Pesugihan

Pesugihan
Ruwatan


__ADS_3

Wulan di antar oleh abdi Ki Brasta menuju kamarnya, saat sudah memasuki kamar itu, Wulan merasa merinding, sebab di kamar itu banyak sekali terdapat patung-patung yang menurutnya sangat mengerikan, namun satu yang pasti Wulan menyadari kesamaan itu, dimana patung yang terdapat di kamarnya saat ini sangat tak asing, sebab patung-patung itu juga ada di kediamannya, di ruang baca, di ruang tamu, bahkan di toko sembako milik keluarganya.


Wulan heran apa hubungan keluarganya dengan rumah ini, sebab dari kecil hingga dewasa, baru sekali ini Wulan menginjakan kaki di tempat ini.


Brakk...


Wulan berjengit tatkala mendengar suara jendela yang terbuat dari kayu itu terbuka sendiri, Wulan mendekati jendela tersebut berpikir mungkin tertiup angin sebab terlihat dari hordeng yang di pasang separuh itu nampak berkibar-kibar dengan kencang.


Saat Wulan akan menjangkau daun jendela itu untuk menutupnya, betapa terkejutnya dia saat melihat sebuah gazebo yang tak asing seperti yang ada di rumahnya.


Tempat apa ini? Kenapa perasaanku mendadak tidak enak, tingkah ibu dan ayah juga sangat berbeda.


Wulan melihat di depan gazebo itu, nampak para pekerja dirumah itu yang berlalu lalang seperti tengah menyiapkan sesuatu. Terlihat seperti akan ada acara siraman pikir Wulan, sebab ada sebuah gentong besar, tempat itu juga di hiasa bunga-bunga mawar merah.


Wulan bergidik melihat pemandangan itu, saat dia kembali akan menatap tempat itu, semua pekerja tiba-tiba menatap ke arahnya, dengan pandangan yang sulit di artikan, Wulan hanya tersenyum berharap bisa mencairkan suasana, namun tak ada satu pun balasan dari para abdi itu. Hingga akhirnya Wulan memilih segera menutup jendelanya dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Tak lama terdengar suara ketukan di pintu, sebenarnya Wulan enggan sekali bangun, namun ketukan di pintu tak berhenti, hingga dengan rasa malas dan jengkel dia pun membuka pintu kamarnya.


Terlihat abdi muda tengah menunduk ketika Wulan membukakan pintu.


"Maaf, Non sudah waktunya makan malam, di tunggu sama keluarga Non di meja makan," ucap sang abdi.


"Iya," balas Wulan singkat, namun sang abdi tak bergerak dari tempatnya berdiri, seolah-olah tak percaya akan perkataan Wulan.


"Kenapa?" tanya Wulan jengkel, karena dia memang akan membersihkan diri, setelahnya baru akan makan malam.


"Nona sudah di tunggu Ki Brasta di meja makan, jadi saya harap Nona segera kesana, tak perlu membersihkan diri Nona," jelas sang abdi, barulah setelah mengatakan hal itu dia beranjak pergi.


"Siapa Ki Brasta? Apa pemilik rumah ini?" gumam Wulan.


Wulan hanya mencuci wajahnya, agar nampak sedikit segar, dia sebenarnya tak terlalu lapar, namun dia tak mau di anggap tak sopan jika tidak datang memenuhi undangan makan malam sang empunya rumah.


Wulan berjalan ke arah ruang makan, saat keluar kamar dia sebenarnya tak tau di mana letak ruang makan, sebab rumah itu juga besar, dengan banyak pintu-pintu seperti kamar.


Saat dia menuju ruang tamu, ada seorang abdi di sana yang sedang membersihkan ruang tamu, jadilah dia meminta diantar ke ruang makan.


Di ruang makan semua keluarganya sudah menunggu, di ujung kepala meja ada seorang lelaki tua mengenakan ikat kepala berwarna hitam, dan pakaian serba hitam, walau nampak tak muda lagi Wulan melihat jika perawakan lelaki tua tersebut masih nampak gagah.


Di sebelah kanan lelaki tua itu ada orang tua Wulan, beserta kakak dan iparnya Mariska.


Sedang di sebelah kiri yang berhadapan dengan orang tuanya ada Bu Sumarni, dengan bangku kosong di tengah, dan Mita kaka iparnya yang berhadapan dengan Irwan.


Wulan berjalan dia lebih memilih di sebelah Mita yang berhadapan dengan kakak iparnya Mariska di ujung meja, namun langkahnya di hentikan oleh sang pemilik rumah yang memintanya untuk duduk diapit oleh Bu Sumarni dan Mita.

__ADS_1


"Nona Wulan, silahkan duduk di sebelah Sumarni," pinta Ki Brasta dengan tatapan tajam, yang membuat nyali Wulan seketika menciut.


Wulan tak membantah ataupun menjawab, entah seperti keharusan, dia segera menarik kursi di tengah-tengah itu.


Ayah dan Ibunya tersenyum kearahnya, seolah-olah memberi semangat, ingin sekali Wulan mendengus.


Tak lama Ki Brasta meminta tamunya untuk segera menyantap hidangan makan malamnya yang sudah tersedia, dan mereka semua makan dalam hening. Wulan melihat jika kakak iparnya Mita nampak tak napsu makan, entah karena apa? pikirnya.


Setelah selesai makan, Ki Brasta meminta semua keluarga kanjeng ibu untuk berkumpul di ruang tamu, dia akan mengatakan sesuatu.


Mereka semua pun membubarkan diri, Mita bergelayut pada Irwan sedang Wulan dan Mariska berjalan di belakang mereka mendengar keluhan Mita.


"Mas ... aku takut di sini, boleh ngga aku tidur sama Mbak Mariska, mas yang tidur sendiri," ucapnya yang membuat Wulan geli. Namun tidak dengan Mariska dan Irwan, sebab mereka berdua tau tempat apa ini, wajar jika Mita merasa ngeri berada di sini.


"Ya sudah, kamu pindah kamar sama Mbak-mu." Irwan setuju, dia juga tak ingin di ganggu saat tidur dengar rengekan Mita nantinya.


"Makasih Mas," ucap Mita manja. Dia lantas menoleh kebelakang sambil berjalan. "Mbak ngga papa ya tidur bareng aku?" Mariska hanya tersenyum dan mengangguk menjawab pertanyaan madunya itu.


'Cih ... !" ejek Wulan mendengar permintaan kakak ipar keduanya itu.


Mariska malah memeluk lengan Wulan, sebab setelah malam ini Mariska berpikir jika adik iparnya itu akan mengalami masa sulit, sebab Mariska tak tau ritual apa saja yang akan di alami oleh Wulan.


Wulan kembali ke kamarnya, sedang Mita dia membereskan barang-barangnya untuk pindah ke kamar madunya.


"Bukan kapasitasku Mit menjelaskan ini, kalo ngga, coba kamu tanya mas Irwan apa bu Sum, mungkin mereka mau jelasin, aku juga ngga begitu tau Ki Brasta," jawab Mariska yang membuat Mita semakin heran dan aneh.


Belum lama mereka semua kembali ke kamar, para abdi sudah mengetuk kamar mereka lagi, memberi tahu jika Ki Brasta meminta mereka semua berkumpul, dan itu sungguh membuat Wulan dan Mita sangat kesal, terlebih Wulan, sebab lagi-lagi keinginannya untuk mandi tertunda lagi.


Ki Brasta sudah duduk bersila, seperti biasa kanjeng ibu dan pak Hanubi sudah duduk di sana begitu pun bu Sumarni.


Wulan buru-buru duduk di sebelah ayahnya Hanubi, dia menghindari bu Sumarni.


Setelah semua keluarga berkumpul Ki Brasta segera menjelaskan kenapa mereka semua di panggil.


"Nak Wulan ... sebentar lagi kita akan melakuakn ruwatan untuk Nona, nanti abdi saya yang akan membantu Nona mempersiapkan diri."


"Ruwat?" Wulan merasa heran, sebab yang dia tau ruwatan di lakukan untuk pengantin, atau membersihkan diri dari dosa atau mahluk yang bersemanyam dalam diri seseorang.


"Iya Nona, membersihkan diri untuk persiapan pergantian generasi secara turun temurun dari keluarga Nona," jelas Ki Brasta yang masih terdengar ambigu bagi Wulan.


Wulan menatap sang ibu, meminta penjelasan lewat tatapannya, namun sang ibu memilih mengabaikannya.


"Silahkan Nona persiapkan diri, kami semua akan menunggu di halaman belakang."

__ADS_1


Wulan ingin sekali membantah, namun lidahnya kelu, dia bahkan seperti terhipnotis oleh kata-kata ki Brasta, hingga tak bisa menolaknya.


Wulan bangkit di ikuti oleh dua orang abdi yang akan membantunya mengenakan kemben untuk acara siraman.


Mita dan Mariska juga kembali ke kamar mereka, di ranjang mereka sudah tersedia kebaya putih yang akan mereka kenakan, entah kapan para abdi itu menaruhnya di sana.


Saat Mita mengenakannya itu langsung pas di tubuhnya, Mita sampai berdecak kagum, "kok bisa mereka tau ukuran kita ya Mbak?"


"Sudah ayo pake cepetan! kita udah di tunggu, biar cepet selesai trus tidur, ngga cape emang kamu?" ajak Mariska.


Mita pun segera mengikuti perintah Mariska, dia juga sebenarnya lelah ingin segera istirahat apa lagi ini sudah sangat malam, namun dia tau jika kedatangan keluarga mereka ketempat ini memiliki tujuan meski ia tak tau apa itu.


Kanjeng Ibu dan Wulan sudah duduk di halaman belakang, membelakangi gazebo yang sama seperti di kediaman mereka. Kanjeng ibu dan Wulan mengenakan kemben berwarna putih, di hadapan mereka ada sebuah gentong untuk acara siraman Wulan.


Bu Sumarni berdiri di sebelah kanjeng ibu, sedang Ki Brasta berdiri di tengah-tengah mereka.


Malam itu suasana sangat sunyi, bahkan suara hewan pun tak terdengar, dan sepertinya daun-daun kini sama sekali tak bergoyang, hawa terasa dingin namun tak ada angin.


Mita sebenarnya ingin sekali berbincang dengan Mariska yang duduk di sebelahnya, namun dia tak berani, sebab entah kenapa seperti mereka sedang menunggu sebuah acara sakral, bahkan terlihat lebih sakral dari acara siramannya dahulu.


Mita juga melihat jika tatapan Wulan saat itu nampak kosong, Mita merasa iba kepada adik iparnya itu, dia berpikir jika adik iparnya mungkin di ganggu mahluk tak kasat mata hingga harus di ruwat.


Sedang Wulan, dia merasa benar-benar tak dapat mengendalikan dirinya, saat Ki Brasta mengucapkan kaliamat yang sama sekali tak di mengerti olehnya saat dia menyiram air kepada sang ibu, kemudian kepada dirinya.


Tak henti-henti Ki Brasta menggumamkan mantra, Wulan merasa jika ada angin kencang di punggungnya sepertinya arah angin itu hanya berasal dari gazebo di belakangnya, ingin sekali Wulan menoleh, sebab air siraman yang dingin di tambah dengan angin, membuat tubuhnya bergetar, namun Ki Brasta tak menghentikan semua aktifitasnya.


Bibir Wulan sudah gemetar, ingin sekali dia berteriak meminta handuk untuk menghangatkan tubuhnya, namun lagi-lagi dia tak bisa berkata sepatah katapun.


Hingga dia bisa mencium aroma harum yang sangat memabukan dari belakangnya, terlalu wangi menurut Wulan hingga keharuman yang berlebihan membuatnya juga tak nyaman.


Lagi, belaian di sepanjang punggungnya terasa, usapan lembut, bukan seperti tangan yang mengusap baginya, entahlah Wulan merasa seperi sehelai bulu halus yang mengusap punggungnya.


Sampai acara siraman itu selesai, setelah air yang berada di gentong sudah habis untuk membasuh mereka berdua.


Terlihat kalung berbatu merah yang di pakai Kanjeng Ibu retak, walau tidak kentara, dimana batu itu akan pecah dan di gantikan oleh batu baru yang akan Wulan hasilkan sendiri nantinya.


Bibir Wulan dan Kanjeng ibu sudah membiru, mereka lalu di handuki sebuah kain, dan di antar kembali ke kamar.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2