
Ki Wiryo mengejar sukma Disa yang ternyata menuju ke kediaman Kanjeng Ibu.
Disana Disa melihat apa yang dulu tak dapat dia lihat dengan mata telanjang, ternyata kediaman kanjeng ibu memiliki sebuah kubah meski saat ini kubah itu nampak seperti awan yang terpecah sebab kekuatan batu Sudojiwo sedang melemah.
Disa mencoba sekuat tenaga untuk masuk, namun tidak mampu menembusnya. Sepertinya Disa lupa bahwa dia bukan pemilik ilmu kesaktian, dia hanya seorang cawan, yang hanya bisa menyerap ilmu serta menduplikasinya saja.
Dimana cawan itu harus di isi secukupnya dengan waktu dan jarak tertentu. Apa lagi sekarang dia menyerap sekaligus kekuatan ki Wiryo dan Amung, tentu saja hanya menyerap kekuatan mereka sebagian karena berbagi ruang. Selain itu kekuatan mereka sangat jauh berbeda, dan tak bisa di satukan seperti minyak dan air.
"Disa! Tuan Amung!" teriak ki Wiryo.
Setelah bergabung mata ki Wiryo menatap apa yang di lihat Disa sambil terus berucap dan membujuk agar sukma Disa kembali ke tubuhnya.
"Nak Disa," ucap ki Wiryo menurunkan nada bicaranya, berusaha menenangkannya. "Saya tau nak Disa marah, kecewa, tapi yang kita hadapi sekarang bukan hanya manusia, namun melibatkan mahluk- makluk ghaib, dan saya sendiri belum bisa mengukur seberapa kuat mereka."
"Ingat, dampak yang kalian lakukan saling berkaitan, bukan saatnya untuk coba-coba ilmu yang terbilang baru," ki Wiryo menatap tajam Disa dan Amung. "Sekali kalian gagal, banyak jiwa-jiwa yang akan menjadi korban ... bukan hanya Bagas!."
"Untuk anda tuan Amung," ucap ki Wiryo tegas penuh kekecewaan. "Mengapa tak mencegahnya? Malah seperti mendukungnya, cawannya bisa saja pecah jika di isi dengan cara penuh amarah."
Amung hanya menyesali dengan terdiam, tanda mengakui akan kelalaiannya dalam menjaga anak turunan. Karena dalam keterbatasan logika mahluk seperti dia, membuat Amung terlalu fokus menjaga Disa, namun lupa akan keselamatan Bagas.
Malah Amung berpikir untuk meminta ki Wiryo mengajari dirinya, apa saja yang harus di lakukan agar cawan berfungsi sempurna dan apa saja yang di larang agar tidak terjadi kesalahan.
"Ayo nak Disa ... kita kembali, kau tak bisa meninggalkan ragamu terlalu lama, itu sangat berbahaya, kita tak bisa melawannya sekarang," bujuk Ki Wiryo.
.
.
Sementara di gubuk, Asih yang mengkhawatirkan Disa dan gurunya yang menurutnya telah pergi cukup lama, akan segera menyusul.
"Wit, temenin Tia jaga tubuh kami selama pergi," perintah Asih lantas memegang kedua bahu Tia. "Tia ... jika Wiwit terpaksa harus keluar dari gubuk ini atau menyusul kami, usahakan jangan membuka pintu atau jendela, kamu tetap di sini jangan keluar gubuk, apapun yang terjadi."
__ADS_1
Asih dan Wiwit pun menutup semua pintu dan jendela yang terbuka.
Pembentengan sekitar gubuk antara sungai, air terjun, kebun dan rumpun bambu terpaksa harus mereka cabut menjadi sebatas di gubuk saja, yakni penjagaan ghaib ring luar yang di pasang ki Wiryo tadi sudah hilang, pagar ghaib ring dalam dari Asih pun lenyap. Karena tenaga dan kekuatan mereka di pusatka pada penjagaan sukma mereka yang sedang mengejar Disa.
Kini yang tersisa hanya perlindungan dalam gubuk, yang di bentengi Wiwit dan Maung yang berada di sampingnya.
Asih pergi dengan sukmanya dan meninggalkan tubuhnya yang kini bersila tepat di samping Disa.
Sesaat setelah kepergian Asih ....
Duk! ... duk! duk!
"Tia!" suara Disa memanggil.
Tia berlari hendak membukakan pintu, namun tangannya di cekal Wiwit.
"Jangan," ucap Wiwit yang mendapat geraman penjaganya Maung.
"Kamu lupa yang di katakan Asih? Apapun yang terjadi jangan keluar dari gubuk ini, jangan membuka pintu atau jendela," ucap Wiwit mengingatkan. "Gunung adalah tempat berkumpulnya para mahluk, mereka akan sangat tergiur untuk menguasai tubuh yang tanpa sukma."
"Tia ... tolong aku, ini aku, sahabatmu Disa." Kembali suara itu menggema lirih, suaranya parau seperti sedang merasakan kesakitan yang teramat sangat, membuat Tia dilema, bagaimana kalau itu benar Disa, pikirnya.
"Apa yang kamu pikirkan Tia!" hardik Wiwit mengingatkan dan menunjuk tubuh Disa. "Ini tubuh Disa! sukmanya yang sedang pergi, gak mungkin dia masuk lewat pintu!"
Tia hanya bisa menangis, meratapi keadaannya yang kini sedang menghadapi kengerian itu. Suara Disa yang tadi berusaha dengan susah payah membujuk Tia, berubah menjadi suara cekikikan yang membuat siapapun yang mendengar bergidig.
Kini suara itu semakin jelas menunjukan sisi keseraman suasana hutan lereng gunung yang padat penghuni lelembut di dunia ghaib, di ikuti suara mahluk yang terdengar berjatuhan di atap gubuk, tentu hanya Wiwit yang bisa mendengarnya.
Sementara Tia hanya mendengar suara Disa dan gedoran pintu serta jendela yang terus bertambah banyak. Tia terduduk bersandar pada dinding kayu tanpa menghentikan tangisannya itu. Akankah dia mengalami lagi kejadian menyeramkan seperti saat dirinya tak bisa bergerak seperti terlilit di batu nisan, pikirnya gusar.
Saat mahluk-mahluk mulai pergi satu-persatu meninggalkan gubuk, mengira sang tuan rumah akan segera kembali, ada satu mahluk yang tersisa paling mengerikan sedang merayap. Dengan gigi-gigi tajamnya yang meneteskan air liur berwarna merah, kini hendak mendekati Tia yang bersandar, cakaran dari kuku-kukunya yang panjang mulai terdengar oleh Wiwit.
__ADS_1
Wiwit mengedarkan pandangannya, hendak mencari di mana suara cakaran itu berasal.
Krekek ... krekek ... krek!
Tangan itu hendak menerobos dinding kayu yang di lapisi pagar ghaib, perlahan kelima jari-jemarinya yang panjang mulai menggapai tubuh Tia. Matanya melotot melihat sang mangsa namun tatapannya berubah menciut menjadi tak bernyali dan lenyap seketika saat Asih tersadar kembali.
Ugh! ... Asih menghembuskan napasnya berat, dia mengurungkan niatnya menyusul, karena meninggalkan tubuh dan mempercayakannya pada Tia akan sangat riskan, jika Wiwit juga harus terpaksa keluar.
Tia berlari memeluk Asih dan bertanya, "Disa kenapa, Mba?"Asih pun menceritakannya.
"Dis," ucap Asih yang merasakan sukma Disa sudah mendekat.
Disa lantas kembali ke dalam tubuhnya setelah pasrah mengikuti saran Ki wiryo.
Disa menangis, dia bingung bagaimana cara menyelamatkan adiknya.
"Bukankah sebuah pesugihan hanya akan menumbalkan keluarga mereka, tapi kenapa kami yang tak ada sangkut pautnya bisa terkena imbasnya?" tanya Disa histeris.
Wiwit menjelaskan pada Disa, memang dari semua pesugihan yang dia ketahui tak ada satu pun yang menumbalkan orang lain, sebenarnya yang kini di alami Bagas dan teman-teman Disa adalah ulah pribadi bu Sumarni yang bertujuan untuk memperkuat ilmunya tanpa sepengetahuan kanjeng Ibu.
"Minum Dis, sabar ya?" ucap Tia, yang sudah di beritahu oleh Asih jika adik lelakinya sudah di tandai bu Sumarni.
Ki Wiryo yang kembali setelah Disa tersadar sedang berpikir atas apa yang di lihat sukmanya tadi, dia merasa jika benteng di kediaman majikan muridnya nampak sedikit goyah. Dia tersenyum miring, dengan rencana yang di pikirkan benaknya.
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1