
Gelapnya hari yang mulai beranjak malam, dua sukma manusia melesat bagaikan kilat, karena efek cahaya waktu yang di pancarkan tubuhnya, seakan memanjang dari jejak yang di tinggalkan.
Menuju arah gazebo dengan seribu alasan rancu yang di bisikan setan di pikiran, agar tercipta ragu lalu manunggu tanpa harus berjibaku.
Namun ada satu yang tersemat, sebuah amanat yang di ucapkan malaikat di hati mereka yang saling mengikat, membuat mereka kuat untuk segera meruntuhkan perjanjian laknat.
Berlalunya mereka di iringi hujan cahaya di luar kubah bagai percikan kembang api, serta mahluk-mahluk menyeramkan yang seakan silih berganti ingin menembus kubah. Baik santet kiriman yang dari dulu tertahan, atau serangan yang di kirim ulang oleh musuh-musuh dan para pesaing dari pesugihan kanjeng Ibu.
Serangan dan benturannya secara perlahan mengikis kekuatannya, hingga lapisan pelindung kubah bagai gelembung sabun yang akan pecah.
Disa dan Wiwit menatap sejenak pintu ghaib tak kasat mata itu, angin berhembus menerbangkan rambut mereka, sebelum melangkah mereka berdo'a berharap Tuhan selalu melindungi.
Amung muncul kembali dengan tersenyum, karena nanti keberadaan dirinya di alam ghaib akan lebih leluasa, sebab memang itu alamnya. Tidak seperti sekarang saat berada di dalam kubah ini.
Seet!!
Amung melesat mendahului, mengeluarkan cahaya biru seperti tali dan menghancurkan pintu ghaib itu, memberi jalan Disa dan Wiwit untuk bisa masuk mengikuti arah kemana dia pergi agar tidak tersesat.
Dengan saling berpegangan tangan, Disa dan Wiwit mengikuti arah perginya Amung. Mereka seolah terbang bagai burung melewati lorong waktu yang tembus pandang, dari pintu ghaib gazebo menuju pintu istana sang Tuan.
Saat perjalanan itu Disa melihat di luar kubah istana Tuan, ribuan mahluk-mahluk menyeramkan yang berterbangan, seolah sedang menjaga sarangnya dari serangan. Disa berpikir, jika dirinya tidak akan mampu melawan.
Disa kalut, kekuatannya kali ini seperti mustahil untuk melenyapkan bu Sumarni, jika para penjaganya saja sebanyak ini. Jika hanya kami berdua, mengapa bu Sumarni manyambut dengan pasukan yang begitu banyak, pikirnya seperti akan kedatangan lawan yang tangguh.
Ternyata kenyataan tak seperti yang Disa perkirakan. Keyakinannya mulai kabur, jika boleh jujur, sempat terlintas di pikirannya untuk mundur. Disa mulai menangis, teringat akan nasib adik kesayangannya Bagas, Mariska dan Putra, Tia serta teman-temannya yang lain.
Beban tanggung jawab di pundaknya kini terasa semakin berat, jangankan untuk melangkah untuk di pikul saja terasa susah. Dia melihat kebelakang cahaya tubuhnya yang mengular bagai se'ekor naga yang akan perlahan terkikis panjangnya.
Suatu kemustahilan jika hanya kekuatan dirinya untuk melawan mereka, karena cahaya itulah yang menjadi batas waktu sukmanya berada di alam ghaib ini. Kembali selamat atau pulang terlambat dan tertahan selamanya di alam ini sampai kiamat.
"Wit, jika yang ku lihat seperti ini—" ucap Disa dengan menitikan air mata yang tidak dapat dia bendung mengalir membasahi pipi. "Aku gak bakalan mampu menghadapi bu Sum."
Wiwit mengulas senyumannya kembali ....
"Saat di lereng gunung ki Wiryo berkata, akan membantu," ucap Wiwit dan menunjuk arah timur. "Lihat disana, Maung Rekso sedang melesat berlari menuju kesini."
Disa melihat arah yang di tunjuk Wiwit, disana nampak Maung Rekso memimpin ribuan pasukan menyeramkan bermacam hewan, sudah mendekat mengarah istana sang Tuan, siap untuk menyerang dengan wajah-wajah ganas penuh dendam.
"Lihat arah barat," lanjut Wiwit dengan tersenyum manis yang selama ini dia simpan. "Kau kenal dia?"
"Sado!" teriak Disa kegirangan, meski tak mungkin Sado mendengarnya. Ia pun mulai kembali mendapatkan kepercayaan dirinya, yang melihat ribuan mahluk menyeramkan sejenis Sado bermacam rupa dan bentuk, terbang menuju pintu gerbang sang Tuan untuk menuntaskan dendam yang belum terbalaskan.
Mereka akan bersatu untuk menjebol gerbang istana Tuan, dan menyerang sang pemilik kekuatan tertinggi di kalangan pesugihan yang sudah lama bertahan dan tidak terkalahkan.
Namun ada sedikit rasa keberatan di benak Disa.
__ADS_1
"Yang benar saja Tuhan!
Aku tau Engkau Maha Segalanya ... tapi,
Mengapa Engkau kirimkan aku bantuan lewat mereka?"
Disa bergumam perlahan sekedar mempertanyakan.
"Kau tak meminta bantuan siapapun, juga tak bersekutu dengan mahluk apapun," sergah Wiwit dan mencengkram tangan Disa yang masih dia genggam. "Disa ... kau masih hamba Tuhan, yang tetap setia."
Perkataan Wiwit membuat Disa membisu, bibirnya pun kelu karena terharu.
"Manusia dari dahulu selalu di adu domba oleh iblis, inilah tonggak sejarah dunia ghaib. Di mana manusia berhasil membuat para iblis, saling berseteru!" ucap Wiwit dengan mengepalkan tangan satunya.
Rupanya Ki Wiryo memanfaatkan Sado dan Maung Rekso agar menghasut para musuh pesugihan kanjeng Ibu. Untuk segera melakukan serangan bersama-sama melawan dan menggulingkan puncak pimpinan yang berkuasa saat ini di dunia pesugihan.
"Sebenarnya aku sama Asih mau menjelaskan rencana ini, namun ki Wiryo selalu mencegahnyanya. Ki Wiryo selalu menimpali pertanyaan kamu Dis, dengan berbohong, begitupun saat Maung Rekso dan Sado pergi. Dia berpikir jika kamu terlalu percaya diri malah akan membuat ilmumu tak terkendali seperti saat di lereng gunung," jelas Wiwit.
"Aku mengerti, kita fokus melenyapkan bu Sumarni, masalah Tuan dan ribuan pasukannya biar mereka yang melawan."
Sukma mereka yang mengikuti Amung mendekati pintu penghubung istana Tuan, mereka seperti tersedot masuk mendarat di dalam gerbang utama.
.
.
Para mahluk yang di bawa Maung Rekso, dan Sado berhasil mendobrak pintu utama istana. Pintu gerbang yang terbuka secara paksa membuat para penjaga di sana panik dan segera melakukan pertahanan.
Perang Bayanaka pun terjadi, dua kubu berseteru dengan amarah dendam diraut wajah mahluk-mahluk beragam wujud, membuat perang berlangsung sengit dan penuh kejadian yang sangat mengerikan.
Mereka terus merangsek masuk menuju gerbang utama sang Tuan. Mungkin akan di hadang ribuan mahluk penjaga lainnya yang fokus bertugas menjaga ritual penobatan, akankah sang Tuan menyadari serangan mendadak musuh-musuhnya meski terlambat.
Disa dan Wiwit mencari keberadaan Bu sumarni mengikuti Amung yang sedang menyusuri dengan penciumannya. Kini mereka menuju pintu berikutnya yang berada di sana.
Bu Sumarni sudah bersiap menghadang, dia lantas meminta para penjaga jenis penyerang milik kanjeng ibu dan keluarganya untuk melawan Amung, dan melumpuhkannya.
Dia sendiri yang akan menyingkirkan Disa dan Wiwit, sebab dia benar-benar murka dengan dua anak manusia yang sudah terlalu jauh mencampuri urusannya.
Di sebabkan Amung merasa akan kewalahan melawan mereka yang berjumlah banyak. Amung pun menggiring mereka menjauh agar mendapat bantuan dari Sado dan Maung Rekso agar bisa segera mengalahkannya, dan cepat membantu Disa.
Kini tempat itu menjadi lengang, tersisa mereka bertiga yang notabennya manusia tetapi memiliki kekuatan ghaib, Wiwit dan Disa memasang posisi kaki membentuk kuda-kuda, dan kedua tangan menyilang di depan dagu tanpa ragu, bersiap hendak menyerang atau menangkis serangan Bu Sumarni.
"Kalian nekat sekali, datang ke sini hanya dengan sukma kalian," ucap Bu sumarni dengan berjalan mengitari mereka berdua dengan menunjukan kuku-kukunya yang tajam.
Disa dan Wiwit hanya diam berdiri, namun tatapan mereka mengikuti arah gerak Bu Sumarni yang nampak menyeramkan.
__ADS_1
"Kau terlalu banyak bicara wanita Tua!!" umpat Wiwit lantas menyerang, sebab dia dan Disa sedang di buru waktu.
Wiwit menyerang menggunakan kuku macan, yang tertanam di sela-sela jarinya, berusaha menjangkau leher Bu Sumarni.
Bu Sumarni dapat dengan mudah menangkis, mengelak dan menghindar semua serangan yang Wiwit dan Disa lakukan.
Sreett!
Bu Sumarni berhasil melukai lengan Disa, namun Disa melihat jika tubuhnya seperti angin yang di lukai namun kembali lagi.
Disa menyeringai, sebab merasa jika Bu sumarni tak dapat melukainya, saat Disa akan kembali menyerang, Wiwit menahannya, memberi tahu untuk tak gegabah dalam menyerang, sebab jika sukma Disa terluka, maka raganya yang menerima luka tersebut, dan bisa membahayakan nyawanya.
Posisi Bu Sumarni masih di atas angin, sebab dia mengganggap remeh ilmu Disa dan Wiwit.
Lantas sekarang giliran Bu sumarni menyerang mereka dengan membabi buta, serangan demi serangan di lakukan Bu Sumarni, Disa dan wiwit sedikit kewalahan, bahkan berulang kali tubuh mereka terkena sabetan kuku tajam Bu Sumarni.
Di lain tempat, dimana raga mereka berada, Tia yang akan membaringkan tubuh Putra yang sudah kembali terlelap, mendadak terkejut melihat darah yang mengalir dari tubuh Disa dan Wiwit.
Tia panik lantas segera membuka lengan baju Disa dan menyobek celana di bagian kaki Disa yang terdapat darah merembes disana.
"Ada apa dengan kalian berdua, ya Tuhan aku mohon selamatkan teman-temanku" pinta Tia dalam hati.
Air mata Tia mulai mengalir membayangkan pertarungan sengit yang terjadi di alam sana, Tia terisak berusaha mengobati tubuh Disa yang terluka.
Pikirannya terpecah sebab, dia juga melihat darah merembes dari tubuh Wiwit semakin banyak.
Saat tengah kalut, Yanti tersadar, telinganya berdengung, pandangannya mengabur, dia mendengar suara seseorang tengah terisak.
"Ya," panggilnya, bangkit sambil memegangi kepalanya yang nampak berat.
"Yan, tolong aku, Disa ... Wiwit," Tia tak mampu melanjutkan perkatannya, tangisnya pecah, dia sangat ketakutan.
Fatmah ikut tersadar dari pingsannya, dia berusaha menarik tangan yang terikat kuat di kaki ranjang, namun tak mampu dia lepaskan, lantas memilih diam dan pasrah, dia bahkan menyandarkan kepalanya di ranjang sambil melirik Tia dan Yanti yang tengah terisak di hadapan tubuh Disa dan Wiwit.
Dia tersenyum sinis, "Bukan kah sudah aku katakan, mereka tak akan bisa melawan Bu Sum!"
Tia dan Yanti tak menggubris ucapan sinis Fatmah, mereka masih berjuang mengobati luka-luka di tubuh Disa dan Wiwit.
Hingga, cipratan darah yang tersembur dari mulut Disa mengenai wajah mereka berdua, Tia jatuh terduduk, Yanti gemetar hebat, air mata jatuh tanpa isakan yang keluar, mereka shock, melihat luka yang berada di dada Disa.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...