
Hari ini hari yang suram bagi keluarga kanjeng ibu, sebab mereka akan menurunkan perjanjian terkutuk keluarga mereka secara turun temurun kepada anak gadisnya Wulan.
Pagi-pagi sekali Fatmah berbelanja semua keperluan yang di perintah majikannya, seperti bunga-bunga segar tujuh rupa dan bunga mawar serta melati dia beli.
Setelah sarapan kanjeng ibu meminta seluruh anggotanya berkumpul di ruang baca, tidak di gazebo seperti biasanya, sebab biasanya setelah acara sungkem malam jum'at, keesokan harinya akan ada bincang-bincang di gazebo itu.
Namun kali ini kanjeng ibu memilih ruang baca untuk memberitahu kabar penting itu.
Pak Hanubi, Irwan beserta Mariska tak penasaran dengan apa yang akan di sampaikan sebab mereka sudah tau, berbeda dengan Mita dan Wulan tak tau apa yang akan di sampaikan.
"Hari ini kita akan pergi selama tiga hari, jadi kalian persiapkan barang serta perlengkapan selama tiga hari," ucapnya menatap satu persatu anggota keluarganya, dan berakhir pada Wulan.
Kanjeng ibu menatap iba putri bungsunya itu, dia menggenggam tangannya, bermaksud meminta maaf dengan kata tak bisa terucap.
"Kita mau menginap di mana Bu?" heran Wulan, sebab ini sangat dadakan sekali.
Hanya anggukan yang Wulan dapatkan, serta bibir kelu sang ibu yang mengisyaratkan kata yang tersendat di ingin, terlepas di angan. Dan kanjeng Ibu berusaha memalingkan wajahnya dari tatapan serta pertanyaan Wulan, memandang langit-langit sebagai pengalihan, juga usaha untuk menahan air matanya yang mungkin tak dapat ia bendung.
Wulan pun saat itu tertunduk, berputus asa dalam tanya.
Sedang Mita berpikir jika Kanjeng ibu mengajak mereka untuk honeymoon pernikahannya.
Yes pergi honeymoon, akhirnya aku di ajak jalan-jalan.
Mita senyam-senyum sendiri membuat Kanjeng ibu, Wulan dan Bu Sumarni yang duduk di depannya heran.
"Kamu kenapa nak Mita?" tanya kanjeng ibu yang heran dengan kelakuan menantunya, karena dari sekian ekspresi keluarganya yang terlihat sendu, hanya dia yang terlihat gembira.
Dan Bu Sumarni tau jika Mita salah sangka, Bu Sumarni menebak jika Mita salah mengartikan perkataan kanjeng ibu yang akan mengajaknya pergi.
"Ngga Bu, seneng aja mau di ajak jalan-jalan," ucapnya masih tersenyum ceria, Irwan sang suami tersedak saat mendengar celotehan istri keduanya itu, sebab saat Mita berkata dia sedang meminum tehnya.
Kanjeng ibu tersenyum menanggapi perkataan menantunya yang polos itu.
"Ya sudah nak Mita silahkan bersiap," perintah kanjeng ibu yang di balas anggukan cepat Mita, dan menantunya itu membungkuk izin untuk meninggalkan ruang baca karena akan bersiap.
__ADS_1
"Kalian juga segera bersiap," pinta Kanjeng ibu pada yang lainnya.
Mereka lantas meninggalkan tempat untuk berkemas dan bersiap pergi, namun bukan dengan perasaan senang tentunya.
Mariska menitipkan Putra kepada para pembantu rumah tangganya, karena hanya anaknya yang tidak akan di ikut sertakan ketempat wingit seperti itu.
Momen keberangkatan untuk menempuh perjalanan jauh pun tiba. Meski di antara mereka tau ini jalan yang salah namun seperti tidak menemukan jalan lain.
Dulu mereka di butakan harta tak memperdulikan jalan yang benar, sekarang mereka tidak memiliki celah untuk menempuh jalan kebenaran setelah tau harta tak menjamin kebahagiaan. Inilah moment dimana iblis menyeringai memamerkan kemenangannya atas manusia di hadapan Tuhan.
Kali ini Mariska satu mobil bersama Mita dan sang suami Irwan yang menjadi sopirnya.
Sedang mobil Kanjeng ibu di sopiri oleh Pak Hanubi, Wulan dan Bu Suamrni yang berada di sana.
Wulan kesal harus duduk bersebelahan dengan Bu Suamrni, dia tadi ingin ikut mobil Irwan namun di cegah oleh kanjeng ibu.
Mereka pergi siang hari setelah Putra tidur. Dan keadaan sekarang sudah sore, mereka masih dalam perjalanan.
Ingin sekali Wulan bertanya lagi, namun dia merasa enggan, sebab suasana nampak hening, seolah-olah keluarganya enggan membicarakan tujuan kepergian mereka.
Wulan melihat sekeliling, ini sudah jauh dari riuh kota, bahkan di sini sudah masuk jalan yang di apit oleh hutan, udara semakin dingin.
Jarak antara satu rumah dengan rumah yang lainnya masih berjauhan, bahkan desa itu sangat terpencil, hanya ada lampu petromaks yang menggantung di depan rumah warga.
Padahal Wulan melihat jika ada tiang listrik, namun Wulan tak mengerti mengapa para warga tak mengenakan lampu saja.
Masih masuk ke dalam melewati desa tadi, hingga jalan yang sedikit menanjak, dimana jalan aspal sudah tak ada, mobil melewati jalan yang masih berupa tanah dan bebatuan, membuat perjalanan terasa tak nyaman, namun kedua orang tua serta pengasuhnya nampak tak mempermasalahkan.
Sebenarnya Ayah ibu mau ngajak kemana sih, mau nginap di villa yang pelosok banget? gerutu Wulan.
Tak lama sampailah mereka di sebuah rumah, seperti rumah adat Jawa Joglo yang masih kental, sama seperti desa yang tadi mereka lewati, di depan rumah itu pun hanya tergantung sebuah lampu petromaks.
Mereka semua turun dari mobil, rumah itu berdiri sendiri di atas bukit, sedang pemukiman penduduk ada di bawahnya.
Suasana rumah itu sangat wingit, walau terlihat bersih dan terawat, namun dengan suasana hutan dan rumah yang di apit oleh pohon-pohon besar yang menjulang tinggi di sekitarnya membuatnya terasa mencekam.
__ADS_1
Mita pun merasa demikian, harapan yang dia pikirkan sejak pagi sirna sudah, saat keluarga suaminya mengajaknya entah kemana. Mita berpegangan erat pada Mariska, dia selalu mengawasi sekitar sebab dia merasa tak nyaman di tempat seperti itu.
"Mbak kita di mana sih, apa ini rumah ibu?" bisiknya pada Mariska, yang sebenarnya di dengar oleh seluruh keluarga sebab suasana hening sekali di tempat itu.
"Nanti juga kamu tau," balas Mariska singkat, sebab dia sendiri juga sangat takut berada di tempat itu.
Kanjeng ibu dan Bu Sumarni berdiri di depan pintu dan mengetuk.
Tak lama seorang perempuan membukakan pintu, umurnya sekitar tiga puluhan tahun, dia menggunakan kebaya sederhana dengan rambut di sanggul.
Dia adalah seorang abdi di rumah kuncen utama Tuan mereka.
"Kanjeng, monggo silahkan masuk, sudah di tunggu Ki Brasta." Lalu abdi itu membuka kedua pintu itu dan menyingkir sambil terus menunduk.
Mereka semua duduk di tikar di sebuah ruangan, sepertinya itu adalah ruang tamu.
Kanjeng ibu, pak Hanubi dan Bu Sumarni, meninggalkan mereka untuk menemui kuncen utama Tuan mereka.
Ki Brasta adalah Kuncen yang menghubungkan manusia jika ada yang ingin meminta bantuan Tuan.
Dia di tempatkan di sana, agar jika ada manusia yang ingin bersekutu dengan Tuan mereka, bisa melalui dirinya, barulah nanti Tuan akan memilih Kuncen untuk mengikuti sang pengabdi yang telah berjanji itu.
Kanjeng ibu, Pak Hanubi dan Bu Sumarni, mengikuti abdi Ki Brasta ketempatnya, mereka masuk sampai kebelakang rumah, mereka masuk kesebuah ruangan yang memang sudah sangat familiar, dimana aroma kemenyan serta wangi bunga sangat menyengat di sana.
"Ki ..." sapa kanjeng Ibu kepada kuncen utama sang Tuan.
"Kalian sudah sampai, istirahat lah nanti malam kita mulai pembersihan raga Wulan, baru setelah itu dia akan puasa mutih, sampai akhirnya dia dan Tuan akan menyatu untuk mendapatkan batu SUDOJIWO," ucap Ki Brasta dengan mata terpejam.
"Baik Ki," ucap kanjeng ibu lantas mereka semua bangkit untuk mengistirahatkan tubuh mereka, dimana malam nanti mereka akan melaksanakan ritual.
Walaupun rumah itu nampak sederhana, namun menggunakan kayu yang sangat solid dan kuat, banyak kamar di sana, dan ternyata di rumah itu juga banyak sekali abdi, namun tetap saja terasa hening bagi Mita dan Wulan yang baru pertama kali kesana.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ....