
Mendengar panggilan 'Wiwit' yang di ucapkan Tia, Disa termengung menatap wajah Peramal, menunggu jawaban apa yang hendak di ucapkan. Karena yang dia duga berbeda dengan Tia, menurut Disa Peramal itu bukan Wiwit. Namun ada hubungannya dengan Wiwit.
"Hahaha ... Nona Cawan, teman anda selain cerewet, juga sok tau!" celoteh Peramal dengan menatap Disa. Disa sepertinya masih bingung dengan panggilan cawan pada dirinya.
"Huhh ...." Tia membuang napasnya kasar, ternyata dugaannya salah, meski begitu, dia sangat berterima kasih atas apa yang telah di lakukan Peramal itu untuk menyelamatkannya.
"Bu ... Peramal__" panggil Disa.
"Asih ... nama asliku Asih."
"Bu Asih, bagaiman anda bisa mengenal Tuan Amung?" Disa lantas menatap Amung yang kini bisa dia lihat dengan mata batinnya meski belum sempurna. "Dan kenapa anda memanggilku Nona Cawan?"
Disa melontarkan beberapa pertanyaan dari sekian banyak pertanyaan yang tersusun acak dan berkutat di otaknya. Karena kejadian tadi, membuatnya mendapat banyak perubahan.
"Tuan Amung, terimakasih, telah mengijinkan saya untuk melihat wujud anda," sapa Asih pada Amung sebelum menjawab pertanyaan Disa. "Sado-lah yang mengenalkannya, setelah saya meramalmu dahulu, Nona."
"Saat itu, ilmu saya belum sanggup melihat tuan Amung, karena dia bukan mahluk sembarangan dan dia belum mengijinkan wujudnya saya lihat. Untuk meramalmu saja saya harus mengeluarkan tenaga yang sangat besar karena kamu istimewa. Sehingga saya harus menyembuhkan diri beberapa bulan di lereng gunung ini, sekaligus memperdalam ilmu saya yang belum sempurna."
Werrg!! ...
Asih bangkit dan berucap, "ayo bergegas! Sado mendapat teguran dan ancaman dari penunggu sini __"
"Issh ... " Tia memotong ucapan Peramal dan hendak terbangun namun seperti badannya terasa remuk redam.
"Kalian mencari Wiwit, kan? Nanti kalau sudah di gubuk semuanya akan jelas." Peramal memapah Disa dan Tia dan segera pergi dari tempat menyeramkan itu.
Padang rumput lagi, dua kali Disa melewati jalan ini, tak dia pungkiri suasana hatinya sekarang mulai lega, yang mungkin berbeda dengan luka dalamnya yang membuat dadanya sesak. Perbincangan ringan pun terjadi saat mereka menempuh perjalanan menuju gubuk yang di maksud Asih.
"Kita rehat dulu," ucap Asih dengan menghapus keringatnya di dahi. "Kalian liat gubuk di sana? Kita sudah dekat."
Asih menunjuk sebuah gubuk di seberang lembah yang masih telihat seperti noda coklat tua pada lukisan alam yang di dominasi warna hijau dedaunan. Ini mungkin perjalanan terakhir mereka menuju tempat di mana coretan jalur pada peta berakhir, dengan menyebrangi aliran sungai.
Disa dan Tia mengangguk melihat arah yang di tunjuk Asih, berharap Wiwit akan segera mereka temukan. Mereka pun berbaring di karpet rumput yang terhampar miring, matahari yang tegak menghujam ubun-ubun beberapa jam yang lalu, kini berada di sisi mereka berbaring seperti mengikuti.
Mereka berbagi makanan dengan perbekalan yang tersisa, untuk sekedar mengganjal perut. Panas matahari yang berubah menjadi hangat karena terserap kabut yang masih ada, dan semilir angin yang memanjakan membuat merekapun terhanyut dengan pikirannya masing-masing. Disa kembali menyempatkan diri untuk ber'doa.
Disa dan Tia melanjutkan perjalanan kembali, tanpa menggunakan peta, karena kini mereka seperti mendapatkan penunjuk jalan yang di kirim Tuhan. Wanita berpenampillan paruh baya berwajah manis bernama Asih. Jarak sudah di tempuh, kata dekat yang di ucapkan Asih beberapa waktu lalu, tetap saja bagi mereka terasa jauh.
Hari sudah menjelang sore, tepi sungai sudah terlihat, perjalanan mereka terhenti sejenak, lantas Asih mendahului menuruni curam bebatuan dan rumpun bambu, di ikuti Disa dan Tia yang saling memapah usaha menguatkan langkah mereka yang kini dirasa semakin menyulitkan.
Asih mengamati riak air sungai yang nampak jernih dan mengeluarkan sebilah belati, dan berbalik berjalan mengarah Disa dan Tia.
"Dis ...." bisik Tia lirih memanggil Disa.
"Apa Ya?"
__ADS_1
"Gunung kan menyimpan banyak misteri, Dis ...." Tia menatap Asih yang berjalan ke arahnya, dengan kalung besar di leher dan garis tepi kelopak mata yang di arsir hitam membuatnya terlihat mistis di mata Tia. "Kamu gak liat tatapan Asih? Apa dia termasuk misteri itu?"
Disa tersenyum dan balik berbisik, "Aku yakin dia orang baik, tapi waspada juga harus, sih."
Tia mengangguk, dengan gigi yang terdengar beradu karena gesekan akibat semangat yang menggebu. Dengan mengambil sedikit kuda-kuda yang dia pahami saat sekolah dulu, Tia siap beraksi.
Disa mengernyitkan alisnya bingung, melihat reaksi sahabatnya yang berlebihan.
Asih semakin mendekat menghampiri, dengan langkah cepat dan sebilah belati di tangan. Tia mendorong Disa dengan sekuat tenaga, namun karena fisik Tia yang masih lemah hanya membuat Disa terduduk saja.
'Jika kamu bukan Wiwit, bukan berarti kamu peramal juga kan? ... hey Asih! Bisa saja kamu mahluk jadi-jadian! walaupun kau sakti, aku takan menyerah begitu saja," gumamnya dalam hati.
"Awas cerewet!" ucap Asih dengan mendorong Tia perlahan kesamping dengan sikutnya. "Itu lah sipat manusia ... gampang lupa sejarah."
Asih meraih sebatang bambu dan menebasnya, dengan sedikit goresan dan irisan jadilah sebuah bambu runcing.
Tia tersipu malu dengan ucapan Asih yang seperti tau isi hatinya, dan Disa pun tersenyum.
"Hari sudah sore, kalian lapar kan?" ucap asih melanjutkan langkahnya menuju aliran sungai.
Tia melihat apa yang di lakukan Asih, dia pun penasaran lantas menghampiri dan terkagum dengan apa yang dia saksikan.
Dengan air sejernih itu ikanpun nampak berlalu-lalang, warnanya memanjakan mata. Satu persatu ikan pun di dapatkan.
"Bu Asih, sebelah sini!" Tia menunjuk arah ikan yang paling besar.
"Emang kenapa? Masa nyari ikan milih-milih?" ucap Tia heran.
"Dia lagi hamil!"
"Kan ada ikan yang lain, masa gak ada yang bisa hamil?"
"Mandul, cerewet!!" Asih terdiam, mencari cara mengatasi ocehan Tia yang selalu membuatnya pusing, lalu berucap, "Sebenarnya ... ikan di sini ikan siluman, dahulu mereka di kutuk."
Tia pun ikut terdiam dan bergidik ngeri. "Aku gak mau makan," gerutunya.
"Hahahaha ...." Asih tertawa geli melihat reaksi Tia yang pucat pasi. "Becanda!"
"Issh ...." Tia mendesis lalu tertawa ragu, dan menciprati tubuh Asih hingga basah dengan air, seraya memikirkan kebenaran cerita Asih.
Disa tersenyum dan tertawa melihat keakraban mereka yang sedang mencari ikan dengan gelak tawa.
Disa berjalan ke arah hulu menuju suara gemuruh air terjun, namun kini matanya tertuju pada sosok gadis yang sedang terduduk melamun di tepi gubuk. Kakinya menjuntai ke arah sungai di bawahnya.
"Bu Asih, siapa dia!" tunjuk Disa berharap bukan penampakan.
__ADS_1
"Dia yang kalian cari?" jawabnya tanpa melihat arah yang dituju Disa, dan tetap asik menombak ikan.
"Wiwit?" teriak Tia.
"Iya." Asih mengangguk lalu mengakhiri aktifitasnya dan membawa beberapa ekor ikan. "Silahkan membersihkan diri, sebentar lagi gelap, aku akan menunggu di gubuk."
"Apa? Di sini?" jawab Tia.
"Iya, ini kan tempat terbuka, apa gak ada bilik kusus untuk mandi?" ucap Disa menambahkan.
"Lepaskan semua pakaian yang kalian kenakan, jika tak banyak membawa pakaian ganti!" ucap Asih tak memperdulikan keluhan mereka dan bergegas menuju gubuk arah hulu.
Disa dan Tia saling menatap, "Malu!" mereka berteriak bersamaan.
"Issh ... gak bakalan ada orang yang melihat, selain kami hanya kalian yang berhasil menuju tempat ini." Asih berbalik menatap mereka. "Selebihnya, kalu tidak hilang ... yaa mati."
Disa dan Tia menatap sekeliling, berharap situasi ini bukan berada di dunia lain, merekapun kembali berdo'a dalam hati yang sempat dilupakan sedari tadi.
Disa melihat Amung tersenyum dan mengangguk, lalu menghilang.
"Tunggu sebentar, saya ambilkan kain basahan," ucap Asih setelah mendapat permintaan dari Amung yang langsung menghilang dari tempat itu.
"Coba pakaian sama perlengkapanku gak kamu keluarin sebagian, kan gak ribet begini," sesal Tia.
"Yang ada ... kamu kelelahan membawa beban terus pinsan," jawab Disa.
"Iya juga sih!"
Mereka bahagia, karena akan segera bertemu Wiwit, setelah mandi dengan kain basahan yang di berikan Asih sebagai kemben, Disa dan Tia pun bergegas menuju gubuk.
Mereka di sambut Wiwit yang sedang berdiri menanti, terlihat tetesan air mata di pipinya. Disa dan Tia menghampiri dengan kain kemben dan rambut masih basah.
Wiwit memeluk erat Disa tanpa kata, hanya tetesan air mata. Mereka bagai dua saudara yang sudah lama tak bersua.
Disa ikut menangis mengingat perjalanan Wiwit yang amat berat saat Yani menceritakan kisahnya, meski dia belum mengenal betul siapa Wiwit.
Asih yang menceritakan kedatangan Disa tadi, hanya bisa mengelus punggung keduanya.
Tia pun menagis, usahanya mendampingi Disa dalam pencarian Wiwit kini telah usai.
Namun mereka belum menyadari bahwa, genderang perang sepertinya baru akan di mulai sekarang ....
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ....