Pesugihan

Pesugihan
Menuju Penobatan


__ADS_3

Jika di lihat, Wulan sudah tak nampak seperti manusia, dia bagaikan seonggok daging yang akan membusuk.


Rasa sakit yang di terima Wulan dari malam menjelang hingga terbitnya sang surya harus dia jalani, selayaknya tiga kali lipat rasa sakit seorang ibu yang akan melahirkan secara normal.


Jika seorang ibu yang melahirkan layak diberikan surga, bagaimana dengan dirinya? Yang menjadi penerus perjanjian laknat dengan sang Iblis. Namun pasti Tuhan telah memperhitungkan.


Tubuh yang berwarna merah, darah di mana-mana, dan tahapan mengeluarkan batu pun dimulai. Dengan kontraksi yang sangat kuat pada otot rahim Wulan, diikuti dengan pembukaan leher rahim secara bertahap dengan rasa sakit yang terus meningkat. Setelah itu, otot panggul Wulan seperti mendorong batu itu ....


"AAAAAGGHHK!!!"


Pekikan Wulan seolah mengguncang neraka, mengundang iba bidadari surga, dan semua tatapan iblis dari segala penjuru memandang langit kelam, seolah tak percaya, akankah sifat keiblisan yang mengalahkan mereka terlahir dari mahluk bernama ... manusia.


Plughk!!


Batu Sudojiwo akhirnya keluar dari intinya, disertai darah dan pancaran cahaya merah menyala yang sangat menyilaukan.


Sri lantas segera mengambil wadah yang sudah di persiapkan di bawah ranjang tempat tidur Wulan, dimana disana sudah terdapat darah yang menggenang.


Sri mengambil wadah yang menjadi penampung batu itu dengan sangat hati-hati, sambil tetap membaca mantra


Sri lantas melirik Wulan yang sudah terkapar dengan keadaan yang mengenaskan, dia lantas membisikan sesuatu kepada Wulan. "Selamat Nona, anda resmi menjadi pemegang kuasa batu Sudojiwo."


Wulan tak sadarkan diri, Sri keluar dari kamar Wulan untuk menyerahkan batu itu kepada Ki Brasta, setelahnya baru dia akan mengurus Wulan.


Benar saja, setelah batu itu keluar, keadaan Wulan yang sebelumnya nampak mengerikan perlahan pulih kembali, bercak darah mulai hilang, urat-urat yang biru pekat seperti kembali bersembunyi dalam jiwa yang mati.


Matanya kembali normal dan tanpa lingkar hitam, guratan wajahnya semakin jelas, bahkan sekarang Wulan nampak sangat berwibawa, entah karena dia memegang kuasa batu itu.


Sri akan mempersiapkan diri Wulan untuk penobatannya sebagai pemegang kuasa baru perjanjian itu, malam ini dia akan bertemu sang Tuan, dan semua keluarganya akan berkumpul di istana, bak menyambut seorang ratu baru.


.


.


Di kediaman kanjeng ibu, dia yang sedang berdiri termenung di depan jendela ruang baca, terkejut saat tiba-tiba batu Sudojiwo miliknya pecah, dan jatuh di bawah kakinya.


Kanjeng ibu sudah menduga, sejak semalam tubuhnya merasakaan sakit juga yang teramat sangat, dia bahkan tak bisa tidur semalaman. Dan hari ini, anak gadisnya Wulan, telah resmi menggantikan dirinya, tinggal menunggu penobatan pemindahan kekuasaan nanti di istana sang Tuan.


Kanjeng ibu memungut pecahan batu itu, yang seketika berubah menjadi hitam legam, dia merasakan jika kubah yang melindunginya semakin menipis.

__ADS_1


Dia harus segera mendatangi Tuannya, sebab hari ini pasti acara penobatan putrinya akan secepatnya di laksanakan, agar Wulan bisa memperkuat kembali Kubah itu, jangan sampai Kubah itu nantinya bisa di terobos oleh kekuatan yang ingin menghancurkan mereka.


Bu Sumarni masuk keruang baca menemui majikannya, "Kanjeng, sudah waktunya kita ke sana."


Kanjeng ibu hanya menghembuskan napasnya perlahan, "Kau sudah memberitahu Irwan dan istri-istrinya? Mereka semua harus hadir malam ini juga."


"Sudah," jawab bu Sumarni tegas.


"Ayo kita segera berangkat," pinta kanjeng ibu, lalu melenggang melewati kuncennya, untuk mempersiapkan diri.


Dia sendiri tak tau bagaimana ritual pemindah kuasaan itu, sebab dia adalah orang pertama yang memegang batu itu, walau bisa di katakan jika dia di tumbalkan juga oleh ibunya sendiri.


Mereka akhirnya berangkat menuju istana sang Tuan, namun sebelum berangkat, Mariska yang melihat jika mertuanya sudah tak mengenakan kembali kalung itu, merasa jika kepergian kali ini pasti karena sesuatu yang besar telah terjadi, dia tau jika Wulan sudah menjadi pewaris perjanjian itu.


Namun entah kenapa firasat Mariska memburuk sejak semalam, dia akhirnya menyeret Yanti ke kamar pembantunya itu saat dia sedang di dapur sendirian


"Nyonya—" kejutnya saat majikannya menarik paksa menuju kamarnya.


"Aku ngga tau, tapi perasaanku ngga enak Yan, tolong jaga Putra, kamu hubungi Disa minta supaya Disa menjaga Putra ya!" ucapnya penuh penekanan.


Yanti yang melihat tatapan menghiba majikannya itu, hanya bisa mengangguk pasrah, sejak kemarin dia tak bisa menghubungi Disa, dia tak tau apa hari ini Disa bisa di hubungi atau tidak.


.


.


.


Back to story ....


Disa dan Tia mereka ulang tugas yang di rencanakan saat di lereng gunung, inilah waktu merealisasikannya. Wiwit hanya tersenyum.


Setelahnya mereka bersiap mendatangi rumah kanjeng ibu layaknya seorang pekerja yang akan menemui sang majikan.


Mereka berusaha menyembunyikan rencana jahat pertamanya di balik palung hati yang paling dalam, agar tak terbaca oleh siapapun, tercium mahluk apa pun yang berada atau bersemayam di dalam kubah itu.


Ketenangan bercampur ketegangan tak mampu mereka hindari, saat di depan gerbang sang majikan kini posisi, begitu mencekam yang dirasa, sangat berbeda saat membawa diri berkunjung tanpa benci.


"Dis, Ya," ucap Wahyu sambil membukakan pintu gerbang untuk memberi akses masuk pada tamu teman sepekerjaannya, lalu memandang Wiwit "Eh, Wiwit? mau ngelamar kerja lagi?"

__ADS_1


Tia berkata, "Anu pak! Mmm—"


"Iya pak Wahyu," potong Disa yang ngeri akan kecerobohan Tia dalam berucap, nanti malah di curigai batin Disa. "Mau ketemu kanjeng Ibu."


Wahyu menimpali ucapan Disa, "Tapi kanjeng Ibu—"


"Halah." Wiwit geram sambil menepuk pundak Wahyu untuk mempengaruhi kesadarannya. "Kelamaan."


"Oke silahkan masuk, nona-nona cantik," ucap Wahyu yang mengutarakan kata-kata di luar pemikirannya.


Disa dan Tia masuk lewat samping hendak menemui Yanti dan Fatmah sebelum menemui Mariska. Sementara Wiwit setelah melewati kamar-kamar pembantu lewat belakang, dia terus berjalan dengan langkah pasti menuju kamar bu Sumarni dari arah dapur.


Dengan wajah ketakutan, Fatmah hendak pergi bersama Putra yang sedang di gendongnya, namun Tia mencekalnya.


"Mba, jangan panik, tetap di sini, di kamar ini, dengan Putra dan Yanti, biar saya yang akan mengamankan kalian," ucap Tia selayaknya seorang penyelamat.


Disa memutar bola matanya, lalu menghampiri Yanti.


Setelah Yanti menyampaikan kepergian keluarga kanjeng Ibu beserta bu Sumarni. Disa pun bingung mendengar kabar itu, do'a dan usaha yang dia lakukan selama ini, dalam setiap gerak-gerik dan kerja kerasnya seperti tidak membuahkan hasil, akankah dia mengalami masa pasrah di dalam do'a, tanpa melakukan apa-apa.


Logika dan akal sehatnya bicara, dia akan terus berusaha. Disa meninggalkan Tia dengan tugasnya, menuju Wiwit dengan berlari.


Prakk!!


Disa melihat Wiwit yang sedang mendobrak pintu kamar bu Sumarni lalu berteriak, "Mba!! hentikan, bu Sumarni tidak ada di tempat," sergah Disa sambil berlari menghampiri.


"Kata Yanti, dia sedang pergi bersama keluarga Kanjeng Ibu dengan terburu-buru, mungkin akan kembali dalam beberapa hari," sambung Disa dengan menatap Wiwit heran.


Wiwit hanya tersenyum, lalu memandang lubang menganga pada pintu yang sudah di rusaknya.


Disa menoleh perlahan menuju arah pandang Wiwit.


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2