Pesugihan

Pesugihan
Keluarga Disa


__ADS_3

"Dimana uang itu Bu?" tanya Disa.


Sang ibu lantas menyuruh Bagas mengambil uang yang di suruh untuk di simpannya. Bagas melakukan apa yang di perintahkan sang ibu, dia kembali ke kamar untuk mengambil tabungannya.


Disa mulai paham, sepertinya uang yang di mantrai itu hanya bagas yang menggunakan.


"Bu ... uangnya udah pernah di pakai buat apa aja?"


"Ibu kasih ke Bagas buat keperluan sekolahnya saja. Untuk kebutuhan kita, ibu dan bapakmu masih sanggup mencukupinya."


Disa bangga dengan sikap orang tuanya, yang tidak sedikitpun menyentuh uang cuma-cuma yang diberikan bu Sumarni yang mengatas namakan keluarga kanjeng Ibu. Di mana kebanyakan orang akan serakah menggunakan uang panas tanpa sisa, tak memperdulikan bahwa dirinya pantas mendapatkannya atau tidak.


Kedepannya Disa akan lebih waspada jika mendapat rezeki tak terduga. Apakah itu rezeki yang Tuhan kasih karena kita meminta dengan usaha dan do'a, atau godaan dari iblis atas ijin Tuhan sebagai ujian. Dan pengalaman itu bakal dia bagi ke semua saudara dan temannya.


Saat Bagas datang dengan amplop coklat yang masih berisi uang itu, Disa sudah mencium aroma mantra itu.


Disa menghela napasnya, Amung pun tak bisa berkutik sebab uang itu sudah ada yang di gunakan oleh Bagas. Dia pun memberi tahu keluarganya agar lebih berhati-hati dalam menerima pemberian apapun dari siapapun dengan cara cuma-cuma.


"Boleh Disa ambil uang ini Bu! Disa berjanji akan menggantinya, Disa akan mengembalikan uang ini," ucap Disa berbohong.


Orang tuanya yang merasa bersalah sebab tak memberitahu Disa tentang uang itu, pun hanya bisa pasrah saat anaknya meminta kembali uang itu, lagi pula nominalnya cukup besar, yang pasti mungkin membuat sang anak tak enak hati dengan majikannya.


Mereka tak mempermasalahkan lagi uang itu, pertemuan dengan sang putri dirasa menjadi hal yang lebih pokok utama bahasan keluarga mereka.


"Kamu kok pulang ngga bilang-bilang toh Nduk?" tanya sang Ayah.


Disa menanggapinya hanya dengan senyuman, dia sebenarnya heran apa keluarganya tak mendengar kabar meninggalnya kepala keluarga majikannya, bagaimanapun desanya dekat dengan desa Nyonya Mariska.


"Bapak, ibu ngga dengar kabar meninggalnya pak Hanubi?"


"Hah, iya toh Nduk?!" Orang tua Disa nampak terkejut, berbeda dengan Bagas yang sudah terlelap dengan kepala di pangkuan Disa.


"Ya ampun kok kami ngga denger ya, tapi keluarga pak Arya juga sepertinya ngga tau," jawab sang Ayah.


"Ya sudah Pak, ngga usah cerita apa-apa, takut Disa di bilang lancang, mereka mungkin punya alasan sendiri," ucapnya.


Mereka mengerti, di benak orang tua Disa mungkin keluarga Arya Winangun yang notabennya besan kanjeng ibu, mungkin sudah tau kabar duka itu, namun tak menggembar-gemborkannya, bagaimanapun itu mungkin berita duka.

__ADS_1


"Ya sudah, kalo besok memang kamu harus kembali ke kota, salamkan buat majikan mu, ya?" pesan sang Ibu.


Disa mengangguk menjawab sang ibu, Disa ikut merebahkan dirinya di samping Bagas, tubuhnya sudah terlalu lelah, hingga tak terasa dia terpejam.


Keesokan paginya saat Disa akan bersiap kembali ke kota, dia memilih untuk mengunjungi rumah kakek neneknya, dia ingin berpamitan, walau tak enak hati tak mengabari kedatangannya, sebab Disa tau jika kakek neneknya pasti sudah istirahat malam tadi, dan Disa tak ingin mengganggu.


Disa lantas berpamitan dengan seluruh keluarganya, saat ingin menemui Sari ternyata temannya itu sedang berada di rumah saudaranya. Hingga akhrinya Disa memilih segera meninggalkan kediamannya, sebab setelah dari rumah kakeknya, dia akan langsung menuju terminal bus yang akan membawanya kembali ke kota.


Saat sampai di rumah kakek neneknya, Disa di sambut sang nenek yang sedang menyiapkan kopi untuk kakeknya, Disa memang sengaja masuk lewat pintu belakang, sebab dia tau kegiatan kakek-neneknya lebih banyak di habiskan di kebun belakang rumah mereka.


"Biar Disa saja yang bawa Nek," pinta Disa yang segera meraih kopi buat sang kakek.


Disa lantas mendekati kakeknya yang sedang duduk menunggu kopinya, dia terkejut dengan kedatangan cucu perempuannya.


"Ya ampun Nduk, kamu kapan pulang?" tanya sang kakek lantas segera mengusap punggung Disa yang duduk di sebelahnya.


"Kemarin Kek, tapi Disa mau minta maaf, Disa kesini hanya pamit mau kembali lagi ke kota, do'akan Disa ya kek?" pinta Disa yang sudah tak dapat membendung air matanya.


Sang kakek lantas menyingkirkan kopi yang menjadi penghalang antara dirinya dan cucunya itu.


Dia memeluk Disa dari samping, Disa menangis sesenggukan, entah kenapa saat bertemu kakeknya dia tak bisa menahan kegundahan batinnya.


Sebab saat dia memeluk Disa dia mencium aroma bunga, yang pernah dia cium di tubuh ayahnya. Dan ayah kakek Disa pernah memberitahu bahwa jika nanti salah satu keturunan mereka ada yang berbau seperti dirinya maka sudah di pastikan dia di dampingi Amung.


Kakek Disa hanya memiliki kemampuan mengenali siapa keturunan yang di pilih Amung, namun dia tak bisa seperti Disa.


Disa lantas menatap mata sang kakek, dia tau jika sang kakek yang merawat keris tempat bersemayamnya Amung, namun dia tak pernah tau jika sang kakek ternyata dapat melihat Amung.


"Apa kakek dapat melihat Amung?"


Kakek Disa menggeleng, dia pernah mendengar nama itu dari Ayahnya, yang mana berarti itu adalah kakek buyut Disa.


Dia juga menceritakan, bahwa Amung adalah perewangan yang mengikuti keluarga mereka dari dulu, dan sang kakek mengatakan dia tak pernah tau wujud Amung.


Sang kakek hanya melakukan perintah kakek buyut Disa untuk menjaga dan merawat keris itu, di khawatirkan keluarga mereka terkena tulah, pikir kakek buyut Disa dahulu kala.


Dia juga mengatakan, kalau memang benar Disa bisa melihat Amung, sudah di pastikan jika Disa memiliki cawan, namun yang tak kakek Disa tau, apa Disa memiliki masalah dengan Amung perewangan keluarganya itu.

__ADS_1


"Dia melewatiku dan ibumu, ternyata malah kamu yang mewarisinya," kekeh sang kakek, berusaha menghibur Disa.


"Kakek malah udah ngajarin Bagas supaya merawat keris itu saat kakek sudah tiada suatu saat nanti, memang nasib ngga bisa di tebak, ya?"


Disa tersenyum hambar mendengar kisah kakeknya itu, yang ada sekarang ini nasib nahas yang sedang menimpa keluarga mereka.


Disa tak menyalahkan Amung, seperti kata Ki Wiryo, jika semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan, dia hanya harus berusaha dan berdo'a.


Karena usaha tanpa do'a juga percuma, pun sebaliknya hanya berdo'a pun tak akan bisa mengubah apa-apa, sebab Tuhan juga ingin melihat bagaimana usaha hambanya untuk merubah hidupnya.


Mungkin terpilihnya dia yang melihat Amung dan cawan itu juga atas kehendak Tuhan, Disa berpikir positif saja, toh memang dia tau beberapa kali Amung menyelamatkan dirinya, walau saat itu dia tak tau sosok Amung, namun dia tetap teguh berdo'a pada Tuhan, biar Tuhan yang menjawab doanya, entah bagaimana nanti Tuhan akan menolong dirinya.


Setelah mendengar sedikit cerita tentang Amung dan Cawan, Disa akhirnya berpamitan kepada kakek dan neneknya, tak lupa meminta maaf, sebab Disa tak tau apa setelah ini dia masih bisa bertemu dengan mereka, walau dia tak mengatakan apa-apa, hanya berpamitan saja.


Disa kembali meninggalkan kota kelahirannya, menatap lurus kedepan, bisa saja ini adalah akhir dari kisahnya, karena dia harus berjuang melawan sesuatu yang dia sendiri tak tau apa dia mampu, namun keteguhan hatinya menguatkan keyakinan atas apa yang akan dia lakukan nanti.


.


.


Setelah sampai di kota, Disa langsung ke kontrakan untuk mengajak Tia yang sudah menunggu. Setelah mempersiapkan segala yang di butuhkan, lantas menuju perumahan majikannya dengan menaiki angkutan.


Disa merasakan sentuhan selembut angin di bahunya, dia melirik jika Amung memegang bahunya, dan mengangguk, berkata lewat gerakan menyemangati.


Disa sampai di gerbang perumahan majikannya, hawa mencekam sudah di rasakannya, entah kenapa terasa sesak menurut Disa, jangan lupakan jantung yang bertalu-talu hendak keluar dari rongganya masih Disa rasakan.


Disana sudah ada Wiwit yang baru datang juga, seperti tau jam berapa Disa dan Tia akan ada di sana. Mereka pun kini sama gugupnya, bagaimana pun melawan Bu Sumarni benar-benar membuat mereka semua takut. Namun seperti di buru oleh waktu, berpacu dengan keadaan, membuat jantung semakin bergemuruh, dengan menguatkan tekad, bahwa semua harus di akhiri.


Mereka bagai melangkahkan kaki menuju ruang gelap, berusaha menyemangati diri, berdo'a dalam hati agar di beri kesempatan untuk hidup, dan berkumpul kembali dengan orang-orang yang mereka sayangi.


Berdo'a jika kali ini Tuhan berada di pihak mereka, tidak akan menguji mereka lebih dari ini suatu saat nanti, harap mereka.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2