Pesugihan

Pesugihan
Akhir Cerita, Awal Kisah Baru


__ADS_3

Di tempat penobatan, semua merasakan getaran hebat di istana sang Tuan beberapa kali, namun mereka bergeming. Di pikiran keluarga kanjeng ibu, hidup mereka semua pasti berakhir saat ini.


Setelah memenggal kepala Wulan, sang Tuan tanpa melirik langsung menebas kepala kanjeng ibu. Darah muncrat mengenai tubuh Irwan yang berada di sebelahnya, dia sudah bermandikan darah ibu dan adiknya, hanya termangu menunggu ajal menjemput.


Mariska yang bersimbah darah Wulan, kini tubuh tanpa kepala itu masih berada di pangkuannya, hanya bisa menunduk dan meneteskan air mata.


Dia memohon kepada Tuhan agar menyelamatkan nyawa anak semata wayang beserta keluarganya. Dia sudah tak perduli lagi dengan hidupnya, dia pun lelah menjalani kehidupan menyakitkan seperti ini.


Mita masih berlari-lari tak tentu arah dengan wajah ketakutan.


Sang Tuan sebenarnya sudah tau, bahwa istana tengah di serang oleh musuh-musuhnya. Dan dia merasa kesal kepada Kanjeng ibu dan Wulan yang membuat istananya di porak porandakan seperti ini, hingga dia enggan menolong Wulan, dan memilih memutus perjanjian.


Dan mengirim para iblis pencabut nyawa untuk melenyapkan mereka yang bertanggung jawab menjaga kelangsungan pesugihan kanjeng Ibu, termasuk Bu Sumarni dan Fatmah, karena mereka telah gagal. Karena keteledoran mereka, membuat rusak perjanjian dan merembet pada hancurnya istana.


Sang Tuan pun akan memenggal satu persatu semua keluarga Kanjeng Ibu dan kuncen serta para pengabdi tanpa sisa. Dari mulai Kanjeng Ibu yang sudah di penggal setelah Wulan, sampai Bu Sumarni dan Fatmah.


Slaash! ... slaash! ... slash! ....


Banyak korban berjatuhan dengan sadis.


.


.


.


Tempat Ki Wiryo ....


Disa dan Tia tersadar atau lebih tepatnya terjaga dari tidur, sebab mereka terbangun di atas kasur empuk yang berada di ruangan besar, dan terlihat beberapa ranjang tingkat disana.


Tia menguap, belum sempat menanyakan sesuatu yang sudah di susun rapih, pertanyaan baru pun muncul dari otaknya, dan menyalip antrian dan langsung mengutarakan pada orang yang pertama kali Tia lihat.


"Dis, kita dimana?"


"Surga kali, Ya," jawab Disa sekenanya dengan pandangan matanya yang belum sepenuhnya normal, masih berkabut.


"Di rumah Ki Wiryo," Wiwit berucap sambil matanya tidak teralihkan, tetap membaca buku novel bergendre cinta yang dia ambil dari rak buku.


Yanti berolah raga ringan di luar jendela terbuka sebesar pintu, view-nya menghadap pemandangan yang memanjakan mata. Sebelah kiri perbukitan hijau dan sebelah kanan lautan biru yang ditepi pantainya penuh titik-titik putih bangunan para nelayan. Yanti melangkah masuk mendekati Disa yang tersadar.


Sementara Asih keluar kamar mandi dengan handuk yang melingkar di badan, yang hanya menutupi bagian dada sampai paha saja.


"Ini salah satu kamar khusus wanita di padepokan yang di miliki Ki Wiryo, soalnya rumah yang biasa dia tinggali bersama keluarga, ada di bawah—" jelas asih sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil mendekat dan duduk di sebelah Tia, "berada di tengah rumah-rumah penduduk."


"Dia memiliki banyak tempat usaha yang mempekerjakan warga sekitar. Dia juga memiliki banyak anak asuh, baik laki-laki atau perempuan, tua muda, juga dari kalangan anak-anak yang terlantar," tambah Asih.


"Haah," Disa sontak kaget, ternyata Ki Wiryo termasuk orang berada, memiliki beberapa usaha dan sanggup menanggung anak asuh yang begitu banyak.


"Ya Tuhan," Tia termangu untuk kedua kalinya, bukan karena yang di ucapkan Asih. Namun melihat penampakannya, tanpa pulasan dan asesoris yang biasa dia pakai, dan kini duduk di sampingnya, "Cantik banget kamu Mba, kenapa nggak jadi artis aja. Siapa tau bisa terkenal kaya Pevita Pearce."


Asih tersenyum, "Ogah!"


Disa terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dia ingin beranjak namun tak kuasa karena tenaganya sangat lemah. Lalu meminum air putih titipan Ki Wiryo, yang di berikan Asih padanya saat ini, begitupun Tia.


Setelah meminumnya, tubuhnya terasa ringan dan rasa sakit seperti hilang seketika. Pandangannya pun mulai jelas berangsur, lalu dia mengucek matanya menatap dahi Tia dan satu-persatu wajah temannya.


"Jangan kaget, Dis," ucap Asih yang tau bahwa, mata batin Disa semakin terbuka naik ke level berikutnya, lantas bertanya, "Tandaku berwarna apa, Dis?"


"Warnanya bening seperi putih diamond," jawab Disa dengan mengamati dahi Asih yang licin dan glowing.


"Udara, pemilik tanda orangnya penyabar, berparas cantik, suka tantangan, bertanggung jawab, rela berkorban," jelas Wiwit yang ingatannya tertuju pada mahluk penjaga Wulan.


Kali ini Tia memilih fokus menjadi pendengar dan menopang dagunya dengan kedua tangan, sementara sikutnya bertumpu pada bantal, karena penjelasan sedang berlangsung.


"Coklat," ucap Disa yang menatap dahi Yanti.


"Tanah, sipatnya pendiam, sabar meski tertindas, mengikuti dari pada di ikuti atau memimpin, namun berhati lembut dan baik," Wiwit menempelkan telunjuk pada bibirnya sendiri, agar Disa tak menyebutkan tanda di dahinya.


Disa mengangguk, dan mencoba mengurai penjelasan Wiwit tadi. 'Nyonya Mariska dan Tuan Irwan,' batin Disa menyamakan.


Lalu Disa heran dan mengernyitkan alisnya, saat menatap tanda di dahi Tia, "Warna-warni?"

__ADS_1


"Tia, kamu jawab sendiri," ucap Wiwit yang langsung membuka halaman buku untuk melanjutkan membaca, karena masih penasaran pada bab bertuliskan 21+, yang tadi sempat tertunda. "Kamu kan misteri dan mistis, susah di tebak."


"Muka aku horor dong? Isssh," keluh Tia yang langsung melemparkan bantal yang ada si pangkuannya.


Disa berjalan menghampiri cermin, dia tidak melihat tanda itu di dahinya.


"Tuhan Maha Penyayang, Dia menyembunyikannya dari sang pemilik mata batin," ucap Wiwit tegas, "agar terhindar dari sifat sombong."


"Ayo-ayo pada mandi, kita bersiap ke markas ghaib di lereng gunung, untuk menjalani proses penyembuhan," pinta Asih pada empat kawannya yang sedang asik bercengkrama, "Ki Wiryo nanti menyusul esok atau lusa, setelah selesai memastikan kediaman Kanjeng Ibu, dengan sukmanya."


Sebelum berangkat Disa serta yang lain menyempatkan diri untuk menelpon keluarga di kampung menggunakan fasilitas telpon rumah yang berada di padepokan, untuk sekedar menanyakan kabar, setelah mereka melakukan petualangan horor.


Sebab gawai yang di miliki Disa dan Tia rusak saat kejadian menyeramkan, ketika melakukan pendakian mencari Wiwit dan belum sempat di perbaiki. Sementara Yanti meninggalkannya di kamar Fatmah, sebab yang dia tau membawa nyawa selamat itu lebih penting di bandingkan sebuah gawai.


Setelah di pastikan kabar keluarga mereka baik-baik saja, mereka bersiap menyembuhkan diri dengan tenang. Mereka bersiap mendaki gunung yang berada di atas padepokan.


.


.


.


Sukma Ki Wiryo berada di rumah Kanjeng Ibu, suasananya sangat lengang dari segi ghaib, bagai rumah yang sudah di porak-porandakan oleh tsunami dan hujan badai.


Sedangkan raganya di tinggal di padepokan di jaga Amung, Sado dan Maung Rekso, yang bersemayam di dalam pusaka yang terpajang di dinding musium padepokan. Yakni, keris pedang milik leluhur Disa, kain ghaib milik Asih, serta kuku macan baru milik Wiwit, yang di ambil dari cakar kaki Maung Rekso.


Dan terpajang di pojok ruangan di dalam lemari kaca, cawan berwarna perak dimana isinya adalah abu kepala Bu Sumarni yang telah di bakar dengan ritual khusus.


Dalam rumah Kanjeng Ibu, sukma Ki Wiryo melihat terdapat lima peti mati, yakni milik Kanjeng Ibu, Wulan, Mariska, Sumarni dan Fatmah.


Ki Wiryo tersenyum, tubuh Fatmah ternyata tak perlu dia tangani, ternyata sang Tuan sudah mengurusnya dengan mengikut sertakan tubuhnya dalam kecelakaan yang terjadi pada keluarga Kanjeng Ibu.


Sang Tuan merekayasa kematian keluarga Kanjeng Ibu dan pengabdinya, menjadi sebuah kecelakaan tragis di lembah jurang, dan kendaraannya hancur terbakar. Dimana jenazah yang dapat di idetifikasi hanya lima orang, sementara yang lain belum bisa di pastikan.


Dugaan sementara masih di nyatakan hilang, dan jika tetap tidak bisa di temukan baru bisa berasumsi bahwa kemungkinan korban hangus terbakar. Karena kondisi kendaraan saat di temukan sudah ludes terbakar.


Sukma Ki Wiryo terus mengamati ....


"Keluarga inti semua ikut, Pak. Nyonya Megantari, tuan Irwan, nyonya Wulan," ucap Wahyu menunggu catatan pak RT selesai. "Dua menantu, Mariska dan Mita serta satu cucu, Putra."


Ki Wiryo menghampiri ....


"Oh iya, ada satu pembantu yang ikut ... bu Fatmah," ucap pak Wahyu.


"Sementara pembantu yang lain pulang kampung, selama nyonya liburan," tambah Wahyu yang membuat ki Wiryo tersenyum dan melesat kembali ke raganya.


.


.


.


Pagi hari di lereng gunung ....


Sudah 40 hari mereka lewati, sebagai usaha untuk menghilangkan jejak dari penciuman iblis yang tersisa, juga untuk menyembuhkan luka ghaib dan luka fisik.


Hari ini bersiap mencabut pagar serta dinding ghaib, sekitar rumpun bambu, air terjun dan gubuk yang mereka tempati, dan sebentar lagi akan mereka tinggalkan. Mengembalikan para penjaga, menitipkan barang pusaka sebagai warisan budaya, melepaskan kesombongan, meninggalkan kebencian, mengikis iri dengki hingga habis dan menguras malas sampai tuntas.


Berganti dengan meneguhkan iman, menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, membantu sesama, peduli meski berbeda, karena semua adalah mahluk ciptaan-Nya.


.


Seorang gadis terduduk sendiri, setelah menanam satu pohon, lalu menatap pemandangan yang terhalang kabut seperti awan, yang sebentar lagi akan hilang tertiup angin atau menguap tersinari mentari, apa pun itu dia tak perduli.


Sebab ... dia tau keindahan itu ada di baliknya.


.


Demi usaha meniadakan ketergantungan, tanpa Sado dan Maung Rekso, dua wanita menghampiri gadis itu dengan berjalan menapaki rerumputan hijau yang di selimuti bening embun, meninggalkan jejak kaki dari bulirnya yang memudar. Di iringi kicauan burung seperti menstimulasi pikiran, menghadirkan miniatur pesona surgawi dari Sang Pencipta untuk hamba-Nya.


Kupu-kupu yang hinggap di bunga mekar berterbangan seperti memberi jalan, dua batang pohon pun mereka tanam.

__ADS_1


.


Setelah menancapkan sepasang tanaman rambat, dua sahabat datang mendekat, lalu mendekap dan memeluknya erat, kebersamaan selama 40 hari terasa cepat. Bersiap memperbaiki diri, yang belum tercapai atau sudah terlewati. Mulai hari ini, besok, lusa atau nanti, sampai Tuhan menjemput mereka kembali.


Mereka berbaring di karpet hijau yang terhampar miring, menatap sebagian langit biru dan sebagian hutan. Matahari pun mulai menampakan diri di belakang, di iringi guratan lengkung warna pelangi di atas horizon.


.


Salam perpisahan seolah di ucapkan sang gunung, pada pengunjung yang datang dengan bersahabat pada alam dan menjaga lingkungan, juga melakukan penghijauan, membuat pesonanya kembali dirindukan.


Wajahnya kembali tertunduk, karena suatu hari nanti selamat datang akan kembali dia dengungkan, pada pengikut iblis yang berotak kerdil. Membuat kesan angker kembali di sandang, hingga akhirnya di lupakan.


Namun dia kembali tersenyum lewat pelangi, melupakan sejenak hari esok yang tak pasti akan kembali. Bangga menatap suasana saat ini, lima wanita dalam perubahan, harapannya tertuju pada mereka, dimana peradaban manusia kedepan di tentukan oleh seorang ibu.


.


Disa terkesiap ....


Dia berlari meninggalkan mereka, di ikuti segerombolan burung yang tebang ke arah air terjun hendak mencari makan.


"Isssh," dengus Tia yang kecewa. "Di samperin malah pergi, dasar!"


"Mandi!" jawab Disa yang pikirannya sudah melanglang buana di kampung halaman. "Aku kangen keluarga."


"Bangun! Bangun!" teriak Tia menggoncang-goncang tubuh mereka yang terlelap dalam suasana memanjakan.


"Petualangan mistis kalian sudah berakhir ... sudah saatnya menjelajahi petualangan cinta," jelas Tia.


Mereka tak perduli, tetap berbaring, menikmati elusan angin yang membawa mereka kembali terpejam.


"Gimana mau cepet dapat jodoh, dasar jomblo!" ucap Tia dan berlari. "Udah siang begini masih pada bau kecut!"


Perkataan Tia membuat tiga wanita tak terima, lalu mengejarnya, melewati padang rumput, berlari, menari, gelak tawa dan canda. Hingga sampai di tempat menakjubkan itu, dimana terasa percikan airnya yang memantul menunuk-nusuk di wajah.


Mereka berbaris di atas sebuah batu besar, persis di bawah derasnya air terjun yang menghujam bumi.


Mereka melompat bersamaan tanpa beban, dengan gaya bebas yang mereka lakukan ....


...⏸ PAUSE...


Disa nona cawan terbang bagaikan naga di atas awan.


Wiwit si manis melesat seperti se-ekor macan.


Asih cantik ... apa pun gayanya tetap cantik.


Yanti yang pendiam, berteriak menantang masa depan.


Tia cerewet beraksi ... (🤔Author berpikir keras, gaya apa yang sedang Tia peragakan🤯).


...**...


...Air alam memeluk mereka di haribaan...


...Menenggelamkannya dalam perut bumi...


...hingga melahirkan khayalan...


...Dalam hening dan beningnya terlihat keindahan lain,...


...dan tanpa sadar mereka berkata :...


..........


..."Tuhan, nikmat mana lagi yang aku dustakan."...


...~®~...


...Dilanjut kakak. Masih ada bab akhir. 😍...


...Extra Part & Epilog...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2