiwit mengatakan jika Bu Sumarni adalah manusia laknat yang ingin menumbalkan dirinya.
Dan Wiwit memilih pergi dari sana, dia bahkan meminta Mariska untuk ikut meninggalkan rumah kanjeng ibu, namun fisik yang lemah serta ketakutan akan ancaman yang pernah Bu Sumarni katakan padanya jika dia memilih pergi, mereka akan memusnahkan semua keluarga Mariska di kampung, hingga akhirnya Mariska urungkan, dan dia bertahan dengan kengerian hidupnya.
Wiwit sama seperti Disa, dia juga memiliki penjaga, namun Mariska tak tau apa bentuk dari penjaga Wiwit, yang pasti mereka berdua sama-sama memiliki sosok yang bisa melindungi mereka dari ancaman dunia ghaib seperti ini.
Mariska tak tau siapa yang terkuat di antara mereka, sebab Wiwit pergi tanpa sepatah kata, seperti lenyap di telan bumi.
Namun selembar kertas yang di selipkan pada buku bacaannya memperlihatkan itu tulisan Wiwit dan sebuah alamat.
Dimana itu bukan alamat kediaman Wiwit berada, dan Mariska tak pernah tau alamat siapa yang Wiwit tulis itu.
__ADS_1
Itulah mengapa Mariska masih menyimpan kertas itu, karena dia pernah di tanya oleh Bu Sumarni, di mana Wiwit tinggal, namun Mariska memilih menyembunyikan keberadaan Wiwit dari ancaman Bu Sumarni.
Hingga semua gerak-geriknya selalu di awasi oleh Bu Sumarni, sekarang dia hanya bisa berharap pada Disa agar temannya itu bisa menemukan keberadaan Wiwit, dan membongkar semua kebiadaban keluarganya itu.
Jika itu akan mengorbankan nyawanya, setidaknya dia bisa menyelamatkan anak semata wayangnya yang belum terikat akan perjanjian laknat itu.
Dan itu membuat Mariska teringat jika dia bisa menghubungi Disa sekarang.
Mariska lantas bangun menuju ke kamar Yanti, saat sedang berjalan bulu kuduknya berdiri, dia merasa seperti sedang di ikuti.
Sial kau Bu Sum, saat kau pergi pun kau masih mengawasiku!!
Mariska mendengar suara seseorang seperti berjalan dengan langkah menyeret dan itu benar-benar membuatnya takut, Mariska yang masih lemah, berusaha cepat dengan berjalan menggunakan tongkatnya itu.
Dia lalu berteriak memanggil Yanti, saat sudah berada di dapur berharap pembantunya itu mendengar.
Namun ....
Dia terdiam saat seseorang menyekap lehernya, tangan hitam dengan kuku yang sangat panjang, mahluk itu tak mencekiknya hanya berusaha menghentikan langkahnya.
Mariska terdiam dengan air mata berderai, sekujur tubuhnya bergetar karena takut, mahluk itu berbau sangat busuk, dia adalah perewangan Bu Sumarni, dan sekarang dia menampakan wujudnya pada Mariska.
Mahluk itu lantas berdiri di depannya, Mariska hanya memejamkan mata, tak tau apa yang akan mahluk itu lakukan.
Lalu tiba-tiba mahluk itu menjilatinya dari dagu hingga puncak kepala Mariska dengan lidah panjangnya.
Mariska merasa jijik dengan kelakuan mahluk laknat itu, semakin deras saja air mata Mariska, dia berharap ada seseorang yang akan segera menolongnya.
Tak lama suara Yanti membuyarkan kejadian mengerikan itu, Mariska langsung memeluk tubuh Yanti yang berdiri di hadapannya.
Sedang Yanti dan Fatmah, bingung melihat majikan mereka tampak histeris dan mengusap wajahnya dengan pakaiannya.
"Yan bantu aku ke wastafel, CEPAT!!" pekik Mariska yang ingin segera mencuci wajahnya.
Yanti dan Fatmah lantas memapah majikan mereka ke arah bak cuci piring yang berada di dapur utama.
"Ambilkan aku sabun cuci muka, sekarang," pintanya.
Yanti segera berlalu dari dapur menuju kamar majikannya, untuk mengambil apa yang di minta majikannya itu.
Namun Yanti berhenti saat dia juga mendengar suara seperti seseorang berjalan dengan langkah menyeret.
Yanti memilih segera berlari, dia merasa hawa di rumah kanjeng ibu jadi semakin mencekam, apa lagi saat ini rumah dalam keadaan sepi.
"I ... ini Nyonya." Yanti segera memberikan apa yang majikannya itu minta.
"Kamu kenapa Yan?" tanya Fatmah pada Yanti yang terlihat pucat dengan tangan gemetar.
Mariska juga melihat ke arah Yanti, dan benar saja pembantunya itu terlihat pucat.
Apa dia melihat sesuatu sepertiku?
"Tadi itu Mbak, aku denger kaya suara langkah di seret gitu deket kamar Nyonya," ucap Yanti yang sontak membuat Mariska membelalakan matanya.
__ADS_1
"Putra!" ucapnya, lantas segera berlalu dari sana menuju kamar anaknya.
Yanti dan Fatmah pun mengikuti majikan mereka, "Kalian cepat ke kamar Putra." Seru Mariska pada kedua pembantunya itu.
Yanti dan Fatmah pun berlari ke kamar Ndoro Putra, sesampainya disana, mereka berusaha membuka pintu kamar Ndoro Putra yang terkunci dari dalam.
Mereka mengetuk bahkan memukul-mukul kamar anak majikannya, berharap suara berisik mereka bisa membangunkan Ndoro Putra.
Mariska sudah menangis saat melihat kedua pembantunya tak dapat masuk, dia juga sudah mencoba membuka pintu namun sama pintu terkunci dari dalam.
Pak Wahyu penjaga malam rumah kanjeng ibu lantas mendekat ke arah mereka karena mendengar suara berisik dari dalam rumah.
"Ada apa Nyonya," ucap Wahyu yang mengejutkan mereka bertiga.
"Pak, kamar Ndoro Putra ke kunci, coba bapak ambil kunci cadangan, kami akan ke jendela Ndoro Putra," ucap Fatmah yang segera menyeret Yanti untuk menemaninya.
Sedang Nyonya Mariska masih berusaha membangunkan Putra dari dalam.
Pak Wahyu meninggalkan Mariska untuk mengambil kunci cadangan.
Yanti dan Fatmah sudah sampai di jendela kamar Ndoro Putra.
Lampu kamar Putra menyala, namun jendelanya masih tertutup hordeng, Fatmah pun menggedor-gedor jendela untuk membangunkan anak majikannya.
Sedang Yanti dia mencari celah pada hordeng itu berharap tau keadaan Ndoro Putra.
Saat dia menemukan hordeng tak tertutup rapat secelah, Yanti pun mengintip, dan betapa terkejutnya dia, saat melihat ada mahluk hitam mengerikan sedang memangku Ndoro Putra, Yanti diam terpaku, dia kehilangan kata-kata.
Air mata jatuh tanpa bisa dia cegah karena rasa takut yang luar biasa. Tubuhnya ambruk di lantai, Fatmah yang melihat Yanti segera menghampiri, dan mencoba melihat apa yang Yanti lihat.
Namun mahluk itu sudah tak ada, hanya ada nyonya Mariska yang juga terdiam di depan pintu kamar yang telah terbuka itu.
"Yan ayo, pintu kamarnya udah ke buka," ajak Fatmah yang lantas membantu Yanti berdiri.
"Kamu kenapa bisa ampe jatoh gitu, kesel? udah cape-cape lari tau-tau pintu ke buka?" ucap Fatmah yang berpikir jika Yanti melihat nyonya Mariska yang juga terdiam di depan pintu.
Yanti heran, dengan perkataan Fatmah, yang mengatakan jika pintu kamar Ndoro Putra sudah terbuka.
Saat mereka menghampiri Nyonya Mariska, majikannya itu masih terpaku di depan pintu.
"Nyonya," panggil pak Wahyu saat sudah menemukan kunci kamar ndoro Putra, namun dia terkejut karena pintu sudah terbuka.
Mariska yang tau jika para pekerja di rumahnya sudah mendekat lantas berbalik.
"Kalian kembali saja, saya lelah mau istirahat," ucap Nyonya Mariska yang segera masuk ke kamar Ndoro Putra dan menguncinya.
Fatmah dan Yanti pun segera berlalu dari sana tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Pak Wahyu juga kembali menjaga gerbang rumah, setelah mengembalikan kunci cadangan.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ....