
Paginya, Disa masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya, tapi ia paksakan tetap bangun, hari ini dia akan meninggalkan rumah ini, dia tak mau membuat yang lain khawatir.
Disa bangun dan segera menuju kamar mandi, Yanti akan memasuki kamar saat Disa akan keluar.
"Dis, udah enakan? Mending istirahat aja," usul Yanti.
"Udah Yan, kan udah di obatin. Kamu juga jangan bilang apa-apa sama Bu Sum," ancamnya.
Yanti hanya mengacungkan jempolnya, seraya tersenyum pada temannya itu.
Disa pun segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dan kebetulan juga Mita baru keluar kamar mandi.
Dan lagi-lagi Disa kaget melihat tanda merah di dahi Mita sama dengan Yanti dan Mbak Fatmah.
Disa mengikat rambutnya, dia pun bercermin di kamar mandi, terlihat jika ruam biru itu nampak melebar, Disa menekannya dan masih terasa nyeri.
Disa memilih segera menyegarkan dirinya, dari pada memeriksa tubuhnya.
Saat air itu mengguyur tubuhnya, Disa memutuskan untuk mencuci rambutnya juga, dia merasa rambutnya lepek, jadi dia melepas ikatan rambutnya dan membasahi seluruh rambutnya.
Disa mengeramas rambutnya, dengan memejamkan mata dia menikmati pijatan yang dia lakukan, tak lama dia merasa jika di belakang kepalanya seperti ada yang memijat kepalanya, Disa pun terkesiap, lantas menoleh ke belakang.
Akhirnya Disa buru-buru membersihkan seluruh tubuhnya, dari menyabuni tubuh hingga menggosok giginya.
Siraman pertama tak ada apa-apa, lantas siraman berikutnya tercium bau anyir yang amat sangat. Dia pun membuka matanya, dia kaget karena seluruh tubuhnya penuh dengan darah, air yang berada di bak berwarna merah, Disa menjerit ketakutan dia mendekat ke pintu dan segera memakai handuk berusaha keluar dari sana. Namun pintu seperti terkunci dari luar, Disa pun berteriak memanggil teman-temannya.
Dia memukul-mukul pintu berharap ada yang mendengar jeritannya.
Sekelebat Disa melirik jika ada yang akan keluar dari dalam bak mandi yang penuh darah itu.
Disa panik, takut, badannya gemetar dia sudah berdiri di sudut pintu mencengkram erat handuk di dadanya, dia menangis, berharap seseorang datang menyelamatkannya.
Mahluk itu muncul dari dalam bak, seluruh tubuhnya berlumuran darah. Disa sudah tak bisa berteriak, dia tak tau mahluk apa itu, karena dia tak berani membuka matanya.
Bau anyir itu makin tercium, suara langkah kaki berkecipak juga semakin mendekat ke arahnya, Disa berjongkok sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Berdo'a dalam hati bahwa dia bisa selamat, dan tiba-tiba bau anyir itu lenyap. Disa melihat tubuhnya, bersih tak ada darah, bahkan bak mandinya juga hanya berupa air.
Ketukan di pintu kamar mandi mengagetkannya. Disa langsung membukanya, melupakan jika ia hanya mengenakan handuk dan busa sabun masih menyelimuti dirinya.
"Dis, kamu masih lama?" Suara Mbak Fatmah seperti oase, Disa langsung membuka pintu kamar mandi, dan memeluk Mbak Fatmah.
Mbak Fatmah yang kaget dengan serangan Disa, pun balas memeluk temannya itu.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih Dis?" tanyanya seraya memegang bahu Disa ingin memastikan gadis itu baik-baik saja.
"Badan kamu kamu masih banyak busa sabun kaya gini, maen kabur aja," ucap Mbak Fatmah heran.
Disa pun memperhatikan rambut yang di pegang Mbak Fatmah. Benar, dia bahkan belum selesai membersihkan diri, karena gangguan tadi. Dia bingung tadi nampak nyata, apa dia sudah mulai gila, lagi-lagi Disa berfikir seperti itu.
"Lebamnya tambah lebar Dis," ucap mbak Fatmah saat melihat bahu Disa. "Masuk angin ampe begitu, ya? Udah enakan sekarang?" lanjutnya yang merasa khawatir.
"Maaf mbak aku kaget kaya ada kecoa tadi. Udah mbak, dah mendingan. Mbak Fatmah ngga denger saya njerit tadi?" tanyanya.
"Engga, mbak panggil kamu ngga nyaut, sampe mbak gedor-gedor pintu tapi tetep ngga ada sautan," Mbak Fatmah mengernyitkan dahinya bingung.
"Ya udah sana, lanjut bersihin badan kamu. Jangan lama-lama, ya? Ngga enak sama yang lain," ucapnya, lantas mendorong kembali Disa masuk ke kamar mandi, agar segera membersihkan dirinya.
Disa sebenarnya enggan kembali ke sana, dia masih ingat delusi yang ia alami tadi, tapi Disa berusaha tenang, dan cepat-cepat menyelesaikan acara membersihkan dirinya.
Mbak Fatmah memilih kembali ke dapur, karena Bu Sum belum keluar dari kamarnya. Mereka pun memutuskan untuk membuat sarapan untuk diri mereka sendiri.
Mereka berbincang sambil memasak, Mbak Fatmah menunggu giliran setelah Disa mandi.
"Disa kok bisa ampe biru begitu sih Yan? Dia ngga cerita apa-apa ma kamu?" tanyanya.
"Ngga tau, pas di tanya katanya dah sering kaya gitu," jelas yanti. "Emang Disa belum selesai mandi Mbak?"
"Belum—"
"Ngapain dia keluar kamar mandi kaya gitu?" Yanti merasa heran. "Apa lupa bawa baju ganti?"
Tapi seingatnya tadi Disa membawa pakaian ganti, atau mungkin ada yang tertinggal, fikirnya.
"Katanya ada kecoa," ucap Fatmah sambil tertawa. "Sangkin takutnya ampe pias mukanya, mana badannya masih banyak sabun lagi," lanjutnya.
"Masa sih?" tanya Yanti heran, seperti bukan Disa, dimana temannya tidak akan setakut itu pada hewan yang biasa di temukannya di kamar mandi, apa ada yang lain ya? fikirnya.
Dari kemarin memang tingkah Disa sangat aneh, dari dia berkata jika mencium aroma bunga melati bercampur anyir, lalu luka lebam di pergelangan tangannya, dan di tambah luka lebam di bahunya, semoga Disa baik-baik saja, ucapnya dalam hati.
.
.
Disa sampai di dapur, semua sibuk melakukan tugasnya. Mbak Fatmah sudah pergi ke kamar mandi.
"Dimana Bu Sum?" tanya Disa mencari tau, karena biasanya beliau sudah memasak untuk majikan mereka.
__ADS_1
"Ngga tau, belum keluar," jawab Yanti.
"Si Mita ke mana, Yan?"
"Di kamar Ndoro Putra."
Disa pun memilih membantu Yanti menyiapkan sarapan untuk mereka sendiri. Menu sederhana, hanya nasi goreng dan telur mata sapi.
Tak lama, wangi bunga berbaur anyir itu kembali datang, tengkuk Disa pun merinding.
Disa menoleh dan benar saja Bu Sum sedang jalan mendekat ke arah mereka.
Disa tahan sekuat tenaga agar tak muntah lagi.
Bu Sum nampak pucat, ada syal yang terlilit di lehernya.
Apa Bu Sum sakit? fikir Disa dalam hati.
"Mana Fatmah?" tanyanya.
"Lagi mandi Bu," jawab Yanti seraya cepat-cepat menyelesaikan masaknya, karena mungkin Bu Sum akan mulai memasak.
"Bilang Fatmah, siapkan saja roti panggang untuk sarapan majikan kita"
"Baik bu," jawab Yanti.
"Kamu Disa, sebelum pergi, rawat dulu Nyonya Mariska," ucapnya lantas berlalu dari hadapan mereka.
Setelah Bu Sum pergi, Disa menghembuskan nafasnya sambil mengipas-ipas dengan telapak tangannya.
Disa tetap bernafas hanya pendek-pendek saat ada Bu Sum. Dan sekarang dia tak terlalu mual seperti kemarin, karena mungkin jarak antara dirinya dan Bu Sum berjauhan.
"Kamu kenapa Dis?" tanya Yanti yang merasa aneh dengan kelakuan Disa.
Disa hanya menggeleng menjawab pertanyaan Yanti, sedang Yanti menata nasi goreng itu di meja makan.
"Dis, udah ngepak, kamu? Perasaan aku liat tadi pakean kamu masih di lemari."
"Astaga lupa aku Yan, belum ngepak pakean," ucap Disa panik, dia langsung meninggalkan Yanti sendirian di dapur, Yanti yang melihat Disa kelimpungan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ....