Pesugihan

Pesugihan
Tuhan?


__ADS_3

Setelah ritual menyiksa yang Wulan alami, seminggu kemudian ia siuman.


"Anda sudah bangun Nona?" sapa Sri lantas membantu Wulan untuk duduk, sebab dia akan memberikan air minum, yang pastinya sangat di butuhkan tubuh Wulan saat itu.


Dengan senang hati Wulan menerima gelas itu, dia minum dengan rakus sebab kerongkongannya sangat terasa kering.


"Berapa lama aku ngga sadarkan diri?"


"Seminggu ... tunggu sebentar ya Nona, Saya ambilkan makanan untuk Nona," ucap Sri segera bangkit dari tempat duduknya.


Wulan tak menghalangi, selain haus dia juga merasa lapar. Di sela waktu dia menunggu Sri membawakan makanan, ia melamun mengingat kejadian seminggu yang lalu.


"Lama sekali aku tak sadarkan diri, kenapa aku gak mati saja selepas ritual mengerikan itu? Mungkin akan lebih baik," lirihnya pelan mendekati berbisik.


"Jika anda mati seluruh keluarga Nona juga pasti mati," jawab Sri yang membuat Wulan terkejut, sebab dia tak mendengar suara langkahnya.


"Setelah ini apa yang harus aku lakukan lagi?" tanya Wulan dengan pandangan menelisik.


"Sebaiknya Nona makan terlebih dahulu, baru nanti saya jelaskan semuanya, apa saja yang akan Nona alami, dan yang harus Nona lakukan."


Nafsu makan Wulan tiba-tiba hilang setelah mendengar perkataan Sri, namun dia butuh tenaga saat ini untuk memikirkan nasib dirinya kedepan.


Walau selang infus masih menempel di tangannya, namun dia membutuhkan banyak energi lain agar kondisinya segera pulih.


Setelah menghabiskan makanannya, tanpa merasakan rasanya, Wulan kembali meminta penjelasan terhadap Sri.


"Lanjutkan," ucapnya singkat.


Sri tersenyum sebelum berkata, namun Wulan menatap datar dirinya.


"Nona melihat kalung bermata merah yang ibu anda kenakan?"


Wulan mengangguk, menjawab pertanyaan Sri. Kalung dengan batu merah menyala seperti darah itu sangat mencolok menurut Wulan.


"Itu adalah batu Sudojiwo, dimana nanti Nona memiliki batu seperti itu juga, dan saat ini batu yang berada di tangan ibu Nona perlahan-lahan mulai retak dan akan hancur nantinya, hanya menyisahkan bingkai kalungnya saja," jelas Sri.

__ADS_1


"Batu sudojiwo adalah inti kekuatan dari pesugihan ini, sebagai menopang kubah magnet yang melindungi rumah kanjeng ibu ... anda tau kan? orang baik sekalipun ada saja yang tidak suka, apalagi kelurgamu yang menganut pesugihan, dimana harus menyingkirkan para pesaing dari kalangan baik sampai kalangan yang menganut pesugihan juga, batu itulah sebagai penangkal tolak bala segala macam santet kiriman sebagai perlawanan." Sri menatap sayu langit-langit kayu dengan memasang wajah merayu.


"Jangan khawatir ... selama proses yang Nona jalani, kubah maghnet keluarga kanjeng ibu di perkuat para abdi tuan termasuk bu Sumarni melalui kekuatan sang tuan."


"Namun, jika kau memilih mati atau batu sudojiwo tidak segera kau dapatkan sampai batu kanjeng ibu hancur ... maka bukan hanya ancaman mati dari sang tuan saja yang akan keluarga kalian dapatkan ... namum serangan santet kiriman yang selama ini tertolak dan tertahan selama bertahun-tahun, akan tembus menghujam tubuh kalian semua dengan sangat mengeriakan, tanpa henti." Mata Sri bertemu pandang dengan tatapan Wulan yang mulai faham.


"Dan yang pasti, keluarga anda akan merasakan rasa sakit teramat sangat perlahan tanpa di jemput segera oleh kematian—"


"Bagaimana aku memiliki batu itu?" tanya Wulan heran memotong ucapan Sri, apa nanti sang Tuan akan memberikannya, pikirnya.


Sontak membuat Sri di atas angin, yang merasa bujukannya kepada Wulan untuk bertahan akan berjalan mulus.


"Tidak, nanti batu itu akan keluar dari tubuh Nona, dan saat proses itu, Nona akan merasakan kesakitan lagi, sampai di titik dimana anda benar-benar merasa lebih baik mati," ucap Sri dengan tersenyum miring.


"Setelah itu?" ujar Wulan, tak terpengaruh dengan senyum mengerikan Sri, dia ingin tau apa saja hal yang akan di hadapinya di kemudian hari, saat dia sudah menjadi pemegang kuasa dari perjanjian itu.


Sri sedikit heran, sebab tak ada rasa ketakutan sama sekali di sorot mata Wulan, dia melihat jika Wulan sangat tenang, seakan dia sudah siap menerima perjanjian keluarganya itu.


"Anda sungguh luar biasa Nona, saat orang lain masih merasakan trauma yang teramat sangat, bahkan banyak yang tak selamat setelah melakukan ritual itu, namun Anda seperti sudah sangat siap, menjadi seorang penerus."


Sri bangkit, dia memilih berdiri menghadap keluar jendela sebelum menjawab pertanyaan Wulan.


"Banyak ... bahkan bisa dihitung dengan jari siapa-siapa saja yang berhasil melakukan pesugihan ini, kami juga tak sembarangan membantu orang."


Sri menoleh sekilas pada Wulan, namun dia kembali menatap hamparan hutan di depan sana.


"Anda tau Nona, pesugihan adalah sebuah janji dimana seseorang itu benar-benar sudah tak memiliki sebuah keimanan dalam dirinya, dia tak percaya lagi pada Tuhan yang dia sembah, dan memilih meminta bantuan kepada Tuan kami, barulah kami bisa membantunya."


Deg...


Perasaan Wulan kacau, pantas saja, orang seperti keluarganya mudah sekali mengikat janji laknat seperti ini, pantas dia di jauhkan dari hal yang berbau keagaman oleh keluarganya, dan di buat menjauh dari orang-orang, sebab dia memang di persiapkan untuk seperti ini.


Tuhan? Tuhan yang mana dia pun bingung, sebab dia tak pernah mempelajari agama apapun di negaranya ini. Dulu juga saat di sekolahannya tempat dia belajar, dia akan meninggalkan ruangan kelas atas ijin dari guru agama yang mengajar. Dia sengaja di sekolahkan di tempat dimana mata pelajaran agamanya berbeda dengan agama yang tertera di biodata keluarganya. Sungguh licik memang usaha iblis merancang mahluk pengikut abadinya kelak.


Sri menyeringi saat menatap mata Wulan yang nampak terkejut. "Kami tak ingin membuang-buang waktu dan energi pada seseorang yang masih punya sedikit kepercayaan itu, sebab sudah pasti ritual itu akan gagal."

__ADS_1


"Jika gagal dalam ritual, apa tetap kami semua akan mati?" Tanya Wulan penasaran.


"Ya, sebab kalian sudah membuat permohonan, namun kami tak bisa mengikat jiwa kalian nanti, sebab kalian kami habisi hanya karena sudah mengetahui ritual kami."


"Mengikat? maksudnya?"


"Jika kalian mati, jiwa kalian akan kekal abadi bersama kami."


Tubuh Wulan bergetar mendengar penjelasan Sri, sebegitu mengerikan sebuah perjanjian ini, mengapa neneknya tak memikirkan dampaknya, hanya memikirkan hawa nafsu duniawi saja.


"Bagaimana denganku, bukan aku yang membuat perjanjian itu, apa aku juga akan menerima dampaknya?"


"Nona adalah tumbal dari perjanjian keluarga Nona, sudah pasti Nona juga terlibat di dalamnya, dan Nona sudah di persiapkan untuk melanjutkan perjanjian ini."


Wulan geram, dia yang tak tau menahu harus menanggung akibat dari perjanjian laknat keluarganya itu. Namun nasi yang Wulan fikir sudah menjadi bubur kini mengerak dan gosong karena api tak segera di matikan. Inilah yang memang terjadi padanya.


Ingin marah juga dia bingung marah pada siapa, dia tau tak sepenuhnya ini kesalahan sang ibu, sebab kematian di rasa mungkin lebih menakutkan bagi ibunya.


"Maka dari itu, sebaiknya anda persiapkan tenaga anda, sebab batu itu akan segera muncul, dan itu benar-benar membutuhkan kekuatan tenaga anda."


Setelah mengatakan hal itu Sri lantas pergi meninggalkan kamar Wulan, membiarkan Wulan dengan pikirannya sendiri.


Wulan termenung, memikirkan nasib dirinya dan keluarganya, mungkin ini yang di rasakan sang ibu dahulu, dia tak tega mengorbankan anak-anaknya, terbukti dia mengulur waktu yang padahal sudah waktunya dirinya menerima perjanjian itu.


"Takan selamanya, diri ini menjagamu ... takan selamanya setiamu membuatku di sampingmu, jika bukan atas inginku yang meninggalkanmu ... berarti 'TUHAN' sudah menjemputku." Wulan teringat ucapan sang kekasih Prima, sebelum kematiannya.


"Apa 'TUHAN' itu kah yang di maksud Sri?" gumam Wulan membuka logikanya tentang keberadaan Sang Pencipta.


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2