
Bu Sumarni memanggil Mita setelah acara makan malam, dia meminta Mita untuk datang ke ruang baca.
Mita gugup bahkan telapak tangannya basah oleh keringat.
Kenapa aku di panggil ya? Apa aku punya kesalahan?
Sambil berjalan dia memikirkan kegiatan yang dia lakukan sepanjang hari, mengingat-ingat apa dia memiliki kesalahan.
Setelah mengetuk dan diizinkan masuk dari dalam oleh suara Bu Sumarni, Mita segera masuk dan menghampiri keluarga majikannya itu.
Ada apa ini? Kenapa keluarga Kanjeng Ibu kumpul semua?
Saat di persilahkan duduk, raut wajah takut masih belum enyah dari mimik muka Mita.
Bahkan tangannya sekarang yang berada di pangkuan gemetar, Mariska yang melihat itu nampak iba, namun dia tak bisa berbuat banyak.
Mita menolak Mati! Mita menerima pun kematian dan kehinaan akan di terimanya setelah Mati!
"Nak Mita ... ada yang akan Ibu sampaikan," ucap kanjeng ibu yang membuat hati Mita mencelos, dia takut di pecat itu yang ada di pikirannya.
Mita masih diam mendengarkan sembari melirik keluarga Kanjeng Ibu yang lainnya.
"Nak Mita, bersedia menikah dengan Irwan? menjadi istri keduanya?" ucap Kanjeng Ibu yang membuat Mita shock seketika, dia menengadahkan wajahnya menatap mata kanjeng ibu dengan tatapan tak percaya.
A ... apa! Istri? Istri kedua Tuan Irwan? Astaga aku ngga salah denger kan ini? Batin Mita.
Ingin sekali Mita mengorek telinganya, memastikan dia tak salah dengar.
"Bagaimana nak Mita?" ucap kanjeng ibu seakan Mita tak di berikan waktu berpikir.
"Ma ... maaf Kanjeng, maksudnya gimana ya?" ucap Mita terbata-bata dengan bibir gemetar.
"Apa tadi ucapan saya tidak jelas nak Mita?"
"Bu ... bukan Kanjeng, maksudnya saya menikah dengan Tuan Irwan?" ucap Mita yang melirik Tuan dan Nyonya mudanya, yang duduk berdampingan, dengan mimik yang biasa saja.
Mita heran kenapa Nyonya Mariska tak nampak sedih, bahkan raut wajahnya itu mengisyaratkan, bahwa dia seperti iba terhadap dirinya.
Sedang Tuan Irwan, dia menggenggam erat tangan Nyonya Mariska, dan entah kenapa hati Mita panas, mendadak ia merasa cemburu, melihat calon suaminya tersenyum ke arah calon madunya itu.
Mita memang belum memiliki perasaan pada Tuan Irwan, dia memang berharap bisa memiliki Tuan Irwan, tapi tidak dengan menjadi istri kedua, dia berpikir Tuan Irwan suatu saat akan meninggalkan istrinya itu.
Walaupun hanya hayalan namun, Mita sangat mengharapkan itu, apalagi jika melihat Tuan Irwan dengan wajah gagah dan manisnya.
Apa anda sudah tak sanggup melayani Tuan Irwan, Nyonya? Sinis Mita pada Mariska.
"Ya, kamu akan menikah dengan Irwan, namun hanya jadi istri kedua," ucapan Kanjeng Ibu membuat Bu Sumarni gemas, pasalnya hanya untuk itu manjikannya harus mengulang kembali pertanyaannya.
__ADS_1
Ingin sekali Mita di beri waktu berpikir, namun pertanyaan kanjeng ibu seperti meminta dirinya untuk segera menjawabnya saat itu juga.
Ini kesempatan bagus menurut Mita, tak apa menjadi istri kedua, toh dia sendiri memang mengharapkan Tuan Irwan.
Tapi dia ingin menciptakan kesan yang baik di mata calon suami dan calon madunya itu, dengan menampakan keragu-raguan, tapi dia takut jika Kanjeng Ibu akan membatalkan niatnya itu.
"Ma ... maaf Kanjeng, boleh saya bertanya?"
"Apa kamu mau tanya kenapa kami memilihmu?" ucap Kanjeng ibu yang mewakili pertanyaan di benak Mita.
Mita terkejut karena dengan mudahnya Kanjeng ibu menjawab pertanyaan batinnya.
"Karena selain menikah dengan Irwan, tentu orang itu harus bisa dekat dengan Putra cucuku, dan sepertinya kamu yang cocok. Di samping Mariska juga mengenalmu, dan dia bersedia," jelas Kanjeng ibu.
Apa-apaan ini? Jadi apa aku tetep harus ngurus ndoro Putra, hanya sekarang jabatanku meningkat dari pengasuhnya menjadi ibu tirinya.
Kesal Mita, sebab dia sudah membayangkan akan menjadi Nyonya muda selanjutnya di keluarga ini, otak liciknya berharap akan menyingkirkan Nyonya Mariska suatu saat nanti.
Ah sudahlah, toh memang mereka memilihku karena mungkin kedekatanku dengan Ndoro Putra.
Masih ada keraguan di hati Mita, namun kesempatan menjadi Nyonya, serta bisa menjadi menantu orang kaya sudah menari-nari di depan matanya.
Harta melimpah, suami yang gagah, dia sudah menghayalkan banyak hal untuk di lakukan.
"Baik Kanjeng, saya bersedia," ucap Mita mantap tanpa melirik Tuan dan Nyonya Mudanya.
Saat dirinya diminta menjadi istri kedua pun, dia sendiri tak begitu mengerti apa alasan keluarga majikannya itu.
"Baik ... besok kamu boleh pulang untuk memberi tau orang tuamu, tiga hari mendatang kami akan melamarmu, namun—" ucap Kanjeng ibu menarik nafas.
"Pernikahan akan dilaksanakan di sini, karena kamu hanya isrti kedua, tak perlu mengundang terlalu banyak keluargamu, mengerti?" pinta Kanjeng Ibu.
Mita mengangguk lesu, dia sudah merancang apa saja yang akan persiapkan di pesta pernikahannya namun, ucapan Kanjeng ibu menjadi keputusan telak yang tak bisa di ganggu gugat.
Dia yang tadinya ingin merayakan pesta besar-besaran di tempat tinggalnya untuk membanggakan diri pada sanak saudara dan tetangganya, sekarang hanya bisa mengikuti kemauan Kanjeng ibu yang juga calon ibu mertuanya.
Aku calon menantu, tapi ngga di tanyain apa keinginanku. Batin Mita sedih.
Mita pun di persilahkan untuk kembali ke pekerjaannya lagi, sepeninggal Mita, keluarga Kanjeng Ibu lantas berdiskusi.
Kanjeng ibu meminta Bu Sumarni menyiapkan segala keperluan pernikahan yang akan segera mereka helat, tak perlu banyak undangan cukup keluarga inti saja.
Mariska dan Irwan memilih untuk meninggalkan mereka terlebih dahulu.
Irwan membawa istrinya itu ke kamar, sambil berbaring mereka pun berbincang.
"Mas kok bisa Mita, apa kamu udah tau sebelumnya?" ucap Mariska pada sang suami yang bertanya kejanggalan tentang pemilihan calon madunya itu.
__ADS_1
"Aku ngga tau apa-apa, lagi pula aku ngga perduli, asal bukan kamu yang jadi tameng saat Ajian Sudojiwo yang akan di turunkan pada Wulan nantinya."
"Aku penasaran mas, memang harus di turunkankah ilmu terkutuk itu."
"Maafin mas ya? Yang udah ngelibatin kamu," ucap Irwan sembari memeluk tubuh istrinya yang sudah terlihat semakin sehat.
"Mas apa kita akan menumbalkan Putra untuk ikut meneruskan tradisi laknat seperti ini?" ucap Mariska dengan mata berkaca-kaca.
"Aku ngga tau Ris, kau tau bagaimana mengerikannya Tuan, aku bahkan ngga bisa membayangkan bagaimana perasaan Wulan nanti," ucap Irwan lesu, dia sendiri terjebak dalam kengerian ini, dan tak bisa lari, dia hanya ingin hidup, hanya itu yang dia pikirkan.
.
.
Sedang di dapur Mita segera memberitahu kabar bahagia dirinya.
"Mbak ... Yan ... sini duduk, aku punya kabar gembira!" ucap Mita antusias.
"Ada apa sih Mit," ucap Mbak Fatmah selesai membersihkan peralatan makan majikan mereka.
"Aku mau menikah dengan Tuan Irwan." ucap Mita, yang membuat Fatmah dan Yanti terkejut, dan saling Berpandang-pandangan.
"Serius kamu Mit!" ucap Fatmah tajam.
"Ya serius masa iya berita kaya gitu bohongan sih, besok aku di suruh pulang sama Bu Sumarni buat ngabarin keluargaku di kampung."
"Kok bisa sih Mit, kamu ngga ngerasa kasian sama Nyonya Mariska?" tanya Yanti, yang melihat jika Mita sangat bahagia, dan seperti tak merasa iba pada Nyonya mereka.
"Nyonya ada di sana kok tadi pas Kanjeng ibu ngelamar aku, bukan salah aku lah, emang aku selingkuh!" sungut Mita.
"Bukan gitu, kamu ngga risih gitu?" ucap Yanti.
Sebenarnya mereka merasa aneh dengan tiba-tiba majikan mereka meminta Mita untuk menjadi istri kedua Tuan mereka.
"Kenapa kamu iri?" balas Mita ketus.
"Ngga gitu Mit, ya sudahlah, selamat ya? Semoga rumah tangga kalian harmonis," ucap Yanti yang memilih tak meneruskan perkataannya, mereka tau bagaimana sifat Mita, jadi lebih baik membiarkannya saja.
"Nah gitu dong, aku cuma butuh do'a kalian, sudah malam aku mau tidur," ucapnya lantas meninggalkan meja dapur.
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1