Pesugihan

Pesugihan
Terungkapnya Misteri


__ADS_3

Wiwit lalu menceritakan, saat dirinya duduk menunggu di sebelah nyonya Mariska hingga majikannya itu bangun dari tidurnya, saat nyonya Mariska terbangun dan mendapati dirinya ada di disana, nyonya Mariska langsung menangis histeris dan minta Wiwit untuk memeluknya.


"Nyonya cerita sama aku, kalau dia di jadikan bahan sesembahan mertuanya, dia ceritain kejadian malam itu, ternyata saat ritual sesembahan yang di lakukan setiap malam bulan purnama itu, kanjeng ibu harus menyerahkan darahnya dan saat itu kanjeng ibu pingsan, dan tak ada penggantinya akhirnya nyonya Mariska menggantikannya saat itu."


Setelah mendengar penjelasan nyonya Mariska, sebenarnya saat itu Wiwit sangat ketakutan, dia bahkan meminta ijin untuk berhenti kerja, tapi nyonya Mariska memohon supaya dia mau menemaninya.


Hingga akhirnya Wiwit memilih untuk mengabulkan keinginan Mariska, dia lantas keluar kamar majikannya itu, saat Irwan akan memperkenalkannya kepada para pekerja di rumah kanjeng ibu.


"Saat itu di sana hanya ada Fatmah dan Nining, apa mereka masih bekerja di sana?" tanya Wiwit.


"Mbak Fatmah masih, tapi Nining ngga ada, yang ada tadinya Mita sama Yanti, tapi Mita udah jadi nyonya baru di sana, soalnya dia jadi istri kedua tuan Irwan," jelas Disa.


"Apa? istri kedua? coba ceritain keadaan rumah kanjeng ibu saat ini," pinta Wiwit.


Disa menolak, dia ingin mendengar terlebih dahulu pengalaman Wiwit, hingga untuk apa Mariska memintanya untuk mencari keberadaan Wiwit.


Wiwit akhirnya melanjutkan kembali ceritanya, dimana dia bingung dengan para pekerja disana yang mempunyai titik merah di dahinya, dia tak berani bertanya, hingga malam menjelang dia bermimpi buruk.


Dia memiliki firasat buruk, hingga saat pagi sarapan dia menuliskan alamatnya di sebuah carik kertas.


"Saat saya hendak menyobek kertas di buku yang saya ambil di lemari hias, di buku itu terdapat nama-nama dan alamat pekerja dari dulu," ucap Wiwit, lalu menatap Disa. "Aku sobek bagian terakhir, yakni ada beberapa pekerja yang sudah berhenti dan juga yang masih bekerja, dan aku taruh di tas."


Sementara sobekan kertas yang terdapat alamat Wiwit di sembunyikan di buku yang diminta untuk di bawa oleh nyonya Mariska dari kediamannya.


Wiwit berpikir jika suatu saat nanti majikannya itu akan mencarinya, dan tebakannya benar.


Dia juga menceritakan pengalaman pertamanya bertemu dengan Bu Sumarni, sang kuncen, saat itu dia di panggil ke kamarnya untuk menandatangani kontrak kerja.


Berbeda dengan Disa, di kontrak kerja Wiwit, perjanjian ghaib itu tak di sembunyikan, tentu saja itu membuat Wiwit terkejut, jika dia di minta untuk bergabung dengan bu Sumarni, sebab bu Sumarni mengincar perewangan Wiwit.


Sama seperti Disa, Wiwit juga memiliki perewangan, bedanya jika Disa tak tau menahu, jika Wiwit sudah di ajarkan oleh Ayah dan Kakeknya, namun dia belum bisa melihat sosok yang mengikutinya.


Hingga saat Wiwit menolak untuk bergabung dengan perjanjian laknat itu, Bu Sumarni murka, dan hendak melenyapkannya, saat itulah sosok perewangan yang mengikuti keluarganya muncul menolongnya, melawan bu Sumarni dan mahluk hitam perewangannya.


Wiwit mengingat jika bu Sumarni saat itu terluka parah, namun sosok macan putih itu memintanya untuk segera pergi dari sana, sebab bu Sumarni bisa bangkit lagi meski sudah mati.


Wiwit berlari ke kamar Nyonya Mariska, dia ingin mengajaknya pergi, namun nyonya Mariska hanya menangis, berkata jika dia tak bisa pergi dari sana sebab sudah terikat.


Dengan keadaan yang terdesak Wiwit memilih berhenti, dia tak sanggup berada di sana dan merawat majikannya itu, sebab ternyata dia harus menggadaikan nyawanya, dia menceritakan apa yang terjadi padanya, dan ternyata jika bu Sumarni membuat perjanjian ghaib itu untuk semua pekerja, oleh sebab itu mereka semua memiliki tanda.

__ADS_1


Wiwit bercerita jika dia tak berpamitan kepada teman-temannya, hanya kepada nyonya Mariska saja.


Hingga dia memutuskan kembali kerumahnya, namun dugaannya ternyata salah, ternyata bu Sumarni, memerintahkan abdi sang Tuan untuk menyakitinya, dan meneror orang-orang di sekelilingnya termasuk Yani sahabatnya. Wiwit meminta Yani agar tidak mendekati rumahnya dalam 40 hari, bahkan melarang mendekat dan melihatnya, itu bertujuan agar mahluk ghaib suruhan bu Sumarni tidak terhubung dengan Yani.


Itu sebabnya dia luntang-lantung seperti orang gila, tanpa berani berhubungan dengan siapapun. Wiwit mengingat bagaimana rasa sakit yang dia rasa saat tubuhnya harus melawan mahluk ghaib itu.


Hingga akhirnya dia pergi lagi dan bertemu dengan Asih, seperti sudah takdir, Asih tau jika dia akan menolong seseorang di tempat itu, namun dia tak tau apa yang akan dia lakukan nantinya.


Saat seseorang itu muncul ternyata Wiwit, dia datang dengan luka dalam yang cukup serius, Asih yang merasa tak mampu, lantas membawanya kepada sang guru yaitu Ki Wiryo, dari sinilah semua berawal.


Namun sepertinya Asih juga memiliki keterbatasan dalam membaca masa depan, dia tak bisa membaca masa sepan dengan pasti sebab masa depan manusia selalu berubah-ubah sesuai jalan pikirannya.


Wiwit akhirnya menceritakan semuanya kepada Asih dan Ki Wiryo, yang memilih untuk menyembunyikan Wiwit di lereng gunung ini, sekaligus untuk memperlajari ilmu turunannya, dan menyelamatkan nyawanya dari incaran bu Sumarni, sampai menunggu seorang Cawan datang untuk menuntaskan semuanya, harap mereka.


Wiwit menambahkan bahwa selama pelariannya sebelum bertemu Asih dan ki Wiryo, Wiwit penasaran dan mencari alamat para pekerja di kediaman kanjeng ibu yang berada di kertas yang dia sobek, dan ternyata rata-rata mereka memiliki tanda merah itu meski tidak semua melibatkan keluarga mereka.


Saat Wiwit berusaha mengingatkan dan memberi tahu tentang tanda merah itu, hanya di tanggapi dengan tertawaan dan menganggapnya gila.


Di bukanya buku kuning di pangkuannya, diserahkannya sobekan kertas yang berisi alamat itu.


"Sementara yang sudah tidak bekerja semuanya mati, " tukas Wiwit. "Dan keluarga yang memiliki tanda di dahinya, semuanya ternyata telah mendapat uang yang cukup besar dengan cuma-cuma dari bu Sum, padahal itu sebagai mahar untuk nyawanya."


Deg!! ... Disa teringat dengan keluarganya, jadi ini misteri sesungguhnya! batin Disa murka, terutama pada bu Sumarni.


"Mantap," ucap Wiwit menanggapi proses sambatan yang Disa lakukan. "Hanya satu detik, Dis."


Tidak ada respon dari Disa, tubuhnya kaku diam tak bergerak, matanya terpejam.


"Dis ... Dis!" Wiwit berusaha membangunkan Disa yang duduk bersila dengan tangan bergetar dan keringat bercucuran. "Disa!!"


"Guru!" teriak Wiwit.


Inilah yang di takutkan Wiwit jika mengungkapkan misteri itu tanpa gurunya bisa berbahaya, untung ki Wiryo masih di sana.


Ki Wiryo menghampiri Disa, "Nak Disa, anda terlalu jauh pergi, kembalilah!" lalu dia bersila hendak menyusul Disa yang sedang berkelana.


Teriakan Wiwit membuat Asih menghampiri dan di buntuti Tia yang kini berharap cemas tentang nasib sahabatnya.


"Nak Disa," tanya Amung pelan. "Anda hendak kemana?"

__ADS_1


"Jangan tumpahkan isi cawannya tuan Amung, saya mohon," ucap disa yang kini sukmanya melesat pergi dari tempat itu. "Saya hanya ingin menjenguk keluarga saya di kampung."


Amung pun mengangguk, dan tentunya dengan selalu mewaspadai segala gerak-gerik sukma Disa yang sedang berkelana."


"Akh!!" Ki Wiryo tersadar. "Disa aman, tuan Amung sedang mendampingi."


Merekapun bernapas lega mendengar kabar Disa dari ki Wiryo.


"Secepat itukah dia mampu menduplikasi ilmuku?" gumam ki Wiryo menanggapi muridnya.


"Ha ha ha ...." Tia tertawa lalu terdiam, melihat reaksi ki Wiryo yang menggeleng saat dia tertawa.


Asih dan Wiwit pun hanya berani tersenyum menanggapi keluhan gurunya.


Disa tersadar dengan peluh yang kini membasahi seluruh tubuh dan bajunya, Asih pun bergegas mengambilkan minum untuknya.


"Gimana kabar keluargamu?" Tanya ki Wiryo pada Disa.


"Ibu bapa saya baik-baik saja," jawab Disa setelah menandaskan air minum yang di berikan Asih.


"Kenapa kamu melamun sedih?" tanya Wiwit penasaran, menerka kondisi keluarga Disa. Berharap tidak seperti keluarga-keluarga pekerja kanjeng ibu yang dia datangi dulu.


"Bagas! ... dia memiliki tanda itu di dahinya." Disa menatap langit-langit dengan meneteskan air mata, tangannya mengepal dan bergetar.


Ki Wiryo yang bisa menebak arah pikiran Disa. "Jangan nona, itu berbahaya."


"Jangankan manusia, iblis pun akan saya lenyapkan!" pekik Disa yang merasa ketenangan keluarganya di usik. Jika hanya mendengar sang majikan menganut pesugihan, meski kaget Disa memilih tak ikut campur. Tapi kenyataan yang dia lihat membuat akal sehatnya buta.


Slash!! secepat kilat sukma Disa pergi tentunya dengan menyerap kekuatan Amung dan ki Wiryo bersamaan.


"Hentikan nona!!" teriak ki Wiryo "Issh!"


Ki Wiryo pun kembali bersila untuk mengejar Disa, yang kali ini sepertinya mendapat dukungan dari penjaganya, Amung.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2