
Di kediaman Ki Brasta, Sri masuk ke kamar Wulan saat akan mengantar sarapan.
Wulan masih menatap hamparan hutan di depan jendela, pagi itu dia merasa jika hutan nampak asing, seperti lebih gelap. Dedaunan pun seperti enggan menyisakan embunnya, karena terhisap klorofil atau meneteskan bulirnya ketanah karena lelah. Suasananya mendung dan membuat sang surya tak menampakan sinar yang akan menebar hangatnya. Mungkin sebentar lagi ... hujan.
Dia bergumam dalam lamunannya, jika dari semalam perasaannya sangat tak enak, dia tak tau ada apa, hingga dia terbangun pagi ini, dia merasa jika kamarnya sangat pengap, terasa sangat dingin.
"Mimpi semalam benar-benar mengerikan, aku merasa jika kejadian itu nyata, semoga saja itu hanya sekedar mimpi, apa aku merindukan orang tuaku, ya?"
Dalam mimpinya semalam, Wulan melihat jika sang Tuan dan dirinya berada dalam rumah keluarganya, lebih tepatnya berada di kamar orang tuanya.
Di mimpinya itu, Wulan melihat jika sang Ayah sedang berbaring tertidur pulas, sedang sang ibu dan bu Sumarni berada di sisi ranjang, mereka duduk bersimpuh dan terdapat meja kecil berisi sesajen, dan tempat kemenyan.
Di sana sang ibu membaca sebuah mantra dengan keadaan mata yang menggelegar, berkedap kedip, sedang bu Sumarni duduk di sebelahnya hanya diam dengan telapak tangan menangkup tenang.
Suasana makin mencekam saat Wulan berdiri di depan pintu, sedangkan sang Tuan berjalan mendekat kearah ranjang sang Ayah, dia menaiki ranjang, dan sekarang sang Tuan berada tepat di atas tubuh sang Ayah yang masih terlelap itu.
Wulan memanggil sang ibu, jika mahluk mengerikan itu ada di atas tubuh ayahnya, namun teriakan itu tak di dengar oleh keluarganya. Tiba-tiba, sang Tuan menatap kearahnya dan membuat tubuh Wulan membeku, dia tak dapat bergerak, seolah dia dipaksa untuk melihat sesuatu mengerikan di hadapannya.
Krasss ....
Wulan membelalakan mata, saat melihat sang Tuan menebas kepala sang Ayah hanya dengan kuku panjangnya.
Darah muncrat kemana-mana, bahkan membasahi tubuh sang Ibu dan bu Sumarni yang duduk di sebelah ranjang sang Ayah.
Dan mahluk-mahluk mengerikan yang hampir menyerupai sang Tuan berdatangan, lantas dengan rakus meminum darah yang keluar dari tebasan kepala Ayahnya. Bahkan menjilati cipratan darah pada tubuh sang Ibu dan bu Sumarni tanpa sisa.
Wulan tak dapat menangis, atau pun menjerit, dia hanya diam mematung hingga adegan yang sangat sadis dan begitu mengerikan itu usai di perlihatkan.
__ADS_1
Dan sang Tuan tiba-tiba menyeretnya dengan kuat agar keluar dari ruang kamar menuju sisi gelap, sisi gelap yang tak memiliki hati nurani, dimana hitam dan putih terbalut oleh ngeri, sebagai upaya membutakan mata hati, dan membuat pandangan Wulan gelap seketika.
Hingga dia bangun dengan nafas yang terengah-engah serta bulir-bulir keringat di wajahnya, dan menatap hari sudah pagi, dimana Sri sudah membuka jendela kamarnya.
Saat bangun Wulan melihat lengan yang terasa nyeri, dan disana terlihat cap seperti bentuk jari melingkar. Dia berpikir benar-benar seperti kenyataan, luka yang di alaminya letaknya sama persis di saat sang Tuan menyeretnya dari kamar sang Ayah.
Wulan mengusap pelan bahu yang masih terasa berdenyut dan nyeri itu, mengingat kejadian malam tadi yang membuat perutnya bergejolak.
Hingga ia lari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa air saja.
.
.
Dengan langkah gemulai namun tegas, Sri mendekat ke arah Wulan, dan meletakan nampan berisi makanan itu tepat di pangkuannya.
Wulan segera memakan sarapannya, mengunyah secara perlahan, tak menikmati rasanya sebab bayangan menjijikan para mahluk yang memakan tubuh Ayahnya semalam tak beranjak enyah dari ingatannya, namun dia butuh energi untuk bisa terus bertahan di tempat mengerikan ini.
Setelah membantu membersihkan diri Wulan, Sri akhirnya mengatakan berita yang ia simpan sejak tadi.
"Nona ... Ayah anda sudah tiada, mungkin nanti ibu dan keluarga anda akan datang kemari, sepertinya batu Sudojiwo akan segera muncul."
Telinga Wulan seperti berdengung saat mendengar kalimat Sri, dia tak tau apa yang Sri katakan selanjutnya, sebab penglihatannya mulai kabur dan tiba-tiba semua ingatannya terkubur. Wulan tak sadarkan diri bagai mengalami sakitnya mati berkali-kali, tanpa di beri kesempatan hidup berbeda situasi layaknya reinkarnasi.
Setelah siuman Wulan lebih banyak melamun, saat Sri mengantarkan makan siang dia makan dengan lesu. Ingin menolak juga percuma, sebab Sri akan menggunakan berbagai cara agar ia memakan makanannya.
"Sekarang, Nona adalah calon pemegang kuasa selanjutnya, nanti yang akan melanjutkan tugas ayah anda adalah suami anda. Dan sudah di pastikan karena tak di butuhkan lagi, ayah anda harus kembali ke Tuan," jelas Sri.
__ADS_1
Wulan menatapnya dengan dingin.
"Dengan mengumpankan jasadnya ke abdi Tuan!" geram Wulan, dan melempar piring ke lantai yang masih terdapat makanannya di hadapan Sri.
"Mereka juga butuh makan. Anda jangan khawatir, jasad ayah anda masih berbentuk utuh jika manusia biasa yang melihatnya," ucap Sri tanpa rasa bersalah sedikit pun, sambil tetap tenang dan bersimpuh membereskan makanan yang berhamburan di lantai kayu.
Wulan menarik kedua kakinya untuk dia peluk, dan memalingkan wajahnya agar bisa bersandar di lututnya. Namun kali ini dia tak menatap jendela, hanya dinding kayu dan guratan seratnya yang dia tatap saat itu. Tanpa tetesan air mata dan harapan.
Wulan berpikir apa dia akan sanggup memikul beban seperti yang ibunya lakukan, mengorbankan orang-orang yang di cintai, tanpa belas kasih.
Menyakiti orang hanya demi memuaskan hasrat kesombongan sang Tuan.
Ketenangan dan kebahagiaan jenis apa, jika cara meraihnya dengan menyakiti orang lain. Dan mereka akan menjadi musuh-musuh yang akan selalu berusaha membalaskan dendam, bukankah itu berarti membodohi diri sendiri, pikir Wulan.
Hingga dampak kesengsaraan kini harus dia alami, akibat kebodohan akan sebuah pemikiran kerdil neneknya saat itu.
Roda kehidupan yang di rasa Wulan seperti menggilasnya, dia terseret tertatih-tatih, nyaris tak ada kesempatan untuk berfikir. Disaat dia memikirkan nasibnya sendiri tentang kematian dan Tuhan, justru malah sang Ayah lah yang mendahuluinya menghadap Tuan, lewat mimpinya dan ucapan Sri.
Wulan kembali mengingat kejadian semalam yang dia rasa adalah mimpi buruk, ternyata itu adalah kejadian nyata yang terjadi kepada sang Ayah. Kini kehidupan keluarganya ada di tangannya, dia melawan atau pun berlari tetap saja akan terus di buru kematian dan berpacu dengan waktu.
Sungguh pilihan yang berat bagi Wulan, memilih berontak ... mati, memilih berlari ... juga mati, bahkan memilih untuk diam pun dia berfikir akan mati juga.
Wulan tersenyum miring ....
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ....