Pesugihan

Pesugihan
Isi Petuah


__ADS_3

Wiwit bersimpuh di samping Disa setelah menyerahkan beberapa ikat singkong pada Asih, yang terlihat langsung ke dapur, lantas segera mengolahnya untuk nanti disajikan sebagai sarapan.


Ki Wiryo menatap dua gadis yang saling menyimpan misteri, Disa dan Wiwit. Tapi entah mengapa harus ada satu tambahan gadis aneh keluhnya, yakni keberadaan Tia diantara mereka, yang selalu menampilkan kelakuan spontannya yang tidak dapat di terka seperti misteri.


"Wiwit, nona yang ada di dekatmu itu ... " ki Wiryo menatap Disa menelisik tajam, "benar, dia adalah Nona Cawan."


"Cantik dan menawan," tukas Tia menatap Disa dengan menyentuh dagunya, dan di balas sikutan Disa upaya mengingatkan, ki Wiryo pun tersenyum.


Asih menghampiri dan menyeret Tia untuk membantunya di belakang, merebus singkong, untuk sarapan mereka.


Disa dan Wiwit hanya menatap sambil lalu saja, hanya Tia yang merasa jengkel karena di pisahkan dari Disa.


"Ishh ... Mbak, aku kan mau ikut dengerin, kenapa di ajak ke dapur?" kesalnya, namun Tia masih berusaha menguping pembicaraan mereka.


Setelah hening Ki Wiryo melanjutkan ucapannya, "Dia yang sering hadir dalam mimpimu, dan dalam setiap lintasan dimensi mata batinmu."


Wiwit pun memeluk Disa untuk kedua kalinya dengan menangis tersedu-sedu atas misteri yang terhalang kabut selama ini telah terbuka. Dugaan dirinya dan Asih terhadap Disa telah di perkuat oleh penerawangan gurunya. Dia pun tersenyum lega dalam isakan.


Sebelum Wiwit bercerita tentang misteri kanjeng Ibu, ia pun mempersilahkan gurunya untuk menunaikan tugasnya membimbing Disa mengendalikan khodam cawannya itu.


Ki Wiryo menjelaskan bahwa, sebenarnya penjaga itu ada dua, yaitu dari jin dan malaikat. Orang sering menyebutnya penjaga dari dunia ghaib untuk manusia, namun bukan untuk benda bertuah.


"Nona ... tuan Amung yang menjagamu itu berasal dari jin. Dia adalah warisan dari leluhur untuk menjagamu. Sepertinya dulu nenek moyangmu mendapatkannya secara sungguh-sungguh dengan cara khusus. Bukan mendatangi pohon besar, tempat yang batal atau tempat wingit," ucap ki Wiryo.


Disa dan Wiwit mencerna ucapan ki Wiryo sebagai petuah yang akan mereka ingat, kini mereka semakin terhanyut dalam pemaparan ki Wiryo yang terlihat seperti sang pencerita dongeng pengantar tidur.


"Namun cawan yang ada di tubuhmu nona, adalah bukan berupa kelebihan atau yang disebut kesaktian, melainkan berupa sistem penjagaan dan perlindungan dari Tuhan secara khusus dan langka, yang dihasilkan dari keimanan serta beramal sebagai buah kebaikan yang kamu lakukan selama ini, dan tuan Amung lah yang ikut andil dalam terbentuknya cawan itu." terang ki Wiryo yang kini sudah berdiri mendekati Disa.


Asih keluar dari dapur dengan membawa kudapan yang di rebus tadi, dan menyajikannya pada mereka yang sedang medengar petuah ki Wiryo, dan dia bersimpuh di samping Wiwit untuk bergabung dan di ikuti Tia yang bersimpuh ke tempat semula sebelah Disa.


"Apa saya memiliki penjaga, Ki?" ucap Tia memberanikan diri dan langsung meraih kudapan panas yang di bawa Asih dan dirinya, karena perutnya sudah keroncongan dari tadi membuatnya tak mempedulikan rasa malu.


"Ada."

__ADS_1


"Apa!!" Tia melotot dengan terkaget-kaget, tanpa sadar dimasukannya singkong rebus yang masih sebagian dan panas ke mulutnya tanpa sisa, lantas mendongak menatap mengikuti arah langkah ki Wiryo, yang mengelilingi perlahan empat gadis yang bersimpuh di tikar.


Tia terlihat seperti mengunyah sambil meniup dengan napasnya. Ia terpaku mendengarkan dengan bibir bergetar dan expresi wajah ingin menangis karena menahan panas dan perasaan takut akan perwujudan asli ki Wiryo yang kini sedang mengikis jarak dengannya.


"Setiap manusia sudah mempunyai penjaga-penjaga, bahkan sejak dilahirkan ibunya. Penjaga-penjaga itu sejenis malaikat sebagai penjaga yang dijadikan tentara-tentara yang tidak kasat mata. Konon menurut sebuah cerita mereka kira-kira berjumlah ratusan malaikat. Mereka menjaga manusia secara bergiliran di waktu sore dan pagi sebelum matahari terbit, hal itu bertujuan untuk menjaga apa yang sudah ditetapkan Tuhan pada manusia itu."


"Penjagaku dari jin apa malaikat?" tanya Tia, lantas dia meminum air yang di sodorkan Asih dan menyisakannya setengah.


Ki Wiryo tak terusik lagi oleh pertanyaan Tia, dia fokus menatap pada Disa, dan melanjutkan petuahnya.


"Namun memiliki penjaga dari kalangan jin harus siap menerima konsekuensinya, karena mata batinnya sering terbuka dan melihat sosok-sosok gaib. Penjaga jenis ini biasanya dendam dengan pemiliknya, dan tak jarang melampiaskannya kepada keturunan sang pemilik serta menuntut balas. Kalau keturunannya kuat malah bisa nurut seperti penjaga yang sekarang kalian miliki, tapi kalau seandainya tidak kuat maka keturunanya akan diganggu terus dan akhirnya dibantai, ” tandas ki Wiryo.


"Jin apa malaikat, Ki?" tanya Tia tak putus asa.


Ki Wiryo menatap Tia, lalu menatap Asih.


Asih yang mengerti maksud gurunya bangkit mendekati Tia dan membisikan sesuatu yang membuat Tia antusias.


"Bener, ya?" jawab Tia lantas meminta ijin untuk pergi meninggalkan tempat itu dan berlalu.


Disa terkesiap dengan kesadaraan yang ada.


Ki Wiryo melanjutkan ucapannya dengan menyisipkan kata penarik perhatian, pemicu hilangnya kesadaran sejenis gendam atau hypnotis, tapi lebih ke arah setrum sambatan.


"Nona ... cawan anda sudah bisa di buka tutupnya, saatnya anda mengisinya," tegas ki Wiryo dengan merapalkan beberapa kata ajian. "Ikuti ucapan saya, Nona!"


Disa pun mengikuti tanpa bisa menolak, kini pikiran dan kesadarannya di bawah kendali ki Wiryo.


Setelah kata-kata yang di diucapkan Disa terus menerus berulang-ulang dan semakin cepat, saat itu kedua tangannya kini di dada, telapaknya berhadap-hadapan saling tarik dan saling tolak pelan.


"Terus Nona, cawanmu siap di isi, tapi ingat jangan sampai penuh apa lagi luber, akan sangat berbahaya, secukupnya saja," ucap ki Wiryo menuntun Disa sementara, dengan perantara dirinya sebelum melepasnya saat sudah bisa mengendalikan.


Disa pun terpejam, tangannya semakin bergetar,

__ADS_1


Brukk!! ...


Disa ambruk, Wiwit pun menyingkir menjauhi beberapa langkah.


Wrraaw!! ....


Disa menggeram menatap ki Wiryo, dengan kedua kaki dan tangannya yang kini melenggang berjalan seperti seekor macan.


Disa menggunakan sambatan awal dengan menyerap ilmu macan penjaga Wiwit. Dia belum terkendali berlari keluar di ikuti ki Wiryo dan Wiwit melesat mendampingi agar Disa tetap terhubung dan dapat di kendalikan.


Wrraaw!! ....


Meloncat dari pagar menuju batu-batu besar, cepat, gesit namun masih belum terarah, membuat Disa terjatuh bangun seperti anak macan yang sedang belajar mengejar buruan.


Ki Wiryo masih mendampingi, mengikuti arah berlarinya Disa, dan terus memberi arahan, "Bagus nona, anda sangat pintar dan cepat mengerti, pertahankan dengan cawan terisi secukupnya dan segera tutup."


Disa menatap ki Wiryo dengan tatapan macan dan masih berlari dengan kedua tangan dan kaki.


Kini Disa berada di tepi sungai, dengan percikan air yang berhamburan akibat langkah larinya yang semakin cepat seirama, bagai sang predator sedang mencari mangsanya.


Disa membenamkan wajahnya ke air itu dan keluar dengan seekor ikan di gigitan mulutnya. Namun dia tersentak mendengar suara yang sedang bertarung, suara seseorang itu seperti tak asing di pendengarannya.


Arah pandang Disa celingukan menerka arah mana suara perkelahian itu berada 'rumpun bambu' pikirnya. Di hempaskannya ikan tadi dan bergegas dengan ganas.


"Nona Cawan!! Hentikan!!" ki Wiryo melesat, mengikuti Disa yang kini kecepatannya seperti dua kali lipat dan terus bertambah, "jangan buka cawan itu lagi untuk mengisinya!"


Setelah sampai di tempat yang di tuju, Disa langsung menerjang menyerang hendak menghentikan salah satu petarung itu.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2