Pesugihan

Pesugihan
Siraman


__ADS_3

Mita berada di kamar, tak lama suara pintu di ketuk, dia lantas menghampiri pintu, terlihat Bu Sumarni mengajak dua orang wanita bersamanya, dimana salah satunya membawa koper peralatan make up.


"Silahkan masuk Bu." Mita lantas membuka lebar pintunya, dan mempersilahkan keduanya untuk masuk.


"Ini yang nanti bantu kamu untuk mempersiapkan diri, Nona Rani ini Nyonya Mita yang akan anda rias." Bu Sumarni mengenalkan keduanya.


Rani lantas menyalami calon pengantin di hadapannya itu, sementara asistennya langsung sibuk membuka koper peralatan make up.


Mita sangat senang saat Bu Sumarni memperkenalkan dirinya sebagai Nyonya.


"Selamat ya Nyonya, saya Rani dan itu asisten saya Nia," ucap Rani memperkenalkan diri.


"Ya sudah saya pamit undur diri, saya akan mempersiapkan suguhan untuk kalian," ucap Bu Sumarni lantas segera berlalu dari sana.


"Baik Nyonya silahkan duduk," pinta Rani yang segera menarik kursi meja rias, agar Mita bisa duduk.


Mita sedang di bersihkan rambut halus yang berada di dahinya, serta di rapihkan alisnya, baru setelah itu Rani membersihkan wajahnya.


Tak lama suara ketukan pintu terdengar lagi, Nia asisten Rani yang membukanya, terlihat Yanti membawa nampan berisi minuman dan cemilan untuk mereka bertiga.


"Makasih," ucap Nia pada Yanti, yang segera mengambil alih nampan dari tangan Yanti, dia pun segera berlalu dari kamar Mita.


Mita di dandani dengan sangat ayu, menggunakan kemben yang sudah di persiapkan dengan blazer yang terbuat dari bunga melati.


"Baik Nyonya sudah selesai, mari kita ketempat siraman."


Rani lantas menuntun Mita secara perlahan untuk datang ke tempat acara siraman yang berada di belakang.


Rani sebenarnya datang berempat, namun dia membagi-bagi tugas pada asistennya, dimana dia di temani Nia, dan yang dua lainnya membantu merias orang tua dan keluarga kanjeng ibu.


.


.


.


Semua persiapan untuk acara siraman sudah selesai, tak ada yang menghadiri acara tersebut kecuali Mita dengan kedua orang tuanya, dan keluarga kanjeng ibu beserta para pekerjanya. Menyedihkan memang, walau mewah namun tak bisa Mita banggakan.


Sedang untuk mengikat janji suci mereka akan di lakukan di gazebo, tempat itu juga sudah di hias dengan indah.


Meski ada photographer dan penata rias, namun tetap saja tak ada keluarga lain dari pihak wanita. Tapi itu tak mengurangi momen haru acara siraman tersebut.


Disa dan para pembantu lain juga sudah di sediakan kebaya sedang pakaian batik untuk pekerja laki-laki, jadi mereka semua nampak senada.


Disa dan para pekerja berdiri di belakang keluarga Kanjeng ibu dan para penata rias, terkecuali Rani yang berdiri tak jauh dari Mita.


Dan dua orang photographer yang berada di tempaynya untuk mengabadikan setiap momen di sana.


Orang pertama yang mengguyur tubuh Mita adalah ibundanya, dilanjutkan ayahnya, dan kemudian barulah Kanjeng ibu dan Pak Hanubi.


Karena ini pernikahan pertama Mita jadi hanya Mita yang melakukan siraman tidak dengan Irwan.


Irwan justru duduk bersama Mariska, Putra dan sang adik Wulan.


Tak lama Bu Sumarni juga mendekat ke arah Mita mengambil gayung yang terbuat dari batok kelapa, lantas dia ikut mengguyur tubuh Mita di mulai dari ujung kepalanya.

__ADS_1


Kegiatan itu tak lepas dari pantauan Disa, saat Bu Sumarni mengusap dahi Mita, posisi kepala Mita masih dalam keadaan tertunduk, tak lama saat Mita menengadahkan wajahnya, barulah Disa melihat jika tanda di dahi Mita hilang.


Disa membelalakan matanya. "A ... apa air itu ada mantranya? Tanda merah Mita ilang," gumam Disa.


Disa memiliki ide untuk menyimpan air itu untuk mencobanya, apapun akan Disa usahakan untuk membantu teman-temannya.


Mariska lantas menoleh ke arah belakang, dia tahu jika Disa dan Tia datang ke rumahnya untuk membantu di rumah, namun dia tidak memiliki kesempatam untuk berbicara dengan Disa, sebab dia selalu menemani Wulan, dan memang pekerjaan Disa pasti banyak.


Mariska menyapa Disa dengan tersenyum, dan Disa pun balas tersenyum, namun tak lama Disa meninggalkan tempat acara dan berlalu dari sana karena mengejar Joko dan Ari yang tengah mengangkat gentong berisi air yang Disa pikir itu air yang sudah di mantrai.


Mariska mengernyit heran saat melihat Disa seperti tengah terburu-buru akan sesuatu, namun dia juga tak bisa meninggalkan tempat itu begitu saja.


Joko dan Ari membawa gentong beriisi air siraman tadi ke tempat menjemur pakaian, Disa hanya mengintip, dia akan mendekat setelah Joko dan Ari meninggalkan tempat itu.


Saat Joko dan Ari akan pergi, baru Disa di tepuk oleh Tia, Disa yang memang sedang pokus, langsung memegang dadanya yang berdebar sangat kencang itu.


"Lagi apa sih Dis?" ucap Tia yang ikut mengintip.


"Shuut ...." Ucap Disa meletakan telunjuknya di bibir. "Aku mau ambil air bekas siraman itu," jelas Disa.


"Hah buat apaan?" heran Tia.


"Ckk ... kamu tau? Tadi tanda di dahi Mita ilang pas Bu Sumarni ikut mandiin dia," ucap Disa lantas menarik lengan Tia menuju ke arah gentong tersebut.


"Serius Dis, ayo lah kita ambil, cepet mumpung Bu Sumarni masuk ke dalam."


"Kamu liat-liat takut ada yang perhatiin kita, aku ambil ember dulu buat ambil air ini."


Tia lantas mengangguk dan berdiri di pilar untuk mengintip, siapa tau ada yang datang mendekat ke arah mereka.


Disa mengambil gayung dan ember, dia segera mengisi ember itu dan meletakannya di kamar mereka.


"Kamu taro di kamar Dis?" tanya Tia.


Disa hanya mengangguk, lalu Mbak Fatmah mengajak mereka semua untuk mempersiapkan makan siang untuk semuanya, sambil menunggu acara mengikat janji suci setelah makan siang.


Disa dan yang lainnya sudah berada di dapur, mempersiapkan hidangan untuk makan siang.


Sedang pekerja laki-laki menyiapkan meja untuk prasmanan. Dan mengambil hidangan dari dapur.


Semua keluarga kanjeng ibu mengantri untuk mengambil hidangan, sedang Fatmah dan Disa mereka mengantar makanan ke kamar Mita untuk Mita dan kedua penata rias itu makan, karena tak mungkin mereka ikut bergabung makan bersama yang lainnya.


Saat akan memasuki kamar Mita, Disa melihat jika dari kamar Bu sumarni pintunya sedikit terbuka, dengan sebelah tangan hitam memegang pintu dan nampak dua pasang mata merah menatap ke arahnya.


Tubuh Disa bergetar hebat, melihat mahluk perewangan Bu Sumarni mengawasinya.


Saat pintu kamar Mita terbuka, Fatmah dan Disa segera masuk untuk meletakan nampan berisi makanan di atas meja di sana.


"Dis suapi aku, aku ngga bisa nyendok makanan ku sendiri, liatkan?" ucap Mita yang memperlihatkan kuku jarinya yang sedang di beri kuteks oleh Nia.


Fatmah lantas melirik Disa, merasa kasihan padanya, sebab Fatmah mengira jika tubuh Disa bergetar karena dia menahan lapar, padahal yang sebenarnya terjadi adalah Disa habis melihat mahluk penghuni rumah yang tak kasat mata.


"Biar saya aja ya Nyonya Mita, Disa masih harus bantu-bantu yang lainnya." Inisiatif Fatmah.


Mita yang juga melihat tangan Disa bergetar, jadi membiarkannya pergi sebab dia tak ingin jika nanti Disa tiba-tiba pingsan dan acaranya berantakan.

__ADS_1


Fatmah segera duduk di sebelah Mita, dan mulai menyuapinya.


Sedang Disa dia berjalan tergesa-gesa meninggalkan kamar Mita yang berada tak jauh dari kamar Kanjeng ibu dan Bu Sumarni. Dia takut jika mahluk perewangan Bu Sumarni menghampirinya.


Disa sampai di dapur dan dia melihat jika Tia dan Yanti bersiap akan makan siang juga.


Sedang di tempat acara sudah tak ada orang, sebab tuan Irwan sedang bersiap diri juga di kamarnya.


Sedang Nyonya Mariska, Nona Wulan dan Ndoro Putra sedang istirahat siang.


Hanya ada para pekerja laki-laki dan juga para photographer yang berbincang di belakang.


Disa segera menyendok nasi beserta lauk pauk yang tersedia di meja.


"Loh ... mana mbak Fatmah, Dis?" tanya Yanti.


"Di suruh nyuapin si Mita, tangannya abis di kutek jadi susah buat makan katanya," balas Disa setelah meneguk segelas air.


Tia dan Mita hanya menghela nafas mereka mendengar kelakuan Majikan baru mereka.


Saat sedang makan Yanti berniat berbincang dengan Disa, "Dis a—" belum sempat dia melanjutkan perkataannya, Bu Sumarni datang bersama Ibunda Mita.


"Mereka para pekerja di sini Bu," ucap Bu Suamarni memperkenalkan para pekerja yang bekerja pada keluarga Kanjeng Ibu.


Mereka semua lantas bangkit dan menundukan kepala, menghormati besan kanjeng ibu.


"Oalah kalian pasti teman-teman Mita, kan?" ucap Ibunda Mita.


"Iya Bu," ucap mereka kompak.


"Ya sudah mari Bu, mau ke kamar Mita?" ajak Bu Sumarni, namun di tolak oleh besan majikannya itu.


"Nanti saja Bu Sum, saya ingin berbincang dengan mereka dulu," pinta Ibunda Mita.


Bu Sumarni lantas mengangguk. "Nanti kalo Ibu mau ke kamar Mita, minta antar saja sama mereka, ya? Anggap rumah sendiri," ucapnya lantas berlalu dari sana.


Disa yang sedari tadi menahan bau Bu Sumarni, lantas terbatuk-batuk, selera makannya mendadak hilang.


"Kamu kenapa Nduk?" tanya Ibunda Mita.


"Ngga papa Bu," balas Disa tersenyum.


Mereka akhirnya duduk, yang lainnya melanjutkan makan mereka sedang Disa memilih memakan buah jeruk yang berada di depanya.


"Ibu mau saya buatkan minuman?" tawar Disa.


"Ngga usah Nduk, kenyang ibu makan minum mulu dari tadi."


Tiba-tiba suasana mendadak hening saat Ibunda Mita mengatakan sesuatu.


"Bu Sumarni baik banget, ya?" ucapnya bangga, namun Tia dan Disa saling berpandang-pandangan dan hampir tertawa sarkas mendengar penilaian Ibunda Mita terhadap Bu Sumarni.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ....


__ADS_2