Pesugihan

Pesugihan
Kembalinya Bu Sumarni


__ADS_3

Disa sekarang menjadi sangat penasaran dengan sosok penjaganya.


Disa baru mendengarnya dari Hantu Indah, padahal keluarga majikannya sudah tau jika Disa memiliki sosok pelindung.


Siapa Dia?


Apa wujudnya?


Bagaimana bisa dia selalu mengikutinya?


Banyak pertanyaan yang Disa pikirkan, dia merasa tak pernah belajar ilmu kebatinan, lalu kenapa tiba-tiba ada sesosok mahluk yang mengikutinya.


Tia pun menyenggol Disa yang berjalan sambil melamun itu, penasaran dengan apa yang Disa pikirkan.


Disa lantas tersenyum saat Tia membuyarkan semua pertanyaan yang tengah ia pikirkan.


"Dis, hantu itu namanya Indah?" tukas Tia karena tadi Disa menyebut sosok tak kasat mata itu bernama Indah.


"Iya, dia ngenalin dirinya begitu."


"Kamu ngga takut apa Dis! Mukanya ngga serem?" Tia heran, karena sepertinya Disa sudah tak setakut kemarin.


"Mukanya udah normal, yaa cuma pucet aja, tapi baunya yang aku ngga tahan."


Mengingat jika aroma Indah berbau sangat tak sedap di mana wangi pandan bercampur bangkai sangat mengganggu indera penciumannya.


Bau yang mengingatkannya dengan bu Sumarni, wangi bunga bercampur dengan aroma lainnya, bedanya jika bu Sumarni berbau anyir.


Siapa sebenarnya bu Sum? gumam Disa dalam hati.


Disa sudah mengabari Sari jika ia akan menelpon keluarganya malam nanti, Disa ingin sekali mengobrol dengan keluarganya.


Saat istirahat nanti, dia berencana mengirimi keluarganya uang yang dia dapat kemarin dari Tuan Irwan.


Disa dan karyawan lain duduk menunggu kedatangan majikan mereka.


Tak lama majikan mereka sampai, dan mereka langsung sibuk seperti biasa. Saat di toko Disa dan Tia akan jarang berbicara, paling hanya saat menanyakan stok barang atau harga barang.


Pak Hanubi pun seperti biasa, hanya akan berada di dalam kamar di lantai atas.


Saat Disa akan mengambil barang di lantai atas, Disa mencium Aroma sangat menyengat, seperti aroma kemenyan.


Dia pun mengikuti arah bau itu, nampaknya aromanya berasal dari kamar majikannya.


Disa pun mendekatkan telinganya, samar-samar dia mendengar jika Pak Hanubi, majikannya seperti sedang bergumam.


Deg ... deg ... Jantung Disa berdebar semakin kencang. Dia berfikir keras, apa yang sedang majikannya itu lakukan di kamar.


.


.


Sebenarnya Pak Hanubi sedang mengucap mantra, dia berada di kamar tersebut untuk merapal ajian penglaris, mulutnya tak akan berhenti berkomat kamit agar toko mereka ramai, dan menjauhkan segala ancaman dari para pesaingnya.


Itulah tugas utama Pak Hanubi, jika Kanjeng Ibu yang menjadi pemegang jimat yang menyambung hubungan dengan Tuan mereka, maka tugas Hanubi adalah merapal ajian penglaris.


Bahu Disa di tepuk oleh Ari yang melihat jika Disa sedang menguping kamar majikan mereka.

__ADS_1


"Astaga Ri," pekik Disa kaget saat melihat Ari. Dia pun mengusap dadanya yang berdebar-debar itu.


"Shuuut! Ngapain kamu?" bisik Ari yang tak ingin ketahuan majikannya.


Ari pun menyeret Disa menjauh dari kamar majikan mereka.


"Ngga papa, penasaran aja aku, soalnya denger kaya suara pak Hanubi bergumam gitu," jelas Disa yang malu di pergoki oleh teman kerjanya itu.


"Jangan ulangi, kalo ketahuan di pecat nanti kamu!" Ari memberi tahu aturan kerja di toko, walaupun tak tertulis namun itu merupakan sebuah etika kerja.


Disa pun mengangguk dan langsung mengambil barang yang dia cari tadi.


Seperti biasa, istirahat makan siang mereka pun kembali makan di tempat biasa, Disa memutuskan jika dia akan berlangganan di warung makan tersebut.


Dia buru-buru menyelesaikan makannya, karena ingin segera ke kantor pos agar bisa segera mengirimkan uangnya lewat wesel.


"Dis nanti malam kita pergi ke pasar malam yuk? Banyak makanan sama arena bermain, ada rumah hantu juga," ajak Tia semangat.


Disa pun mengangguk setuju, sudah lama dia tak ketempat hiburan seperti itu, sedikit menghilangkan penat akan Disa coba.


.


.


Sedang di kediaman Kanjeng Ibu, Mariska di kejutkan oleh kembalinya Bu Sumarni.


Sejak pagi perasaan Mariska was-was, Bu Sumarni sebenarnya sudah tiba sejak semalam, hanya tak ada yang mengetahuinya, sebab Bu Sumarni memegang kunci rumah ini.


"Ada apa Nyonya?" Ucap Bu Sumarni dengan senyum seperti mengejek menurut Mariska.


"Ngga ada apa-apa, cepat sekali anda kembali Bu Sum," timpalnya, walau sebenarnya dia merasa takut mengatakan kata sindiran seperti itu.


Mariska tak menimpali perkataan tangan kanan sang mertua. Dia lebih memilih memikirkan bagaimana dia akan berbicara dengan Disa jika wanita Iblis di hadapannya ini sudah kembali.


Kemarin, Yanti mengatakan pada Mariska jika dia sudah mendapatkan gawai seperti yang di inginkan Mariska, namun sekarang, Mariska menjadi pesimis bagaimana ia bisa menghubungi Disa.


Sedang Yanti, saat tau jika Bu Sumarni telah kembali, merasa jika Bu Sumarni seperti selalu melihat ke arahnya, entah hanya perasaannya saja, karena dia memang merasa sedang menyembunyikan sesuatu.


Sungguh Yanti merasa dilema, kemarin dia merasa exited dengan memiliki gawai, namun sekarang dia memilih tak menunjukan pada siapapun, keculi Nyonya Mariska.


Sore hari, Kanjeng Ibu meminta semua anggota keluarganya untuk datang keruang baca, ada sesuatu yang akan dia sampaikan.


Mariska merasa itu adalah keinginan Bu Sum, Mariska heran, sebenarnya Bu Sum dari mana? Dia benar-benar sangat misterius, Irwan sang suami pun tak tau asal usul Bu Sum, dia yakin suaminya tak berbohong, bahwa suaminya sendiri pun tak mengenal sosok tangan kanan ibunya dengan baik.


Yanti masuk ke kamar Mariska untuk mengantar majikannya itu ke ruang baca, di perjalanan Mariska berkata bahwa ia tetap akan meminta bantuan masalah gawai itu pada Yanti, mungkin bukan sekarang, dan meminta Yanti untuk menyimpannya dan jangan membuat yang lainnya curiga.


Yanti memang tak akan memperlihatkan gawai itu pada siapapun, namun entah kenapa dia menjadi terancam, seperti ada sesuatu yang majikannya itu sembunyikan.


Lalu apa hubungannya dengan Disa? Begitulah yang Yanti pikirkan.


Yanti mengetuk pintu ruang baca, dimana seluruh keluarga majikannya sudah berkumpul dan tinggal menunggu Nyonya Mudanya.


Setelahnya Yanti pamit undur diri.


Ketegangan nampak Mariska rasakan. 'Ada berita apa yang kau bawa sekarang, wanita iblis!' rutuknya dalam hati.


Kanjeng ibu meminum tehnya sebelum berbicara, semua melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Sum apa kau tak memberi Disa kontrak kerja?" ucap Kanjeng Ibu.


"Apa dia menanyakannya?" heran Sumarni, karena sebenarnya dia malas membuat kontrak kerja untuk Disa, karena dia tak bisa menumbalkan Disa saat sudah tak di butuhkan.


Sebenarnya mudah, jika mereka ingin selamat, mereka harus terus bekerja pada keluarga Kanjeng Ibu, karena Sumarni akan menumbalkan mereka untuk kesaktian ilmunya sendiri, saat mereka memutuskan untuk berhenti kerja.


Saat mereka menandatangani kontrak kerja itu, mereka akan di mantrai oleh Sumarni, dan akan nampak tanda merah di dahi mereka, karena sebenarnya ada perjanjian ghaib di sebalik kertas mereka, bahwa mereka sudah menggadaikan nyawa mereka untuk dirinya, licik memang, itu lah cara kerja Sumarni di balik kata 'melindungi ' keluarga Kanjeng Ibu.


Saat ia akan membuat kontrak kerja untuk Disa, muncul lah Amung yang langsung merobek kertas mantra tersebut.


Maka dari itu ia tak bisa membuat kontrak kerja untuk Disa.


Itulah awal mula Sumarni mengetahui jika Disa memiliki seorang pelindung.


"Saya akan buatkan kontrak kerja biasa, karena memang saya tak bisa memantrainya, jangan sampai dia merasa curiga bukan?" ucapnya menyeringai ke arah Mariska.


Akhirnya dia mengakui kelicikan yang ia lakukan di belakang keluarga kanjeng ibu.


Hanya Mariska yang tak terkejut dengan pengakuan itu, sedang anggota keluarga yang lain lebih memilih bungkam.


Bagaimana Mariska bisa tau terlebih dahulu ketimbang anggota keluarga lainnya? Karena dia di beritahu oleh perawatnya dahulu saat pertama kali menjadi seorang sesembahan untuk Tuannya.


Entah bagaimana nasib mantan pembantunya terdahulu itu, apa masih hidup atau ... entahlah.


"Riska ... sepertinya kami sudah memutuskan untuk segera mencari istri baru untuk Irwan, dia tak tega jika kau yang akan menjadi sesembahan Tuan," ucap Kanjeng Ibu.


"Sepertinya pisikmu lama sekali pulih setelah ritual keduamu," lanjutnya.


Mariska terkejut, dia senang sekaligus sedih, senang karena tak harus menjadi menjadi sesembahan untuk Tuan yang bahkan bukan ia yang mengikat janji, sedih karena dia akan di gantikan oleh manusia lain.


Apa wanita itu bisa bertahan?


Yang paling penting siapa Wanita itu?


Di lain sisi, nuraninya sebagai seorang istri yang akan di madu tetap merasa gelisah.


Bagaimana jika nanti sang suami, mencintai madunya?


Dan lebih memilih meninggalkannya?


Yang lebih parah, bagaimana jika sang suami nanti malah berpindah haluan dan akan tetap membuat dirinya sebagai sesembahan?


Banyak sekali pertanyaan di kepalanya, kenapa sang suami tak mengatakan hal ini terlebih dahulu pada dirinya.


"Apa sudah ada calonnya?" ucap Mariska tenang, dia yakin mereka sudah memiliki calon istri baru untuk sang suami.


Jadi lebih baik dia langsung menanyakan hal itu tanpa harus bertele-tele.


"Mita," ucap Bu Sumarni.


Dan tak ada reaksi apapun dari keluarga suaminya, sepertinya mereka memang sudah tau siapa calon yang Bu Sumarni pilih, dan hanya dirinya yang belum mengetahuinya.


Bagaimana tanggapan Mariska?


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ....


__ADS_2