
Waktu yang sama di tempat berbeda ....
Riuh angin menggoyang batang bambu, suara daunnya seolah bersorak atas apa yang akan terjadi di tempat itu. Tempat berduelnya dua wanita tanpa konflik atau masalah yang melatar belakanginya.
"Sebentar, aku butuh peregangan." Si cerewet membuka perang kata.
"Gadis malas! Jika harimu penuh dengan kegiatan, kau tak butuh itu." Gadis cantik mulai menyerangnya dengan kata menusuk hati.
"Begitu? terlalu dini menilaiku," jawab si cerewet murka.
"Gerak-gerik dan lakumu menunjukannya," balas si cantik mengulang dengan cercaan.
"Kau baru mengenalku, kau tak tau ...." Dengan menyingsingkan lengan baju, gadis itu berucap, "aku bisa menghilang."
"Mustahil!" mendengus, "jangan berharap aku percaya," tukas si cantik.
"Jangan banyak bicara ... bersiaplah!"
Kretek! krek!
Leher, jari jemari, juga kaki, dan seluruh tulang persendian di gerakannya.
Gadis cerewet memposisikan ujung pedangnya mantap, tepat di depan tatapan matanya. Genggaman tangannya pada senjata itu, tidak lebih tinggi dari kepala dan tidak lebih rendah dari telinganya. Kakinya meraba membentuk kuda-kuda yang dia lupa, namun menatap yakin gadis cantik yang berada di depannya akan terkapar disini, hari ini.
"Ayolah, jangan grogi gitu," gadis cantik itu berseloroh dengan senandung. "Aku takan menggunakan ilmuku, juga tidak bersenjata—"
Tapi pengalamannya banyak, pikir si cerewet. Dan lawan tanding yang berpengalaman malah membuatnya sangat-sangat gugup.
Si cantik itu menaruh satu kepalan tangan kanannya di depan dagunya, sementara tangan kirinya bersiap menangkis serangan si Cerewet, dari manapun ia akan menyerang. Tatapan menyepelekannya mengundang, seakan berkata 'Jika mau mencoba, silahkan!'. Tapi formasi tubuhnya tidak sedikitpun menunjukkan celah.
Sekaranglah waktunya untuk menyerang, apa harus menunggu sampai matahari kembali tenggelam, pikir sicerewet. Kesempatan ini tidak akan dia lewatkan setelah sang lawan menyepakati tanpa menggunakan kesaktian dan tanpa senjata di tangan.
Lantas dia menyerang, menusuk, mengarah dada sang lawan ... bidikan ujung pedangnya meleset! meski hanya sedikit, lalu menyerang dengan ragu, hingga tebasan pedangnya terlihat kaku, hanya mampu membelah udara saja, tak hanya sekali bahkan berkali-kali.
Si cantik dengan cepat menggenggam pergelangan tangan gadis cerewet. Dengan gerakan fokus, terarah dan bertenaga, ia me-melintir tangan gadis malang itu dan menjatuhkan pedang dari genggamannya lantas menekan dengan lutut.
Krekk!! ....
Sesuatu terdengar patah. Angin berhembus meniup daun bambu kering yang kini berjatuhan menghujani tempat mereka beradu ilmu beladiri, si cerewet yang tersungkur di atas rerumputan, bisa merasakan tanah menutupi permukaan wajahnya yang kini bercucuran keringat, mungkin sebentar lagi darah.
"Apa yang kamu lakukan? Dasar bodoh!" gerutu wanita cantik itu. "Walau pun tau ini sedang latihan, tapi serius dikit napa? Gimana mau cepat pintar!"
"Aww!! Tanganku!" keluh si Cerewet sambil meringis. "Kamu patahin!!"
"Ngga, aku cuma nahan aja, yang patah senjatamu, cengeng! Ayo berdiri lagi dan ulangi!"
"Udah ahh!! Capek!!" Si Cerewet masih telungkup memeluk bumi.
"Payah."
__ADS_1
"Ini kan udah yang ke tiga kali," jawabnya dengan napas yang sulit dia atur, lalu memutar badannya untuk berbalik dan berbaring menatap langit biru.
Kegiatan latihan yang sekarang di lakukan adalah usaha Asih mengalihkan Tia saat di gubuk tadi, ki Wiryo menyuruh untuk membawanya keluar dengan bahasa isyarat.
Saat itu Asih pun berbisik pada Tia bahwa, ia akan mengajarinya ilmu bela diri di sini, dengan sebilah pedang bambu yang membuat Tia antusias meninggalkan tempat itu, dimana ki Wiryo, Disa dan Wiwit akan lebih leluasa tanpa gangguan si Cerewet ... Tia.
"Aku akan menghilang." Tia segera bangkit.
"Hahh, Kapan? Buktikan!" tanya Asih penasaran.
Dengan memandang hamparan alam dari kejauhan, dengan rumah-rumah pedesaan yang nampak atapnya saja, serta garis simetris galengan sawah yang tertutup awan sebagian. Tia menatap keindahan itu dengan hati yang penuh dengan kegamangan.
"Nanti di waktu yang tepat, saat canda tawaku sudah tak kau dapat, saat keluh kesahku tak lagi kau dengar, dan sikap cerewetku yang sudah tak bisa mengganggumu lagi, bahkan saat kau tak bisa meramal ... kapan kita bakal ketemu lagi." Tia menatap Asih dengan linangan airmata yang mulai tumpah. "Saat itulah kau akan merasa kehilanganku."
Asih menyeka air mata Tia dan berucap, "Aku pasti akan merindukanmu." Lantas memeluknya.
Tak lama berselang ....
"Cukup!" Tia mendorong Asih dan mencela, "sinetron banget!"
Mereka kembali ke medan laga, tanpa drama, tanpa alur cerita dan air mata.
Tia memulai dengan awal yang lebih tenang, lalu melanjutkannya kembali dengan serangan bertubi-tubi, kini lebih bersemangat, karena jurus-jurus yang di pelajari dulu satu persatu mampu dia ingat.
Pertarungan sengit pun tak bisa di hindarkan, mereka mulai seimbang, tentu itu karena Asih hanya menggunakan gerakan beladiri saja tanpa tenaga dalam yang biasa dia keluarkan, bahkan Sado pun hanya terduduk memperhatikan dan menyeringai.
Asih mulai terdesak, dia harus habis-habisan agar tidak membuat Tia besar kepala. Pengalamannya membuktikan, dengan sedikit trik, ia dapat mengendalikan keadaan dengan mudah dan balik menyerang dengan tendangan.
Wrraaw!!
Disa menerjang Asih dan terguling di tanah, yang dibalas dengan dorongan Sado yang menyaksikan, karena merasa bahwa majikannya terancam dan dalam bahaya, jelas saja membuat Disa terpental ke arah Tia.
Disa bangkit, bagai berdiri dengan empat kaki berjalan mondar mandir di hadapan Tia seakan sedang melindunginya.
Amung berusaha menyelami mata batin Disa yang terhalang kain ghaib ki Wiryo, "Nak Disa, tumpahkan isi cawan itu, segera!"
Disa masih dengan pendiriannya, pengaruh dari niat baik yang terselimuti amarah, disitulah iblis muncul, hingga yang ia tau bahwa sahabatnya layak untuk dia bela.
"Sado!! ... Disa!! kendalikan diri kalian!" teriak Asih.
Weerrk! ....
Tia terperangah dan hanya terdiam, dia mengira bahwa Disa kerasukan Sado.
Wrraaw!! penjaga Wiwit yang datang mendahului, menatap tajam Sado dan berdiri di samping Disa memberi dukungan, dia menganggap Disa seperti satu golongan dengannya, mungkin karena efek sambatan yang di serap.
Weerrk!! ... Wrraaw!! ... Wrraaaaaw!!
Sado, Disa dan Maung bersiap beradu kekuatan ... berhadap-hadapan dengan jarak hanya sejengkal, dengan suara geraman yang saling bersautan.
__ADS_1
Brukk!! kain yang di kibaskan Ki Wiryo yang datang membuat Disa ambruk seketika dengan napas yang terengah-engah dan pakaian basah.
"Sado!!"
"Maung!!"
Asih dan Wiwit berteriak bersamaan, memanggil nama penjaga mereka masing-masing, mereka berusaha menenagkan.
Itulah salah satu konsekuensi memelihara mahluk berbeda alam, mereka menggunakan nalurinya bukan pikiran, akal sehat dan hati. Seperti halnya memelihara hewan buas, harus selalu waspada pada insting membunuhnya. Yang merupakan pola tingkah laku yang bersifat turun-temurun yang dibawa sejak lahir, tanpa pengalaman sebelumnya dan tujuan mendasar.
Tia pun menghampiri Disa yang tergeletak, dia menangis memggoncang-goncang tubuh Disa yang belum tersadar. "Dis! Jangan tinggalin aku!"
"Apaan sih?" sergah Disa yang sontak tersadar. "Udah berapa kali coba, kamu bilang gitu?"
"Ihh ...," Tia tersenyum lantas memeluk Disa. "Kamu kesurupan, ya?"
"Huss, ki Wiryo abis ngajarin aku, Ya!!"
"Dengan Jalan pintas," ucap Disa dengan suara yang berbisik.
"Udah bisa hajar bu Sum, dong?" harap Tia lirih.
Disa menggenggam tangan Tia. "Semoga ini cepat berakhir, dan kita kembali ke kehidupan normal lagi seperti semula."
Ki Wiryo merasa bangga dengan murid barunya lantas memujinya, "Nona cawan, anda telah melewati permulaan dengan baik, meski ada sedikit kendala."
Ki Wiryo menatap Amung dan menaruh tangannya di dada dan membungkuk. "Tuan Amung lah yang menyempurnakannya ... dia berfungsi sebagai alarm pada cawan anda, Nona."
Disa tersenyum dengan mata terpejam seolah berkata 'terimakasih' dalam ucapan batin menyapa penjaganya.
Asih dan Wiwit memapah Disa yang terlihat kelelahan.
"Mba Asih," panggil Tia
"Kenapa?"
"Kok aku di tinggal? Yang cape kan bukan cuma Disa, kejem banget, sih! Dasar guru karbitan!" gerutu Tia.
"Apa!" pekik Asih yang sudah berjalan menjauh di ikuti ki Wiryo.
"Gendoong!" pintanya manja.
Wiwit menghampiri Tia lantas menyuruhnya naik di punggungnya, yang sudah dalam posisi membungkuk condong ke depan.
Wiwit merasa senasib sepenanggungan dengannya, sama-sama menggantungkan nasibnya pada Disa. Dengan tanda merah yang dia lihat di dahi Tia, meskipun tanda itu tak ada pada dirinya, tetap saja ancaman selalu datang padanya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ....